Rabu, 03 Maret 2021


Jumat, 25 Desember 2020 05:25 WIB

Tjindakoe dan Pekasie

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Yang lebih seru dan fantastis adalah cerita mengenai tjindakoe. Konon ke arah Korintji, terletak negari Banije-Balinka. Negari ini disebut demikian karena di keliling dinding banije, yaitu akar-akar pohon yang melebar dan menyebar di atas tanah. Ada dua dusun di negari itu yang ditinggali oleh oerang tjindakoe. Di dusun yang satu, mereka berwujud manusia atau harimau; di dusun lainnya, tjindakoe itu berwujud manusia atau babi. Tjindakoe yang dapat mengambil wujud babi tidak berbahaya karena mereka tidak memangsa manusia. Tjindakoe babi hanya merusak ladang saja. Raja mereka adalah tjindakoe yang terbelenggu oleh rantai, dari pusarnya ke sebuah batu.



Pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, oerang tjindakoe itu meninggalkan negari mereka dan berkeliaran di hutan dalam bentuk harimau. Mereka mencari mangsa di daerah-daerah yang ditinggali manusia. Oerang tjindakoe itu tidak dapat berenang. Di dekat sungai, mereka mengubah rupa menjadi manusia yang memanggul bawaan di atas kepalanya, tak ubahnya seperti pedagang yang berkeliling dari dusun ke dusun. Lalu, bila bertemu dengan orang berperahu, mereka akan minta tolong diseberangkan. Sesampai di seberang sungai, mereka kembali merupa harimau dan meneruskan perjalanan.

Di dekat dusun, mereka akan merubah wujud lagi menjadi manusia biasa. Yang membedakan tjindakoe dengan manusia biasa adalah ada-tidaknya gumun (filtrum, yaitu parit kecil di bawah hidung). Sesampai di rumah orang, mereka akan memohon untuk menumpang menginap. Di tengah malam, ketika seisi rumah sudah tertidur lelap, mereka akan kembali menjadi harimau, menyerang orang di rumah itu dan memakan jantung mereka. Mereka juga gemar memakan jantung ternak peliharaan orang dusun.

Entah mengapa, untuk raja tjindakoe yang masih saja terbelenggu rantai, mereka membawakan jantung pisang sambil mengatakan bahwa itu adalah jantung manusia.
“Bila jantung manusia rasanya pahit seperti ini, aku tak ingin merantau jauh-jauh,” kata Sang Raja Tjindakoe.

“Untunglah!” kata orang Melayu yang menceritakan tentang tjindakoe kepada van Hasselt. Bila raja itu sempat makan jantung manusia yang sesungguhnya, ia pasti akan merasakan begitu nikmatnya jantung dan akan memberontak melepaskan diri dari rantai yang membelenggunya. Lalu, ia akan mencari permukiman manusia dan membunuh semua orang di sana. Ulama para tjindakoe bernama Siek Koekoei.  Hanya doa-doa yang diarahkan kepada Siek Koekoei itu dapat menghindarkan manusia dari serangan para tjindakoe.

Suatu saat, konon di masa yang sudah lama berlalu, seorang lelaki ditugaskan untuk menjaga keamanan di bawah rumah Sultan. Pada malam hari, ia melihat seekor harimau mengambil ancang-ancang untuk menerkam sapi yang  di bawah rumah itu. Ia meraih ‘toembak baramboei’—tombak Sultan dan menusuk harimau itu. Binatang itu meraung keras lalu lari ke dalam hutan, dengan tombak yang masih tertancap di tubuhnya. Walaupun harimau tadi menghilang, Si Penjaga terus mengejarnya, masuk ke dalam hutan dan lebih jauh lagi.

Akhirnya, ia tiba di negari oerang tjindaku. Di sana, orang tjindakoe di dusun itu meminta bantuannya untuk mengobati salah seorang warga mereka yang terluka di Rantau. Si Panjaga menyanggupi permintaan itu, dengan syarat bahwa ia ditinggalkan berdua saja dengan orang yang terluka itu. Terjadilah. Ia dibawa ke sebuah rumah. Seorang laki-laki mengerang-erang kesakitan. Sebuah tombak tertancap di tubuhnya. Si Penjaga mencabut tombak itu dan ia berhasil pula menyembuhkan luka-luka bekas tombak tadi.

Sebagai tanda terima kasih, kepala adat di dusun itu, Tjindakoe Sati menyatakan bahwa dirinya akan selamanya bebas dari gangguan tjindakoe. Sebuah ‘alemoe’ juga diberikan kepadanya. Benda ini akan melindungi dirinya, keluarganya dan seluruh ternaknya dari serangan tjindakoe. Setelah itu, ia pulang kembali ke dusunnya.

Mahluk halus yang disebut iblis lain lagi. Iblis ikut lahir bersama seorang bayi. Karena itulah bayi yang baru lahir dan ibundanya harus dibersihkan baik-baik. Iblis adalah setan nafsu. Biasanya, bantuannya diminta untuk mencapai niatan buruk (yang muncul karena nafsu tertentu). Ia tinggal di dalam tubuh manusia dan membuat manusia itu melakukan hal-hal buruk. Ia juga menimbulkan penyakit-penyakit seperti kegilaan, cacat mental, kejang-kejang dan ‘si-djoendai’ (apa yang dimaksud dengan ‘si-djoendai’ tidak dijelaskan oleh van Hasselt).

Dengan imbalan uang, seorang dukun (biasanya, perempuan) dapat membantu menghubungi manusia dengan iblis. Ia mengenal tempat-tempat keramat, mata air, pohon atau batu besar, untuk meletakkan sesajen—dupa dan rempah-rempah tertentu-- agar iblis bersedia membantu manusia mencapai keinginannya. Dukun itu juga tahu mantra-mantra yang harus diucapkan sembari meletakkan sesajen tadi.

Setelah meletakkan sesajen dan mengucapkan mantra, orang yang menjadi sasaran akan terkuasai. Sebagai contoh, seorang lelaki yang jatuh cinta pada seorang perempuan dapat memberikan ‘pekasie’ kepadanya (atau sebaliknya). ‘Pekasie’ adalah ramu-ramuan yang hanya dapat dibuat oleh dukun saja. Bila orang (laki-laki atau perempuan) yang menjadi tambatan hati meminum  ramu-ramuan tadi, ia takkan kuasa lagi menolak cinta atau bahkan, ia akan menjadi tergila-gila pada si pemberi ‘pekasie’ itu.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882 (hal 70).

*Ilustrasi tulisan, Dupa. Sumber: depositphotos.com


Tag : #Telusur #Kerinci #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas

 

Hari Sampah
Minggu, 21 Februari 2021 10:20 WIB

Peringati Hari Sampah Lewat Program Sepuluh Jari Menganyam


JAMBI--Memperingati hari sampah yang jatuh setiap 21 Februari, masyarakat Jambi diajak untuk lebih peduli lingkungan. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari

 

Sengketa Rumah Ibadah
Kamis, 18 Februari 2021 10:42 WIB

Sengketa Rumah Ibadah dan Kearifan Budaya Lokal Jambi


Oleh: Juparno Hatta* Di mata dunia internasional, Indonesia dikenal dengan nilai toleransi yang tinggi di tengah-tengah kemajemukan sebagai sebuah kesemestian.