Minggu, 07 Maret 2021


Jumat, 15 Januari 2021 08:42 WIB

Menengok Masa lalu, Menatap Masa Depan: Hariman Siregar dan Malari

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Adakah, atau masih mungkinkah, sebuah perubahan besar untuk membentuk sesuatu yang baru bisa terjadi di masa depan? Goenawan Mohamad dalam buku kumpulan esainya yang diberi judul Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2004)seperti menjawab pertanyaan itu dalam sebuah esai yang ditulisnya pada 1992 yang merupakan komentar terhadap apa yang terjadi di Eropa selama hampir seabad, sejak revolusi Bolshevik 1917 dan kemudian runtuhnya Tembok Berlin 1989. Bagi Goenawan sejak itu tak akan ada lagi perubahan besar yang menggetarkan hati.



Pada saat yang hampir sama pandangan yang mirip dikemukakan Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man (1992). Tapi apa relevansinya dengan Indonesia, ketika setelah perubahan besar yang terjadi pada tahun 1998 banyak hal yang dijanjikan masih tidak terjadi? Lebih dari dua puluh tahun telah berlalu setelah peristiwa besar 1998 itu, masihkah ada harapan sebuah perubahan besar ada, atau mungkin, terjadi?

Dua hari yang lalu seorang teman mengambil buku di Klinik Baruna di Cikini milik Hariman Siregar yang berbaik hati memberi buku semi-otobiografinya Menjadi Benih Perlawanan Rakyat: Hariman Siregar, Malari 74, dan Demokrasi Indonesia. Buku yang terbit tahun 2018 ini tujuh tahun sebelumnya terbit dengan judul  Hariman dan Malari: Gelombang Aksi Mahasiaswa Menentang Modal Asing. Versi yang baru, diedit oleh Arif Zulkifli, disertai prolog Max lane dan epilog Cees van Dijk. Menurut Arif Zulkifli, selain ada tambahan tulisan Cees van Dijk dalam buku yang baru ini dihilangkan kesaksian orang-orang yang mengenal Hariman Siregar, mungkin agar sosok Hariman tampil lebih utuh tanpa tafsir dari orang-orang lain. Jadilah buku setebal hampir 400 halaman ini sebuah kisah tentang seorang tokoh gerakan mahasiswa pasca 1966 yang ditulis dengan gaya bahasa lentur, menyentuh dengan data-data yang cukup lengkap.

Pada bab 1 dari sepuluh bab dari buku ini, diawali dengan cerita seorang tahanan politik yang dalam waktu singkat harus menanggung beban mental yang sangat berat: Anak kembar yang meninggal tidak lama setelah dilahirkan, istri yang koma dan kehilangan daya ingat, ayah yang sakit dan meninggal serta mertua yang juga sama-sama di penjara. Beranjak dari kisah sedih di bab 1 itu, buku ini bergerak menarasikan kisah seorang anak yang sejak kecil dikenal sebagai anak cerdas dan nakal, yang tumbuh dalam lingkungan kelas menengah-atas Jakarta, kuliah di FKUI, bergaul dengan sisa-sisa pentolan PSI, termasuk bapak dan ayah mertuanya.

Buku Semi-otobiografi Hariman Siregar (2018)

Hariman masuk FKUI 1968 ketika situasi politik sudah mulai tenang. Para tokoh mahasiswa yang ikut menggulingkan Bung Karno dalam aksi-aksi tahun 1966 diangkat menjadi anggota DPR-GR, jika ada satu dua yang masih melakukan aksi protes praktis tidak memiliki arti lagi, sebagian lain menerima keadaan, sebagian frustrasi, termasuk Soe Hok Gie yang kemudian meninggalkan Jakarta dengan beberapa kawan dekatnya, dan meninggal akhir 1969 di Puncak Semeru. Dalam suasana politik yang mulai tenang itu Hariman tumbuh, dan terbukti baginya ketenangan politik itu semu, ada yang buat dia perlu disuarakan, ada ketidakadilan yang membuatnya berang untuk melakukan aksi.  Awal 1970an bulan madu tentara dan mahasiswa memang mulai memudar. Suara-suara kritis mulai terdengar di sana-sini, terutama di Jakarta dan Bandung tempat bermukim tidak sedikit para tokoh kritis itu, korupsi di tubuh pemerintah merupakan salah satu sasaran kritik mereka. Awal aksi Hariman ditandai dengan kemenangannya untuk menduduki jabatan Ketua DMUI Agustus 1973 yang selama itu dikuasai oleh HMI. Hariman yang didukung oleh berbagai kelompok di luar HMI, termasuk pimpinan mahasiswa yang dibina OPSUS (Operasi Khusus Ali Mortopo) dan eksponen GDUI (Grup Diskusi Universitas Indonesia) itu mendapatkan 26 suara sementara HMI 24 suara. Bagaimana ketatnya pertarungan memperebutkan kedudukan Ketua DMUI digambarkan dalam buku ini dengan menarik karena menunjukkan eratnya dunia politik kemahasiswaan dengan kepentingan-kepentingan politik luar kampus, bahkan nasional, sebuah fenomena yang bisa kita saksikan smpai hari ini.

Setelah menjabat sebagai Ketua DMUI Hariman Siregar bergerak dengan GDUI sebagai think-thank-nya. Menjelang peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1973, DMUI menyelenggarakan sebuah seminar yang diisi para pembicara yang mewakili generasi 28, 45 dan 66. Puncak acara adalah pembacaan sebuah petisi, Petisi 24 Oktober 1973, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, yang teks lengkapnya adalah sebagai berikut (hal. 72-73):

Kami, pemuda-pemudi Indonesia, milik dan pemilik nusa dan bangsa tercinta, dari tempat terbaringnya kusuma-kusuma bangsa yang telah memberikan milik mereka yang paling berharga bagi kemerdekaan dan kekayaan bangsa Indonesia menyatakan kecemasan kami atas kecenderungan keadaan yang menjurus pada keadaan yang makin jauh dari apa yang menjadi harapan dan cita-cita seluruh bangsa.

Bahwa dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab di hari depan, yang keadaannya akan ditentukan oleh masa kini, di mana kami, sebahagian daripadanya, merasa berkewajiban mengingatkan pemerintah, militer, intelektuil, teknokrat, politisi untuk hal-hal sebagai berikut:

1. Meninjau kembali strategi pembangunan dan menyusun suatu strategi yang di dalamnya terdapat keseimbangan di bidang-bidang sosial, politik, dan ekonomi yang anti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan

2. Segera membebaskan rakyat dari cekaman ketidakpastian dan pemerkosaan hukum, merajalelanya korupsi dan penyelewengan kekuasaan, kenaikan harga, dan pengangguran;

3. Lembaga-lembaga penyalur pendapat rakyat harus kuat dan berfungsi serta pendapat masyarakat luas mendapatkan kesempatan dan tempat yang seluas-luasnya;

4. Yang paling berkepentingan akan masa depan adalah kami, oleh karena itu penentuan masa depan – yang tidak terlepas dari keadaan kini – adalah juga hak dan kewajiban kami.

Kiranya Tuhan yang Maha Esa menyertai perjalanan Bangsa Indonesia.

Kalibata, Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1973.

DEWAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

 

Petisi 24 Oktober 1973, saya kira, telah disusun melalui hasil diskusi dan tukar pikiran antara konseptornya dengan sangat matang, dengan empati terhadap nasib orang banyak serta  situasi yang sedang berkembang, dikemas melalui pilihan kata-kata yang terkontrol dengan pesan dan sikap politik yang jelas. Dari tanggal 24 Oktober 1973 hingga tanggal 15 Januari 1974, sebuah rentang waktu yang relatif pendek, tidak sampai 3 bulan; apa yang dicemaskan oleh anak-anak muda itu benar-benar menjelma menjadi sebuah kenyataan. Setelah uraian tentang Malari (bab 3 dan 4) bab-bab selanjutnya dari buku ini mengkisahkan perjalanan Hariman Siregar menjalani proses pengadilan, mendekam di penjara, dan kiprahnya yang seperti tidak kenal henti dalam arus kekuasaan yang terus diarunginya. Sebagai sebuah buku semi-biografi, buku yang ditulis kembali oleh Arif Zulkifli ini telah berhasil menghadirkan seorang tokoh politik yang secara konsisten bergerak di luar jalur perpolitikan resmi dan tetap menjadi pemberang yang anti terhadap kemapanan. Prolog dan epilog yang ditulis oleh dua pengamat, Max Lane dari Australia dan Cees van Dijk dari Belanda, memberikan bobot yang penting. Jika Max Lane memberikan analisis dan komentarnya sebagai pengamat yang terlibat, Cees van Dijk menyajikan sebuah dokumentasi yang penting berdasarkan apa yang terjadi dalam proses pengadilan Hariman Siregar. Bagi saya sendiri, teks Petisi 24 Oktober 1973 mungkin memiliki posisi paling sentral, tidak saja dalam konteks keseluruhan buku yang sedang dibicarakan, namun isi pesannya yang bisa dianggap sebagai telah melampaui zamannya.

Paling tidak ada tiga hal penting yang dikandung dalam teks Petisi 24 Oktober 1973 itu. Pertama, seperti telah dikemukakan di atas adalah ketepatan analisanya terhadap keadaan dan empati yang ditunjukkannya terhadap nasib orang banyak. Kedua, adalah kesadarannya yang tinggi akan tanggung jawabnya sebagai bagian dari generasi muda yang harus mengambil peran secara bertanggungjawab dalam perubahan untuk mencapai tujuan bersama, keadilan sosial bagi segenap warganegara. Ketiga adalah wawasannya yang menjangkau masa depan tapi tetap didasari oleh kesaksiannya tentang apa yang dilihatnya pada hari ini. Petisi itu menjadi sangat relevan karena aktualitas persoalan-persoalan yang masih terus bisa dirasakan hingga hari ini, hampir setengah abad setelah teks itu dituliskan. Tampaknya, di tengah ramalan para intelektual seperti Goenawan Mohamad, Francis Fukuyama, juga yang lain-lain tentang tidak akan adanya perubahan besar yang menggetarkan hati, Peristiwa Malari yang menampilkan sosok Hariman Siregar dan teks Petisi yang mendahuluinya itu; menjadi bagian penting dari sejarah panjang bangsa Indonesia; yang telah lewat, yang sedang kita jalani dan nanti yang akan datang.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Hariman Siregar #Malari



Berita Terbaru

 

Rabu, 03 Maret 2021 08:25 WIB

Diduga Disunat, Dewan Pertanyakan Setoran Retribusi Terminal Muarabulian


Kajanglako.com, Batanghari - Uang setoran retribusi Terminal Muarabulian diduga disunat. Hal ini diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Batanghari. Menurut

 

Selasa, 02 Maret 2021 21:31 WIB

Bahas Honorer Nonkategori, DPRD Merangin Panggil Diknas dan BKD


Kajanglako.com, Merangin - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merangin hearing dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan BKPSDM Merangin,

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas