Sabtu, 16 Oktober 2021


Senin, 07 Mei 2018 01:22 WIB

Ratib Saman Bardah, Bentuk Kepasrahan dan Ikhtiar Terakhir dalam Tradisi Adat Melayu di Tanjabtim

Reporter : Soni Setiawan
Kategori : Budaya

Tradisi Ratib Saman Bardah disebut sudah hampir punah / Foto: Soni

Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Dari sekian banyak ragam seni budaya yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Ratib Saman Bardah agaknya perlu mendapatkan perhatian.

Saat ini, tradisi peninggalan leluhur yang sarat nuansa Islami ini hampir punah. Menurut tiga orang tetua adat Melayu di antaranya Rajo Muhammad, Datuk Husaini alias Itam Ketan dan Datuk Bakar alias Unggal Bakar yang berhasil diwawancarai media ini, Minggu (6/5), Ratib Saman Bardah memiliki sejarah unik dan harus diketahui generasi masa kini.



"Banyak warga kita yang tidak tahu apa itu Ratib Saman Bardah. Kalau ditanyakan dengan orang yang berumur dibawah 50 tahun di Nipah Panjang, sebagian besar pasti menyatakan tidak tahu," kata Rajo Muhammad.

Kenyataan itu mencerminkan betapa tradisi ini sangat langka. Padahal, tradisi Ratib Saman Bardah ini adalah sebuah khazanah budaya yang patut dilestarikan. Ratib Saman Bardah, sambung Rajo, sebetulnya sudah sejak lama dikenal dan dilaksanakan oleh warga Nipah Panjang.

"Acara Ratib Saman Bardah sebenarnya sudah ada dan dilaksanakan sejak dari zaman Belanda. Menjadi suatu budaya karena dulu digunakan bila di suatu negeri ada suatu penyakit yang tidak mampu, atau tidak sanggup diobati oleh medis. Bahwa sudah beberapa kali terjadi yaitu pada sekitar tahun 1952 dan terakhir tahun 1962 di Nipah Panjang. Pada waktu itu di masyarakat terjadi wabah muntaber. Satu hari bisa terjadi antara 6 sampai 7 orang yang meninggal dunia. Baru diantar ke pemakaman lalu ada yang meninggal lagi. Baru saja selesai gali kubur sudah ada lagi yang meninggal," cerita Rajo Muhammad yang dibenarkan Datuk Itam Ketan dan Datuk Unggal Bakar.

Kejadian tersebut menjadi musibah luar biasa karena dalam waktu satu minggu saja bisa mengakibatkan lebih kurang 50 orang meninggal dunia. Dari kejadian tersebut, akhirnya Rajo Muhammad dan beberapa tetua Agama dan Adat kemudian melakukan musyawarah, solusi terbaik apa untuk mengatasi wabah itu.

"Lalu dicapai kesepakatan dan kita berusaha meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT. Dari itulah muncul ide untuk melaksanakan Ratib Saman Bardah ini," jelas Rajo.

Disambung oleh Rajo Muhammad, pada saat pelaksanaan perjalanan keliling kampung tersebut, seluruh lampu baik yang ada di luar maupun dalam rumah harus dimatikan.

"Mematikan lampu bertujuan agar seluruh peserta khusuk. Jalan yang kami lalui masih berupa batang kayu yang disusun, bukan jalan tanah. Jumlah orang islam waktu itu masih sekitar 100 orang," katanya.

Rangkaian tertib acaranya sebagai pembukaan yaitu Tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Muhammad Saman dan dilanjutkan dengan adzan. Selama perjalanan, yang dimaksud Bardah adalah mengucapkan kalimat Takbir Lailaahaillallah, yang diucapkan seluruh peserta yang ikut berjalan kaki.

"Seluruh peserta pejalan kaki adalah kaum lelaki. Sedangkan kaum perempuan tinggal di dalam rumah masing-masing sambil memukul-mukulkan sapu lidi ke setiap pintu dan jendela dengan maksud untuk mengusir iblis dan setan, jangan ada yang berlindung di dalam rumah. Pembacaan Doa Ratib Saman Bardah yang dilakukan secara berkelanjutan dan berturut-turut, akhirnya pada hari ketiga berkat pertolongan Allah SWT maka hilanglah segala penyakit yang menimpa masyarakat," jelasnya.

Menurut Rajo Muhammad, Ratib Saman Bardah ini bukan hanya untuk mengusir roh jahat yang mengganggu, baik orang yang sakit atau orang yang mau meninggal pun kalau dia sulit untuk sehat atau sulit meninggal juga bisa dibacakan Bardah ini.

"Namun semuanya kita pasrahkan kembali kepada Allah SWT. Kita hanya bisa berusaha, hasilnya Yang Maha Kuasalah yang menentukan," kata Rajo Muhammad. (kjcom)


Tag : #Tanjabtim #Nipah Panjang #Tradisi #Adat #Melayu



Berita Terbaru

 

Jumat, 15 Oktober 2021 23:49 WIB

Ketum APKASI Sutan Riska Tuanku Kerajaan Masuk Bursa Capres 2024 dari PDI-P


Kajanglako.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Sutan Riska Tuanku Kerajaan, masuk dari 11 nama  Bursa

 

Rabu, 13 Oktober 2021 15:59 WIB

Bupati Merangin Raih Penghargaan APE 2021


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Mashuri meraih penghargaan Anugrah Parahita Ekapraya (APE) 2021, Kategori Madya (Pengembang) dari Kementerian

 

Rabu, 13 Oktober 2021 15:52 WIB

Cek Endra: Kesadaran Warga untuk Vaksin Masih Kurang


Kajanglako.com, Sarolangun - Kabupaten Sarolangun terbilang sukses dalam menekan angka penyebaran pandemi Covid-19. Saat ini penderita Covid-19 di Sarolangun

 

Rabu, 13 Oktober 2021 15:42 WIB

Pimpin Rakor Forkopimda, Mashuri: Lubuk Bumbun Abrasi Oleh PETI


Kajanglako.com, Merangin - Kondisi Desa Lubuk Bumbun Kecamatan Margo Tabir yang mengalami abrasi dampak dari aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Rabu, 13 Oktober 2021 15:34 WIB

Longsor, Akses Warga Bathin Pengambang Putus


Kajanglako.com, Sarolangun - Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Batang Asai pada Senin malam, memicu longsor yang terjadi di beberapa titik di wilayah