Kamis, 13 Mei 2021


Jumat, 19 Maret 2021 10:58 WIB

Muridan Widjojo

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Nama lengkapnya Muridan Satryo Widjojo. Mungkin karena namanya "Satryo", itu yang kemudian menjadikan garis hidupnya, jalan darmanya sebagai seorang ksatria. Muridan meninggal pada usia yang tergolong muda, 47 tahun, persis 7 tahun yang lalu. Namun, dalam usianya yang relatif muda itu Muridan telah memberikan sumbangan penting bagi upaya penyelesaian konflik Papua secara damai. Mungkin kata "penyelesaian konflik" dianggap tidak tepat bagi Jakarta yang menganggap bahwa tidak ada masalah konflik yang serius di Papua. Atau persoalan Papua dianggap tidak ada bedanya seperti ditemukan di tempat lain, persoalan ketidakpuasan biasa saja, persoalan ekonomi belaka.



Presiden Jokowi pun punya resep yang sama untuk Papua seperti resepnya untuk daerah lain: pembangunan infrastruktur. Harga semen yang bisa mencapai 600 ribu satu saknya di Wamena dengan perbaikan infrastruktur transportasi akan sama harganya dengan di Surabaya yang cuma 60 ribu.

Selain pendekatan ekonomi seperti ini Jokowi juga menggunakan pendekatan keamanan yang pernah dicoba diputus oleh Gus Dur saat menjadi presiden dan menggantinya dengan pendekatatan dialog. Di tengah sulitnya mengembalikan upaya dialog damai itulah kita melihat sosok dan peran Muridan Widjojo yang telah ditulis dalam sebuah buku untuk menghormatinya. Buku yang berisi tulisan 23 orang sahabatnya itu akan diluncurkan tepat pada hari kelahirannya Minggu 4 April nanti.

Seperti sahabatnya yang lain, saya juga memiki kenangan dengan Muridan. Saya pertama kali bertemu Muridan tahun 1993 di Lembah Baliem, saat itu dia masih magang sebagai calon peneliti LIPI. Ketika ketemu itu, badannya kurus, katanya baru terkena Malaria, sebuah penyakit yang sering menyerang teman-teman yang melakukan penelitian di Papua. Saya tidak heran jika Muridan terkena Malaria, dia bercerita sering tidur bersama penduduk di honei-honei. Honei adalah rumah penduduk yang berbentuk bulat tertutup beratap ilalang dan hanya ada satu pintu, sehingga menyimpan hangat dari unggun api di udara lembah Baliem yang dingin. Sebetulnya pada awalnya saya merasa agak aneh, anak lulusan Sastra Perancis UI ini memilih kegiatan lapangan seperti ini. Baru kemudian setelah menjadi peneliti LIPI dia mengambil jurusan antropologi dan melanjutkan penelitiannya di Papua.

Pada tahun 2002 dia mendapatkan beasiswa untuk belajar sejarah di Leiden University, pertama untuk master kemudian untuk doktornya. Pada tahun 2000 saat penelitian untuk S2 antropologi, Muridan sudah terlibat menjadi saksi ahli pengadilan tokoh Papua yang dianggap melawan pemerintah.  Keempat tokoh yang terlibat dalam Presidium Dewan Papua itu adalah Theys Hiyo Eluay, Thaha Muhamad Alhamid, Herman Awom, Don Flasy dan Jhon Mambor. Kisah ini dapat dibaca dalam tulisan Herdin Halidin dalam buku yang akan terbit. Herdin saat itu menjadi asisten peneliti Muridan.  Saat itu, Suharto sudah lengser dan diganti BJ Habibie yang memang membuka ruang kebebasan untuk menyuarakan pendapat. BJ Habibie juga mengijinkan referendum bagi Timor Timur yang kemudian lepas merdeka menjadi Timor Leste. Setelah Timor Leste, Aceh dan Papua adalah dua wilayah yang juga ingin melepaskan diri dari Indonesia. Jika persoalan Aceh kemudian teratasi melalui perjanjian damai yang ditandatangani di Helsinki; persoalan Papua masih belum terselesaikan hingga hari ini.

Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden menggantikan BJ Habibie, penyelesaian persoalan Aceh dan Papua menjadi salah satu agendanya yang utama. Ahmad Suaedy seorang peneliti yang dekat dengan Gus Dur mendokumentasikan dengan rinci bagaimana usaha Gus Dur melalui dialog mengupayakan jalan damai untuk menyelesaikan konflik Aceh dan Papua. Dokumentasi dan penelitian Ahmad Suaedy dapat dibaca di buku yang semula merupakan disertasi doktornya yang berjudul Gus Dur Islam Nusantara & Kewarganegaraan Bineka: Penyelesaian Konflik Aceh dan Papua 1999-2001.

Salah satu upaya Gus Dur adalah dengan mengganti nama Irian menjadi Papua dan membolehkan dikibarkannya bendera Bintang Kejora asal lebih rendah dari bendera Merah Putih. Gus Dur menjalin hubungan dengan Theys Hiyo Elue yang kemudian menjadi Ketua Dewan Adat Papua untuk mencari solusi damai melalui dialog-dialog yang mengandaikan kesetaraan antara kedua belah pihak.

Pada tanggal 10 November 2001 Theys ditemukan tewas terbunuh. Penyelidikan menunjukkan bahwa sebuah Tim Kopassus terbukti sebagai pihak yang melakukan pembunuhan itu. Apakah akibat terbunuhnya Theys yang kurang lebih bisa disamakan posisinya dengan Hasan Tiro di Aceh membuat kelanjutan jalan damai di Papua menjadi berantakan? Pastilah persoalannya tidak sesederhana itu. Dilengserkannnya Gus Dur dan naiknya Megawati tampaknya sejak itu telah mengubah total pendekatan dialog yang telah dirintis Gus Dur kembali ke pendekatan lama, keamanan. Jika kemudian konflik Aceh bisa diselesaikan melalui Helsinki Agreement tgl 15 Agustus 2005; konflik Papua terus berlanjut.

Muridan Widjojo setelah menyelesaikan S3 nya (2007) tentang perlawanan Pangeran Nuku di Tidore terhadap Belanda dan menunjukkan aliansi kultural antara Papua dan Maluku di dalamnya, seperti memperoleh momentum untuk kembali meneliti Papua sambil membangun jaringan mencari solusi damai untuk konflik Papua. Bersama timnya Muridan menghasilkan konsep Papua Road Map pada tahun 2010 yang menjadi panduan advokasi solusi damai untuk menyelesaikan konflik Papua. Sebagai seorang peneliti lapangan yang tangguh Muridan melakukan perjalanan ekstensif untuk melihat sendiri dan memahami apa yang terjadi di tingkat akar rumput di Papua. Di sisi lain dia juga berhasil diterima oleh berbagai kalangan masyarakat sipil Papua, terutama tokoh-tokoh gereja. Dengan daya analisisnya dan kemampuannya membangun jaringan; bersama Pater Neles Tebay menjadi dua figur sentral sebuah upaya dialog damai yang telah terputus sepeninggal Gus Dur.


Keterangan: Buku Mengenang Muridan S. Widjojo (Akan Diluncurkan April 2021).

Namun sejarah rupanya belum berpihak pada Papua. Pada tanggal 7 Maret 2014 Muridan wafat karena kanker fasofaring dan 5 tahun kemudian Pater Neles Tebay juga wafat karena kangker tulang. Sepeninggal Muridan dan kemudian Pater Neles Tebay jaringan dialog Papua damai mengalami kendala keberlanjutan yang cukup serius. Dalam tulisannya yang berjudul  “Dialog Jakarta-Papua: Apa Masih Relevan?” Budi Hernawan yang mengenal dari dekat Muridan dan Pater Neles Tebay, mengatakan bahwa jaringan dialog Papua damai menjadi kehilangan keterkaitannya dengan apa yang terjadi di akar rumput. Gerakan dialog Papua damai terputus dari gerakan rakyat.

Dalam buku yang akan terbit untuk menghormati Muridan kontribusi para sahabatnya menjadi testimoni sosok dan peran Muridan Widjojo dalam pergumulannya dengan Papua. Profesor Leonard Blusse promotor disertasi doktornya di Universitas Leiden dalam tulisannya yang berjudul "Remembering Muridan Widjojo" antara lain menulis sebagai berikut: What caught my special interest in Muridan was his great devotion to the welfare of the Papua’s and the anthropology and history of West Irian. I will leave it to others to write about his important contribution to the emancipation of the Papuas within contemporary Indonesia. May his devotion to the Papua cause never be forgotten! 

Sementara itu, Elvira Rumkambu, seorang aktifis dan dosen di Uncen Jayapura, meskipun hanya sempat bertemu satu jam dengan Muridan mempunyai kesan yang sangat mendalam tentang almarhum. Dalam tribute yang ditulisnya untuk menghormati Muridan yang berjudul “Opresi dan Emansipasi Papua: Sebuah Refleksi Bersama Muridan”, Elvira mengatakan: Karena itu yang dibutuhkan Papua bukanlah diselamatkan oleh orang Indonesia tapi bagaimana kita memilih jalan-jalan keberpihakan bersama Papua yang tersisih. Seperti pernyataan Muridan bahwa “masalah Papua merupakan beban politik masyarakat Indonesia” sehingga sudah sepantasnya kita memikulnya bersama-sama tanpa prasangka negatif namun dengan keikhlasan untuk kemanusiaan.

Elvira adalah bagian dari generasi muda Papua yang semakin aktif terlibat dalam gerakan masyarakat sipil. Anak-anak muda ini sebagian besar pernah belajar di berbagai universitas di luar Papua, terbanyak di Jawa. Ketika isu rasialisme memanas dan memuncak dalam gerakan protes Papua Live Matters terlihat jelas tingginya kesadaran politik anak muda Papua. Tujuh tahun setelah meninggalnya Muridan Papua telah mengalami inter-generational change yang penting. Generasi muda Papua yang sebagian besar dididik di universitas-universitas Indonesia ini memiliki aspirasi dan sikap politiknya sendiri dan siapapun yang tidak memperhitungkan dinamika demografi-politik ini niscaya akan gagal memahami Papua.

Buku untuk mengenang dan menghormati Muridan yang berjudul "Emansipasi Papua" ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang masih percaya bahwa jalan damai adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan konflik Papua. Saat ini, ketiadaan tokoh sentral yang dapat merepresentasi Papua menjadikan gerakan resistensi terhadap represi keamanan di Papua menjadi fragmentaris dan sporadik. Keadaan seperti ini  melegitimasi aparat keamanan untuk memberi label kelompok resisten ini sekedar sebagai KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata). Labelisasi dan stigmatisasi seperti ini sangat berbahaya karena telah mereduksi realitas yang sebenarnya. Kegagalan membaca realitas hampir pasti mengakibatkan kegagalan menyelesaikan masalah. Rentetan peristiwa kekerasan yang terus terjadi berawal dari kesalahan memahami realitas ini.

Di lihat dari sisi yang lain, fragmentasi yang terlihat pada sikap tokoh-tokoh Papua juga memudahkan Jakarta untuk menjalankan strategi pemecahan wilayah Papua menjadi beberapa propinsi. Belajar dari pengalaman Aceh, strategi seperti ini terbukti gagal untuk memecah Aceh menjadi beberapa propinsi karena sikap para tokohnya yang cukup solid dalam menghadapi Jakarta. Melihat perkembangan yang terjadi di Papua saat ini, sulit dipungkiri jalan damai melalui dialog setara yang dirintis antara lain oleh Muridan Widjojo menjadi sulit terlaksana. Tapi di sinilah paradox-nya, seperti Aceh, Papua adalah batu ujian bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Melihat gejalanya, Indonesia bisa gagal melewati batu ujian itu.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com

*Foto diambil dari kaver buku berjudul Muridan, Kita dan Papua: Sebuah Liber Amicorum. Penulis Muridan S. Penerbit : Komunitas Bambu (2014)


Tag : #Akademia #Sosok #Muridan Widjojo #LIPI #Papua #jokowi



Berita Terbaru

 

Senin, 10 Mei 2021 20:52 WIB

Sambut Kunker Komisi III, Al Haris: Masih Banyak Hal yang Perlu Dibenahi di Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris bersama jajarannya, menyambut kunjungan kerja (Kunker) Komisi III DPRD Provinsi Jambi, yang dipimping

 

Jumat, 07 Mei 2021 20:31 WIB

35,6 Persen Masyarakat Menolak Divaksin, Ini Alasannya


Kajanglako.com, Jakarta - Pusat Polling (Puspoll) Indonesia merilis hasil survei tentang “Pandemi, Mudik, dan Distribusi Ekonomi”, Jumat, (7/5/2021).

 

Jumat, 07 Mei 2021 18:34 WIB

Survei Puspoll: 49 % Masyarakat Tak Setuju Kebijakan Larangan Mudik Lebaran


Kajanglako.com, Jakarta - Pusat Polling (Puspoll) Indonesia merilis hasil survei tentang “Pandemi, Mudik, dan Distribusi Ekonomi”, Jumat, (7/5/2021).

 

Jumat, 07 Mei 2021 16:52 WIB

Pemkab Muaro Jambi Kembali Raih WTP, Ini Kata Ketua DPRD Yuli Setia Bhakti


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muaro Jambi, berhasil meraih kembali predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh

 

Rabu, 05 Mei 2021 18:41 WIB

Dua Pejabat Dinkes Reaktif Rapid Antigen, Wabup: Siapa Saja Bisa Terpapar


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus Covid-19 di Kabupaten Sarolangun telah berjumlah 220 orang yang dinyatakan positif. Virus Corona hingga kini masih mengintai