Rabu, 14 April 2021


Sabtu, 28 November 2020 09:40 WIB

Burung Hantu, Kritik Teater Air Terhadap Sistem

Reporter : Wenny Ira R
Kategori : Ragam

pementasa naskah Burung Hantu oleh Teater Air

Oleh: Wenny Ira R

Sekolah yang awalnya baik-baik saja dengan seluruh penghuninya yang ceria dan sosok kepala sekolahnya yang mengidolakan Soekarno, serta amat mencintai Pancasila, tiba-tiba dibuat gaduh karena serangan daging busuk dan kotoran yang bertebaran di segala sudut sekolah dan membuat seluruh penghuninya kalang kabut. Tim pencari fakta pun dibentuk untuk mengusut siapa pembuat onar di sekolah tersebut.



Apalagi ditemukan bahwa gambar burung Garuda tertimpa daging busuk dan kotoran. Hal ini membuat kepala sekolah tak terima. Tim pencari fakta pun bekerja keras menemukan dalang dari pembuat onar. Hasilnya ditemukan bahwa daging busuk dan kotoran yang ditebar untuk meneror sekolah dan penghuninya itu berasal dari kawanan burung hantu.

Kepala sekolah, dewan guru dan tim pencari fakta di dalamnya pun sepakat untuk mengusir kawanan burung hantu tersebut. Namun dalam upaya pengusiran burung hantu itu, sekolah terbakar. Kepala sekolah disebut sebagai dalang dari pembakaran sekolah yang banyak diberitakan pada berbagai media massa. Burung hantu pergi, sekolah pun lenyap terbakar, yang tersisa dua orang oknum pecundang yang ternyata penghuni sekolah itu sendiri dan sengaja menebarkan teror untuk memetik keuntungan pribadi dan menyingkirkan kepada sekolah.

Begitulah gambaran alur cerita pementasan naskah berjudul “Burung Hantu” oleh Teater Air di Taman Budaya Jambi pada Senin, 23 November 2020 dalam rangka temu teater se-Sumatera. Naskah ini ditulis oleh Titas dan pementasan disutradai oleh Rully Anggraini. Teater Air sendiri merupakan salah satu komunitas teater yang ada di Provinsi Jambi.

Ket: pementasan naskah Burung Hantu oleh Teater Air

Naskah ini dipentaskan dengan apik dan melibatkan belasan aktor, serta menampilkan kostum yang unik dari kain perca. Rully Anggraini menyebutkan bahwa proses produksi pementasan naskah ini memakan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Sedangkan kostum dari kain perca menurutnya memiliki makna simbol perbedaan yang terjadi di sekeliling kita, tapi indah bila disatukan.

“Pesan yang ingin disampaikan dalam pertunjukkan ini adalah kita terlalu serius menanggapi suatu hal. Apalagi mengenai pelecehan terhadap negara, Jika saja kita bisa menanggapi masalah seperti anak-anak, kita tidak akan berfikir orang luar mengancam kita, sementara ancaman itu sendiri berada di sekitar kita, bahkan dekat,” papar Rully tentang pementasan naskah Burung Hantu.

Rani Iswari, salah satu aktris dalam pementasan naskah Burung Hantu mengatakan bahwa suka duka selama proses produksi juga banyak.

“Suka dukanya mengenai kostum dan ditambah lagi proses garapan yang singkat. Kami semua harus memaksimalkan waktu yang ada untuk mengubah potongan kain perca menjadi sebuah kostum untuk masing-masing peran yang kami mainkan. Ditambah lagi dengan pencarian tokoh dan kesibukan luar biasa,” terang Rani.

Titas, penulis naskah Burung Hantu menjelaskan bahwa  ide awal penulisan naskah adalah dari menyimak banyak peristiwa yang muncul dari kesalahpahaman, yaitu memahami sesuatu dengan berlebihan.

“Rumitnya pencarian solusi di negara kita, terus apa yang dilakukan pengambil kebijakan terkesan artifisial. Saya sengaja mengambil latar sekolah, karena memang latar ini dekat dengan amatan saya. Di sekolah lah penanaman nilai-nilai karakter. Namun ya begitu lah, program pemerintah terkesan artifisial. Ada PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). Tapi ketercapaian program ini menurut saya hanya slogan. Diadakan lomba tepuk dan salam PPK di mana-mana, ada seminar dan lain-lain, akan tetapi seiring dengan itu kebobrokan moral pelajar bertambah terus,” terang Titas.

Apa yang menjadi kegelisahan Titas tersebut dipresentasikan pada sosok Karno yang memaknai nasionalisme dengan membabi buta dalam naskah Burung Hantu. Titas pun mengucapkan terimakasih kepada yang sudah menonton dan mengapresiasi pementasan naskah Burung Hantu.


Tag : #ragam #teater air #naskah burung hantu



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Selasa, 13 April 2021 16:09 WIB

Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan


Oleh: Fridiyanto* Daniel Dhakidae, seorang begawan ilmu sosial yang mungkin menurut saya tidak terlampau banyak dikenal di kalangan akademisi perguruan

 

Jumat, 09 April 2021 13:10 WIB

Warga SAD Bukit 12 Ikut Berkompetisi di Penerimaan Anggota Polri Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun - Satu orang warga Suku Anak Dalam (SAD) di wilayah Sarolangun mendaftarkan diri dalam penerimaan polisi di tahun 2021. Warga

 

Kamis, 08 April 2021 16:54 WIB

UN Ditiadakan, Asesmen Nasional Jadi Penentu Kelulusan Siswa di Sekolah


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021 ini, Ujian Nasional yang biasanya menentukan kelulusan bagi siswa dan siswi baik SD, SMP maupun SMA sederajat,

 

Sejarah Jambi
Kamis, 08 April 2021 13:58 WIB

Cerita dari Daerah Jambi (2)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) 11. Kemudian diceritakan bahwa pada waktu, Mahmud Mahyuddin sendiri sedang berperang di Jambi. Perang

 

Kamis, 08 April 2021 12:15 WIB

Pemkab Merangin Bolehkan Tarawih dan Sholat Idul Fitri Berjamaah


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin mengeluarkan kebijakan terkait pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19. Bupati