Rabu, 22 September 2021


Rabu, 07 April 2021 03:50 WIB

Umbu Landu Paranggi

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Kepergiannya menjelang dini hari tadi seperti mengiringi melayangnya puluhan nyawa para korban banjir bandang yang dalam beberapa hari terakhir ini melanda berbagai tempat di NTT termasuk di Sumba Timur, kampung halamannya.



Saya masih menyimpan foto keluarga itu. Foto keluarga berbingkai yang tercantel di dinding rumah keluarga besar Umbu Landu Paranggi. Di foto itu Umbu tampak bahagia dikelilingi ketiga anak dan dua menantunya. Foto itu, kata Umbu Wulang Tanamahu, anak terkecilnya, dibuat di sebuah tempat di Bali, tidak lama setelah ia menikah. Mereka ke Bali menemui bapaknya, yang lama meninggalkan keluarga. Umbu Wulang bercerita pertemuan itupun tidak lama katanya, hanya sekitar dua jam, setelah itu mereka berpisah lagi. Umbu Wulang menceritakan bahwa bapaknya meninggalkannya ketika ia belum berumur dua tahun, dan pertemuan itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya.

Ket: Umbu beserta keluarga. 

Di rumah keluarga besar Umbu Landu Paranggi yang sudah tampak tua namun masih terlihat kuat itu, saya menyaksikan sebuah ritus adat. Malam itu, setelah disampaikan beberapa kata sambutan, diserahkan selembar kain Sumba tua yang terlipat rapi dari perwakilan tetua adat Sumba Tengah, ke tetua adat di Sumba Timur. Penyerahan kain tua itu menandai diserahkannya tanggung jawab penyelenggaraan festival air yang sejak beberapa tahun ditradisikan oleh masyarakat adat Sumba.

Festival Air yang dalam bahasa Sumba adalah Festival Way Humba digagas oleh para pegiat sosial di Sumba yang menganggap bahwa air sebagai sumber kehidupan harus dimuliakan. Para pegiat sosial ini melihat bahwa masyarakat harus disadarkan akan perlunya menjaga sumber-sumber air yang sangat langka di pulau yang mulai dikepung oleh industri turisme itu. Festival terakhir itu dipusatkan di Desa kelahiran Umbu Landu Paranggi, Desa Kananggar, Kecamatan Paberiwai, Kabupaten Sumba Timur.

Desa ini memiliki letak yang sangat unik, untuk sampai ke Desa ini kita harus melewati bukit-bukit batu dan padang sabana, dengan jalan meliuk di kiri-kanan jurang yang terjal. Dari atas hamparan bukit batu dan sabana itu yang kita lihat hanyalah sebuah keluasan, ke atas hamparan langit putih dan ke samping laut biru yang membentang jauh seolah membentuk cakrawala tak bertepi. Desa yang seharian kita tuju itu seperti menyuruk ke kedalaman sebuah lembah hijau yang subur. Perkampungan di mana rumah keluarga besar Umbu Landu Paranggi dimana persawahan padi bisa dilakukan di lembah yang subur ini

Umbu Wulang Tanamahu, anak terkecil dari tiga bersaudara, anak Umbu Landu Paranggi; yang saat ini menjadi Direktur WALHI NTT itu kami jemput di rumahnya di Waingapu dan dari sana kami mengarungi bukit dan sabana menuju desanya yang akan menjadi pusat Festival Air atau Festival Way Huma atau kalarat wai; yang rupanya menjadi festival terakhir karena setelah itu, pandemi covid1-19 menghentikan semua kegiatan yang mengundang banyak orang. Saat itu, setelah mengikuti Summer Program yang diselenggarakan oleh Elcid Li dari IRGSC dan Profesor Adam Seligman dari CEDAR selama hampir 2 minggu yang diakhiri di Kupang, saya memutuskan berkunjung ke Sumba, menemui Romo Mike Keraf yang memimpin sebuah yayasan kemanusiaan di Waikabubak, Sumba Barat.

Seperti biasa, saya mengunjungi sebuah tempat tanpa agenda yang jelas. Begitupun waktu berkunjung ke Sumba. Salah satu yang ingin saya ketahui adalah tentang Marapu, sebuah agama lokal di Sumba yang konon mulai hidup kembali. Ketika bertemu dengan Romo Mike Keraf dalam sebuah konferensi yang membicarakan agama lokal di Yogya; saya mengatakan saya ingin suatu kali ke Sumba, dan rupanya kesempatan itu datang juga. Setelah ngobrol kesana kemari di hari pertama di kantornya, Yayasan Dobders, Romo Mike menawarkan apakah saya mau ikut mobil yang akan ke Sumba Timur untuk mengurus rencana Festival Air. Secara spontan saya mengiyakan dan jadilah saya ikut rombongan teman-teman dari Yayasan Donders yang akan mengambil terlebih dahulu kain sumba di tetua di Sumba Tengah, dan kemudian menyerahkannya ke tetua di Sumba Timur.

Saya hanya mendengar nama Umbu Landu Paranggi dari potongan-potongan berita, dari beberapa orang yang mengenalnya dan dari Umbu Wulang Tanamahu, putra terkecilnya, sepanjang perjalanan dari Waingapu ke rumahnya yang menurutku begitu jauh terpencil. Rumah dan kampung itu seperti sebuah dunia tersendiri, dunia Orang Sumba dan kuda-kudanya yang sangat terkenal itu. Saya membayangkan bagaimana dari kampung yang terpecil itu mereka menuju ke Waingapu, kota terbesar dan terdekatnya; sebelum kemudian menyeberang ke Jawa, ke Yogyakarta, tempat Umbu Landu Paranggi memulai kisahnya yang menjadi sebuah legenda tersendiri di dunia intelektual Indonesia. Umbu Landu Paranggi lahir tahun 1943, 2 tahun sebelum kemerdekaan, dan ketika tahun 70an di Yogya itu berarti dia sudah berumur 27 tahun, sebuah usia yang tidak remaja lagi tapi juga belum dewasa. Kisahnya menjadi mentor para penyair muda Yogya rupanya diteruskan sejak tahun 80an di Denpasar Bali.

Saya tidak tahu apakah Umbu Landu Paranggi termasuk yang dimasukkan oleh HB Jassin, Paus Sastra Indonesia, ke dalam sastrawan Angkatan 66, sebuah angkatan yang seperti dilahirkan sebagai bagian dari para penumbang Bung Karno. Kalau toh dimasukkan, saya kira Umbu Landu Paranggi juga tidak peduli. Saya ingat salah seorang penyair Angkatan 66, Taufik Ismail, menuliskan salah satu sajaknya untuk Umbu. Bagi saya yang menarik adalah kebiasaannya untuk tidak menampilkan diri dalam ruang publik, sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan dari apa yang disebut sebagai intelektual publik. Dalam sebuah wawancara dengan novelis Salman Rusdhie, Edward Said mengatakan bahwa istilah intelektual publik adalah sebuah redundancy. Menurut Edward Said seorang intelektual dengan sendirinya selalu publik, tidak ada intelektual yang tidak publik, katanya.

Umbu Landu Paranggi seorang tokoh, penyair, mentor seni anak-anak muda, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai pribadi yang misterius, karena menghindari publikasi itu; mungkin contoh yang paling tepat dari gambaran seorang intelektual. Sebagai intelektual, mungkin tulisan-tulisannya tidak cukup banyak, namun tetap pengaruhnya begitu besar, membius; di ruang publik yang justru seperti tidak pernah dijamahnya, selalu dihindarinya. Semasa hidupnya, tidak sedikit yang mengagumi kiprahnya, tidak sedikit yang berusaha menemuinya; terbius ingin bertemu dan melihat langsung sosoknya yang misterius itu.

Ketika berada di tengah keluarga besarnya saya menyatakan keinginan untuk menemui Umbu Landu Paranggi, dan mereka menyatakan senang jika nanti saya mencarinya di Bali. Secara kebetulan ketika di Malang saya bertemu dengan Ni Made Purnamasari, penyair dan penulis muda Bali yang mengatakan dirinya cukup dekat mengenal Umbu. Ketika saya tanya apakah dia bisa membantu saya jika suatu saat ingin bertemu Umbu, Ni Made Purnamasari mengatakan “dengan senang hati”, dan dia mengatakan tahu bagaimana caranya untuk menemui Umbu. Ketika mendengar Umbu wafat, ada rasa sesal, mengapa Umbu pergi begitu cepat, padahal saya sudah merencanakan ingin sekali menemuinya.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Umbu Landu Paranggi



Berita Terbaru

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 12:51 WIB

Bersama TNI, Pemkab Sarolangun Sasar Vaksinasi untuk Remaja Diatas 12 Tahun


Kajanglako.com, Sarolangun – TNI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun kembali melaksanakan vaksinasi gratis, Rabu, (21/09/2021). Kali ini, yang

 

Rabu, 22 September 2021 12:36 WIB

Pemkab Merangin Ingin Perangkat Desa Pahami Sistem Digitalisasi


Kajanglako.com, Merangin - Kapasitas dan kemampuan para perangkat desa harus terus ditingkatkan, terlebih untuk pemahaman sistem digitaliasi yang wajib

 

Perspektif
Minggu, 19 September 2021 22:27 WIB

Membaca Indonesia. Catatan Kecil Atas 50 Tahun Rekayasa Sosial: 5 Bias dan 5 Mitos


Oleh: Wahyu Prasetyawan* Riwanto Tirtosudarmo (selanjutnya Riwanto) dalam tulisannya membahas adanya 5 bias dan 5 mitos dalam proses rekayasa sosial selama

 

Sosok dan Pemikiran
Minggu, 19 September 2021 08:00 WIB

Ketangguhan Membaca dan Menulis Seorang Riwanto Tirtosudarmo


Oleh: Anggi Afriansyah* Rabu, 15 September 2021 saya menerima pesan dari Pak Riwanto Tirtosudarmo. Dalam pesan itu ia mengirim sebuah buku Berjudul “Mencari