Kamis, 16 September 2021


Jumat, 30 Juli 2021 16:41 WIB

Mak Oyot dan Komunitas Daksinapati UI

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Dalam dua pecan terakhir hampir setiap hari kita mendapat berita duka. Teman, kerabat, tetangga, seperti susul menyusul meninggalkan kita karena pandemi yang belum mampu kita ketahui kapan berakhir ini. Tadi pagi, sebuah berita duka masuk di ponsel saya, Mak Oyot wafat.



Sudah pasti sebagian besar dari kita tidak tahu siapa Mak Oyot. Tapi bagi yang pernah menjadi penghuni Asrama Mahasiswa Daksinapati UI Rawamangun  tahun 70 dan 80an pastilah mengenal siapa itu Mak Oyot. Karena tanpa Mak Oyot mungkin kita tidak bisa berumur panjang sampai hari ini.

Bagi yang belum tahu siapa Mak Oyot, baiklah saya perkenalkan siapa itu Mak Oyot. Mak Oyot, ada juga yang memanggilnya Bu Oyot, adalah pemilik salah satu warung makan di Asrama Mahasiswa UI Daksinapati di Rawamangun.

Di asrama itu ada tiga warung makan, tapi warung makan Mak Oyot adalah yang paling luas tempatnya dan paling banyak pelanggannya. Warung-warung makan di Asrama Daksinapati itu boleh dikatakan sangat sederhana. Makanan yang disajikan tidak jauh berbeda dari makanan yang biasa kita temukan di warteg-warteg di mana saja. Nasi putih, tempe tahu, ikan kembung, telor dadar dan daging kuah. Kalau pagi menunya bubur kacang ijo, telor setengah matang dan tentu saja kopi atau teh.

Tidak ada yang istimewa dari Warung Mak Oyot dari segi makanan yang disajikan, bahkan cenderung tipikal makanan rakyat biasa. Mak Oyot menjadi penting karena yang dilayaninya sehari-hari adalah mahasiswa UI yang menjadi penghuni Asrama Daksinapati yang konon diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1954 itu.

Saya tidak tahu berapa jumlah pastinya mahasiswa yang menghuni di asrama itu pada suatu waktu. Yang pasti, asrama itu memiliki tiga lantai, dan setiap lantai ada puluhan kamar dan di setiap kamar dihuni dua atau tiga mahasiswa. Tentu sepanjang sejarahnya para penghuni itu silih berganti karena jika mereka telah lulus biasanya keluar dan diganti penghuni yang baru.

Saya sendiri menghabiskan sebagian besar waktu di tahun 70an di Asrama Daksinapati. Tahun 1979 karena lulus dan bekerja  memutuskan keluar dari asrama. Ada semacam rite of passage meninggalkan dunia asrama ke dunia yang sebenarnya.

Ket: Mak Oyot tutup usia.

Jadi ketika mendengar Mak Oyot wafat ingatan dan kenangan saya meluncur masuk kembali ke sebuah dunia yang pernah saya jalani sepanjang tahun 70an itu. Dunia kehidupan mahasiswa yang menghuni Asrama Mahasiswa UI Daksinapati Rawamangun di tahun 70an itu kalau saya coba ingat-ingat hari ini, artinya lebih dari 40 tahun yang lalu itu, sesungguhnya merupakan sebuah dunia yang agak eksklusif.

Saya katakan eksklusif karena tanpa disadari para penghuni asrama itu memiliki sebuah kode etik juga laku berkomunikasi sendiri sebagai sebuah komunitas yang setiap individunya memiliki latar belakang suku agama bahasa daerah yang berbeda-beda dan kemudian disatukan secara fisik dalam sebuah ruang geografis yang bernama Daksinapati itu.

Dalam komunitas itulah Mak Oyot memiliki peran yang tidak kecil artinya karena dia sendiri menjadi bagian dari dimungkinkannya ruang pergaulan bagi mahasiswa laki-laki yang beragam latar belakangnya itu.

Warung Mak Oyot adalah sebuah ruang publik bebas dimana interaksi sehari-sehari antara sesama penghuni asrama itu dibangun. Di warung Mak Oyot itulah sebuah udara kemerdekaan bisa dirasakan, tapi juga semacam suasana keakraban yang spontan bisa ditemui disana, love is in the air kata orang sono. Oleh karena itulah mengenang Mak Oyot sesungguhnya mengenang sebuah ruang publik yang sederhana tapi menyenangkan, belum ada kepentingan-kepentingan besar yang kemudian menjadi pertimbangan dalam berinteraksi.

Mak Oyot dan asrama itu diam-diam membentuk sebuah komunitas yang penghuninya memiliki kesetaraan secara sosial karena mereka yang tinggal di asrama itu mungkin merepresentasikan sebuah kelas ekonomi tertentu dalam masyarakat. Anak-anak muda yang berhasil menjadi mahasiswa sebuah universitas terbesar di Indonesia yang bukan dari kalangan atas juga bukan dari kalangan bawah sekali, mungkin bisa mewakili apa yang disebut kelas menengah. 

Seingatku biaya hidup di asrama itu cukup rendah. Bukan rahasia lagi jika sebagian penghuni sering menunggak uang asrama yang sebetulnya termasuk sangat murah itu. Makan sebagai kebutuhan pokok, kembali di situlah arti penting Mak Oyot sebagai penyedia kebutuhan makan dari kami, penghuni asrama.

Mak Oyot memiliki buku kecil yang berisi daftar nama-nama kami yang setiap hari makan di warungnya. Kami biasanya memang tidak membayar langsung tapi setelah beberapa hari dan berdasarkan catatan daftar hutang masing-masing dari kami. Karena banyaknya mahasiswa hampir pasti catatan yang dibuat Mak Oyot memiliki kemungkinan meleset dan tidak akurat, jangan-jangan kita masih memiliki hutang pada Mak Oyot. Semoga saja tidak.

Periode tahun 70an adalah periode yang menyenangkan dalam kehidupan mahasiswa, kalau diingat-ingat.  Dikaitkan dengan gejolak politik nasional, dimana mahasiswa hampir selalu terlibat di dalamnya, Peristiwa Malari 74 dan NKK/BKK 78; sebagai penghuni asrama, mahasiswa sedikit atau banyak ikut terimbas. Sejak lama asrama adalah tempat para aktifis mahasiswa tinggal. Ketika demo-demo meletus menentang Suharto tahun 77-78, beberapa aktifis terlibat.

Seorang penghuni asrama, Soekotjo Soeparto, kalau tidak salah saat itu menjabat sebagai wakil ketua DM-UI termasuk yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara Kampus Kuning bersama para aktifis lainnya. Bukan rahasia lagi tidak sedikit juga para aktifis yang sejak mahasiswa bekerja untuk penguasa, bahkan sejak mahasiswa telah menjadi tokoh  ormas atau partai. Pro dan kontra dan perbedaan pilihan politik adalah hal yang biasa di asrama Daksinapati.

Selain aktifis politik asrama juga menjadi tempat pribadi-pribadi yang kemudian muncul sebagai tokoh publik dalam berbagai bidangnya masing-masing. Begitu banyaknya yang mungkin disebutkan satu per satu di sini. Sekedar menyebut beberapa sebagai contoh, misalnya Wahyoe Sardhono yang kemudian terkenal sebagai Dono Warkop adalah mantan penghuni asrama. Asvi Warman Adam sejarawan kondang dari LIPI juga bekas penghuni asrama Daksinapati.

Mungkin yang kemudian menjadi tokoh besar adalah Yusril Ihza Mahendra juga eks penghuni asrama mahasiswa Daksinapati. Gubernur Banten saat ini, Wahidin Halim juga eks asrama. Hampir pasti kita bisa menemui mantan penghuni Asrama Daksinapati di berbagai bidang di berbagai tempat di dalam maupun di luar negeri.

Profesor Ben Anderson seorang ahli ilmu politik yang terkenal dari Cornell University dalam sebuah tulisan untuk mengenang Onghokham menceritakan ketika baru tiba di Jakarta. Saat itu, awal tahun 60an, Ben Anderson ke Indonesia untuk melakukan penelitian disertasi doktornya. Oleh Onghokham yang saat itu menjadi dosen muda di jurusan sejarah FSUI dibawa ke Asrama Daksinapati. Di sebuah kamar di Asrama mahasiswa itu Ben Anderson diperkenalkan oleh Onghokham dengan mahasiswa-mahasiswa UI yang sedang asyik berdiskusi tentang politik.

Asrama Mahasiswa Daksinapati UI Rawamangun / foto: istimewa

Ket: Asrama Mahasiswa Daksinapati UI.

Sebagai bekas penghuni asrama Daksinapati saya sendiri merasakan privilege karena pernah menjadi bagian dari komunitas yang akrab itu. Ada dua kisah yang saya mau ceritakan betapa kemanapun kita pergi besar kemungkinan kita akan bertemu dengan sesama alumni Asrama Daksinapati UI, sesama teman ngobrol penuh canda di Warung Mak Oyot yang sederhana tapi menyenangkan  dan sekarang mungkin kita rindukan tapi tak mungkin kembali itu.

Kisah pertama adalah ketika dalam kunjungan ke CNRS di Paris untuk sebuah seminar, seorang kolega yang bekerja di Kedutaan Besar RI di Paris membantu saya mengatur kunjungan ke Universitas Marseille di Marseille yang terletak di daerah pantai bagian selatan Perancis. Saat itu saya ingin menemui Profesor Bernard Sellato yang ahli tentang Dayak yang memimpin Pusat Studi Asia Tenggara di Universitas Marseille. Karena perjalanan diatur oleh pihak kedutaan, kedatangan saya di Marseille juga diatur oleh staf konsulat RI di Mareseille.

Ketika kami kemudian berada di lobi sebuah hotel tempat saya menginap, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan sedikit berteriak “…bisa…!”. Saya menengok dan rupanya yang baru menyapa dengan bahasa khas itu adalah Candra Hasan teman asrama yang dulu belajar di Jurusan Sastra Inggris FSUI. “Bisa” adalah bahasa khas di Asrama Daksinapati yang bisa punya arti macam-macam, tapi yang pasti adalah menjadi sebuah “greeting”. Chandra Hasan rupanya setelah selesai dari UI bekerja sebagai diplomat di Deplu dan saat itu ditempatkan di Konsulat RI di Marseille Perancis.

Kisah kedua, sedikit agak mirip dengan cerita pertama, terjadi ketika saya menjadi bagian dari sebuah kerjasama penelitian antara LIPI dengan Kanda International University tentang pekerja migran Indonesia di Jepang. Salah satu kegiatan dalam penelitian itu adalah melakukan wawancara dengan para pekerja migran, sebagian berstatus magang (kenshusei) di berbagai perusahaan otomotif di sekitar Osaka dan Nagoya. Karena memerlukan data dari Konsulat RI di Osaka tentang waraganegara Indonesia yang sedang bekerja di Jepang, kami harus berurusan dengan kantor Konsulat RI di Osaka.

Ketika bertemu dengan Pak Konsul, rupanya adalah Bung Pitono Purnomo, rekan sesama penghuni Asrama Mahasiswa Daksinapati Rawamangun, saat itu adalah mahasiswa Jurusan HI di FISIP UI. Tidak saja urusan menjadi mudah tapi kami juga dijamu oleh Pak Konsul di Restoran Jepang yang terkenal lezat makanannya. Dalam perjumpaan dengan sesama alumni Asrama Daksinapati itu kita bisa merasakan betapa kita pernah hidup bersama dalam sebuah komunitas yang warganya setara meskipun berasal dari latar belakang etnis agama bahasa daerah yang berbeda-beda.

Mungkin sebuah Indonesia mini diam-diam terbentuk dari Warung Mak Oyot yang baru meninggal dunia itu. Semoga arwah Mak Oyot mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya sesuai dengan amal kebaikan selama hidupnya, antara lain dalam menyediakan makan bagi kami semua penghuni Daksinapati. Amin.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia



Berita Terbaru

 

Buku Mencari Indonesia
Kamis, 16 September 2021 14:44 WIB

Mencari Indonesia: Laku Pikir Riwanto Tirtosudarmo "Pasca-Cornell"


Oleh: Gutomo Bayu Aji* Dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir, Riwanto Tirtosudarmo setidaknya telah menerbitkan tiga buku yang diberi judul berseri.

 

Rabu, 15 September 2021 16:30 WIB

6 Manfaat Bermain Lego Bagi Berbagai Kalangan Usia


  Kajanglako.com - Lego merupakan sebuah game puzzle yang sangat menyenangkan untuk dimainkan. Biasanya lego adalah mainan untuk anak berusia balita

 

Selasa, 14 September 2021 12:36 WIB

Diduga Buronan Narkoba Hanyut di Sungai Saat Dikejar Petugas


Kajanglako.com, Bungo - Diduga seorang pelaku pengguna Narkoba dikabarkan hanyut di Sungai Batang Tebo, sekira pukul 17:55 WIB. Berusaha selamatkan diri

 

Senin, 13 September 2021 11:33 WIB

Gelapkan Mobil, Warga Desa Dusun Dalam Sarolangun Terancam 4 Tahun Penjara


Kajanglako.com, Sarolangun - Kepolisian Unit Reskrim Polsek Bathin VIII, Polres Sarolangun berhasil mengamankan seorang pelaku AR (36) Tahun Warga Desa

 

Cafe dan Perempuan
Minggu, 12 September 2021 20:54 WIB

Cafe, Gaya Hidup dan Aktualisasi Perempuan


Oleh: Nor Qomariyah* Belakangan ini marak kita jumpai di berbagai tempat, mulai jalanan kecil kompleks perumahan hingga jalan koridor utama, kedai kopi