Jumat, 24 September 2021


Sabtu, 05 Juni 2021 15:56 WIB

Mengenal Paradigma Transintegrasi Ilmu UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Reporter :
Kategori : Perspektif

ilustrasi.

Oleh: Fridiyanto*

Transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sulthan Thaha Jambi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) merupakan sebuah peristiwa penting dan sangat berharga dan membanggakan bagi masyarakat Jambi khususnya. Namun demikian, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mengemban sebuah tanggung jawab dan kerja keilmuan yang sangat berat, yaitu merobohkan tembok dikotomi ilmu (agama dan umum, dunia dan akhirat) yang sudah begitu kokoh.



Dalam menjalankan agenda perubahan perguruan tinggi, setidaknya dapat dilakukan dengan merubah dari tiga aspek penting berikut: Filosofi (budaya organisasi), Fisik (infrastruktur, fasilitas), dan Struktur organisasi (pengembangan lembaga, program studi baru). Dari aspek fisik yang berupa gedung dan fasilitas, saat ini UIN Jambi sedang begitu gencar dalam pembangunan di kampus Telanaipura dan Kampus di Mendalo, serta pembenahan fasilitas yang mendukung perkuliahan. Tidak kalah pentingnya dari perwajahan fisik kampus yaitu perubahan paradigma keilmuan, sehingga perubahan menjadi UIN bukanlah hanya perkara mengganti kata institut menjadi universitas.

Sedangkan dalam aspek pengembangan kelembagaan, saat UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi telah memiliki Fakultas Sains dan Teknologi, di fakultas ini generasi muda Jambi dapat menekuni bidang Teknologi Informasi, Fisika, Biologi dan akan menyusul program studi sains lainnya. Dapat dikatakan, UIN Sulthan Thaha Saifuddin saat ini tidak lagi dalam sebuah budaya yang homogen, tetapi sudah kosmopolis karena juga didukung tenaga dosen dari berbagai daerah dengan beragam disiplin ilmu alumni dari berbagai universitas di Indonesia dan luar negeri.

Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. H. Su’aidi, Ph.D sebagai konseptor Paradigma Transintegrasi Ilmu berupaya melampaui gagasan Reintegrasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Integrasi-Interkoneksi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Integrasi Ilmu UIN Malik Ibrahim Malang yang saat ini belum menampakkan implementasi dan output ideal. Harapan akan munculnya ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama belum dapat dilihat dari konsep keilmuan yang jauh lebih dulu tumbuh dan berkembang di tiga kampus besar tersebut. Sarjana keluaran UIN yang ada belum dapat menjawab persoalan paradigmatik dan menjawab relasi Islam dengan sain dan teknologi dengan berbagai persoalan sosial, misalnya pada masa Pandemi Covid-19, tidak ada dari perguruan tinggi Islam yang dapat memberikan solusi dalam aspek sains  maupun teologis. Saat ini paradigma Integrasi Ilmu yang diusung  UIN di Indonesia masih terjebak dalam diskursus, terperangkap dalam polemik konseptual tidak berujung, kalaupun mulai menampakkan hasil, paradigma Integrasi Ilmu sudah dalam tahap saling menyapa dan dialog antar disiplin ilmu, namun belum dapat selesaikan persoalan dikotomi ilmu.

Keluar dari Pagar Dikotomi

Paradigma Transintegrasi Ilmu merupakan sebuah paradigma yang berbasis pada worldview Islam, identitas keislaman, terbuka terhadap kemajuan modern, menghargai tradisi lokal dan sekaligus mentransendensi atau melampaui tradisi keilmuan klasik, modern, postmodern dan konteks lokalitas. Paradigma Transintegrasi mengambil semangat keilmuan Islam klasik yang holistik dan tidak dikotomis. Dengan corak inklusifnya Paradigma Transintegrasi sangat terbuka terhadap perkembangan sains, teknologi dan fenomena sosial yang terjadi dalam skup lokal, nasional, dan internasional.

Prof. Dr. H. Su’aidi, Ph.D dalam berbagai kesempatan menyatakan bahwa UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi melalui  Paradigma Transintegrasi akan dapat keluar dari pagar dikotomi ilmu yang sudah sangat lama mengungkung perguruan tinggi Islam, sehingga para sarjana perguruan tinggi Islam hanya dianggap kompeten dalam lima tradisi ilmu keislaman: Ushuluddin, Tarbiyah, Dakwah, Syari’ah dan Adab, seakan-akan persoalan sains dan teknologi, ekonomi, politik, dan kebijakan-kebijakan pembangunan bukanlah urusan ilmuan (masyarakat) Islam.

Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin, Prof. Dr. H. Su’aidi, Ph.D melalui Paradigma Transintegrasi Ilmu telah sangat berani melakukan terobosan paradigmatik dan mengupayakan langkah empirik untuk mengatasi persoalan modernitas yang memunculkan masalah dikotomis, dan reduksionis. Paradigma Transintegrasi akan melumat batasan kaku antar disiplin-disiplin ilmu, maupun Islam dan Sain. Alumni UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi akan “melebur dan melekat” (integrally embedeed) sehingga Islam dan Sains tidak lagi terpisah.

Di masa mendatang, UIN Sulthan Thaha Saifuddin benar-benar diharapkan menjadi lokomotif perubahan sosial dengan melahirkan “ulama yang saintis dan saintis yang ulama”. Para sarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang telah ditempa dengan Paradigma Transintegrasi Ilmu nantinya akan dapat berkontribusi  mengatasi “Nestapa Manusia Modern” sebuah kritik Syed Hossein Nasr terhadap keadaan manusia modern yang mekanis karena telah memisahkan agama dengan sains, menghilangkan aspek transedental ilmu pengetahuan, kehampaan spiritual, dan sangat bercorak antroposentris. Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan manusia modern yang telah teralienasi dari dirinya justru mengakibatkan kerusakan lingkungan, pembangunan yang eksploitatif, dan krisis kemanusiaan. 

*Dr. Fridiyanto, penulis merupakan Kepala Pusat Kajian dan Implementasi Transintegrasi Ilmu UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.


Tag : #Perspektif #UIN STS Jambi #Paradigma Transintegrasi #Modernitas #Dikotomi Ilmu



Berita Terbaru

 

Kamis, 23 September 2021 19:00 WIB

Masuki Musin Hujan, Pemkab Sarolangun Siaga Bencana Hidrometrologi


Kajanglako.com, Sarolangun – Memasuki musim hujan tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

 

Vaksinasi Covid-19
Kamis, 23 September 2021 18:49 WIB

Upaya Kegiatan Belajar Tatap Muka, Disdik Sarolangun Ingin Tuntaskan Vaksin Bagi Siswa


Kajanglako, Sarolangun – Dinas Pendidikan Sarolangun ingin menuntaskan pelaksanaan vaksinasi khusunya bagi para siswa. Saat ini beberapa sekolah

 

Kamis, 23 September 2021 17:39 WIB

Pemkab Merangin Raih Anugerah APE 2020 dari Kementerian PPPA RI


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin dibawah kepemimpinan Bupati H Mashuri, meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020, dari

 

Rabu, 22 September 2021 18:51 WIB

Pj Sekda Tanam Replanting Sawit Kemitraan


Kajanglako.com, Merangin - Pj Sekda Merangin Fajarman secara simbolis melakukan penanaman perdana program replanting sawit kemitraan strategis Gapoktan,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,