Rabu, 22 September 2021


Minggu, 25 April 2021 21:57 WIB

Kekristenan dan Komunitas Lokal Nusantara: Telah Selesaikah Proses Kristenisasi Itu?

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Buku baru Nusantara Institute yang berjudul Agama dan Budaya Nusantara Pasca Kristenisasi (2020) yang disunting oleh Izak Y.M. Lattu dan Tedi Koliludin seperti mengandaikan bahwa proses pengkristenan di berbagai komunitas di nusantara ini telah selesai. Buku sebelumnya, Agama dan Budaya Nusantara Pasca Islamisasi (2020) yang melihat proses islamisasi juga mengandaikan telah selesainya proses pengislaman itu. Dalam review terhadap buku Agama dan Budaya Nusantara Pasca Islamisasi (2020) dan Agama dan Kepercayaan Nusantara (2019) saya mempertanyakan asumsi atau pengandaian telah selesainya proses pengislaman atau islamisasi, dan sekarang dengan buku baru ini proses pengkristenan atau kristenisasi.[1]



Sayang Nusantara Institute sebagai lembaga yang menerbitkan buku-buku yang menurut hemat saya penting ini tidak menjelaskan asumsi atau pengandaian yang dipergunakannya ini. Mungkin juga kata “paska’ yang digunakan tidak dimaksudkan secara ketat bahwa proses pengislaman atau pengkristenan yang terjadi itu telah benar-benar selesai, seperti halnya berbagai proses perubahan sosial lainnya yang juga terus berlangsung tanpa ada titik henti. Jika kita memang melihat proses islamisasi atau kristenisasi yang akan dibahas di sini, sebagai proses sosial yang terus berlangsung, maka akan menjadi pertanyaan, bagaimana masa depan proses yang sedang berlangsung ini?

Dalam sebuah kolomnya di Majalah Tempo yang berjudul “Salahkah Jika Dipribumikan?” yang terbit hampir 40 tahun yang lalu (16 Juli 1983), Gus Dur secara berani dengan menggunakan bahasa yang ringkas, jelas dan lugas, sudah mempertanyakan apa yang dia katakan sebagai “proses formalisasi Islam” yang dia sebut juga sebagai proses “arabisasi” yang bagi Gus Dur menjadi pertanda jika Islam sedang tercerabut dari lokalitas yang semula mendukung kehadirannya di belahan bumi ini?  Dalam esai yang tajam ini Gus Dur mengajak kita untuk menyadari perlunya memupuk kembali akar-akar budaya lokal dan kerangka kesejarahan kita sendiri dalam mengembangkan kehidupan beragama Islam di negeri ini. 

Gus Dur menyadari penggunaan istilah “pribumisasi Islam”  sebetulnya kurang tepat, tapi dengan jujur dia memang belum menemukan kata yang tepat. Gus Dur enggan menggunakan kata domestikasi karena kata ini dianggapnya berbau politik, yaitu penjinakan sikap dan pengebirian pendirian. Di bagian akhir kolomnya Gus Dur menulis sebagai berikut: Yang dipribumikan adalah manifestasi kehidupan Islam belaka. Bukan ajaran yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formalnya. Tidak diperlukan ‘Quran Batak’, dan ‘Hadis Jawa’. Islam tetap Islam, di mana saja berada. Namun tidak berarti semua harus disamakan ‘bentuk luar’-nya. Salahkah kalau Islam ‘dipribumikan’ sebagai manifestasi kehidupan?

Buku Agama dan Budaya Nusantara Pasca Kristenisasi kembali menunjukkan niat Nusantara Institute untuk menyajikan hasil-hasil studi tentang proses ‘pribumisasi’ dan ‘domestikasi’ Kristen di Nusantara. Kata ‘pribumisasi’ dan ‘domestikasi’ berbeda dengan Gus Dur sengaja saya pakai serentak. Tanpa mengacu sepenuhnya pada Gus Dur, ‘pribumisasi’ saya artikan sebagai proses adaptasi sekaligus resistensi dari komunitas lokal dimana agama baru itu masuk, dan ‘domestikasi’ saya maksudkan sebagai proses dominasi dan hegemoni yang dilakukan oleh pembawa agama baru ke dalam komunitas-komunitas lokal dimana agama baru itu ingin dimasukkan.

Dengan menggunakan konsep “pribumisasi dan domestikasi” ini  saya memcoba membaca buku yang disunting oleh Izak YM Latu seorang ahli teologi Kristen dan Tedi Koliludin seorang ahli teologi Islam. Tulisan-tulisan terpilih yang disajikan dalam buku ini meskipun telah menunjukkan adanya variasi yang kaya dari masuknya agama Kristen ke berbagai komunitas di Nusantara, namun belum sepenuhnya menggambarkan apa yang terjadi, karena misalnya tidak ada satupun yang membicarakan pengalaman komunitas-komunitas Dayak di Kalimantan yang tidak saja telah dikristenkan tapi juga diislamkan dan dihindukan, atau apa  yang terjadi di Papua, sebuah wilayah yang saat ini justru menjadi lokus yang sedang dikontestasikan oleh Kristen maupun Islam. Tulisan-tulisan yang tersaji dalam buku ini juga baru mengulas proses kristenisasi yang dilakukan oleh Kristen Protestan, dan tidak ada yang mengulas bagaimana Kristenisasi yang dilakukan oleh Kristen Katolik – mungkin akan diterbitkan dalam buku tersendiri di masa yang akan datang, semoga.

Melihat komunitas yang menjadi wilayah kajian, cukup menarik karena memperlihatkan mayoritas wilayah berada di luar Jawa:  Rote (NTT), Lease (Maluku), Toraja (Sulsel), Minahasa, (Sulut ) 2 tulisan, Bitung (Sulut), Tolaki (Sulteng), Boti, Timor (NTT), Sidorejo, Kediri (Jatim) dan GKJ (Jawa), Batak (Sumut). Berbeda dengan masuknya Islam yang berhubungan dengan migrasi para pedagang, terutama dari India dan Cina; kedatangan Kristen sangat erat kaitannya dengan proses kolonisasi oleh bangsa-bangsa Eropa di Asia, Afrika maupun Amerika, dalam kasus Indonesia terutama Portugis dan Belanda. Baik Islam maupun Kristen adalah agama-agama yang dikenal sebagai agama yang bersifat ekspansif karena keyakinan para misionarisnya bahwa mereka harus menyelamatkan umat manusia yang dianggap belum beradab melalui ajaran agama yang dibawanya.

Dalam hal ini, meskipun penilaian bahwa kristenisasi berlangsung bersamaan dengan proses penaklukan dan penjajahan, sulit dibantah juga peran Islam sebagai kekuatan resisten terhadap perluasan kristenisasi di nusantara. Beberapa studi di Sulawesi memperlihatkan bagaimana Belanda mendorong kristenisasi wilayah tengah Sulawesi untuk mencegah ekspansi Islam yang kuat bergerak dari selatan.[2] Pemerintah kolonial dan para misionaris Kristen menghadapi realitas bahwa mereka harus mencari wilayah-wilayah di nusantara yang penduduknya belum mengalami islamisasi. Selain di pulau-pulau wilayah nusantara bagian timur yang belum dimasuki Islam seperti Rote dan Lease, mereka harus masuk ke wilayah pedalaman karena umumnya wilayah pesisir sudah lebih dulu diislamkan. Toraja, Tolaki dan Batak barangkali contoh bagaimana kristenisasi harus mencari penduduk di wilayah pegunungan yang sering terisolasi dan belum dimasuki oleh misionaris Islam.

Sebagai peneliti yang telah mendalami interaksi antara para pembawa agama Kristen dan komunitas-komunitas lokal yang telah memiliki agama lokalnya masing-masing, uraian yang terungkap dalam setiap bab mencerminkan pemahaman yang cukup rinci tentang proses adaptasi dan resistensi yang terjadi. Pengkristenan atau kristenisasi memperlihatkan dinamika lokal yang berbeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya; begitupun kemudian bentuk-bentuk ritual kekristenan yang dihasilkan dari interaksi itu. Buku ini menjadi menarik karena setiap penulisnya memilih “angle” nya masing-masing dan memperlihatkan besarnya variasi hasil akhir proses kristenisasi yang terjadi. Kembali di sini menjadi pertanyaan besar, apakah proses kristenisasi itu telah selesai, dan pertanyaan ini menjadi penting karena setiap proses kristenisasi di sebuah komunitas yang terpencil sekalipun, tidak dapat dilepaskan dari proses sosial-politik yang berlangsung di masyarakat yang lebih luas.

Kita mengetahui, setelah kekuasaan otoriter Orde-Baru berkurang muncul kebangkitan agama-agama lokal dan komunitas-komunitas adat yang selama ini telah menerima kehadiran agama-agama besar secara terpaksa. Sebagai contoh, di pulau Sumba saat ini kembali muncul semangat untuk menghidupkan Marapu sebagai agama lokal yang selama ini harus menerima agama Katolik. Kemenangan gerakan maasyarakat sipil mendukung diakuinya agama-agama lokal yang tercermin dari diakuinya eksistensi mereka melalui pencantuman dalam kolom agama di KTP tentulah berimbas pada sikap berbagai komunitas lokal yang selama ini hidup dalam bayang-bayang penaklukan dan dominasi agama-agama resmi. Lagi-lagi dalam konteks seperti ini menjadi goyah adanya anggapan bahwa proses kristenisasi, islamisasi atau hinduisasi yang terjadi di masyarakat sebagai dibayangkan telah final.

Penerbitan buku-buku tentang proses perubahan dalam sistem kepercayaan atau agama dalam pengertian yang luas di berbagai komunitas di kepulauan nusantara, seperti telah dirintis oleh berbagai  lembaga pengkajian seperti Nusantara Insitute, CRCS-UGM, serta tak terhitung lembaga-lembaga lain baik di universitas maupun di LSM-LSM yang bergerak di bidang ini; patutlah dihargai dan didukung. Secara akademis banyaknya publikasi hasil penelitian tentang dimensi sosial penting ini menjadi bukti bahwa pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan Indonesia tidak lagi didominasi oleh peneliti-peneliti asing seperti pada masa lalu. Nusantara Institute telah menjadi perintis terdepan dari kesadaran akan perlunya kajian akademis yang tidak saja menjunjung tinggi kaidah-kaidah ilmiah namun sekaligus memberikan perspektif yang lebih holistik dan emansipatoris, terutama dalam memberikan empati dan rekognisi pada asprasi-aspirasi masyarakat lokal yang selama ini terpaksa harus mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang sesungguhnya berada di luar kepentingan komunitas mereka sendiri.

 

*Peneliti Independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


[1] Lihat “Jawa, Islam dan Nusantara: Memposisikan Agama dalam Keragaman Budaya”,  resensi buku, dalam Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture, Vol II, Number1, January 2021, pp. 113-125.

[2] Lihat misalnya tulisan D. Roth (2005), Lebenstraum in Luwu: Emergent Identity, migration and access to land.  Bijdragen, 161 (4), 485-516.


Tag : #Agama #Budaya #Nusantara #Agama Lokal



Berita Terbaru

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 12:51 WIB

Bersama TNI, Pemkab Sarolangun Sasar Vaksinasi untuk Remaja Diatas 12 Tahun


Kajanglako.com, Sarolangun – TNI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun kembali melaksanakan vaksinasi gratis, Rabu, (21/09/2021). Kali ini, yang

 

Rabu, 22 September 2021 12:36 WIB

Pemkab Merangin Ingin Perangkat Desa Pahami Sistem Digitalisasi


Kajanglako.com, Merangin - Kapasitas dan kemampuan para perangkat desa harus terus ditingkatkan, terlebih untuk pemahaman sistem digitaliasi yang wajib

 

Perspektif
Minggu, 19 September 2021 22:27 WIB

Membaca Indonesia. Catatan Kecil Atas 50 Tahun Rekayasa Sosial: 5 Bias dan 5 Mitos


Oleh: Wahyu Prasetyawan* Riwanto Tirtosudarmo (selanjutnya Riwanto) dalam tulisannya membahas adanya 5 bias dan 5 mitos dalam proses rekayasa sosial selama

 

Sosok dan Pemikiran
Minggu, 19 September 2021 08:00 WIB

Ketangguhan Membaca dan Menulis Seorang Riwanto Tirtosudarmo


Oleh: Anggi Afriansyah* Rabu, 15 September 2021 saya menerima pesan dari Pak Riwanto Tirtosudarmo. Dalam pesan itu ia mengirim sebuah buku Berjudul “Mencari