Jumat, 05 Maret 2021


Rabu, 16 Desember 2020 15:25 WIB

Jin dan Palasik

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Van Hasselt mengumpulkan beberapa contoh tahyul Melayu yang lain. Beberapa diceritakannya di sini.



Ali, putra Nabi Mohammad, dikenal oleh orang Melayu dengan nama Toeankoe Bagindo Ali. Konon ia tinggal di ruang antara bumi dan langit. Dalam cerita rakyat Melayu, ia adalah doebalang Mohammad dan tersohor karena memiliki kekuatan yang luar biasa. Seandainya bumi memiliki pegangan, dengan muda ia dapat mengangkatnya. Dan, ia menantang malaikat untuk mengambil jiwanya bila bila mereka sanggup melakukannya, tetapi itu tak mungkin dapat dilakukan karena Toeankoe Bagindo Ali tak dapat mati. Ketika para melaikat mencabut nyawanya, ia tenang-tenang tiduran di dalam liang lahat sampai seorang malaikat datang untuk melihat kuburnya. Ketika malaikat itu mendekat, Toeankoe Bagindo Ali segera mencengkeram sayap malaikat itu sehingga  berhasil keluar dari kuburannya dan ikut terbang ke langit.

Pagi-pagi, bila terdengar suara gemuruh di langit, orang mengatakan: “Dengarlah. Itu adalah suara kuda Toeanku Bagindo Ali yang hendak pergi ‘soembajang’”.

Di Soengei Simanoeng, sebuah dusun kecil di tepian Sikiah, di selatan Dataran Tinggi Padang, seseorang bercerita kepada van Hasselt. Kira-kira setengah hari perjalanan, di  di dalam rimba ada tempat bernama Ranah Randjoeng Boengo. Di tempat ada tujuh air tujuh. Orang di sekitarnya menyebut Pantjoeran Toedjoe. Dahulu kala, air itu memancur setelah melewati pipa-pipa gading.

Pancuran itu merupakan pemandian tujuh orang putri: Poetri Toewo, Poetri Roendoe, Poetri Padoewe-Djama, Poetri Bambang, Poetri Soerau, Poetri Sari-Soeto, Poetri Taroejo-Mato dan Poetri Bongsoe. Walaupun biasanya ‘Poetri’ menunjukkan anak perempuan raja, ketujuh putri yang datang mandi itu adalah mahluk halus. Mereka biasanya turun dari langit untuk mandi pada hari Kamis. Setelah segar, seorang perempuan tua—Mande Roegia--yang tinggal di sebuah pondok di dekat pancuran itu menjemput mereka untuk makan-makan kekuahan di rumahnya. Ketika tim penjelajahan itu di sana, keturunan Mande-Roegia masih tinggal di Soengei Simanoeng dan menyimpan warisan—poesako—berupa gendang atau ‘momongan’ tembaga yang disebut ‘si pangkiang rimbo’. Nama itu berarti ‘yang bersuara jernih dari hutan’.

Van Hasselt juga mencatat bahwa di jalan, di antara Takoeng ke Pulau Poendjoeng, ada batu besar yang dikenal dengan dama Batoe Badarah. Konon, bercak-bercak darah yang tidak dapat dibersihkan, memenuhi permukaan batu itu dan ternak yang dibawa melewati batu itu, akan segera mati. Benarkah? Walahualam.

Jin, ‘oerang aloes’, setan dan ‘antoe’ adalah nama-nama umum untuk mahluk halus yang jahat. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah palasik, tjindakoe, iblis, mabou-boengo, mambang, jin di bawah laut, pari, dewa, djanoen, tindoeng, lengah, binti,  gando-kajo dan loder api meleboeroe di dalam masyarakat Koeboe.

Mahluk halus jahat yang disebut jin berjenis kelamin: ada yang lelaki, ada yang perempuan. Ada yang memeluk agama Islam dan ada pula yang tidak beragama. Jin yang terakhir itulah yang memusuhi manusia dan membawa segala macam penyakit dan malapetaka. Jin-jin itu dipimpin oleh seorang raja, yaitu Djin Toengga.

Jin lain, yaitu Djin Paboeroe selalu diikuti beberapa ekor anjing. Gonggong anjing-anjing jin itu terdengar oleh anjing-anjing di bumi dan mulailah mereka melaung tak henti-henti mendengarnya. Karena itu, bila terdengar anjing melaung malam-malam, orang harus berhati-hati karena itu menandakan bahwa Djin Paboeroe sedang berburu mangsa.  Suatu saat, seorang malaikat melemparkan petir yang melukai bagi Djin Paboeroe itu. Luka itu membusuk dan ribuan ulat menggerogoti luka  itu. Karena itulah, kalau Djin itu mendekat, akan tampak burung-burung yang beterbangan hendak memakan ulat-ulat itu.

Palasik sebetulnya bukan mahluk halus, melainkan manusia yang memiliki kekuatan gaib khas. Kepala dan leher atau usus mereka dapat bergerak terpisah dari tubuhnya. Pada malam hari, bagian-bagian itu meninggalkan tubuh pemiliknya dan berkeliaran ke tempat atau rumah orang yang  mati, terluka, terbunuh atau baru lahir. Di sana, palasik itu menjilat-jilat darah yang ada di situ. Karena itulah, untuk menghalau palasik, di bawah rumah perempuan yang baru melahirkan, selalu diletakkan batang-batang kayu berduri.

Jikalau ada orang yang terluka dan darah dari luka itu tak dapat dihentikan, maka hal itu disebut ‘lai lasik den palasik’, dengan kata lain: palasik telah menghisap darah itu. Bila itu terjadi, orang yang terluka tadi tak akan sembuh dan akan meninggal dunia.

Terkadang terjadi perkawinan di antara wanita biasa dengan lelaki palasik. Tentunya, hal ini teramat tidak diinginkan. Akan tetapi, perkawinan seperti itu terjadi juga karena tidak semua orang mengetahui siapa yang palasik, siapa yang bukan. Palasik itu mampu membuat dirinya tak terlihat. Namun, yang memahami akan dapat mengenalinya dari suaranya.  Bagaimana suara khas palasik itu? Entahlah.

 

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882 (hal 70-


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Van Hasselt



Berita Terbaru

 

Rabu, 03 Maret 2021 08:25 WIB

Diduga Disunat, Dewan Pertanyakan Setoran Retribusi Terminal Muarabulian


Kajanglako.com, Batanghari - Uang setoran retribusi Terminal Muarabulian diduga disunat. Hal ini diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Batanghari. Menurut

 

Selasa, 02 Maret 2021 21:31 WIB

Bahas Honorer Nonkategori, DPRD Merangin Panggil Diknas dan BKD


Kajanglako.com, Merangin - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merangin hearing dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan BKPSDM Merangin,

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas