Selasa, 13 April 2021


Rabu, 23 Desember 2020 02:56 WIB

Requiem untuk Romo Herry

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Selama satu jam saya mengikuti secara online Misa Requiem untuk Romo Bernadinus Herry Priyono, dari pukul 19 sampai 20 di Kapel Kolese Kanisius, di kawasan Menteng Jakarta. Misa Requiem itu dilakukan hanya sekitar 8 jam setelah Romo Herry menghembuskan nafasnya yang terakhir tanggal 21 Desember 2020 di RS St. Carolus, Jakarta. Rangkaian acara dalam misa itu diawali dengan pembacaan riwayat karir Romo Herry yang menggambarkan keterlibatannya yang dalam antara aksi dan refleksinya sebagai seorang Romo Jesuit yang sejak awal karirnya sudah menaruh minat yang besar pada ranah ilmu-ilmu sosial.



Setelah pembacaan riwayat hidupnya, seorang Romo yang menjadi sahabat dekat dan sehari-hari bergaul karena sama-sama tinggal di Kolese Kanisius, menceritakan kesan dan pengalamannya bersama Romo Herry di hari terakhirnya. Selain romo ini berbicara Bu Agustine yang mencatat pembicaraannya dengan Romo Herry persis sehari sebelum meninggal. Dua testimoni itu memperlihatkan bagaimana menjelang wafatnya Romo Herry seperti berada dalam kegundahan dan berkali-kali menyatakan rasa kangennya pada Tuhan. Rasa kangennya yang menggundahkan jiwanya itu seperti tertebuskan ketika pagi menjelang siang itu beliau seperti dipeluk pulang oleh Tuhannya.

Berbeda dengan romo-romo yang lain yang menekuni studi teologi dan filsafat, Romo Herry memilih studi ilmu-ilmu sosial, dengan puncak pencapaiannya melalui disertasi yang ditulisnya di London School of Economics. Pilihan studi pasca sarjana dari seorang Romo di LSE juga menarik karena buat ilmuwan Indonesia, LSE dikenal menjadi tempat mereka yang dekat dengan dunia kebijakan dan politik internasional, seperti Juwono Sudarsono dan Rizal Sukma, dan keduanya juga pernah menjadi duta besar Indonesia di Inggris. Profesor Michael Leafer, seorang ahli politik internasional dan banyak menulis tentang ASEAN, mungkin menjadi pembimbing dua orang intelektual-diplomat ini. Saya dengar Romo Herry lebih dekat dengan Profesor Anthony Gidden, seorang ahli sosiologi yang banyak menulis tentang globalisasi dan salah satu bukunya yang terkenal The Third Way. Profesor Anthony Gidden dikenal dekat dengan Tony Blair, politisi dan Perdana Menteri dari Partai Buruh Inggris. Seperti diketahui, Tony Blair dianggap berhasil menggantikan Margareth Tatcher yang bersama Ronald Reagan memelopori model pembangunan yang dikenal sebagai neo-liberal. Melihat kiprahnya Romo Herry adalah tipe ilmuwan sosial yang memihak, dan sebagai Romo Jesuit, tentu orang yang telah memutuskan jalan hidup untuk mengabdikan diri di jalan Yesus dan menjadi gembala bagi mereka yang lemah.

Sambil mengikuti Misa Requiem Romo Herry, ingatan saya melayang pada sebuah perjumpaan saya dengan Romo Herry sehabis diskusi yang diadakan oleh ilmuwan muda Kompas di Bentara Budaya, Palmerah. Seingat saya, waktu itu sebagai narasumber selain Romo Herry adalah Yudi Latif. Mungkin pertemuan singkat itu terjadi tanpa sengaja saat saya berada di dekat Romo Herry ketika sama-sama mengambil kopi dan jajanan pasar yang disajikan. Saat itu saya bilang, setengah mendesak, kayaknya Romo Herry perlu menulis secara lebih utuh percikan-percikan pemikirannya, mungkin dalam bentuk buku, kata saya. Selama ini tidak sedikit ilmuwan sosial yang pikirannya bagus tapi artikulasinya hanya muncul dalam bentuk  makalah seminar atau tulisan kolom, tapi tidak dalam bentuk sebuah buku yang utuh. Romo Herry seingat saya bilang, "itu betul, cuma saya sangat sibuk dengan tugas mengajar". Saat itu saya bilang, "masa Romo Magnis tidak bisa memberikan anda waktu untuk menulis buku?". Itulah pertemuan saya yang singkat dengan Romo Herry. Selebihnya saya mengenal beliau melalui membaca kolomnya di Kompas atau makalah-makalahnya yang diterbitkan dalam sebuah buku. Dalam tulisan-tuisannya itu selalu ada ide yang segar dan berusaha menunjukkan sebuah problem dan konteksnya. Beberapa tulisan menyinggung soal kewargaan dan kewarganegaraan yang saya kira merupakan sebuah isu penting tapi tidak pernah dibicarakan secara serius oleh ilmuwan sosial Indonesia. Dalam sebuah resensi terhadap buku “Ilmu-Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia”, saya ingat dia tergelitik untuk melakukan riset setelah membaca bab yang ditulis Ben White tentang agraria di buku yang disunting Vedi Hadiz dan Daniel Dhakidae itu.

Saya hanya mengenal Romo Herry dari jauh. Membaca tulisan-tulisannya dan mendengar kiprahnya, saya ikut menghormatinya. Wafatnya di usia yang relatif muda, meninggalkan kekosongan tersendiri dalam dunia pemikiran ilmu-ilmu sosial dan dunia pergerakan para aktifis, terutama yang muda. Dalam sebuah kesempatan saat menunggu Maria Pakpahan yang masih mengikuti kuliah umum Romo Herry di Sanata Dharma Jogja, Wahyu Susilo, aktifis pembela buruh migran yang kebetulan menemani saya, mengatakan kalau anak-anak muda banyak yang mengidolakan Romo Herry. Saya kira itu betul, dalam misa requiem yang disiarkan secara langsung melalui YouTube itu dalam kolom chat dalam waktu cepat partisipannya sudah mencapai seribu lebih, dugaan saya sebagian besar dari mereka anak-anak muda. Mungkin juga orang-orang seperti saya, meskipun hanya mengenal dari jauh, tetapi tersengat pemikirannya dan karena itu menghormatinya. Sebelum itu saya juga mendengar kuliah umum yang diadakan di Teater Utan Kayu (TUK) Rawamangun, Jakarta, juga mbludak diahadiri banyak peminat.

Sebagai seorang jesuit, Romo Herry menjadi bagian dari orang-orang yang memilih jalan hidup tidak seperti orang kebanyakan. Pengabdian kepada mereka yang terpinggirkan tidak hanya karena sikap memihaknya namun bagian dari iman Kristen yang percaya bahwa mengabdi secara total untuk mereka yang terpinggirkan adalah satu-satunya jalan menuju Tuhan.

Ket: Karya Romo B. Herry Priyono (GM, 2018).

Sekitar dua tahun sebelum wafat, Romo Herry menerbitkan sebuah buku tebal berjudul Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi. Dari judulnya yang singkat tapi padat itu kita tahu buku yang ditulisnya dengan sungguh-sungguh, melalui riset literatur yang komprehensif itu pastilah telah berusaha menggali sedalam-dalamnya fenomena sosial-politik-ekonomi-budaya yang bernama korupsi itu. Dari sekian banyak probem akut yang dihadapi oleh bangsa ini secara serius Romo Herry telah memilih salah satu yang dianggapnya paling krusial yaitu fenomena korupsi. Tidak perlu menalar terlalu jauh, betapa tepatnya pilihan yang diambil oleh Romo Herry tentang fenomena korupsi sebagai fokus untuk membongkar centang perenang perpolitikan dan tantangan besar yang dihadapi dalam perkembangan bangsa ini.

Persis dua tahun setelah buku yang bisa dikatakan sebagai magnum opus beliau itu beredar, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jika ada peninggalan penting dari Romo Herry, selain karya dan kiprahnya yang tak terhitung banyaknya bagi peradaban dan kemanusiaan itu, barangkali adalah buku itu. Kita tahu, selalu ada jarak antara diskursus dan prakteknya dalam sebuah masyarakat. Melalui buku itu tak pelak lagi Romo Herry telah menyajikan sebuah diskursus penting tentang sebuah isu paling akut kita. Dalam hati kecil saya berkata, ternyata Romo Herry telah berhasil menyisihkan waktu di tengah kesibukannya mengajar yang sangat padat itu.

Sebagai ilmuwan sosial Romo Herry telah membuktikan bahwa tugas seorang dosen tidak cuma memenuhi tugas jam mengajar melalui teks-teks lapuk tetapi juga menulis buku baru. Rasa kehilangan itu menjadi berlipat-lipat ketika kita tahu betapa sedikitnya dosen yang bisa berkiprah dengan total seperti Romo Herry. Buku itu mungkin buku paling exhaustive yang menganalisis tentang fenomena kurupsi, barangkali tidak hanya untuk kalangan pembaca di Indonesia tetapi di dunia.

*Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Sosok #B Herry Priyono #STF Driyarkara



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Selasa, 13 April 2021 16:09 WIB

Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan


Oleh: Fridiyanto* Daniel Dhakidae, seorang begawan ilmu sosial yang mungkin menurut saya tidak terlampau banyak dikenal di kalangan akademisi perguruan

 

Jumat, 09 April 2021 13:10 WIB

Warga SAD Bukit 12 Ikut Berkompetisi di Penerimaan Anggota Polri Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun - Satu orang warga Suku Anak Dalam (SAD) di wilayah Sarolangun mendaftarkan diri dalam penerimaan polisi di tahun 2021. Warga

 

Kamis, 08 April 2021 16:54 WIB

UN Ditiadakan, Asesmen Nasional Jadi Penentu Kelulusan Siswa di Sekolah


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021 ini, Ujian Nasional yang biasanya menentukan kelulusan bagi siswa dan siswi baik SD, SMP maupun SMA sederajat,

 

Sejarah Jambi
Kamis, 08 April 2021 13:58 WIB

Cerita dari Daerah Jambi (2)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) 11. Kemudian diceritakan bahwa pada waktu, Mahmud Mahyuddin sendiri sedang berperang di Jambi. Perang

 

Kamis, 08 April 2021 12:15 WIB

Pemkab Merangin Bolehkan Tarawih dan Sholat Idul Fitri Berjamaah


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin mengeluarkan kebijakan terkait pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19. Bupati