Rabu, 22 September 2021


Sabtu, 28 November 2020 09:40 WIB

Burung Hantu, Kritik Teater Air Terhadap Sistem

Reporter : Wenny Ira R
Kategori : Ragam

pementasa naskah Burung Hantu oleh Teater Air

Oleh: Wenny Ira R

Sekolah yang awalnya baik-baik saja dengan seluruh penghuninya yang ceria dan sosok kepala sekolahnya yang mengidolakan Soekarno, serta amat mencintai Pancasila, tiba-tiba dibuat gaduh karena serangan daging busuk dan kotoran yang bertebaran di segala sudut sekolah dan membuat seluruh penghuninya kalang kabut. Tim pencari fakta pun dibentuk untuk mengusut siapa pembuat onar di sekolah tersebut.



Apalagi ditemukan bahwa gambar burung Garuda tertimpa daging busuk dan kotoran. Hal ini membuat kepala sekolah tak terima. Tim pencari fakta pun bekerja keras menemukan dalang dari pembuat onar. Hasilnya ditemukan bahwa daging busuk dan kotoran yang ditebar untuk meneror sekolah dan penghuninya itu berasal dari kawanan burung hantu.

Kepala sekolah, dewan guru dan tim pencari fakta di dalamnya pun sepakat untuk mengusir kawanan burung hantu tersebut. Namun dalam upaya pengusiran burung hantu itu, sekolah terbakar. Kepala sekolah disebut sebagai dalang dari pembakaran sekolah yang banyak diberitakan pada berbagai media massa. Burung hantu pergi, sekolah pun lenyap terbakar, yang tersisa dua orang oknum pecundang yang ternyata penghuni sekolah itu sendiri dan sengaja menebarkan teror untuk memetik keuntungan pribadi dan menyingkirkan kepada sekolah.

Begitulah gambaran alur cerita pementasan naskah berjudul “Burung Hantu” oleh Teater Air di Taman Budaya Jambi pada Senin, 23 November 2020 dalam rangka temu teater se-Sumatera. Naskah ini ditulis oleh Titas dan pementasan disutradai oleh Rully Anggraini. Teater Air sendiri merupakan salah satu komunitas teater yang ada di Provinsi Jambi.

Ket: pementasan naskah Burung Hantu oleh Teater Air

Naskah ini dipentaskan dengan apik dan melibatkan belasan aktor, serta menampilkan kostum yang unik dari kain perca. Rully Anggraini menyebutkan bahwa proses produksi pementasan naskah ini memakan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Sedangkan kostum dari kain perca menurutnya memiliki makna simbol perbedaan yang terjadi di sekeliling kita, tapi indah bila disatukan.

“Pesan yang ingin disampaikan dalam pertunjukkan ini adalah kita terlalu serius menanggapi suatu hal. Apalagi mengenai pelecehan terhadap negara, Jika saja kita bisa menanggapi masalah seperti anak-anak, kita tidak akan berfikir orang luar mengancam kita, sementara ancaman itu sendiri berada di sekitar kita, bahkan dekat,” papar Rully tentang pementasan naskah Burung Hantu.

Rani Iswari, salah satu aktris dalam pementasan naskah Burung Hantu mengatakan bahwa suka duka selama proses produksi juga banyak.

“Suka dukanya mengenai kostum dan ditambah lagi proses garapan yang singkat. Kami semua harus memaksimalkan waktu yang ada untuk mengubah potongan kain perca menjadi sebuah kostum untuk masing-masing peran yang kami mainkan. Ditambah lagi dengan pencarian tokoh dan kesibukan luar biasa,” terang Rani.

Titas, penulis naskah Burung Hantu menjelaskan bahwa  ide awal penulisan naskah adalah dari menyimak banyak peristiwa yang muncul dari kesalahpahaman, yaitu memahami sesuatu dengan berlebihan.

“Rumitnya pencarian solusi di negara kita, terus apa yang dilakukan pengambil kebijakan terkesan artifisial. Saya sengaja mengambil latar sekolah, karena memang latar ini dekat dengan amatan saya. Di sekolah lah penanaman nilai-nilai karakter. Namun ya begitu lah, program pemerintah terkesan artifisial. Ada PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). Tapi ketercapaian program ini menurut saya hanya slogan. Diadakan lomba tepuk dan salam PPK di mana-mana, ada seminar dan lain-lain, akan tetapi seiring dengan itu kebobrokan moral pelajar bertambah terus,” terang Titas.

Apa yang menjadi kegelisahan Titas tersebut dipresentasikan pada sosok Karno yang memaknai nasionalisme dengan membabi buta dalam naskah Burung Hantu. Titas pun mengucapkan terimakasih kepada yang sudah menonton dan mengapresiasi pementasan naskah Burung Hantu.


Tag : #ragam #teater air #naskah burung hantu



Berita Terbaru

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 12:51 WIB

Bersama TNI, Pemkab Sarolangun Sasar Vaksinasi untuk Remaja Diatas 12 Tahun


Kajanglako.com, Sarolangun – TNI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun kembali melaksanakan vaksinasi gratis, Rabu, (21/09/2021). Kali ini, yang

 

Rabu, 22 September 2021 12:36 WIB

Pemkab Merangin Ingin Perangkat Desa Pahami Sistem Digitalisasi


Kajanglako.com, Merangin - Kapasitas dan kemampuan para perangkat desa harus terus ditingkatkan, terlebih untuk pemahaman sistem digitaliasi yang wajib

 

Perspektif
Minggu, 19 September 2021 22:27 WIB

Membaca Indonesia. Catatan Kecil Atas 50 Tahun Rekayasa Sosial: 5 Bias dan 5 Mitos


Oleh: Wahyu Prasetyawan* Riwanto Tirtosudarmo (selanjutnya Riwanto) dalam tulisannya membahas adanya 5 bias dan 5 mitos dalam proses rekayasa sosial selama

 

Sosok dan Pemikiran
Minggu, 19 September 2021 08:00 WIB

Ketangguhan Membaca dan Menulis Seorang Riwanto Tirtosudarmo


Oleh: Anggi Afriansyah* Rabu, 15 September 2021 saya menerima pesan dari Pak Riwanto Tirtosudarmo. Dalam pesan itu ia mengirim sebuah buku Berjudul “Mencari