Kamis, 16 September 2021


Minggu, 18 November 2018 16:50 WIB

Perhatian Pemerintah Minim, Pengrajin Batik Rikzan Bertahan dengan Peralatan Manual

Reporter : Redaksi
Kategori : Bisnis UMKM

Rikzan saat melihatkan corak Batik 99 hasil karyanya yang menang di Yogyakarta, yang dipajangnya di Dekranasda Sarolangun

Kajanglako.com, Sarolangun – Minim perhatian dari pemerintah, tak menyurutkan semangat Rikzan, Pengrajin Batik di Sarolangun untuk konsisten memperkenalkan kerajinan lokal daerahnya.

Meski mencoba bertahan dengan peralatan seadanya, Rikzan tetap berupaya memproduksi batik bermutu tinggi, walaupun kondisi pemasaran batik motif khas Sarolangun masih kurang diminati.



Disambangi di kediamannya Rikzan menceritakan di tengah berbagai kendala yang ia hadapi dalam memproduksi batik. Upaya yang dilakukan membuahkan sejumlah penghargaan, di tahun 2018 ini saja dirinya sudah dua kali mendapat piagam penghargaan tingkat Nasional, yakni juara pertama lomba Cindera mata khas daerah dan juara pertama lomba membatik di Jogyakarta.

Untuk lomba cinderamata khas daerah yang diselenggarakam pada 29 Oktober lalu, Rikzan mengangkat tema "Budaya Kearifan Lokal dari Suku Anak Dalam Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNB.12) Menjadi Karya Seni Cinderamata Khas Daerah" yang terbuat dari kulit kayu terap.

Dikatakannya, bahwa kulit kayu terap banyak ditemukan di hutan Sarolangun. Biasanya digunakan sebagai bahan pakaian untuk Suku Anak Dalam (SAD), olahan kulit kayu terap itu disulap menjadi bahan cinderamata yang memiliki nilai ekonomis.

"Untuk mencari bahan kulit kayu terap itu biasanya kami bekerjasama dengan warga SAD. dan kulit kayu terap itu kami jadikan seperti tas, sepatu, dompet, baju dan rok. Dan untuk kualitas, sama dengan yang lainnya, hanya bahan dan coraknya saja yang berbeda," katanya.

Sementara untuk batik, dirinya memenangkan juara satu tingkat nasional pada 20 April 2018 lalu di Jogyakarta. Dengan penilaian mulai dari corak batik, pewarnaan, desain batik dengan mengambil motif abstrak.

"Membatik, saya mengangkat campuran Budaya Sarolangun, Provinsi Jambi dan keagamaan. Dengan tema "Batik 9", pengertiannya yakni Jambi 9 Lurah, Pemekaran Sarolangun pada tahun 1999 dan penyebaran agama islam yang dilakukan oleh 9 wali ,"katanya.

Niatnya membatik tersebut semata untuk memperkenalkan dan menggangkat budaya Sarolangun-Jambi agar dapat dikenal oleh masyarakat luar. Sehingga, Sarolangun pada khususnya bisa dipandang di tingkat nasional.

"Karena selama ini, tidak semua pembatik bisa menuangkan kebudayaan masing-masing dan tidak bisa menempatkan warna di atas desainnya sendiri. Sebab untuk kriteria batik ini dilihat dari desainnya yang unik,campuran pewarnaan dan motif batik itu sendiri," ujarnya.

Disinggung peralatan membatik miliknya, Rikzan mengatakan untuk saat ini peralatan membatiknya jauh dari kata lengkap, dirinya membatik dengan cara manual.

"Hingga saat ini belum ada dukungan penuh dari Pemerintah Daerah maupun donatur dari luar. Sementara kami sendiri tidak punya modal untuk melakukan penggembangan. Dan untuk pemasaran masih sangat minim," katanya.

Soal pemasaran, Rikzan mengatakan untuk sementara ini lebih banyak konsumennya dari luar Provinsi Jambi ketimbang dari Sarolangun atau dalam Provinsi Jambi.

"Orang dari luar Provinsi Jambi lebih banyak membeli, karena mereka suka dengan yang berbau seni kebudayaan. Kemudian suka dengan cerita dan narasi yang dituangkan dalam batik itu sendiri, sementara masyarakat Sarolangun kurang minat dengan seni batik," katanya.

Upaya ke depan yang akan dilakukannya untuk makin memperkenalkan Batik Sarolangun, dirinya berharap bisa mengikuti even di tingkat Asia dan ingin membuat galeri batik untuk tempat belajar dan memperkenalkan batik kepada masyarakat luas.

"Kalau masalah keinginan banyak sekali, hanya memang kami terkendala dana. Kalau harapan sementara, ada bantuan dari Pemkab Sarolangun untuk membuat galeri, karena memang semenjak saya mendapat penghargaan juara satu tingkat Nasional, banyak orang dari luar Provinsi Jambi yang ingin melihat dan belajar membatik dengan saya, sementara saat ini tidak memiliki tempat," katanya.

Kemudian harapan lainnya, ada kebijakan dari pemerintah untuk mendorong memperkenalkan Batik Sarolangun dengan cara menerapkan pemakaian baju batik kepada semua instansi dan sekolah di hari tertentu.

"Dengan cara mewajibkan pemakaian Batik Sarolangun minimal sekali seminggu kepada seluruh instansi dan anak sekolah yang ada di Kabupaten Sarolangun, artinya pemerintah sudah membantu saya untuk memperkenalkan batik kepada usia dini dan masyarakat luas," ujarnya. (kjcom)


Tag : #Batik Jambi #Batik Sarolangun #Batik



Berita Terbaru

 

Buku Mencari Indonesia
Kamis, 16 September 2021 14:44 WIB

Mencari Indonesia: Laku Pikir Riwanto Tirtosudarmo "Pasca-Cornell"


Oleh: Gutomo Bayu Aji* Dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir, Riwanto Tirtosudarmo setidaknya telah menerbitkan tiga buku yang diberi judul berseri.

 

Rabu, 15 September 2021 16:30 WIB

6 Manfaat Bermain Lego Bagi Berbagai Kalangan Usia


  Kajanglako.com - Lego merupakan sebuah game puzzle yang sangat menyenangkan untuk dimainkan. Biasanya lego adalah mainan untuk anak berusia balita

 

Selasa, 14 September 2021 12:36 WIB

Diduga Buronan Narkoba Hanyut di Sungai Saat Dikejar Petugas


Kajanglako.com, Bungo - Diduga seorang pelaku pengguna Narkoba dikabarkan hanyut di Sungai Batang Tebo, sekira pukul 17:55 WIB. Berusaha selamatkan diri

 

Senin, 13 September 2021 11:33 WIB

Gelapkan Mobil, Warga Desa Dusun Dalam Sarolangun Terancam 4 Tahun Penjara


Kajanglako.com, Sarolangun - Kepolisian Unit Reskrim Polsek Bathin VIII, Polres Sarolangun berhasil mengamankan seorang pelaku AR (36) Tahun Warga Desa

 

Cafe dan Perempuan
Minggu, 12 September 2021 20:54 WIB

Cafe, Gaya Hidup dan Aktualisasi Perempuan


Oleh: Nor Qomariyah* Belakangan ini marak kita jumpai di berbagai tempat, mulai jalanan kecil kompleks perumahan hingga jalan koridor utama, kedai kopi