Kamis, 04 Maret 2021


Senin, 13 Agustus 2018 14:24 WIB

Animal Farm, sebuah Satire atas Sosialisme?

Reporter :
Kategori : Pustaka

ilustrasi. sumber: www.milwaukeere

Oleh: Dion Yulianto* 

Seorang sastrawan adalah saksi dari zamannya. Begitu juga George Orwell yang menjadi saksi dari era Perang Dunia Kedua--yang disusul dengan Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Penulis ini kemudian mengabadikan apa yang disaksikannya itu dalam monumen paling indah di dunia: melalui karya sastra.



Animal Farm lahir atas pengamatan dan ketidaksetujuannya pada totaliterisme Uni Soviet. Pasca Perang Dunia Kedua, dunia memang terbelah menjadi dua kubu, yakni Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat serta Blok Timur yang dikomando oleh Uni Soviet.

Merentang mulai dari Eropa Timur hingga Siberia, Uni Soviet merupakan wilayah luar biasa luas yang dikendalikan oleh satu komando yang berpusat di Moscow.

Negara persekutuan ini dibangun atas asas Sosialisme dan Komunisme, di mana kepemilikan bersama dijunjung tinggi dan semua adalah setara. Poin Ketujuh dari Tujuh Perintah yang harus ditaati semua binatang di Peternakan Binatang adalah "Semua Binatang Setara." Pengunaan kata "kamerad" di novel tipis ini semakin menegaskan pihak mana yang coba dikritik Orwell lewat tulisannya ini.

Apa yang akan terjadi ketika sebuah pertanian dikudeta dan lalu diambil alih oleh binatang-binatang ternak di dalamnya? Peternakan Manor milik Tuan Jones awalnya adalah sebuah peternakan yang terbengkalai.

Meskipun luas dan subur, pemiliknya adalah pemalas yang suka minum sampai mabuk (apakah ini melambangkan keluarga Tsar?) sehingga binatang-binatang ternaknya tidak terurus. Si Tua Mayor, seekor babi putih terhomat, mengawali pemberontakan dengan pidatonya yang mengebu-gebu tentang sebuah komunitas di mana semua binatang di dalamnya adalah setara, tempat binatang tidak lagi diperbudak oleh manusia.

 

Dia lantunkan syair 'Binatang Inggris' yang segera saja menyulut perasaan perlawanan pada binatang-binatang di peternakan Manor:

 

Binatang Inggris, binatang Irlandia

Binatang di setiap negeri dan musim

Dengarlah kabar gembiraku

Tentang masa keemasan di hari mendatang

 

Cepat atau lambat  saatnya akan tiba

Tirani Manusia akan ditumbangkan

Dan ladang subur Inggris

Akan ditapaki  oleh binatang saja

 

Maka, pemberontakan pun tersulut. Tuan Jones sekeluarga terusir dari rumah dan peternakannya sendiri oleh binatang-binatang peliharaannya. Kuda, babi, ayam, angsa, ayam, biri-biri, dan merpati bersatu mengusir para manusia dari Peternakan Manor (yang namanya kemudian diubah menjadi Peternakan Binatang atau Animal Farm). Seluruh binatang di dalamnya adalah setara, gandum dan jagung dibagi merata, pekerjaan dilakukan bersama-sama, dan hasil panenan pun dibagi dengan adil tanpa ada yang diistimewakan atau direndahkan. Terlihat seperti sebuah negeri eh peternakan yan utopis memang.

Masalah mulai datang ketika nafsu manusia (eh nafsu binatang) turut campur. Dua ekor babi yang awalnya adalah para pemimpin pemberontakan tiba-tiba saling bersaing. Melalui upaya yang licik, kendali peternakan jatuh ke salah satu babi itu, Napoleon mengangkat dirinya sebagai pemimpin dan mengusir babi saingannya ke luar dari peternakan.

Dari sinilah bibit-bibit totaliterisme itu mulai muncul. Merasa didukung penuh oleh 'rakyat binatangnya', Napoleon mulai menerapkan peraturan-peraturan baru sesuai kehendaknya sendiri. ketika ada binatang yang protes, dia menurunkan seekor babi bawahannya yang jago berbicara untuk meredamnya. Ini macam kampanye agar rakyat tetap mendukung pemerintahannya, dengan menggunakan metode hoax dan pembalikan fakta. Apa pun ditempuh Napoleon dan tim babinya agar kekuasaan mereka langgeng.

Apa yang semua negeri impian berubah menjadi negeri petaka. Lambat laun, para binatang mulai sadar betapa kondisi mereka di bawah kendali Napoleon tidak ada bedanya (bahkan lebih buruk) dengan kondisi ketika mereka masih dipelihara oleh manusia.

Namun, kampanye masif yang dijalankan Napoleon dan antek-anteknya seperti mengunci pemikiran mereka. Para binatang itu tetap yakin bahwa semua perkataan dan perintah Napoleon adalah benar dan wajib ditaati. Lambat laun, mereka kembali kehilangan kebebasan mereka. Bahkan, bertahun-tahun kemudian, para binatang di Peternakan Binatang sudah lupa dengan apa kebebasan itu sendiri.

Animal Farm menarik karena peternakan ala Orwell ini melambangkan negara sosialis murni dengan pemerintahan yang totaliter. Di era modern ini memang masih ada beberapa negara Sosialis, seperti Tiongkok dan Kuba, namun satu-satunya negara sosialis yang mungkin masih menyerupai Animal Farm adalah Korea Utara.

Luar biasa betapa apa yang ditulis Orwell lebih dari setengah abad yang lalu ternyata masih bisa kita temukan di era modern saat ini. Orwell dengan presisi sekaligus menawan mampu menggambarkan apa pandangannya tentang sosialisme.

Sayangnya, subyektivitas Orwell ini tidak diimbangi dengan obyektivitasnya tentang nilai-nilai positif dari sosialisme, atau mungkin iya karena di awal-awal berdirinya Peternakan Binatang tampaknya semua binatang sama setara dan bahagia.

Di bagian akhir cerita, Orwell malah menyinggung sedikit tentang borok kapitalisme (yang menjadi dasar negara-negara Blok Barat) yang ternyata sama buruknya dengan paham yang dia kritik.

"Mahkluk-mahkluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya." (hlm. 140)

Terjemahan Pak Bakdi Soemanto ini mengalir dan luwes banget. Enak dibaca dan dinikmati. Sampulnya juga keren, warna pink tapi ada simbol-simbol sosialis yang tersamar, membentuk moncong babi sekaligus sosok seragam negeri sosialis tertentu.

 

*Penulis merupakan editor buku, penerjemah, dan peresensi buku-buku fiksi-non fiksi. Selain dalam bentuk buku, karya tulisnya dapat dibaca di blog pribadi: www.dionyulianto.blogspot.co.id.

 

Identitas Buku:

Judul: Animal Farm

Pengarang: George Orwell

Penerjemah: Bakdi Soemanto

Tebal: 140 hlm

Cetakan: kedua, Juli 2015

Sampul: Fahmi Irwansyah

Penerbit: Bentang Pustaka

 


Tag : #George Orwell #Animal Farm



Berita Terbaru

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas

 

Hari Sampah
Minggu, 21 Februari 2021 10:20 WIB

Peringati Hari Sampah Lewat Program Sepuluh Jari Menganyam


JAMBI--Memperingati hari sampah yang jatuh setiap 21 Februari, masyarakat Jambi diajak untuk lebih peduli lingkungan. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari

 

Sengketa Rumah Ibadah
Kamis, 18 Februari 2021 10:42 WIB

Sengketa Rumah Ibadah dan Kearifan Budaya Lokal Jambi


Oleh: Juparno Hatta* Di mata dunia internasional, Indonesia dikenal dengan nilai toleransi yang tinggi di tengah-tengah kemajemukan sebagai sebuah kesemestian.