Kamis, 04 Maret 2021


Minggu, 20 September 2020 04:58 WIB

Out Of Place: (De)stereotyping Iqi's Arabism

Reporter :
Kategori : Oase Esai

karya Iqi Qoror. Sumber: Asikin Hasan

Oleh: Asikin Hasan*

18 September 2020, pameran luring Iqi Qoror Out of Place (De)stereotyping Iqi’s Arabism, di Jogja Galeri berakhir, setelah sebelumnya dibuka pada 8 September lalu. Ini adalah satu dari sejumlah pameran yang tiada henti-hentinya bermunculan selama musim pandemi, menunjukkan daya tahan para perupa tetap terjaga di tengah cuaca dan kondisi apapun. Padahal kondisi kita hari-hari ini mudah sekali menggiring segala hal untuk redup dan layu.



Pameran tunggal Iqi Qoror yang dikuratori Sujud Dartanto ini sebuah semangat eskavasi, menggali-gali ceruk dan tanda-tanda yang terbenam dalam masa silam. Iqi menemukan sebuah ruang rahasia yang selama ini terkunci, dan menyimpan pelbagai cerita-cerita, pertanyaan-pertanyaan. Di ruang terkunci itu, ia tak lain menemukan dirinya sendiri dalam sebuah narasi kecil, terhubung ke masa silam dan masa kini. Takdir yang mengalir begitu saja, tidak diminta oleh siapapun. Ia sesuatu yang terberi oleh perekayasa kehidupan.

Iqi datang dari keluarga campuran Arab-Jawa, sempalan dari sebuah kemurnian darah, suku, ras, dan warna kulit tertentu. Di satu sisi ia mengarungi sistem nilai ke-araban yang serba tertutupi hijab, dan di sisi lain nilai-nilai ke-jawaan yang terbuka untuk sebuah pembaruan, dan kemungkinan lainnya. Ia sendiri kerapkali galau menghadapi campur-baur dan dominasi antara satu nilai atas nilai lainnya. Hal-hal yang menimbulkan tegangan nilai-nilai dalam kesehari-harian hidupnya. Bertolak dari kesuntukan ruang yang terkunci itu lahir karya-karya dwimatra dan trimatra.

Menempuh pendidikan Desain Industri di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, dan di FSRD ISI Yogyakarta. Memilih jalur seni rupa adalah sebuah kejanggalan bagi keluarga besarnya. Sebab seni adalah sesuatu yang asyik masyuk dengan lamunan duniawi yang tercela. Apalagi, seni rupa Iqi bukanlah jenis kaligrafi dan ornamen geometris yang menolak kehadiran figur. Ia justru sebaliknya menghadirkan figur-figur bersorban ala Timur Tengah, ikon klasik Yunani kuno, instalasi potongan tubuh, obyek, dan lain sebagainya. Pendek kata karya-karya Iqi adalah gambaran seni rupa masa kini yang menggali realitas tersembunyi dan terlarang.

Ket: Karya Iqi Qoror. Sumber: Asikin Hasan

Hal berharga dari pameran ini adalah membongkar relasi antara superioritas keturunan, ras, suku, tradisi, budaya, kuasa, dan lain sebagainya. Pertanyaan yang jarang diungkapkan selama ini misalnya: Mengapa keturunan Arab di Nusantara selalu merawat sejarah keturunannya, hingga tidak jarang mengklaim diri sebagai keturunan nabi yang mulia. Bahkan, untuk menjaga kemurnian akarnya, perempuan Arab tidak diperkenankan menikah dengan penduduk pribumi, tapi sebaliknya lelaki Arab. Islamkah itu? Atau justru hanya sebuah tradisi Arab yang telah berakar dalam, jauh sebelum Islam itu sendiri hadir sebagai sebuah spirit baru.

Pameran ini mencoba melempar pertanyaan: Apakah Arab selalu berkonotasi Islam, atau sebaliknya. Mengingat di tanah air: pakaian, bahasa, kultur, dan simbol yang ke-arab-araban dipandang sebagai Islam. Sebagai fakta sejarah, tentu saja satu sama lain terkait kelindan. Namun, sebagaimana agama lainnya, Islam itu sendiri bergerak dinamis. Ia akan terus menggelinding mengisi tempat, ruang dan waktu, menyemai kebaikan bak spora dalam bentuk yang beragam-ragam. Tapi, bagaimana dengan asal usul keturunan yang dibayang-bayangi superioritas dan pilihan utama itu. Mengutip Iqi di ahir catatan katalog: “Karena sesungguhnya Arab bukanlah ciri khas Islam, tapi (saya percaya) ketaqwaan ciri khas Islam sesungguhnya”. Dengan kata lain, Iqi mengingatkan kembali akan pernyataan Nabi Muhammad bahwa, dihadapan Allah kemuliaan tidak ditentukan oleh keturunan, perbedaan warna kulit, dan suku, tapi oleh perbuatan baik dan ketaqwaan.

*Penulis adalah kurator seni rupa.


Tag : #Esai #Iqi Qoror #Out of Place (De)stereotyping Iqis Arabism #Jogja Galeri



Berita Terbaru

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas

 

Hari Sampah
Minggu, 21 Februari 2021 10:20 WIB

Peringati Hari Sampah Lewat Program Sepuluh Jari Menganyam


JAMBI--Memperingati hari sampah yang jatuh setiap 21 Februari, masyarakat Jambi diajak untuk lebih peduli lingkungan. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari

 

Sengketa Rumah Ibadah
Kamis, 18 Februari 2021 10:42 WIB

Sengketa Rumah Ibadah dan Kearifan Budaya Lokal Jambi


Oleh: Juparno Hatta* Di mata dunia internasional, Indonesia dikenal dengan nilai toleransi yang tinggi di tengah-tengah kemajemukan sebagai sebuah kesemestian.