Rabu, 14 April 2021


Kamis, 06 Agustus 2020 04:54 WIB

Awal dari Akhir Bangsa Samudera

Reporter :
Kategori : Perspektif

Maritim. Sumber: Media Indonesia/Ebet.

Oleh: Asyhadi Mufsi Sadali*

Colombus yang mahsyur itu oleh karena satu kebetulan. Pada zamannya media mencatat pencapaian yang sesungguhnya beratus tahun dahulu telah dirintis orang-orang bangsa samudera dari Nusantara. Kisahnya tidak tertulis dalam naskah berhuruf latin, namun perahu-perahu mereka sejak ribuan tahun silam telah tergambar dalam dinding-dinding gua karst di Sangkulirang, Muna, Misol, Kaimana, dan gua harimau-Sumatera Selatan. Lagi-lagi Colombus hanyalah satu di antara pembawa pesan paling penting dalam sejarah peradaban dunia setelah yang lain hilang digilas waktu yang fana. Hikayat Colombus bukanlah bercerita akan kepribadian atau tindakan heroiknya, tetapi soal tanaman dengan sejuta khasiat yang kemudian kita kenal dengan rempah. Sejarawan Oxford University, Jack Turner (2013) dalam buku “Sejarah Rempah; Dari Erotisme Sampai Imperialisme” menarasikan kembali situasi sepulang pelayaran Colombus dari negeri di bawah angin yang kini dikenal sebagai Nusantara. Para duta besar dan dewan kehormatan dari berbagai negara persekutuan Eropa berkumpul dalam ruang perjamuan Salo del Tinell yang megah di Barri Gotic, Barcelona. Pada momen bersejarah itu, Colombus mengumumkan kabar penemuan dunia baru yang kaya rempah-rempah. Peristiwa itu dicatat para sejarawan sebagai kejadian yang menjadi titik transisi antara abad pertengahan dengan abad modern. Pengumuman berdurasi singkat namun menentukan nasib bangsa samudera berabad-abad kemudian. Demikianlah penemuan sumber asal rempah pembuka era baru dunia, sekaligus pembawa duka bagi bangsa Samudera.



Bermula dari Rempah

Aroma rempah dengan cita rasa eksotis ahirnya mengundang ribuan kapal menuju kepulauan Nusantara. Sebahagian kisah itu kini tersusun rapi dalam dokumen di Arsip Nasional Republik Indonesia, ANRI. Tercatat betapa rempah begitu dicari dan diminati beragam bangsa pada masa itu. Buku berjudul ‘Proper New Books of Cookery’ terbitan tahun 1576, dan buku ‘Diego Granado Libro de arte de cocinar’ (1599), dua diantara sekian dokumen yang memuat selusin resep saus klasik berempah khas abad pertengahan. Dua corpus ini membuktikan Eropa begitu kecanduan dengan rempah, sehingga pencarian rempah semakin serius dengan mendirikan serikat tuan-tuan kaya Eropa, bernama EIC (East India Company) milik Inggris dan V.O.C (Verenidge Oostindische Compagni) milik Belanda. Pada waktu yang bersamaan, Portugis dan Spanyol semakin tergilas oleh hukum ekonomi lalu tersingkir di tahun 1605 M. Kesuksesan serikat dagang V.O.C semakin gemilag ditangan Jan Pieterszoon Coen selaku Gubernur Jenderal dengan siasat monopoli rempah.

Pulau-pulau penghasil rempah seperti Maluku dikuras habis dalam bingkai peraturan ketat yang dikenal dengan “Hongi”. Tirani tangan besi diberlakukan, dimana ladang cengkeh dan pala ilegal akan dibakar habis dan pelakunya dihukum mati. Sedangkan untuk mencegah penyelundupan, produksi cengkeh kemudian difokuskan di Ambon dan beberapa pulau kecil disekitar Maluku. Di sisi lain, para Suktan dikendalikan, dan laut ditaklukkan dengan kapal raksasa dengan puluhan corong meriam.

Strategi pertama dan yang utama VOC dalam monopoli ekonomi adalah penguasaan lautan, yang dimulai pada tanggal 13 Februari 1755 M melalui perjanjian Giyanti antara kerjaan mataram dengan V.O.C. Disebutkan dalam pasal 6; Sri Sultan menyerahkan pulau Madura dan daerah pesisir Jawa  kepada V.O.C. Sebaliknya V.O.C memberikan ganti rugi 10.000 Real tiap tahunnya. Tak cukup sampai di situ, pada tanggal 30 Oktober 1787 VOC mengeluarkan sebuah resolusi (surat perintah) melarang keras pembuatan kapal berbobot di atas 1200 tonase. Melarang pembuatan kapal dengan bobot diatas 1200 tonase sama saja melarang masyarakat Nusantara menjadi pelaut antar Samudera. Kapal dengan bobot di bawah 1200 tonase hanyalah perahu kecil dengan kisaran panjang 5-12 meter, yang hanya mampu menangkap ikan di sekitar 12 mil dari garis pantai. Sedangkan kapal dengan bobot di atas 1200 tonase adalah kapal besar dengan ukuran berkisar 25-50 meter dengan kemampuan jelajah antar samudera. Resolusi 30 oktober 1787, bagian dari upaya V.O.C mematikan budaya maritim masyarakat Nusantara yang sejatinya adalah bangsa samudera. Strategi penguasaan laut selanjutnya, V.O.C membangun galangan kapal-kapal raksasa dari tangan orang-orang pribumi. Tercatat pada arsip harian pelabuhan di beberapa wilayah Nusantara bahwa hanya kapal V.O.C dan E.I.C yang melintasi samudera, sedangkan pribumi hanya nelayan penangkap ikan di pinggir pantai dengan perahu katir kecil-kecil. Pelabuhan dan galangan kuno seperti Lasem, Rembang, Sabak-Jambi, dimusnahkan, diganti pelabuhan baru berukuran raksasa di Surabaya yang kini namanya menjadi PT PAL.

Belum cukup puas dengan pelarangan pembuatan kapal berukuran besar. Pemusnahan tradisi maritim Nusantara berlanjut hingga ke taraf kebudayaan dan pemikiran. Bangsa maritim yang terbiasa hidup dengan ombak dalam pengetahuan berusia ribuan tahun, kemudian dicuci otak menjadi masyarakat hinterland. Hutan Sumetara dan Kalimantan yang luas disulap menjadi ladang perkebunan rempah-rempah (cengkeh, pala, kopi dan lain-lain), dan transmigrasi pun ahirnya lahir dari momentum ini. Para pelaut Bugis, Madura, Melayu ahli-ahli pembuat kapal di Lasem-Tuban-Rembang-Sabak seketika alih propesi menjadi orang kebun dengan wawasan kontinental. Syair badai dan putra ombak yang kerap dituturkan menjelang tidur, lama-lama hilang dan tergantikan dengan dongeng-dongeng daratan, gunung, bebatuan.

British Rule the Wave” bukanlah sekedar slogan kaleng-kaleng isapan jempol belaka. Inggris telah belajar dan menjadi murid yang patuh dari alam dan pengalaman. Tercermin dari buah pemikir anak bangsanya, seperti Sir Walter Raleigh (1552-1618) dalam teorinya, “Barang siapa menguasai lautan maka akan menguasai perdagangan, kekayaan dunia, dan akhirnya akan menguasai dunia itu sendiri”. Serikat dagang raksasa V.O.C dan E.I.C berpegang teguh pada teori ini. Dua ratus tahun kemudian, Amerika belajar darinya, pandangan ini dikemas ulang Alfred Theyer Mahan, (1860–1914), kemudian dikenal dengan teori Mahan-nya “Lautan adalah sumber dari segala sumber, dan lautan merupakan kekuatan dari segala kekuatan. Pemilik dan penguasa lautan akan jadi penguasa dari sumber dari segala sumber dan pemilik kekuatan dari segala kekuatan”. Secara sederhana, kedua teori lintas zaman itu menyampikan bahwa siapa yang menguasai lautan, maka dialah penguasa dunia beserta isinya. Pertanyaan penguatnya, seberaap besar armada laut Amerika? Ada berapa kapal induk mereka? Berapa banyak pangkalan dan galangan kapal raksasanya? Tentu jawabannya akan menguatkan teori Mahan.

Awal dari Penguasaan V.O.C atas laut Nusantara menjadi akhir dari tradisi maritim dan peradaban bangsa samudera. Kapal-kapal Nusantara yang tersohor tangguh dan mampu berlayar hingga Madagaskar di Barat, serta ke Venicia, di benua Utara, tak lebih tinggal sebetas romantisme. Pada masa ini memori atas samudera tinggal sepersekian persen ada dalam ingatan bangsa ini. Semangat maritim bangsa penunggang ombak juga telah hilang dari catatan sejarah. Amnesia berkepanjangaan atas cara pandang maritime, dan tergantikan cara pandang continental, dimana darat sebagai halaman depan, dan laut adalah bagian belakang bahkan dianggap sebagai tempat membuang sampah. Ini lah awal dari sebuah akhir. Masa dimana kejayaan maritim bangsa samudera berubah perlahan menjadi sebuah dongeng.

Setelah Merdeka

Agustus telah tiba, dan sebentar lagi perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75. Sudah cukup lama kita lepas dari jerat “Hypnos” kolonial, Walau demikian, amnesia nampaknya masih belum begitu memahami konsep “Tanah-Air” yang tertuang dalam bait Lagu “Indonesia Raya”. Laut masih dipandang asing, dan air dianggap tidak begitu penting. Terbukti dari data PNBP Kementerian Keluatan Perikanan, per tahun 2018 baru mencapai 50 %. Banyak pelabuhan-pelabuhan belum dimaksimalkan, pun demikian dengan pembuatan kapal-kapal besar hanya berpusat di PT. PAL. Tujuh galangan lain tak lebih sekadar tempat reparasi. Secara teknologi kita ketinggalan jauh dari Jepang, China dan Korea Selatan, padahal kita adalah Negara Kepulauan terbesar di dunia dengan 75% wilayahnya merupakan perairan. Secara ideologi, wawasan nusantara “Tanah-Air Indonesia” belum dipahami menyeluruh dan bijak. Sehingga rasanya, kita tak lebih “keluar dari mulut singa, masuk mulut buaya” seperti dalam cerita kancil. Kita belum kembali menjadi bangsa samudera, belum berdaulat atas perairan dan laut. Masih memandang laut sebagai pemisah, dan perairan sungai dilihat tak lebih dari aliran pembuangan kotoran dan limbah.  Cita-cita Tan Malaka, “merdeka 100 persen” khususnya atas perairan-laut, nampaknya belum bulat. Mengutip salah satu poin tema besar peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-75 yang dirilis Menteri Sekretaris Negara “Sekarang saatnya kita fokus kepada hal yang benar-benar penting dalam menyatukan keberagaman melalui kolaborasi untuk memperkenalkan jati diri bangsa”, maka tepat bila kita kembali menjadi bangsa samudera, Indonesia Maju.

Untuk kembali pada identitas dan jati diri bangsa sebagai bangsa samudera, ada beberapa hal yang patut kita lakukan dalam merubah cara pandang, sikap, dan cara berkomunikasi masyarakat kita dengan lingkungan perairan. Setidaknya cara dan langkah ini cukup komprehensif dan relistis, yakni 1) Mengesahkan Undang-undang Perairan-kemaritiman, mencakup laut, sungai, danau dan segala sumber air 2) Pengembangan kebudayaan perairan-maritim, yang dipertegas melalui PERDA (Peraturan Daerah) di masing-masing Provinsi/Kab/Kota, 3) Pembentukan kurikulum perairan-kemaritiman untuk sekolah dan perguruan tinggi, 4) Membuat anggaran khusus untuk bidang pengembangan SDM perairan-kemaritiman, 5) Memicu para generasi intelektual muda lewat ajang lomba di bidang perairan-maritim dan kegitan inteletual lainnya, 6) Membangun museum perairan-maritim di masing-masing Provinsi di Nusantara, 7) Mendukung pengembangan sarana transportasi perairan, 8) Kembali menggali sejarah perairan-kemaritiman Nusantara lewat penelitian didanai pemerintah, 9) Mengembangkan usaha perkapalan dan pelabuhan di setiap kepuluan Nusantara, 10) Meningkatkan penjagaan wilayah perbatasan perairan laut Indonesia dari kapal-kapal asing.

Putra ombak dan syair bangsa samudera, tak lama lagi akan jadi dongeng bila lupa ingatan atas perairan-dan lautan. Pengetahuan atas laut dan perairan yang diwariskan para leluhur kian memburam, hampir kandas ke dasar palung terdalam. Kitab pengetahuan air dan lautan yang diwariskan leluhur hampir tak dikenal generasi Y, generasi X terlebih lagi generasi Milenial. Sebut saja kitab Sang Hyang Patanjala; memuat konsep pengaturan air mulai dari mata air menuju sungai hingga ke samudera. Kitab Amanna Gappa; berisi pengetahuan tata kelola ruang kelautan, pelayaran serta sistem birokrasi kapal, dan 21 pasalnya memuat segala aturan lautan yang di masa kini kurang lebih sama dengan hukum laut UNCLOS. Kita hendaknya berkhidmat pada sejarah, ingat kembali Colombus, V.O.C dan E.I.C yang memainkan Nusantara dan mematikan peradaban bangsa Samudera. Strategi mereka menguasai laut dan mematikan peradaban maritimnya. Kini yang dihisap dan dikuras bukan lagi sebatas rempah, cengkeh dan pala, namun jauh lebih besar dan berbahaya. Buka mata, lihat dan pahami apa yang tengah terjadi. Bila telah paham, itu artinya para leluhur memanggil anda untuk turut merapatkan barisan. Setidaknya diawali dengan mengubah cara pandang terhadap perairan-lautan. Paling sederhana mulai hindari membuang sampah plastik ke dalam sungai. Kampanyekan  penghentian pencemaran perairan sungai dan lautan dari limbah industri. Belajar menerapkan daur-ulang limbah, dan sampah rumah tangga. Sudah saatnya kita kembali menjadi bangsa samudera, bangsa yang berharmoni dan berkolaborasi dengan 75%  perairan yang merupakan wilayah Indonesia, dengan 17. 504 pulau di dalamnya. Peta memperlihatkan betapa kaya dan strategisnya wilayah kita. Semestinya tidak ada kemiskinan dan pengangguran dalam bangsa samudera. Maka mengembalikan kedualatan perairan dan lautan sejatinya menegakkan kedualatan bangsa. Kita harus kembali menjadi bangsa samudera “Jales Veva Jaya Mahe" (Justru di Laut Kita Jaya).

*Penulis adalah pengajar arkeologi di FIB Universitas Jambi.


Tag : #Perspektif #Maritim #Laut #Nusantara #Columbus



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Selasa, 13 April 2021 16:09 WIB

Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan


Oleh: Fridiyanto* Daniel Dhakidae, seorang begawan ilmu sosial yang mungkin menurut saya tidak terlampau banyak dikenal di kalangan akademisi perguruan

 

Jumat, 09 April 2021 13:10 WIB

Warga SAD Bukit 12 Ikut Berkompetisi di Penerimaan Anggota Polri Tahun 2021


Kajanglako.com, Sarolangun - Satu orang warga Suku Anak Dalam (SAD) di wilayah Sarolangun mendaftarkan diri dalam penerimaan polisi di tahun 2021. Warga

 

Kamis, 08 April 2021 16:54 WIB

UN Ditiadakan, Asesmen Nasional Jadi Penentu Kelulusan Siswa di Sekolah


Kajanglako.com, Sarolangun – Tahun 2021 ini, Ujian Nasional yang biasanya menentukan kelulusan bagi siswa dan siswi baik SD, SMP maupun SMA sederajat,

 

Sejarah Jambi
Kamis, 08 April 2021 13:58 WIB

Cerita dari Daerah Jambi (2)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) 11. Kemudian diceritakan bahwa pada waktu, Mahmud Mahyuddin sendiri sedang berperang di Jambi. Perang

 

Kamis, 08 April 2021 12:15 WIB

Pemkab Merangin Bolehkan Tarawih dan Sholat Idul Fitri Berjamaah


Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten Merangin mengeluarkan kebijakan terkait pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19. Bupati