Senin, 02 Agustus 2021


Rabu, 16 Desember 2020 15:25 WIB

Jin dan Palasik

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Van Hasselt mengumpulkan beberapa contoh tahyul Melayu yang lain. Beberapa diceritakannya di sini.



Ali, putra Nabi Mohammad, dikenal oleh orang Melayu dengan nama Toeankoe Bagindo Ali. Konon ia tinggal di ruang antara bumi dan langit. Dalam cerita rakyat Melayu, ia adalah doebalang Mohammad dan tersohor karena memiliki kekuatan yang luar biasa. Seandainya bumi memiliki pegangan, dengan muda ia dapat mengangkatnya. Dan, ia menantang malaikat untuk mengambil jiwanya bila bila mereka sanggup melakukannya, tetapi itu tak mungkin dapat dilakukan karena Toeankoe Bagindo Ali tak dapat mati. Ketika para melaikat mencabut nyawanya, ia tenang-tenang tiduran di dalam liang lahat sampai seorang malaikat datang untuk melihat kuburnya. Ketika malaikat itu mendekat, Toeankoe Bagindo Ali segera mencengkeram sayap malaikat itu sehingga  berhasil keluar dari kuburannya dan ikut terbang ke langit.

Pagi-pagi, bila terdengar suara gemuruh di langit, orang mengatakan: “Dengarlah. Itu adalah suara kuda Toeanku Bagindo Ali yang hendak pergi ‘soembajang’”.

Di Soengei Simanoeng, sebuah dusun kecil di tepian Sikiah, di selatan Dataran Tinggi Padang, seseorang bercerita kepada van Hasselt. Kira-kira setengah hari perjalanan, di  di dalam rimba ada tempat bernama Ranah Randjoeng Boengo. Di tempat ada tujuh air tujuh. Orang di sekitarnya menyebut Pantjoeran Toedjoe. Dahulu kala, air itu memancur setelah melewati pipa-pipa gading.

Pancuran itu merupakan pemandian tujuh orang putri: Poetri Toewo, Poetri Roendoe, Poetri Padoewe-Djama, Poetri Bambang, Poetri Soerau, Poetri Sari-Soeto, Poetri Taroejo-Mato dan Poetri Bongsoe. Walaupun biasanya ‘Poetri’ menunjukkan anak perempuan raja, ketujuh putri yang datang mandi itu adalah mahluk halus. Mereka biasanya turun dari langit untuk mandi pada hari Kamis. Setelah segar, seorang perempuan tua—Mande Roegia--yang tinggal di sebuah pondok di dekat pancuran itu menjemput mereka untuk makan-makan kekuahan di rumahnya. Ketika tim penjelajahan itu di sana, keturunan Mande-Roegia masih tinggal di Soengei Simanoeng dan menyimpan warisan—poesako—berupa gendang atau ‘momongan’ tembaga yang disebut ‘si pangkiang rimbo’. Nama itu berarti ‘yang bersuara jernih dari hutan’.

Van Hasselt juga mencatat bahwa di jalan, di antara Takoeng ke Pulau Poendjoeng, ada batu besar yang dikenal dengan dama Batoe Badarah. Konon, bercak-bercak darah yang tidak dapat dibersihkan, memenuhi permukaan batu itu dan ternak yang dibawa melewati batu itu, akan segera mati. Benarkah? Walahualam.

Jin, ‘oerang aloes’, setan dan ‘antoe’ adalah nama-nama umum untuk mahluk halus yang jahat. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah palasik, tjindakoe, iblis, mabou-boengo, mambang, jin di bawah laut, pari, dewa, djanoen, tindoeng, lengah, binti,  gando-kajo dan loder api meleboeroe di dalam masyarakat Koeboe.

Mahluk halus jahat yang disebut jin berjenis kelamin: ada yang lelaki, ada yang perempuan. Ada yang memeluk agama Islam dan ada pula yang tidak beragama. Jin yang terakhir itulah yang memusuhi manusia dan membawa segala macam penyakit dan malapetaka. Jin-jin itu dipimpin oleh seorang raja, yaitu Djin Toengga.

Jin lain, yaitu Djin Paboeroe selalu diikuti beberapa ekor anjing. Gonggong anjing-anjing jin itu terdengar oleh anjing-anjing di bumi dan mulailah mereka melaung tak henti-henti mendengarnya. Karena itu, bila terdengar anjing melaung malam-malam, orang harus berhati-hati karena itu menandakan bahwa Djin Paboeroe sedang berburu mangsa.  Suatu saat, seorang malaikat melemparkan petir yang melukai bagi Djin Paboeroe itu. Luka itu membusuk dan ribuan ulat menggerogoti luka  itu. Karena itulah, kalau Djin itu mendekat, akan tampak burung-burung yang beterbangan hendak memakan ulat-ulat itu.

Palasik sebetulnya bukan mahluk halus, melainkan manusia yang memiliki kekuatan gaib khas. Kepala dan leher atau usus mereka dapat bergerak terpisah dari tubuhnya. Pada malam hari, bagian-bagian itu meninggalkan tubuh pemiliknya dan berkeliaran ke tempat atau rumah orang yang  mati, terluka, terbunuh atau baru lahir. Di sana, palasik itu menjilat-jilat darah yang ada di situ. Karena itulah, untuk menghalau palasik, di bawah rumah perempuan yang baru melahirkan, selalu diletakkan batang-batang kayu berduri.

Jikalau ada orang yang terluka dan darah dari luka itu tak dapat dihentikan, maka hal itu disebut ‘lai lasik den palasik’, dengan kata lain: palasik telah menghisap darah itu. Bila itu terjadi, orang yang terluka tadi tak akan sembuh dan akan meninggal dunia.

Terkadang terjadi perkawinan di antara wanita biasa dengan lelaki palasik. Tentunya, hal ini teramat tidak diinginkan. Akan tetapi, perkawinan seperti itu terjadi juga karena tidak semua orang mengetahui siapa yang palasik, siapa yang bukan. Palasik itu mampu membuat dirinya tak terlihat. Namun, yang memahami akan dapat mengenalinya dari suaranya.  Bagaimana suara khas palasik itu? Entahlah.

 

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882 (hal 70-


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Van Hasselt



Berita Terbaru

 

Jumat, 30 Juli 2021 16:49 WIB

Menjaga Asa Habitat Harimau Sumatra di Selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Tengah Pandemi Covid 19


Nor Qomariyah*) Harimau Sumatra atau dikenal dengan nama latinnya Panthera Tigris Sumatrae merupakan predator soliter dan salah satu satwa dilindungi yang

 

Sosok
Jumat, 30 Juli 2021 16:41 WIB

Mak Oyot dan Komunitas Daksinapati UI


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Dalam dua pecan terakhir hampir setiap hari kita mendapat berita duka. Teman, kerabat, tetangga, seperti susul menyusul meninggalkan

 

Kamis, 29 Juli 2021 20:29 WIB

Panggilan Pertama Kejari, Mantan Kades Lidung Mangkir


Kajanglako.com, Sarolangun - Kasus dugaan Mark Up anggaran Dana Desa Desa Lidung tahun 2019 pada pekerjaan jalan rigid beton sepanjang 840 meter dengan

 

Kamis, 29 Juli 2021 12:11 WIB

H Mashuri: Merangin Raih Penghargaan KLA 2021


Kajanglako.com, Merangin - Merangin berhasil meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) 2021, tingkat Pratama. Info ini disampaikan Plt Bupati Merangin H

 

Rabu, 28 Juli 2021 17:56 WIB

Terjaring Razia dan Didenda Rp 1.000.000, Parmin: Itu Terlalu Kejam dan Keras


Kajanglako.com, Sarolangun - Penindakan pelaku usaha yang dianggap melanggar protokol kesehatan di kota Sarolangun dinilai terlalu keras. Tim gabungan