Jumat, 24 September 2021


Sabtu, 13 Maret 2021 08:14 WIB

Hersri, Trauma dan Amnesia Sejarah

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Ketika mengunjunginya bersama Sisco, sejarawan muda dari Malang sekitar dua tahun yang lalu di Yogya, Hersri sebetulnya sudah terlihat segar, hanya pendengarannya yang bermasalah. Hersri menjadi tuli karena seekor jangkrik dimasukkan penyiksanya ke salah satu lubang telinganya saat dia di penjara. Pertanyaanku oleh karena itu harus diucapkan lagi oleh Mbak ita Nadia, istrinya, dengan mendekatkan mulutnya ke kuping Hersri. Meskipun sulit, namun komunikasi dengannya masih dapat dilakukan. Ketika itu mereka sebetulnya berencana pindah ke rumahnya yang baru di Brosot yang dikerjakan oleh Yoshi, arsitek yang selalu memanfaatkan barang bekas dan material lokal, tetapi karena Hersri belum kuat, rencana pindah itu ditangguhkan. Saya belum tanya apakah sekarang mereka sudah menempati rumah barunya di Brosot. Semoga sudah, dan Hersri bisa menikmati lingkungan alam yang pasti lebih nyaman.



Sekitar dua minggu lalu saya menerima kiriman bukunya yang baru, Dari Dunia Dikepung Jangan dan Harus. Melalui WA Mbak Ita menyampaikan pesan Hersri supaya saya membacanya dengan baik. Saya berusaha membaca buku dengan sepenuh hati saya dan bagi saya tidak mudah. Saya terlanjur terbawa oleh emosi saya yang membayangkan betapa berat beban yang ditanggung oleh Hersri seorang warganegara yang melakukan aktifitas-aktifitasnya yang biasa sebagai seorang jurnalis dan menjadi anggota organisasi yang progresif pada masanya kemudian ditangkap dan dibuang bersama ribuan orang seperti dirinya di Buru.

Ketika peristiwa 1965 yang traumatis itu terjadi aku sebetulnya sudah cukup besar, sudah kelas 2 SMP di kota kecil di pesisir utara Jawa, tapi aneh, begitu sedikit ingatanku tentang peristiwa yang telah mengubah nasib bangsa dan negaraku. Baru setelah membaca buku-buku yang berbicara tentang peristiwa itu aku mulai menyadari betapa beratnya penderitaan orang-orang yang senasib seperti Hersri, Pramoedya Ananta Tour, Oey Hiem Hwie, Tejabayu, untuk menyebut beberapa nama yang aku kenal. Hersri, Pram dan Tejabayu, juga ibunya Mia Bustam; adalah orang-orang yang mampu menuliskan pengalamannya selama dipenjara dalam gulag Orde Baru. Tapi bagaimana nasib ribuan teman-teman mereka yang lain yang tidak mampu menuliskan apa yang dialaminya, apa yang telah dideritanya?

Membaca buku baru Hersri ini saya merasakan seperti mendengar suara-suara yang terbekap, meskipun akhirnya seperti menghirup udara bebas, suara-suara yang muncul adalah suara-suara yang menggemakan sebuah trauma. Dalam sebuah babnya Hersri menceritakan dengan jernih bagaimana trauma itu setiap kali muncul meskipun dia telah menjadi manusia bebas. Trauma itu diam-diam seperti menempel di paspor Belanda-nya ketika dengan leluasa dia melewati imigrasi Amerika, sebuah negeri yang berperan dalam mengubah nasib diri dan bangsanya. Sebagai seorang yang memiliki ingatan tipis tentang peristiwa 1965 membaca kisah perjalanan Hersri ke Amerika itu tidak bisa lain selain menggunakan empati saya, betapa menyakitkan sesungguhnya pengalaman itu. Rasa sakit, pedih, suffering; itu yang tidak mungkin aku bisa rasakan sepenuhnya. Simpati dan empati sebesar apapun yang aku punya hanya bisa menjangkau rasa pedih, rasa sakit, sufferings akibat trauma-trauma yang tertanam di benaknya dan seperti ikut menempel di paspor Belanda-nya.

Ket: Buku baru Hersri Setiawan (2021).

Buku kumpulan surat, esai dan makalah itu; adalah ekspresi dari suara-suara yang dibekap dari penulisnya, Hersri Setiawan. Kegigihan dan sikap pantang menyerah telah membuatnya bertahan dan terus menulis, kemampuan yang telah terasah sejak masa mudanya. Di bagian akhir buku, Mbak Ita Nadia menceritakan dengan baik bagaimana ritme kebiasaan Hersri yang secara teratur menulis setiap harinya. Menulis dan menulis, membuka kembali catatan-catatan lama yang terselamatkan, membaca lagi ingatan yang lama dipendam; mungkin satu-satunya cara untuk memelihara daya hidup, menyeimbangkan batin; sebuah ritual trauma healing yang mesti dijalani agar tetap waras dan memelihara cita-cita hidup bersama yang lebih bermartabat.

Aku dan banyak lagi orang-orang sepertiku, yang memiliki ingatan tipis tentang peristiwa yang traumatis itu dengan simpati dan empati yang masih tersisa semestinya bersyukur dan berterimakasih pada Hersri, Pram dan Tejabayu – yang belum lama ini wafat setelah menyelesaikan memoar-nya Mutiara di Padang Ilalang; juga pada mereka yang lain yang telah menuliskan pengalamannya. Karena hanya dari membaca tulisan-tulisan itu aku dan orang-orang sepertiku yang punya ingatan tipis dan sedikit empati bisa membayangkan apa yang telah terjadi dan sedikit merasakan sufferings yang telah mereka alami.

Hersri sepanjang hidupnya telah menulis banyak buku, dan buku Dari Dunia Dikepung Jangan dan Harus ini merupakan karya tulisnya yang paling mutakhir dan pastilah bukan bukunya yang terakhir. Jika dilihat dari isinya, secara garis besar buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi tulisan-tulisan reflektif tentang berbagai hal, sebagian ditulis berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah di laluinya. 

Tulisan-tulisan bagian pertama ini adalah etnografi yang ditulis dengan gaya bahasa tutur yang rinci dan lancar. Hersri memang seorang yang menulis dengan gaya realisme, mendeskripsikan apa yang dilihat, dirasakan dan dipikirkan tanpa sedikitpun pretensi untuk menggurui pembaca atau berlagak sok pandai dan berpengetahuan. Kekuatan tulisan Hersri adalah pada narasinya yang jujur dan logikanya yang jelas tidak berliku-liku. Jika ada yang ingin disasarnya dengan tulisan-tulisan dalam bagian pertama dari bukunya adalah ajakannya untuk bertarung memperebutkan sejarah dalam ruang publik yang semakin terbuka. Tulisan-tulisan dalam bagian pertama bukunya adalah bagian dari strateginya untuk membawa pembaca untuk mulai mengenal potongan-potongan sejarah yang dikisahkannya berdasarkan pengalaman pribadinya. Pembaca diajak untuk melihat realitas sebagai kenyataan bukan sebagai mitos, dogma atau propaganda dari mereka yang telah memalsukan sejarah.

Bagian kedua dari bukunya, yang secara eksplisit diberi judul Seri Sejarah LEKRA, berisi tulisan-tulisannya tentang LEKRA. Apa yang dikemukakannya di bagian pertama tentang perlunya merebut sejarah dalam ruang publik yang semakin terbuka diperagakannya dengan menyodorkannya secara terbuka ke ruang publik sebuah sejarah dari organisasi atau lembaga yang dia ikut membangun di dalamnya. Tanpa teori yang muluk-muluk Hersri langsung mengeksekusi apa yang dia yakini sebagai perlunya merebut ruang publik sejarah.

Seri Sejarah LEKRA yang dalam bagian kedua buku ini terdiri dari 7 bab yang merupakan pengalamannya sebagai pengurus dan aktifis LEKRA di Jawa Tengah. Saya yakin seri sejarah ini masih akan dilanjutkan dalam buku-bukunya yang akan datang. Sebagai pembaca kita tentu berhak setuju atau tidak setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Hersri. Namun adalah sebuah sikap yang sehat jika sebagai sebuah bangsa kita tidak berangkat dari sebuah prasangka dan tanpa berpikir jernih langsung menghakimi bahwa apa yang disampaikan Hersri sebagai sesuatu yang berbahaya dan perlu dilarang. Sikap seperti ini yang harus diakui masih cukup kuat justru harus dilawan dan diyakinkan bahwa sebuah bangsa yang ingin tumbuh sehat harus berani membuka diri terhadap perbedaan dalam melihat sejarah masa lalunya.

Hersri dan Pram, sekedar untuk menyebutkannya sebagai contoh dari kaum intelektual yang dengan kegigihannya bisa bertahan dari gulag Orde Baru dan saat ini melalui tulisan-tulisannya menyodorkan narasi sejarah dari dunia yang selama ini dibekap menjadi sangat penting bagi orang-orang seperti saya yang memiliki ingatan tipis tentang peristiwa 1965 dan sejarah yang mengitarinya.

Tulisan-tulisan dari kaum intelektual seperti Hersri dan Pram, juga Tejabayu; betapapun mungkin intonasinya yang keras dan getir, dengan sedikit empati dan simpati yang masih tersisa di diri kita, seharusnya kita terima dengan hati yang lapang. Kita, dan orang-orang seperti saya, yang berada di simpang kanan jalan adalah orang-orang yang disadari atau tidak disadari berada di sisi mereka yang menang, mereka yang berhasil menumbangkan Bung Karno dan meskipun tidak ikut berlumur darah telah berperan dalam penyingkiran dan pembungkaman ribuan, mungkin jutaan orang-orang seperti Hersri dan Pram.

Betapapun kuatnya kemampuan empati kita masih tak akan mampu merasakan sakitnya telinga yang kemudian menjadi tuli karena dipukul popor bedil atau dimasukkan seekor jangkrik ke dalam lubangnya. Kesakitan, kepedihan, sufferings; adalah pengalaman yang paling riil kata Yuval Noah Harari. Bagaimana mungkin sebagai bangsa kita bisa tega membunuh sesama bangsa sendiri, memenjarakan dan mengasingkannya selama bertahun-tahun?

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah bertanya pada Andrew Beaty seorang antropolog yang lama melakukan riset di komunitas Osing di Banyuwangi. Bagaimana kekejaman itu bisa terjadi. Setelah diam sejenak dia menjawab lirih, “ada kekuatan luar yang besar, orang-orang Desa itu tidak bergerak sendiri”. Kenapa harus membunuh dan memenjarakan ribuan orang-orang yang  sejatinya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa tidak cukup menangkap mereka yang benar-benar dinilai bersalah dan membuktikan bahwa mereka memang bersalah. Mengapa harus mengorbankan begitu banyak orang? Strategi dan skenario siapa sesungguhnya yang telah diadopsi dalam peristiwa yang menjadi trauma terbesar bangsa ini? Bangsa ini sudah seharusnya mengingat kembali apa yang terjadi dengan mata yang bening dan hati yang bersih. Trauma ini harus dingat dan dituliskan jika amnesia sejarah tidak ingin terjadi. Buku Hersri Setiawan adalah bagian dari penyembuhan trauma dan upayanya agar bangsa ini tidak menderita amnesia sejarah dan tersesat dalam labirin masa depan yang semakin kompleks ini.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Sosok #Lekra #Orde Baru #Pulau Buru #Peristiwa 1965



Berita Terbaru

 

Kamis, 23 September 2021 19:00 WIB

Masuki Musin Hujan, Pemkab Sarolangun Siaga Bencana Hidrometrologi


Kajanglako.com, Sarolangun – Memasuki musim hujan tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

 

Vaksinasi Covid-19
Kamis, 23 September 2021 18:49 WIB

Upaya Kegiatan Belajar Tatap Muka, Disdik Sarolangun Ingin Tuntaskan Vaksin Bagi Siswa


Kajanglako, Sarolangun – Dinas Pendidikan Sarolangun ingin menuntaskan pelaksanaan vaksinasi khusunya bagi para siswa. Saat ini beberapa sekolah

 

Kamis, 23 September 2021 17:39 WIB

Pemkab Merangin Raih Anugerah APE 2020 dari Kementerian PPPA RI


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin dibawah kepemimpinan Bupati H Mashuri, meraih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020, dari

 

Rabu, 22 September 2021 18:51 WIB

Pj Sekda Tanam Replanting Sawit Kemitraan


Kajanglako.com, Merangin - Pj Sekda Merangin Fajarman secara simbolis melakukan penanaman perdana program replanting sawit kemitraan strategis Gapoktan,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,