Rabu, 14 April 2021


Rabu, 16 Desember 2020 17:01 WIB

Suko Bandiyono, Mentor Penelitian Migrasi di LIPI yang Sederhana

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Mas Suko, panggilan akrab senior kami Drs Suko Bandiyono MA, di Pusat Penelitian Penduduk LIPI wafat secara mengejutkan pada hari Sabtu dini hari, 12 Desember 2020, seperti menyusul satu jam kemudian setelah istri tercintanya Mbak Rukmini menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebuah peristiwa yang jarang terjadi, kematian sepasang manusia yang indah.



Bagi kami, keluarga besar Pusat Penelitian Penduduk di LIPI berita kepergian mereka sangat mengejutkan karena selang sehari sebelumnya pada Jumat 11 Desember 2020 baru dirayakan 80 tahun usia Dr. Yulfita Rahardjo, senior dan kolega dekat Suko Bandiyono. Bu Yulfita dan Mas Suko adalah dua senior yang boleh dikatakan bahu-membahu mengembangkan penelitian-penelitian kependudukan di LIPI. Jika Bu Yulfita menekuni studi gender dan pendekatan kualitatif, Mas Suko menekuni studi migrasi atau mobilitas penduduk. Kedua senior ini dengan gaya dan caranya masing-masing telah berkiprah tanpa henti sejak tahun 1970-an hingga tahun 2000-an, sebuah rentang waktu yang meliputi lebih dari tiga dekade, bergulat sebagai peneliti-peneliti sosial dalam ranah ilmu kependudukan. Dalam perayaan 80 tahun usia Dr. Yulfita Rahardjo diluncurkan sebuah buku berjudul “Penduduk dan Pembangunan di Indonesia” persembahan untuk beliau yang merupakan kumpulan tulisan para peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, termasuk di dalamnya tulisan Drs. Suko Bandiyono MA tentang penelitian migrasi di LIPI. Meskipun keduanya telah sama-sama pensiun sebagai pegawai negeri di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia namun bagi para peneliti kependudukan yang lebih muda sangat dirasakan jejak yang telah ditinggalkannya.

Saya masih ingat dengan jelas, hari pertama saya di Leknas, awal tahun 1980, setelah diajak berkeliling untuk diperkenalkan dengan para peneliti senior di Jl Gondandia Lama 39, oleh Dr.Suharso (almarhum), direktur Leknas saat itu, saya kemudian diantar ke kantor Leknas yang lain di Jalan Raden Saleh 10, yang letaknya tidak seberapa jauh. Pusat Penelitian Penduduk (Population Studies Center) salah satu pusat penelitian di bawah Leknas-LIPI menempati kantor di Jl Raden Saleh itu. Oleh Pak Harso, panggilan Dr. Suharso sehari-hari, saya diberitahu dimana kamar kerja saya dan meja serta kursi dimana saya sebagai seorang peneliti baru akan bekerja. Kamar, mungkin lebih tepat disebut ruangan karena cukup luas selain berisi meja dan kursi saya terdapat sebuah meja dengan ukuran sangat besar, dibandingkan meja saya yang kecil. Beberapa rak buku yang juga besar berdiri di belakang meja itu. Ada stiker di rak itu berbunyi "no body perfect". Meja itu penuh dengan tumpukan buku, kertas-kertas, mungkin makalah-makalah - yang terserak agak kurang teratur. Pagi itu, setelah saya duduk sendiri dan ditinggalkan oleh Pak Harso dan sekretarisnya Mbak Dien (Blandina Florensi) serta sopir (Herman) dan stafnya (Siahaan) tiba-tiba masuk seorang yang berperawakan agak pendek dan badannya gemuk gempal, dengan baju cowboy, mungkin dengan bahan coudoroy coklat muda dengan tanda seperti segitiga di punggungnya. Pria bertubuh subur itu tidak berkata banyak, setelah berkenalan dan menaruh atau mengambil sesuatu di mejanya, dia bergegas pergi, samar samar saya dengar dia bilang ada seminar migrasi di Hotel Indonesia. Kemudian saya tahu rupanya hari-hari itu ada Widya-Karya Nasional Migrasi, dan semua orang di Pusat Penelitian Penduduk itu mengikuti acara itu. Itulah perkenalan pertama saya dengan Mas Suko yang kemudian diam-diam telah menjadi mentor saya dalam penelitian migrasi.

Periode tahun 1980an adalah periode ketika isu kependudukan sedang mendapatkan perhatian besar dari pemerintah Orde-Baru. Dua program kependudukan yang utama yaitu Keluarga Berencana dan Transmigrasi sedang gencar-gencarnya dilakukan pemerintah. Pemerintah Orde Baru bertekad menurunkan laju pertumbuhan penduduk dan memindahkan penduduk sebanyak-banyaknya dari pulau Jawa dan Bali ke pulau-pulau di luar Jawa yang dianggap masih kosong. Leknas-LIPI, yang direktur pertamanya adalah Prof. Widjojo Nitisastro, seorang ahli demografi-ekonomi, yang kemudian menjadi arsitek utama pembangunan ekonomi Orde Baru juga pendiri Lembaga Demografi UI bersama Prof Nathanael Iskandar dan Kartomo Wirosuhardjo yang juga ahli migrasi.

Kebutuhan akan data statistik demografi meningkat sejalan dengan kepentingan perencanaan pembangunan yang sejak Orde baru bersifat teknokratis. Selain Lembaga Demografi UI dan Pusat Penelitian Penduduk Leknas-LIPI, di UGM didirikan Pusat Studi Kependudukan yang dipimpin oleh Dr. Masri Singarimbun, seorang ahli antropologi yang lama menjadi research fellow dan bekerjasama dengan Prof John Caldwell di Departemen Demografi ANU, Australia.

Di Leknas-LIPI, selain Dr. Suharso, senior lain yang juga menaruh perhatian pada penelitian kependudukan adalah Han Redmana, Dr. Melly G. Tan dan Mayling Oey. Bersama Yulfita Rahardjo, Mayling Oey meneruskan studi pasca-sarjana di ANU. Yulfita, bersama suaminya Rahardjo Suwandi di Departemen Antropologi dan Mayling Oey di Departemen Demografi. Suko Bandiyono seperti pendahulunya Dr. Suharso adalah alumni Fakultas Geografi UGM dan mendapatkan gelar MA dari Florida State University, USA. Ketika pertama kali ketemu dengan Mas Suko beliau belum lama pulang dari Amerika, tidak heran kalau baju yang dipakainya baju cowboy.

Ket: Suko Bandiyono (berbaju putih) bersama Miftah dan Riwanto dan Kolega dari Rasau Yaja, Kalimantan Barat.

Selain Mas Suko, ketika saya masuk Leknas-LIPI, di kependudukan ada Mbak Laila Nagib, Mas Daliyo (almarhum) dan Miftah Wirahadikusumah (almarhum). Mereka yang bekerja di staf administrasi, antara lain adalah Nova, Nati, Pujo dan Nani. Setelah saya masuk menyusul tidak lama kemudian sebagai peneliti kependudukan adalah Aswatini, Wartoyo, Yayu, YB Widodo, Sumono dan Sukarna Wikanta. Jumlah peneliti di Pusat Studi Kependudukan Leknas-LIPI saat itu masih sedikit sehingga kami menjadi sering ditugaskan ke lapangan karena cukup banyak proyek penelitian yang dijalankan. Mungkin karena minat Dr. Suharso sebagai kepala pusat penelitian kependudukan adalah migrasi dan ketenagakerjaan maka penelitian-penelitian yang dilakukan banyak berhubungan dengan isu migrasi dan ketenagakerjaan.

Jika penelitian migrasi banyak dipimpin oleh Mas Suko, penelitian ketenagakerjaan dipimpin oleh Mas Daliyo dan Mbak Laila Nagib. Saat saya masuk Bu Yulfita sudah berada di Australia, meskipun sempat pulang untuk melakukan penelitian di Blitar dimana kami semua diikutkan untuk melakukan survey ketenagakerjaan di Desa Bajang dan Modangan. Pengalaman penelitian lapangan saya yang pertama adalah bersama Mas Suko Bandiyono dan Miftah Wirahadikusumah ke lokasi transmigrasi Rasau Jaya di Kalimantan Barat. Mungkin memang telah menjadi suratan takdir sejak itu migrasi atau mobilitas penduduk pelan-pelan menjadi fokus penelitian saya, dan harus saya akui bahwa Mas Suko Bandiyono adalah mentor migrasi saya yang pertama. Setelah ke Kalimantan Barat bersama Mas Suko saya ikut penelitian transmigrasi di Sungai Pagar Riau, dan berdua kami sempat ke Bengkalis dengan kapal dari Pakanbaru menyusur sungai dan laut. Pengalaman ke lapangan dengan Mas Suko kemudian tak terhitung lagi, antara lain yang juga sangat mengesankan adalah ke berbagai tempat di Indonesia bagian timur. Ketika di Rasau Jaya Kalimantan barat saya masih ingat, Mas Suko hampir tenggelam di Sungai Kapuas, karena perahu yang kami tumpangi oleng, mungkin karena badan beliau yang terlalu berat.

Tidak sedikit kenangan saya dengan almarhum Mas Suko, mentor pertama saya di bidang penelitian migrasi. Beliau seingat saya orang yang tidak pernah menunjukkan rasa marah, hidup seperti dijalani dengan penuh rasa damai dan ikhlas. Setiap kali memasuki daerah penelitian baru, Mas Suko-lah yang selalu memberikan sambutan jika diminta oleh kepala desa, dan istilah yang dipakai oleh Mas Suko adalah memberikan “ular-ular”. Sebagai peneliti yunior saya selalu merasa nyaman melakukan penelitian lapangan dengan Mas Suko karena tidak pernah mengeluh, dan saya banyak belajar dari beliau bagaimana menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada di lapangan, menghargai mereka yang kita teliti sebagai subyek yang harus “di-uwong-ke”, juga bagaimana kita misalnya menerima kondisi tanpa perlu rewel karena harus tidur di rumah penduduk yang sangat sederhana dengan makanan yang juga seadanya.

Sejak itu, melakukan penelitian lapangan, sebuah kegiatan utama kami sebagai peneliti di LIPI menjadi sesuatu yang selalu menyenangkan dan kami menjadi terbiasa dengan kondisi medan yang ada, situasi seperti apapun yang dihadapi seperti tidak pernah kami risaukan. Mas Suko Bandiyono, di samping Mas Daliyo, Pak Han Redmana dan Mbak Laila Nagib adalah mentor-mentor saya pertama di Leknas-LIPI pada awal tahun 1980an itu.

Sebagai seorang peneliti migrasi pencapaiannya telah dibuktikannya hingga ke puncak karir tertinggi sebagai Ahli Peneliti Utama. Orasinya tentang migrasi membuatnya memiliki hak untuk memakai gelar sebagai professor riset, sebuah puncak karir seorang peneliti di lembaga penelitian pemerintah. Bagi para peneliti migrasi yang lebih muda rekam-jejak penelitian panjang Mas Suko Bandiyono tidak mungkin diabaikan. Tapi di atas semua itu, mengingat Mas Suko barangkali yang terpenting adalah mengingat sebuah kesederhanaan sikap seorang peneliti, sekalipun berada di sebuah lembaga yang punya embel-embel nasional seperti LIPI sekalipun. Kesederhanaan sikap itu mengagumkan ketika godaan untuk merasa diri penting atau merasa telah menyumbangkan sesuatu yang berharga buat publik begitu mudah muncul. Ketika sikap jumawa dan ego yang menggelembung sebetulnya hanya buih, betapa sulit sesungguhnya bersikap sederhana seperti telah ditunjukkan Mas Suko. Kepada Mas Suko Bandiyono dan Mbak Rukmini, pendamping sehidup-sematinya; saya hanya bisa memanjatkan doa, semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, memberikan tempat yang damai dan lapang bagi keduanya di-sisi-Nya. Amin.

*Kota Lama, Semarang 15 Desember 2020. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #LIPI #Suko Bandiyono #Kependudukan



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Selasa, 13 April 2021 16:09 WIB

Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan


Oleh: Fridiyanto* Daniel Dhakidae, seorang begawan ilmu sosial yang mungkin menurut saya tidak terlampau banyak dikenal di kalangan akademisi perguruan

 

Jumat, 09 April 2021 13:10 WIB

Warga SAD Bukit 12 Ikut Berkompetisi di Penerimaan Anggota Polri Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun - Satu orang warga Suku Anak Dalam (SAD) di wilayah Sarolangun mendaftarkan diri dalam penerimaan polisi di tahun 2021. Warga

 

Kamis, 08 April 2021 16:54 WIB

UN Ditiadakan, Asesmen Nasional Jadi Penentu Kelulusan Siswa di Sekolah


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021 ini, Ujian Nasional yang biasanya menentukan kelulusan bagi siswa dan siswi baik SD, SMP maupun SMA sederajat,

 

Sejarah Jambi
Kamis, 08 April 2021 13:58 WIB

Cerita dari Daerah Jambi (2)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) 11. Kemudian diceritakan bahwa pada waktu, Mahmud Mahyuddin sendiri sedang berperang di Jambi. Perang

 

Kamis, 08 April 2021 12:15 WIB

Pemkab Merangin Bolehkan Tarawih dan Sholat Idul Fitri Berjamaah


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin mengeluarkan kebijakan terkait pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19. Bupati