Sabtu, 23 Januari 2021


Selasa, 10 November 2020 06:52 WIB

Boengo Sanggoel dan Deta

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Masih di lingkungan pesta, dandanan rambut perempuan menarik perhatian. Rambut mereka yang hitam diolesi minyak-minyak harum dan dihiasi dengan beragam perhiasan emas. Hiasan berupa bebungaan dan dedaunan cantik yang terbuat dari aneka logam mulia diselipkan di antara helai-helai rambut dan di belakang kuping. Hiasan ini disebut ‘boengo sanggoewe’ (bungo sanggul).



Di Dataran Tinggi Padang, hiasan rambut yang utama adalah ‘gabai-gabai’, ‘titie sanggoewe’ (kepingan emas yang dipasang di rambut) dan ‘tatah kondeh’, hiasan emas berbentuk tanduk, yang banyak dikenakan di daerah XII Koto. Di Rawas, yang menarik sekali adalah sisir emas berukiran halus. Sisir itu menahan agar rambut tetap tergelung rapi. Di pinggiran sisir itu, ada lubang-lubang kecil untuk tempat menusukkan peniti-peniti emas berbentuk bebungaan dan burung.

Perhiasan rambut yang istimewa adalah yang terdapat di daerah Lebong, mahkota berlapis emas dengan hiasan lancip-pancip. Di rambut diselipkan pula hiasan rambut yang berbentuk bulu, dibentuk dari manik-manik emas dan rumbai-rumbai wol berwarna merah. Di leher digantungkan (di dada atau di punggung), kalung yang dironce dari kepingan-kepingan emas atau perak.

Demikianlah, pada saat pesta, kaum perempuan memamerkan harta-kekayaan keluarga melalui perhiasan di tubuhnya. Di Soepajang, van Hasselt dan tim penjelajahan itu menghadiri pesta pernikahan. Selain ‘gabai-gabai’ dan ‘boengo sanggoewe’ di rambutnya, pengantin perempuan juga mengenakan ‘katajo’, kalung emas selebar 3 sentimeter. Sebuah kalung lain tergantung sampai ke dadanya, di atas baju yang terbuat dari sutra berwarna biru. Kalung itu berhiaskan motif lancip-lancip (‘tanti’) yang dilapisi emas pula. Sebuah gelang  emas yang luar biasa besarnya melingkari pergelangan tangannya serta gelang-gelang berupa untaian manik-manik. Di jari manisnya, ia mengenakan cincin manis dan  kelingking tangan kanan dihiasi dengan kuku emas yang disebut ‘koekoe ame’ atau ‘koekoe tjangai’. Di bahu kanan tersampir selendang sutra berwarna merah. Terkadang, selendang itu juga dibordir dengan benang emas atau dihiasi renda-renda benang emas. Di tangan kanan, pengantin perempuan itu memegang kotak sirih emas. Di pinggang, ia mengenakan sabuk yang dihiasi benang emas (‘tjawe parendo). Semacam pita merah yang lebarnya 3 desimeter dan berhiasan renda-renda berbenang emas diikatkan juga di pinggang dan dibiarkan tergantung di bagian perutnya.

Pengantin Rawas juga berpakaian sama cantik. Tambahan lagi, pengantin perempuan di Rawas menggunakan bedak di dahi dan pipi. Bedak itu berwarna coklat dan kuning. Seluruh tubuhnya pun diolesi bedak. Perhiasan kepala dan rambut sudah digambarkan sebelumnya. Ia tidak mengenakan baju. Sarung berwarna cerah yang dikenakannya diikatkan di atas dada. Seperti di Soepajang, pengantin perempuan Rawas mengenakan sabuk emas dan selendang berenda emas di pingangnya. Lengannya yang telanjang tertutup hampir sampai ke siku oleh gelang-gelang ringkih dari perak, sementara di lengan atas, ia mengenakan dua atau tiga gelang lengan lagi. Setiap jarinya bercincin.

Cuaca panas membuat penduduk setempat biasanya berusaha sesedikit mungkin menutupi tubuhnya. Pakaian yang minim dan sederhana juga memudahkan gerak pada waktu harus bekerja. Kaum perempuan terbiasa melilitkan selembar kain saja di bagian bawah tubuhnya. Hal itu juga dilakukan oleh kaum laki-laki. Dalam kehidupan sehari-hari dan tidak ada acara istimewa seperti pesta atau pertemuan dengan orang Belanda, mereka biasanya hanya mengenakan sarung di pinggang, penutup kepala dan terkadang selembar ‘kain basahan’ yang disampirkan di bahu.

Dalam hal pakaian, yang paling diperhatikan oleh kaum lelaki adalah penutup kepala, ‘deta’ (destar). Pada waktu bekerja, mereka mengenakan destar berarma putih atau biru tua. Pada orang Koeboe atau di daerah Lebong, destar itu dibuar dari kulit kayu. Untuk ke pesta atau bepergian ke pasar, mereka mengenakan destar yang dibuat dari bulu binatang atau katun hitam yang dihiasi dengan sulaman berbenang merah atau emas, ditambah dengan manik-manik. Bahan katun untuk destar itu sendiri berbentuk segi empat. Setelah diberi pengeras yang diramu dari air beras dan dijemur di matahari, kain itu kemudian dilipat dan dibentuk menjadi destar. Modelnya bermacam-macam. Setelah dilipat menjadi bentuk yang diinginkan, ujung-ujungnya diikatkan satu sama lain atau direkatkan dengan jarum. Destar hitam yang dihiasi dengan benang emas tidak diperkeras dengan air beras, melainkan dilipat-lipat begitu saja.

Dari sejak dahulu kala, para panghoeloe mengenakan ‘deta pandjang’ atau ‘deta bakatah’, yang pada dasarnya merupakan selembar kain hitam panjang berlipit-lipit khas. Tanpa dilipat, kain itu dililitkan di atas kepala seperti tulban. Seringkali, di bagian sampingnya, diberi hiasan cincin emas.

Walaupun aneka  ragam model penutup kepala lelaki memiliki nama-nama tersendiri, namun model dan nama-nama itu tampaknya tidak dihubungkan dengan daerah-daerah tertentu. Di Rawas, Lebong dan Jambi hilir, penutup kepala laki-laki disebut ‘ikat-ikat’. Untuk ini, digunakan kain yang berwarna-warni. Untuk pesta, ikat-ikat itu acap berhiaskan benang emas. Tanpa diperkeras, ikat-ikat itu dilipat dengan cara yang tidak serumit ikatan/lipatan penutup kepala di antara orang Melayu Minangkabau. Ikat-ikat yang jauh lebih sederhana itu menjadi menarik karena biasanya setiap hari, pemakainya menyelipkan sekuntum bunga di lipatan penutup kepalanya. Bunga ‘seloepat’ yang putih tampak sangat menarik diselipkan di lipatan ikat-ikat.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Telusur #Ekpedisi Sumatra Tengah 1877 #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Januari 2021 00:10 WIB

Lurahnya Terkonfirmasi Covid-19, Kantor Kelurahan ini Ditutup Sementara


Kajanglako.com, Batanghari - Lurah di kelurahan Sridadi Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari Jambi terkonfirmasi positif covid-19. Pasca kejadian

 

Kamis, 21 Januari 2021 19:07 WIB

Puluhan Emak-Emak Blokade Jalinsum dan Larang Truk Batu Bara Melintas


Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya puluhan emak-emak Bukit Peranginan Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun, Kamis sore, (21/01), menggelar

 

Kamis, 21 Januari 2021 17:50 WIB

Di Paripurna DPRD, Gubernur Fachrori Umar Pamit dari Jabatan Gubernur


Kajanglako.com. Jambi  - Sesuai Ketentuan amanat pasal 79 ayat 1 UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa kepala daerah yang berakhir

 

Kamis, 21 Januari 2021 16:48 WIB

Jual Pupuk Oplosan, Ketua Kelompok Tani ini Ditangkap Polisi


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin  mengamankan pelaku pengoplos pupuk KCL merek mahkota. Adalah HR warga Pamenang, pria 56 tahun ini diamankan

 

Kamis, 21 Januari 2021 11:58 WIB

Al Haris Sapa Masyarakat Jambi Melalui Vlog di Instagram Pribadinya, Komentar Netizen Singgung Gugatan di MK


Kajanglako.com, Jambi - Setelah dua pekan sibuk beraktivitas sebagai Bupati Merangin, Wo Haris -sapaan akrab Al Haris-, akhirnya sempat menyapa masyarakat