Sabtu, 23 Januari 2021


Minggu, 01 November 2020 08:05 WIB

Solek Perempuan Melayu

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Kain-kain kaum perempuan diikat kencang di pinggangnya oleh ‘kabe pinggang. Ujung-ujungnya dipasang pada cincin-cincin tembaga (‘kakolong’) yang dibiarkan tergantung sebagai penghias. Di bagian depan atau belakang sabuk pinggang ini digantungkan kunci peti penyimpanan benda-benda berharga keluarga, sementara uang untuk belanja di pasar, diselipkan rapi di lipatan kain atau sabuk pinggang itu.



Selembar selendang melengkapi pakaian perempuan. Selendang itu disampirkan di bahu atau di atas kepala. Bila harus membawa barang, maka selendang itu dilipat-lipat dan diletakkan di atas kepalanya untuk menyangga barang tadi. Di Lebong, kaum perempuan juga menggunakan ‘sapang djarang’—selembar kain putih yang berhiaskan pinggiran merah dan rumbai-rumbai putih—sebagai selendang di bahu atau sebagai penutup kepala. Gadis-gadis di daerah itu dan di Rawas mengenakan semacam mahkota yang terbuat dari rotan atau bambu. Sekeliling mahkota itu dihiasi segitiga-segitiga lancip atau ditutup dengan kain yang bagian depannya dihiasi dengan renda-renda keemasan atau kepingan-kepingan emas. Hiasan kepala itu, di atas rambut yang hitam legam, sungguh membuat gadis-gadis itu tampak cantik.  Di L-Koto, Agam dan Batipoe, kaum perempuan melipat kain katun hitam atau berwarna dengan cara khas dan menggunakannya sebagai penghias kepala. Hiasan itu bagus sekali sebagai pelengkap pakaiannya.

Sehari-hari, memang perempuan Melayu menggunakan perhiasan dari bahan logam. Namun, keindahan perhiasan itu baru betul-betul tampak pada saat pemiliknya pergi ke pesta. Seperti di banyak daerah, pun di daerah Sumatra tengah, kemakmuran atau kekayaan keluarga tidak pertama-tama digunakan untuk memperbaiki rumah atau peralatan untuk bekerja. Yang pertama didahulukan adalah membeli dan mengenakan perhiasan-perhiasan mahal.

Di daerah Dataran Tinggi Padang, hanya perempuan di Beda(r) Alam yang mengenakan gelang serupa dengan gelang di Rawas dan Lebong. Seringkali, gelang itu dibuat dengan meronce manik-manik logam atau gelas. Biasanya beberapa untaian dililitkan di pergelangan tangan. Manik-manik yang sangat disukai adalah manik-manik besar berwarna kuning (yang konon berasal dari Arab). Gelang yang paling sederhana adalah yang dibuat dari timah hitam dan sepotong akar (‘aka baha’). Sekeping timah hitam, yang dilipat berbentuk segi empat yang berfungsi sebagai jimat, terkadang dipasang di pergelangan tangan menggantikan gelang.

Cincin untuk jari tangan dibuat dari batok kelapa atau dari kulit kerang. Beberapa tahun sebelum kedatangan tim Ekspedisi Sumatra Tengah, banyak orang mulai menggunakan cincin tembaga dengan batu berwarna merah kuning atau gelas hijau. Cincin seperti ini buatan Eropa dan tak tampak dijual di pasar.

Tampaknya, kalung tidak biasa dikenakan. Di tempat-tempat perempuan mengenakan kalung, biasanya perhiasan itu berupa untaian manik-manik merah. Di Si Djoendjoeng, orang suka mengenakan kalung manik-manik yang warna-warni. Jimat—timah segi empat yang diisi dengan getah ‘hinggoe’—biasanya digantungkan dengan seutas tali di leher.

Perhiasan yang paling banyak ragamnya adalah perhiasan kuping—anting-anting. Lubang yang dibuat di daun telinga, untuk menggantungkan ‘soebang katjije’ atau ‘lonta’, berukuran sekitar 16 sentimeter. Hiasan kuping yang terbesar adalah ‘soembeq talingo’ yang digunakan di daerah Soepajang, Siroekam, Alahan Pandjang, Painan, Batipoe dan X Koto. Subang itu berbentuk seperti daun bergaris tengah 11 sentimeter. Tak jarang, saking besarnya, subang itu sampai menutupi  sebagian pipi perempuan yang mengenakannya.

Berbagai bahan dasar digunakan untuk membuat perhiasan. Bahan yang paling sring digunakan adalah kayu, perak, tembaga yang dihiasi dengan emas. ‘Lonta’ dari daerah Tanah Datar dibuat dari daun pandan yang digulung rapat. Selembar kain merah dijahitkan dengan benang merah pula di atas gulungan itu. Lalu, lempengan perak yang berhias dipasangkan di atas bagian yang tertutup kain merah tadi. Lain lagi halnya dengan ‘soebang katjije’ dari XIII dan IX Koto. Subang itu dibuat dengan menempelkan lempengan kaleng di atas sebuah silinder kayu berwarna hitam. Subang serupa di daerah Soepajang, Siroekam dan Alahan Pandjang terbuat dari kayu enau yang digurat bermotif. Guratan-guratan motif itu kemudian diisi dengan timah. (proses pembuatannya diuraikan di tempat lain di buku ini).

Di daerah rawas, kaum perempuan mengenakan subang yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan kaca. Di daerah ini, juga dikenal ‘gambang’ yaitu perhiasan yang dibengkokkan dan digantungkan di telinga. Di daerah Agam, hiasan telinga yang juga digantungkan adalah ‘koeraboe atje kanjang’. Variasi lain adalah ‘koeraboe; yang dipasangkan dengan sekrup kecil di belakang daun telinga. ‘Soebang batirawang’ dari L-Koto berlubang kecil. Di belakang daun telinga, sebuah jarum kecil ditusukkan ke dalam perhiasan itu untuk mengikatnya di tempat. Teknik yang sama juga digunakan untuk subang di Rawas. Anting-anting dari Si Djoendjoeng yang disebut ‘soenting pangedeh’ digantungkan di telinga dengan kaitan yang terbuat dari benang perak atau tembaga. Cara mengenakan ragam perhiasan telinga itu bervariasi tergantung dari bentuk perhiasan itu sendiri. Anting-anting yang berbentuk silinder diselipkan di lubang yang dibuat di telinga. Pada bentuk lain, sebuah sekrup kecil dikencangkan di belakang daun telinga.

Untuk pesta, model pakaian perempuan sebetulnya tidak berubah. Yang berubah adalah bahan-bahan kain atau baju serta hiasan-hiasan di kain dan baju itu. Yang disukai adalah tekstil mewah berhias benang emas. Kain batik atau tekstil buatan Eropa jarang terlihat di luar kota-kota besar. Pada waktu pesta di Moeara Roepit tampak kaum perempuan dan para penari mengenakan sarung, salendang dan baju katun yang berwarna hitam, merah atau bermotif bunga-bunga. Di daerah Rawas, kaum perempuan lebih banyak mengenakan baju sutra yang berwarna hitam, merah, hijau atau biru. Di daerah Lebong, para penari tidak mengenakan baju, melainkan melilitkan sarung warna-warni di tubuhnya. Di daerah-daerah ini, kain dikenakan lebih tinggi daripada di daerah Dataran Tinggi Padang. Di sana, kain itu hampir menutupi mata kaki.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Telusur #Perempuan Melayu Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 22 Januari 2021 00:10 WIB

Lurahnya Terkonfirmasi Covid-19, Kantor Kelurahan ini Ditutup Sementara


Kajanglako.com, Batanghari - Lurah di kelurahan Sridadi Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari Jambi terkonfirmasi positif covid-19. Pasca kejadian

 

Kamis, 21 Januari 2021 19:07 WIB

Puluhan Emak-Emak Blokade Jalinsum dan Larang Truk Batu Bara Melintas


Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya puluhan emak-emak Bukit Peranginan Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun, Kamis sore, (21/01), menggelar

 

Kamis, 21 Januari 2021 17:50 WIB

Di Paripurna DPRD, Gubernur Fachrori Umar Pamit dari Jabatan Gubernur


Kajanglako.com. Jambi  - Sesuai Ketentuan amanat pasal 79 ayat 1 UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa kepala daerah yang berakhir

 

Kamis, 21 Januari 2021 16:48 WIB

Jual Pupuk Oplosan, Ketua Kelompok Tani ini Ditangkap Polisi


Kajanglako.com, Merangin - Polres Merangin  mengamankan pelaku pengoplos pupuk KCL merek mahkota. Adalah HR warga Pamenang, pria 56 tahun ini diamankan

 

Kamis, 21 Januari 2021 11:58 WIB

Al Haris Sapa Masyarakat Jambi Melalui Vlog di Instagram Pribadinya, Komentar Netizen Singgung Gugatan di MK


Kajanglako.com, Jambi - Setelah dua pekan sibuk beraktivitas sebagai Bupati Merangin, Wo Haris -sapaan akrab Al Haris-, akhirnya sempat menyapa masyarakat