Senin, 02 Agustus 2021


Selasa, 19 Januari 2021 10:08 WIB

Hilangnya Si Anak Sulung

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di antara Soepajang dan Siroekam ada dataran tinggi yang luas. Beberapa pohon koebang yang bagus tumbuh di sana. Dedaunannya rimbun melindungi sebuah kuburan. Dari mana-mana, orang berdatangan untuk menziarahi kuburan itu. Kuburan siapa itu? Yang beristirahat selamanya di kuburan itu adalah seorang laki-laki sakti bernama Abdoel Hamid. Berikut adalah cerita mengenai dirinya.



Dahulu kala, di Soepajang tinggal sepasang suami-isteri yang hanya beranak satu, Abdoel Hamid. Ia adalah anak tunggal yang sangat dicintai oleh orangtuanya. Biasanya pagi hari ia bermain di halaman di depan rumahnya sampai ia dipanggil untuk makan siang. Pada suatu hari, ketika ia kira-kira berusia tujuh tahun, ia menghilang.

Orangtuanya memanggil-manggil namanya, tetapi ia tak muncul juga. Sambil terus memanggil-manggil namanya, suami-isteri itu masuk ke dusun dan keluar lagi tanpa melihat anak mereka. Mereka meninggalkan dusun dan masuk ke daerah persawahan sambil terus memanggil. Tak juga tampak Si Abdoel Hamid. Mereka bahkan mencari dan memanggil-manggil sampai ke tambang-tambang emas di gunung. Sia-sia. Tak tampak batang hidung anak mereka.Suami-isteri itu tidak berputus asa dan terus berjalan mencari-cari anaknya sampai ke Soengei Doerian di daerah XII Koto. Penduduk daerah itu membawa mereka ke kepala adat dan tetua dusun. Mereka menceritakan perihal Abdoel Hamid yang menghilang itu. Tetua dusun mengangguk dan berjanji akan mengantarkan anak hilang itu bila ia muncul di dusun mereka.

Dengan kecewa, suami-isteri itu pulang ke rumah. Sang isteri hampir merasa gila saking sedihnya. Di halaman rumahnya, Sang isteri mendengar gemericit seekor burung murai. Samar-samar, ia merasa mendengar suara anaknya di dalam gemericit burung itu.

“O, anakku. Kau sudah menjadi burung,” katanya. “Kalau begitu, aku takkan lagi mencarimu. Kau bersayap dan dapat terbang. Aku tak dapat melakukan itu.”

Di saat lain, perempuan itu mendengar ayam jago berkokok. Suara ayam itu mengingatkannya pada anaknya, Si Abdoel Hamid.

“Ayam jago mengais-ais tanah untuk makan. Aku tak dapat melakukan itu. Kau sudah menjadi ayam jago, anakku. Kalau begitu, aku takkan mencarimu lagi.”

Lalu, ia mendengar katak menguak. “O, anakku,” kata perempuan itu. “Kau sudah menjadi katak. Kau dapat melompat-lompat. Aku tak dapat melakukan itu. Kalau begitu, aku tak akan mencarimu lagi.”

Begitu, di setiap suara yang terdengar, perempuan merasa mendengar nada-nada suara anaknya yang hilang.  Setahun kemudian, di suatu malam Jumat, perempuan itu bermimpi. Seorang laki-laki setengah tua mendatanginya. Laki-laki itu tampak sebagai seorang sikh berjenggot dan berkumis. Ia berpakaian serba putih. Pun sorbannya putih.

“Mak!” kata lelaki itu di dalam mimpinya. “Kau sepertinya kehilangan akal!”

“Ya betul,” jawab perempuan itu. “Sejak anakku menghilang, makananku tak enak dan minumanku pun demikian. Bantulah aku, Tuan, supaya aku tidak selalu teringat pada anakku. Kalau tidak, aku pastilah akan menjadi gila.”

“Diamlah,” kata ulama itu. “Kalau besok matahari terbit, ajaklah suamimu ke Batoeng Badarah. Di sana ada dua batang pohon. Yang satu mengandung obat untuk suamimu; yang satu lagi mengandung obat untukmu. Ia harus makan akar pohon yang satu dan kau harus makan akar pohon yang lain. Lalu, kau harus mengusap-usap tubuhmu dengan dedaunan pohon itu. Tetapi, suamimu tidak boleh menggunakan dedaunan itu.”

Perempuan itu terbangun. Di luar, masih gelap tetapi segelintir cahaya menerobos masuk melalui dinding rumahnya. Ia  bangun dan menyalakan api dan masak nasi. Setelah matang, ia menyiapkan makan dan memanggil suaminya. Sambil makan, perempuan itu menceritakan mimpinya tadi malam. “Karena itulah aku bangun pagi-pagi, masak dan membangunkanmu,” katanya.

Setelah makan, kedua suami-isteri itu berangkat. Sesampai di Batoeng Badarah, mereka melihat dua batang pohon yang tumbuh di atas batu. Sang isteri mengambil akar-akar pohon-pohon itu dan mengumpulkan dedaunan dari pohon yang satu, lalu mereka pulang. Di rumah, selama tiga hari berturut-turut, mereka memakan akar pohon dan perempuan itu mengusap tubuhnya dengan dedaunan yang dikumpulkannya. Persis seperti yang disarankan oleh lelaki di dalam mimpinya. Dan memang, rasa sedih dan putus asa mereka menghilang. Kehidupan mereka kembali seperti biasa.

Tak lama kemudian, Sang Isteri memberi tahu suaminya bahwa ia hamil. Bulan-bulan berlalu, dan lahirlah seorang anak-laki. Kedua suami-isteri itu mencintainya seperti mereka dulu mencintai anak mereka yang hilang. Segala sedih dan derita sudah terlupakan. Mereka berbahagia dan anak itu semakin lama semakin besar. Sang Ayah mengajarinya membaca dan mengaji. Ketika anak itu berusia 12 tahun, ia meminta kepada orangtuanya agar diizinkan belajar ke surau.

Suami-isteri itu mengantarkan anak mereka ke surau di Koto Baroe, di dekat Si Djoendjoeng. Toeankoe Ambatan mengajar di sana. Anak itu dititipkan pada guru dan setelah dua hari, suami-isteri pulang ke rumah mereka sendiri. Anak itu rajin belajar. Dalam waktu dua tahun, ia sudah menamatkan Al-Quran. Ia menyampaikan hal itu kepada gurunya dan pamit untuk pulang ke kampungnya. Orangtuanya bersuka cita dengan kepulangan anak mereka, tetapi setelah beberapa lama, anak itu meminta izin untuk pergi lagi, ke tempat lain untuk belajar membela diri (silat?) dan kepandaian lain. Orangtuanya menyetujui, menyiapkan bekal untuknya. Dua tahun berlalu sebelum anak itu kembali ke rumahnya membawa bekal segala ilmu yang diperolehnya di kerajaan Manangkabo.

Ia tinggal bersama orangtuanya sampai ia berusia 18 tahun. Ia membantu mereka bekerja di sawah dan ladang. Pada suatu hari, ia bertanya kepada ibunya, apakah perempuan itu memang hanya ingin memiliki satu anak saja? Lalu ibundanya mulai bercerita. Tentang kakaknya, Abdoel Hamid yang menghilang ketika ia berusia 7 tahun. Tentang usaha mereka mencarinya, tetapi sia-sia saja.

Anak itu berpikir sebentar. “Aku akan mencari kakakku,” katanya. “Izinkanlah aku pergi mencarinya!”

(bersambung)

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882 (hal 70-).


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatr Tengah 1877-1879 #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 30 Juli 2021 16:49 WIB

Menjaga Asa Habitat Harimau Sumatra di Selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Tengah Pandemi Covid 19


Nor Qomariyah*) Harimau Sumatra atau dikenal dengan nama latinnya Panthera Tigris Sumatrae merupakan predator soliter dan salah satu satwa dilindungi yang

 

Sosok
Jumat, 30 Juli 2021 16:41 WIB

Mak Oyot dan Komunitas Daksinapati UI


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Dalam dua pecan terakhir hampir setiap hari kita mendapat berita duka. Teman, kerabat, tetangga, seperti susul menyusul meninggalkan

 

Kamis, 29 Juli 2021 20:29 WIB

Panggilan Pertama Kejari, Mantan Kades Lidung Mangkir


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan Mark Up anggaran Dana Desa Desa Lidung tahun 2019 pada pekerjaan jalan rigid beton sepanjang 840 meter dengan

 

Kamis, 29 Juli 2021 12:11 WIB

H Mashuri: Merangin Raih Penghargaan KLA 2021


Kajanglako.com, Merangin - Merangin berhasil meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) 2021, tingkat Pratama. Info ini disampaikan Plt Bupati Merangin H

 

Rabu, 28 Juli 2021 17:56 WIB

Terjaring Razia dan Didenda Rp 1.000.000, Parmin: Itu Terlalu Kejam dan Keras


Kajanglako.com, Sarolangun - Penindakan pelaku usaha yang dianggap melanggar protokol kesehatan di kota Sarolangun dinilai terlalu keras. Tim gabungan