Rabu, 14 April 2021


Minggu, 20 September 2020 04:58 WIB

Out Of Place: (De)stereotyping Iqi's Arabism

Reporter :
Kategori : Oase Esai

karya Iqi Qoror. Sumber: Asikin Hasan

Oleh: Asikin Hasan*

18 September 2020, pameran luring Iqi Qoror Out of Place (De)stereotyping Iqi’s Arabism, di Jogja Galeri berakhir, setelah sebelumnya dibuka pada 8 September lalu. Ini adalah satu dari sejumlah pameran yang tiada henti-hentinya bermunculan selama musim pandemi, menunjukkan daya tahan para perupa tetap terjaga di tengah cuaca dan kondisi apapun. Padahal kondisi kita hari-hari ini mudah sekali menggiring segala hal untuk redup dan layu.



Pameran tunggal Iqi Qoror yang dikuratori Sujud Dartanto ini sebuah semangat eskavasi, menggali-gali ceruk dan tanda-tanda yang terbenam dalam masa silam. Iqi menemukan sebuah ruang rahasia yang selama ini terkunci, dan menyimpan pelbagai cerita-cerita, pertanyaan-pertanyaan. Di ruang terkunci itu, ia tak lain menemukan dirinya sendiri dalam sebuah narasi kecil, terhubung ke masa silam dan masa kini. Takdir yang mengalir begitu saja, tidak diminta oleh siapapun. Ia sesuatu yang terberi oleh perekayasa kehidupan.

Iqi datang dari keluarga campuran Arab-Jawa, sempalan dari sebuah kemurnian darah, suku, ras, dan warna kulit tertentu. Di satu sisi ia mengarungi sistem nilai ke-araban yang serba tertutupi hijab, dan di sisi lain nilai-nilai ke-jawaan yang terbuka untuk sebuah pembaruan, dan kemungkinan lainnya. Ia sendiri kerapkali galau menghadapi campur-baur dan dominasi antara satu nilai atas nilai lainnya. Hal-hal yang menimbulkan tegangan nilai-nilai dalam kesehari-harian hidupnya. Bertolak dari kesuntukan ruang yang terkunci itu lahir karya-karya dwimatra dan trimatra.

Menempuh pendidikan Desain Industri di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, dan di FSRD ISI Yogyakarta. Memilih jalur seni rupa adalah sebuah kejanggalan bagi keluarga besarnya. Sebab seni adalah sesuatu yang asyik masyuk dengan lamunan duniawi yang tercela. Apalagi, seni rupa Iqi bukanlah jenis kaligrafi dan ornamen geometris yang menolak kehadiran figur. Ia justru sebaliknya menghadirkan figur-figur bersorban ala Timur Tengah, ikon klasik Yunani kuno, instalasi potongan tubuh, obyek, dan lain sebagainya. Pendek kata karya-karya Iqi adalah gambaran seni rupa masa kini yang menggali realitas tersembunyi dan terlarang.

Ket: Karya Iqi Qoror. Sumber: Asikin Hasan

Hal berharga dari pameran ini adalah membongkar relasi antara superioritas keturunan, ras, suku, tradisi, budaya, kuasa, dan lain sebagainya. Pertanyaan yang jarang diungkapkan selama ini misalnya: Mengapa keturunan Arab di Nusantara selalu merawat sejarah keturunannya, hingga tidak jarang mengklaim diri sebagai keturunan nabi yang mulia. Bahkan, untuk menjaga kemurnian akarnya, perempuan Arab tidak diperkenankan menikah dengan penduduk pribumi, tapi sebaliknya lelaki Arab. Islamkah itu? Atau justru hanya sebuah tradisi Arab yang telah berakar dalam, jauh sebelum Islam itu sendiri hadir sebagai sebuah spirit baru.

Pameran ini mencoba melempar pertanyaan: Apakah Arab selalu berkonotasi Islam, atau sebaliknya. Mengingat di tanah air: pakaian, bahasa, kultur, dan simbol yang ke-arab-araban dipandang sebagai Islam. Sebagai fakta sejarah, tentu saja satu sama lain terkait kelindan. Namun, sebagaimana agama lainnya, Islam itu sendiri bergerak dinamis. Ia akan terus menggelinding mengisi tempat, ruang dan waktu, menyemai kebaikan bak spora dalam bentuk yang beragam-ragam. Tapi, bagaimana dengan asal usul keturunan yang dibayang-bayangi superioritas dan pilihan utama itu. Mengutip Iqi di ahir catatan katalog: “Karena sesungguhnya Arab bukanlah ciri khas Islam, tapi (saya percaya) ketaqwaan ciri khas Islam sesungguhnya”. Dengan kata lain, Iqi mengingatkan kembali akan pernyataan Nabi Muhammad bahwa, dihadapan Allah kemuliaan tidak ditentukan oleh keturunan, perbedaan warna kulit, dan suku, tapi oleh perbuatan baik dan ketaqwaan.

*Penulis adalah kurator seni rupa.


Tag : #Esai #Iqi Qoror #Out of Place (De)stereotyping Iqis Arabism #Jogja Galeri



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Selasa, 13 April 2021 16:09 WIB

Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan


Oleh: Fridiyanto* Daniel Dhakidae, seorang begawan ilmu sosial yang mungkin menurut saya tidak terlampau banyak dikenal di kalangan akademisi perguruan

 

Jumat, 09 April 2021 13:10 WIB

Warga SAD Bukit 12 Ikut Berkompetisi di Penerimaan Anggota Polri Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun - Satu orang warga Suku Anak Dalam (SAD) di wilayah Sarolangun mendaftarkan diri dalam penerimaan polisi di tahun 2021. Warga

 

Kamis, 08 April 2021 16:54 WIB

UN Ditiadakan, Asesmen Nasional Jadi Penentu Kelulusan Siswa di Sekolah


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021 ini, Ujian Nasional yang biasanya menentukan kelulusan bagi siswa dan siswi baik SD, SMP maupun SMA sederajat,

 

Sejarah Jambi
Kamis, 08 April 2021 13:58 WIB

Cerita dari Daerah Jambi (2)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) 11. Kemudian diceritakan bahwa pada waktu, Mahmud Mahyuddin sendiri sedang berperang di Jambi. Perang

 

Kamis, 08 April 2021 12:15 WIB

Pemkab Merangin Bolehkan Tarawih dan Sholat Idul Fitri Berjamaah


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin mengeluarkan kebijakan terkait pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19. Bupati