Kamis, 16 September 2021


Jumat, 23 Juli 2021 21:28 WIB

Mensi, Angsori, PMB-LIPI dan Perubahan Politik 1998-2000

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Dalam hidup, kita akan bertemu dengan banyak orang. Ketika mengingat masa lalu, ingatan kita pastilah akan tertuju pada orang-orang tertentu yang memiliki kesan penting bagi kita. Tapi kesan kita itu, penting atau tak penting, sebagian ditentukan oleh pilihan-pilihan kita, atau oleh self interest kita. Ini bisa saja tidak adil karena tidak sedikit orang yang sesungguhnya telah berperan besar dalam hidup kita, misalnya dengan membantu melancarkan pekerjaan kita tapi jarang kita ingat atau terlupakan, tertutup oleh kesan kita pada orang-orang lain. Ada selfishness di sana. 



Sebelum diangkat sebagai Kapus PMB saya adalah peneliti di Pusat Penelitian Penduduk (1980-1997). Ketika mengenang hari-hari saat masih aktif bekerja di PMB-LIPI (1998-2017) atau selama hampir dua puluh tahun itu, selain banyak kolega kerja, sebetulnya ada dua orang yang berjasa besar bagi saya. Akan tetapi karena posisi kerja mereka yang kerap tidak terlihat secara langsung, dukungan mereka seringkali terlupakan.

Dalam pengalaman saya, Mensi dan Angsori adalah dua dari sekian orang yang bisa dikatakan demikian. Mensi, setahu saya, selalu menjadi sekretaris Kepala PMB (dulu - Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan) LIPI. Tepatnya sejak kapan, saya kurang tahu juga.  Mungkin saja sejak zaman Pak AB  Lapian atau Pak Hilman Adil menjabat Kapus PMB. Yang pasti, ketika saya menggantikan Pak Hilman Adil pada tahun 1998, ia telah menjadi sekretaris kapus. Sedangkan Angsori adalah salah satu cleaner yang merupakan pekerja lepas dengan gaji yang  pasti kurang dari sekedar pas-pasan. 

PMB adalah salah satu pusat penelitian di bawah kedeputian ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan LIPI. Setelah dilakukan reorganisasi pada tahun 1986, mungkin tepatnya peleburan atau penggabungan dari Leknas (Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional)-LIPI dan LRKN (Lembaga Riset dan Kebudayaan Nasional)-LIPI, dua institusi penelitian ilmu sosial dan kemanusiaan pemerintah  barangkali yang tertua setelah kemerdekaan.

Diaspora peneliti setelah pembubaran dari kedua lembaga itu kemudian ditampung di empat pusat penelitian baru yang didirikan. Selain PMB, dibentuk Pusat Penelitian kependudukan (P2K), Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) dan Pusat Penelitian Politik dan Wilayah (PPW). Pada tahun 2001 dibentuk satu pusat penelitian lagi Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR) yang penelitinya diambil dari PMB dan PPW (sekarang P2P).

PMB sejak awal memiliki posisi yang berbeda dari pusat-pusat yang lain karena latar belakang disiplin ilmu penelitinya yang paling beragam. Pusat-pusat penelitian lainnya, relatif lebih jelas fokusnya: politik, ekonomi dan kependudukan. Tapi kemasyarakatan dan kebudayaan? Sebuah wilayah yang begitu luas, dimana politik, ekonomi dan kependudukan pun bisa termasuk di dalamnya. Jadi sejak awal sebetulnya ada problem tentang batas ruang lingkup sesunguhnnya dari kemasyarakatan dan kebudayaan? Dimana disciplinary boundaries dari PMB?

PMB memiliki peneliti-peneliti dengan disiplin dan keahlian yang sangat beragam; filsafat, agama, hukum, sejarah, linguistik, antropologi, sosiologi, sinologi. Saya kira hal ini menjadikan PMB sebagai sebuah pusat penelitian ilmu sosial dan kemanusiaan, problematik namun sekaligus menarik. Dalam kesempatan lain saya bisa menulis tentang hal ini lebih jauh. 

Pada kesempatan ini saya ingin menunjukkan apresiasi sekaligus rasa terimakasih saya yang pertama adalah pada Mensi, yang selama saya menjabat sebagai kapus, meskipun singkat (1998-2000), telah sangat membantu khususnya dalam hal administrasi. Kedua, saya pun ingin berterima kasih pada Angsori, office boy yang selalu membuatkan kopi dan sekali-sekali mie rebus dengan potongan daun sawi hijau dan telor ditaburi racikan cabe rawit yang bisa membuat kita addicted.

Mensi bagi saya adalah seorang sekretaris yang handal atau superb. Ia berpengalaman, terampil dan luwes, serta mengetahui dengan baik apa saja yang harus dikerjakan untuk melancarkan pekerjaan kapus. Mensi kemudian dibantu oleh Ana Windarsih yang saat itu baru diterima sebagai pegawai baru di PMB, membuat saya sebetulnya dapat menerapkan apa yang secara bergurau dalam sebuah kesempatan dikatakan oleh wartawan senior Aristides Katoppo sebagai MBA, management by absent. Meskipun menjabat ebagai Kapus, saya memiliki kesibukan dan aktivitas yang tidak memungkinkan saya untuk selalu stand by dan secara fisik hadir di kantor. Mensi, dibantu Ana dan Angsori merupakan trio yang kemudian membantu melancarkan pekerjaan saya sebagai Kapus PMB.

Seingat saya, ruang kerja Kapus PMB saat saya masuk dan menjabat, menempati bekas ruang kerja Ketua LIPI di Lt 6  Gedung Widya Graha.Widya Graha adalah gedung berbentuk bundar mirip tangki air besar yang jendela di setiap lantainya akan memastikan aliran udara secara leluasa. Menurut arsiteknya, Ardhi Moersid dari Biro Arsitek Atelier 6, gedung ini didesain dengan penggunaan atau penempatannya tidak akan menggunakan AC. Ardhie Moersid adalah arsitek yang dikenal dengan desainnya yang banyak mengadopsi arsitektur lokal.

Pada saat kami bertemu untuk sama-sama menghadiri Seminar Indonesia Timur di Menado tahun 1985 yang dikoordinir oleh Pak Edi Masinambow (Deputi IPSK LIPI pada saat itu), ia menjelaskan tentang desain Gedung Widya-Graha Ardhi Moersid saat itu diundang Pak Edi untuk mempresentasikan penelitiannya tentang arsitektur rumah-rumah tradisi di berbagai tempat di Indonesia Timur. Karena merupakan bekas ruang kerja Ketua LIPI, ruang kerja itu Kapus PMB bisa dikatakan sangat luas dan nyaman. Di dalamnya terdapat satu set sofa,  meja besar lengkap dengan kursinya untuk rapat staf dan yang paling istimewa adalah karena ada kamar mandinya Saya masih ingat seorang teman peneliti PMB pada saat itu yang sering mempergunakan kamar mandi itu untuk mandi adalah Mohamad Sobary.

Sobary, sebelum masuk ke PMB adalah peneliti di LRKN. Pada masa Presiden Gus Dur, Sobary diangkat presiden menjadi Direktur Kantor Berita Antara  dalam waktu hampir bersamaan dengan pengangkatan Pak Taufik Abdullah menjadi Ketua LIPI dan Muhamad AS Hikam, (peneliti di Pusat Penelitian Ekonomi) sebagai Menristek/Ketua BPPT. Saat kira, pada masa Gus Dur menjadi presiden itulah untuk pertama kalinya, dan mungkin juga terakhir kalinya, seorang Presiden begitu dekat dengan LIPI.

Ket: Gedung LIPI.

Tahun 1998-2000 merupakan tahun-tahun yang sangat bersejarah dan penuh perubahan. Lengsernya Suharto pada 21 Mei 1998 didahului oleh pergolakan politik yang sangat dramatis di Jakarta dan perlu dicatat, keterlibatan penting dari beberapa peneliti LIPI dalam arus perubahan itu. Apa yang terjadi di LIPI mungkin suatu saat perlu dituliskan karena menunjukkan keterlibatan para peneliti LIPI yang mendalam dalam proses perubahan politik saat itu. Dengan didukung the Ford Foundation. LIPI saat itu menjadi tuan rumah satu perhelatan dan konferensi besar (Toward Structural Reforms for Democratization in Indonesia).

Saat itu, salah satu program officer Ford Foundation adalah Hans Antlov. Konferensi tersebut diadakan selama tiga hari (12-14 Agustus 1998) di Hotel Kartika Chandra di seberang Kantor LIPI. Selain pembicara-pembicara dari Indonesia, beberapa ahli-ahli ilmu sosial dan politik kaliber dunia seperti Alfred Stephans, Donald Horowitz dan Juan Linz.  Pada saat itu, Ketua LIPI masih dijabat oleh Sofyan Tsauri dengan Ardjuno Brodjonegoro sebagai Deputi IPSK. Kapus PPW Mochtar Pabottingi secara langsung mengorganisir konferensi itu. Buku hasil konferensi ini kemudian disunting oleh Ikrar Nusa Bhakti dan Riza Sihbudi, dengan kata pengantar dari Bill Liddle, yang berjudul: “Menjauhi Demokrasi Kaum Penjahat” (terbit 2001). Melihat situasi politik saat ini, dua puluh tahun telah berlalu sejak terbitnya buku itu, nampaknya kita telah gagal. Kita lihat hari ini demokrasi kita memang telah dikuasai oleh Kaum Penjahat.

Pada momen-momen yang bersejarah itu sebagai Kapus PMB saya terlibat dalam berbagai kesibukan karena selain mengurus kantor saya juga diangkat sebagai salah satu staf khusus Menteri Transmigrasi  Al Hilal Hamdi, seorang mantan aktifis mahasiswa ITB yang diangkat Gus Dur sebagai Menteri Transmigrasi. Pekerjaan sebagai staf khusus tidak terlalu berat sebetulnya karena bersama staf khusus lainnya - Indro Tjahjono dan Didin S Damanhuri (sesama mantan aktifis) hanya sekali-sekali menghadiri rapat bersama menteri. Itulah mengapa prinsip ‘MBA’ yang saya dapat dari Aristides Katoppo secara tidak langsung saya praktekkan, dan saya sangat terbantu oleh kecekatan Mensi sebagai sekretaris.

Memang sebetulnya saya harus menyebutkan banyak staf dan kolega yang lain juga karena saya pun berhutang atas bantuan dan dukungan mereka selama masa kerja saya. Namun, saya tidak mungkin saya sebutkan satu persatu secara lengkap. Beberapa di antaranya adalah Pak Abdul Rachman Patji (saat itu Kepala Bidang Dinamika Sosial), Djoko Kristijanto (saat itu Kepala Subbid Dokumentasi dan Publikasi), Hermadi (Sopir) dan Wahyudi Permana (Staf Kepegawaian) serta Sarijin staf yang siap membantu hal apa saja. 

Setelah saya tidak menjabat sebagai kapus dan menjadi peneliti biasa di PMB LIPI, hingga pensiun pada tanggal 1 Februari 2017 Mensi dan Angsori adalah orang-orang yang masih tetap membantu saya, baik dalam soal-soal yang berkaitan dengan administrasi dan juga membuatkan kopi. Terima kasih, Mensi dan Angsori.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #LIPI #PMB



Berita Terbaru

 

Buku Mencari Indonesia
Kamis, 16 September 2021 14:44 WIB

Mencari Indonesia: Laku Pikir Riwanto Tirtosudarmo "Pasca-Cornell"


Oleh: Gutomo Bayu Aji* Dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir, Riwanto Tirtosudarmo setidaknya telah menerbitkan tiga buku yang diberi judul berseri.

 

Rabu, 15 September 2021 16:30 WIB

6 Manfaat Bermain Lego Bagi Berbagai Kalangan Usia


  Kajanglako.com - Lego merupakan sebuah game puzzle yang sangat menyenangkan untuk dimainkan. Biasanya lego adalah mainan untuk anak berusia balita

 

Selasa, 14 September 2021 12:36 WIB

Diduga Buronan Narkoba Hanyut di Sungai Saat Dikejar Petugas


Kajanglako.com, Bungo - Diduga seorang pelaku pengguna Narkoba dikabarkan hanyut di Sungai Batang Tebo, sekira pukul 17:55 WIB. Berusaha selamatkan diri

 

Senin, 13 September 2021 11:33 WIB

Gelapkan Mobil, Warga Desa Dusun Dalam Sarolangun Terancam 4 Tahun Penjara


Kajanglako.com, Sarolangun - Kepolisian Unit Reskrim Polsek Bathin VIII, Polres Sarolangun berhasil mengamankan seorang pelaku AR (36) Tahun Warga Desa

 

Cafe dan Perempuan
Minggu, 12 September 2021 20:54 WIB

Cafe, Gaya Hidup dan Aktualisasi Perempuan


Oleh: Nor Qomariyah* Belakangan ini marak kita jumpai di berbagai tempat, mulai jalanan kecil kompleks perumahan hingga jalan koridor utama, kedai kopi