Sabtu, 23 Januari 2021


Sabtu, 28 November 2020 09:40 WIB

Burung Hantu, Kritik Teater Air Terhadap Sistem

Reporter : Wenny Ira R
Kategori : Ragam

pementasa naskah Burung Hantu oleh Teater Air

Oleh: Wenny Ira R

Sekolah yang awalnya baik-baik saja dengan seluruh penghuninya yang ceria dan sosok kepala sekolahnya yang mengidolakan Soekarno, serta amat mencintai Pancasila, tiba-tiba dibuat gaduh karena serangan daging busuk dan kotoran yang bertebaran di segala sudut sekolah dan membuat seluruh penghuninya kalang kabut. Tim pencari fakta pun dibentuk untuk mengusut siapa pembuat onar di sekolah tersebut.



Apalagi ditemukan bahwa gambar burung Garuda tertimpa daging busuk dan kotoran. Hal ini membuat kepala sekolah tak terima. Tim pencari fakta pun bekerja keras menemukan dalang dari pembuat onar. Hasilnya ditemukan bahwa daging busuk dan kotoran yang ditebar untuk meneror sekolah dan penghuninya itu berasal dari kawanan burung hantu.

Kepala sekolah, dewan guru dan tim pencari fakta di dalamnya pun sepakat untuk mengusir kawanan burung hantu tersebut. Namun dalam upaya pengusiran burung hantu itu, sekolah terbakar. Kepala sekolah disebut sebagai dalang dari pembakaran sekolah yang banyak diberitakan pada berbagai media massa. Burung hantu pergi, sekolah pun lenyap terbakar, yang tersisa dua orang oknum pecundang yang ternyata penghuni sekolah itu sendiri dan sengaja menebarkan teror untuk memetik keuntungan pribadi dan menyingkirkan kepada sekolah.

Begitulah gambaran alur cerita pementasan naskah berjudul “Burung Hantu” oleh Teater Air di Taman Budaya Jambi pada Senin, 23 November 2020 dalam rangka temu teater se-Sumatera. Naskah ini ditulis oleh Titas dan pementasan disutradai oleh Rully Anggraini. Teater Air sendiri merupakan salah satu komunitas teater yang ada di Provinsi Jambi.

Ket: pementasan naskah Burung Hantu oleh Teater Air

Naskah ini dipentaskan dengan apik dan melibatkan belasan aktor, serta menampilkan kostum yang unik dari kain perca. Rully Anggraini menyebutkan bahwa proses produksi pementasan naskah ini memakan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Sedangkan kostum dari kain perca menurutnya memiliki makna simbol perbedaan yang terjadi di sekeliling kita, tapi indah bila disatukan.

“Pesan yang ingin disampaikan dalam pertunjukkan ini adalah kita terlalu serius menanggapi suatu hal. Apalagi mengenai pelecehan terhadap negara, Jika saja kita bisa menanggapi masalah seperti anak-anak, kita tidak akan berfikir orang luar mengancam kita, sementara ancaman itu sendiri berada di sekitar kita, bahkan dekat,” papar Rully tentang pementasan naskah Burung Hantu.

Rani Iswari, salah satu aktris dalam pementasan naskah Burung Hantu mengatakan bahwa suka duka selama proses produksi juga banyak.

“Suka dukanya mengenai kostum dan ditambah lagi proses garapan yang singkat. Kami semua harus memaksimalkan waktu yang ada untuk mengubah potongan kain perca menjadi sebuah kostum untuk masing-masing peran yang kami mainkan. Ditambah lagi dengan pencarian tokoh dan kesibukan luar biasa,” terang Rani.

Titas, penulis naskah Burung Hantu menjelaskan bahwa  ide awal penulisan naskah adalah dari menyimak banyak peristiwa yang muncul dari kesalahpahaman, yaitu memahami sesuatu dengan berlebihan.

“Rumitnya pencarian solusi di negara kita, terus apa yang dilakukan pengambil kebijakan terkesan artifisial. Saya sengaja mengambil latar sekolah, karena memang latar ini dekat dengan amatan saya. Di sekolah lah penanaman nilai-nilai karakter. Namun ya begitu lah, program pemerintah terkesan artifisial. Ada PPK (Penguatan Pendidikan Karakter). Tapi ketercapaian program ini menurut saya hanya slogan. Diadakan lomba tepuk dan salam PPK di mana-mana, ada seminar dan lain-lain, akan tetapi seiring dengan itu kebobrokan moral pelajar bertambah terus,” terang Titas.

Apa yang menjadi kegelisahan Titas tersebut dipresentasikan pada sosok Karno yang memaknai nasionalisme dengan membabi buta dalam naskah Burung Hantu. Titas pun mengucapkan terimakasih kepada yang sudah menonton dan mengapresiasi pementasan naskah Burung Hantu.


Tag : #ragam #teater air #naskah burung hantu



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Januari 2021 00:10 WIB

Lurahnya Terkonfirmasi Covid-19, Kantor Kelurahan ini Ditutup Sementara


Kajanglako.com, Batanghari - Lurah di kelurahan Sridadi Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari Jambi terkonfirmasi positif covid-19. Pasca kejadian

 

Kamis, 21 Januari 2021 19:07 WIB

Puluhan Emak-Emak Blokade Jalinsum dan Larang Truk Batu Bara Melintas


Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya puluhan emak-emak Bukit Peranginan Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun, Kamis sore, (21/01), menggelar

 

Kamis, 21 Januari 2021 17:50 WIB

Di Paripurna DPRD, Gubernur Fachrori Umar Pamit dari Jabatan Gubernur


Kajanglako.com. Jambi  - Sesuai Ketentuan amanat pasal 79 ayat 1 UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa kepala daerah yang berakhir

 

Kamis, 21 Januari 2021 16:48 WIB

Jual Pupuk Oplosan, Ketua Kelompok Tani ini Ditangkap Polisi


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin  mengamankan pelaku pengoplos pupuk KCL merek mahkota. Adalah HR warga Pamenang, pria 56 tahun ini diamankan

 

Kamis, 21 Januari 2021 11:58 WIB

Al Haris Sapa Masyarakat Jambi Melalui Vlog di Instagram Pribadinya, Komentar Netizen Singgung Gugatan di MK


Kajanglako.com, Jambi - Setelah dua pekan sibuk beraktivitas sebagai Bupati Merangin, Wo Haris -sapaan akrab Al Haris-, akhirnya sempat menyapa masyarakat