Kamis, 16 September 2021


Rabu, 22 Januari 2020 16:53 WIB

Kabut Zaman

Reporter :
Kategori : Sosok

Oleh: Jumardi Putra*

Kabut zaman. Novel dengan latar belakang peristiwa kelam 65 itu kali pertama saya ketahui di sela obrolan bersama sejarahwan Prof. Asvi Warman Adam di ruang kerjanya di LIPI, sekira dua bulan lepas. Sejarahwan spesialis 65 itu menyinggung nama Antony Zeidra Abidin sebagai penulis novel tersebut ketika saya mencari tahu keberadaan sejarahwan Jang Aisjah Muttalib.



Terang saja saya penasaran dengan sosok Antony ini, lantaran selain sesama Jambi, ia juga pernah menjabat sebagai wakil Gubernur Jambi periode 20015-2010. Tidak banyakkan pejabat Jambi aktif menulis karya fiksi maupun non-fiksi (bukan skripsi, tesis dan disertasi)? Di antara koleksi kepustakaan saya yang bertiti-mangsa pada peristiwa 65, jelas saya tergolong terlambat mengetahui novel terbitan Imago tahun 2011 itu.

Dibanding sebagai penulis, hemat saya Antony masyhur sebagai politisi. Bahkan jejak politik itu kini diteruskan oleh anaknya, Pinto Jayanegara, yang terpilih sebagai anggota sekaligus menjadi wakil ketua DPRD Provinsi Jambi periode 2019-2024. Dalam dunia politik, pria kelahiran 15 Oktober 1951 ini aktif sebagai Pengurus DPP Golkar (1999-2004) dan menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat DPD I Golkar Provinsi Jambi. Pada tahun 2011 Antony menjadi Anggota DPR-RI periode tahun 1999-2004 melalui Pergantian Antar Waktu (PAW). Di Senayan, Antony terpilih menjadi Ketua Sub Komisi Perbankan dan Lembaga Keuangan Non-Bank Komisi XI.

Antony menempuh pendidikan bangku sekolah dasar di SD Negeri I Bangko, Jambi, SMPN 4 di Kota Jambi dan lulus di SMA Negeri V Jakarta Tahun 1971. Selanjutnya pada tahun 1973 ia meneruskan pendidikan ke jenjang strata satu di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia (sekarang FISIP UI) hingga menamatkannya tahun 1979.

Kepiawaian pria asal Bangko, Merangin, ini sebagai organisatoris ternyata berakar kuat sedari mahasiswa. Bahkan Antony mulai terlibat dengan aktivitas gerakan sejak ia masih duduk di bangku SMA. Namanya terdaftar dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) pada tahun 1966-1970 dan kemudian menjadi Ketua Ranting Pelajar Islam Indonesia (PII) Kampung Bali di tahun 1968-1970. Selanjutnya Antony menjabat sebagai Pengurus PII cabang Tanah Abang.

Ket: Antony Zeidra Abidin. Sumber: viva.co.id.

Mungkin ini sudah jadi tradisi, kampus adalah tempat bersemainya aktifisme, begitu juga yang dijalani Antony saat kuliah di Universitas Indonesia. Sejak 1970 ia menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Keikutsertaannya di organisasi pers menjadi bekal dirinya mendirikan dan menjadi Pemimpin Umum Majalah TEMA FIS-UI (1971-1974) dan menjabat sebagai Pemimpin Umum Majalah Prohumanika FIS-UI (1972-1974). Antony terpilih menjadi Anggota MPM-UI (1975-1976) serta menjabat sebagai Ketua HMI Komisariat FISIP UI di tahun yang sama.

Tak berhenti sampai di situ, pada tanggal 14 Januari 1976 Antony selaku pemimpin umum pertama, bersama nama-nama beken lainnya, antara lain Zulkarimen Nasution/Pemimpin Redaksi; Masmiar Mangiang/Redaktur Pelaksana; Prof. Zulhasril Nasril/Penanggung Jawab Rubrik Apokromat; Pamusuk Eneste/Penanggung Jawab rubrik kebudayaan; Prof. Ikrar Nusa Bakti/Staf redaksi; mendirikan Surat Kabar Kampus-Universitas Indonesia (SKK-UI) SALEMBA. Surat Kabar kampus UI yang memuat konten seputar mahasiswa dan dinamika politik nasional ini dua kali dibreidel rezim Orde Baru dengan dicabutnya izin penerbitan Salemba oleh Menteri Penerangan yang ketika itu dijabat Ali Murtopo pada 6 Mei 1980-sehari setelah terbit edisi 88 pada tanggal 5 Mei 1980.

SKK UI Salemba didirikan sebagai koran mahasiswa alternatif ketika aktivitas mahasiswa di Indonesia sedang dalam masa kebangkitan dari keterpurukan pasca sikap represip yang dilakukan oleh pemerintah akibat dampak dari peristiwa Malari 1974. Antony, dalam tulisan Lisan Sulaiman berjudul “Suara Kritis dari Salema SKK Salemba Menanggapi Permasalahan Kemahasiswaan dan Dinamika Politik Nasional pada Masa Orde Baru (13/3/2013)”, mengatakan Salemba muncul saat dunia kemahasiswaan sedang mendapat sedikit “angin segar” dari pemerintah lewat Laksamana TNI Sudomo selaku kepala Staf Kopkamtib karena keprihatinannya terhadap aktivitas dunia kemahasiswaan yang dinilainya menjadi sangat monoton dan tidak berkembang pasca Malari.

Pada titik itu kiprah Antony terus mengalami perkembangan pesat. Selain aktif di pergerakan maupun pers mahasiswa, Antony aktif diminta mengisi dalam berbagai forum diskusi di berbagai kampus serta menyumbang tulisan dan kritikannya di berbagai surat kabar nasional maupun lokal.

Ket: Koran Salemba UI yang didirikan Antony, dkk (14/1/1976).

Usai merampungkan jenjang S1 Antony menjadi pengajar FISIP UI tahun 1980 sampai 1982 dan turut mendirikan beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang pers, real estate dan konstruksi. Beberapa media yang dimiliki Antony, antara lain, majalah Properti Indonesia dan Uang&Bank, serta koran Pelita Bangsa dan Jurnal Indonesia.

Kabut Zaman

Novel Kabut Zaman terbitan Imago diluncurkan pertama kali pada 15 Oktober 2011, bertempat di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.  Kehadiran karya Antony ini menambah daftar panjang buku fiksi maupun non-fiksi yang  mengangkat tema dan latar belakang pemberangusan komunisme di Indonesia terutama pasca September 1965. Bahkan, pada minggu pertama sebelumnya di Goethe Institute, Jakarta, diluncurkan buku “Memecah Pembisuan” yang memuat tuturan penyintas tragedi 65-66, dengan editor Putu Oka Sukanta.

Diakui Antony, penulisan novel Kabut Zaman memakan waktu hampir enam bulan, tepat saat dirinya menjalani masa tahanan kasus suap Bank Indonesia di penjara Cipinang. Novel setebal 606 halaman ini adalah bagian pertama dari trilogi yang direncanakan dengan setting tahun 1960-an sampai reformasi. Sependek penelusuran saya, trilogi yang dicanangkan Antony belum terealisasi hingga sekarang. Berhenti pada Kabut Zaman delapan tahun lalu.

Kabut Zaman ditulis Antony Zeidra Abidin untuk mengenang mantan wakil Perdana Menteri/Menlu RI Soebandrio dan mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Oemar Dhani yang lebih dari 30 tahun mendekam di Penjara Cipinang. Meski Antony tidak mengenal kedua tokoh itu, tetapi dirinya membayangkan dan merasakan apa yang terjadi pada diri dua tokoh itu, secara fisik maupun kejiwaan, selama dalam Penjara Cipinang.

Bagi Antony, situasi yang dialami kedua tokoh itu jelas berbeda dengan dirinya ketika menjalani masa tahanan di LP Cipinang. Semasa di penjara dirinya justru berkesempatan belajar banyak dan merasa diperlakukan dengan baik dibandingkan orang-orang dan simpatisan PKI yang dipenjarakan tanpa proses hukum dan diabaikan hak-hak asasinya. Menurutnya ada orang yang diadili tetapi umumnya tidak diproses hukum. Lebih banyak lagi, ratusan ribu bahkan jutaan tewas dalam peralihan kekuasaan Sukarno ke tangan Jendral Soeharto yang memimpin republik ini selama 32 tahun.

Tak syak, peristiwa 1965 merupakan suatu peralihan kekuasaan yang berlumuran darah, bahkan banjir darah. Namun sayangnya, hingga tumbangnya Suharto, bahkan sampai kepemimpinan presiden Jokowi sekarang, tidak ada proses hukum maupun rekonsiliasi. Semuanya meninggalkan tanda tanya. Itu semua menjadi kabut zaman. Bahkan menjadi semacam “hantu” yang sengaja diciptakan oleh mereka yang berkepentingan menjaga status quo kekuasaan di setiap jenjang kekuasaan sekarang ini.

Agaknya, bukan tanpa alasan Prof. Asvi Warman Adam menyebut novel kabut zaman kepada saya, selain tentu saja karena saya dan Antony sesama Jambi, sebagaimana di muka tulisan, tetapi juga karena dirinya menjadi salah satu pembicara yang diundang untuk membedah novel ini delapan tahun yang lalu. Dalam pandangannya, kabut zaman merupakan novel yang layak dibaca, karena mengangkat penggalan-penggalan fakta sejarah di sekitar peristiwa 1965 melalui kisah dua orang bersahabat yang terus berusaha menghindar dari kejaran rezim berkuasa yang ingin memberangus orang-orang yang dinilai terlibat PKI, demi menyelamatkan anak, istri dan saudaranya. Bahkan, yang membuat novel kabut zaman menarik, lanjut Asvi, selain geger 65 yang hingga kini masih menyisakan pelbagai tafsir, Antony tidak berasal dari korban 65, tetapi justru dari kalangan yang bisa dianggap berseberangan.

 

*Penulis adalah pecinta buku, sejarah dan kesenian. Kini tinggal dan bekerja di Tanah Pilih Pusako Betuah, Kota Jambi. Profil pribadi Antony merujuk portal merdeka.com pada tanggal 20 Maret 2014.


Tag : #Oase #Sosok #Antony Zeidra Abidin #Kabut Zaman



Berita Terbaru

 

Buku Mencari Indonesia
Kamis, 16 September 2021 14:44 WIB

Mencari Indonesia: Laku Pikir Riwanto Tirtosudarmo "Pasca-Cornell"


Oleh: Gutomo Bayu Aji* Dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir, Riwanto Tirtosudarmo setidaknya telah menerbitkan tiga buku yang diberi judul berseri.

 

Rabu, 15 September 2021 16:30 WIB

6 Manfaat Bermain Lego Bagi Berbagai Kalangan Usia


  Kajanglako.com - Lego merupakan sebuah game puzzle yang sangat menyenangkan untuk dimainkan. Biasanya lego adalah mainan untuk anak berusia balita

 

Selasa, 14 September 2021 12:36 WIB

Diduga Buronan Narkoba Hanyut di Sungai Saat Dikejar Petugas


Kajanglako.com, Bungo - Diduga seorang pelaku pengguna Narkoba dikabarkan hanyut di Sungai Batang Tebo, sekira pukul 17:55 WIB. Berusaha selamatkan diri

 

Senin, 13 September 2021 11:33 WIB

Gelapkan Mobil, Warga Desa Dusun Dalam Sarolangun Terancam 4 Tahun Penjara


Kajanglako.com, Sarolangun - Kepolisian Unit Reskrim Polsek Bathin VIII, Polres Sarolangun berhasil mengamankan seorang pelaku AR (36) Tahun Warga Desa

 

Cafe dan Perempuan
Minggu, 12 September 2021 20:54 WIB

Cafe, Gaya Hidup dan Aktualisasi Perempuan


Oleh: Nor Qomariyah* Belakangan ini marak kita jumpai di berbagai tempat, mulai jalanan kecil kompleks perumahan hingga jalan koridor utama, kedai kopi