Kamis, 04 Maret 2021


Senin, 08 Juni 2020 04:25 WIB

Pasang Naik Kulit Berwarna

Reporter :
Kategori : Pustaka

Buku Pasang Nasik Kulit Berwarna. Terjemahan dari Buku The Rise Tide of Color

Oleh Manuel Kaisiepo*

Masih dalam suasana peringatan ulang tahun Presiden pertama RI Soekarno, 6 Juni, dan suasana terkini gelombang demonstrasi anti rasialisme yang tengah berlangsung di Amerika, saya teringat salah satu buku lama yang sering dikutip Soekarno. Buku itu karya penulis Amerika Lothrop Stoddard, “The Rise Tide of Color”, yang terbit satu abad lalu (1920).



Begitu berpengaruhnya buku itu bagi Soekarno, sehingga dia memprakarsai penerbitannya dalam bahasa Indonesia berjudul Pasang Naik Kulit Berwarna (terbit tahun 1966).

Bukan saja memprakarsai terjemahannya, Soekarno juga menulis Kata Pengantar. Bahkan Soekarno meminta ditambahkan satu bab baru dalam buku terjemahan ini. Judulnya "Pasang Naik Gerakan Nasional di Indonesia".

Lothorp Stoddard, jurnalis dan ilmuwan politik lulusan Universitas Harvard dan Boston adalah sosok kontroversial, seperti juga karya-karyanya yang menimbulkan debat pro-kontra. Dia pendukung paham "white supremacy".

Pikiran-pikirannya yang disebut "pembenaran ilmiah" terhadap rasialisme, sering menjadi rujukan penting saat itu. Misalnya konsepnya tentang  "Under-man" atau  "Untermensch" menjadi referensi penting bagi kaum Nazi Jerman, yang mengunggulkan ras Aria dan anti Yahudi. Itu sebabnya sebuah jurnal Yahudi di Amerika menuduh Stoddard adalah anggota organisasi rasis Ku Klu Klan.

Sebenarnya judul lengkap dari bukunya di atas adalah "The Rising Tide of Color: Againts White World-Supremacy." Jadi fenomena "kebangkitan" itu dipahami sebagai ancaman terhadap supremasi kulit putih di dunia sejak dulu.

Stoddard memang pendukung supremasi kulit putih, anti percampuran ras untuk menjaga "kemurnian" ras kulit putih, bahkan pernah mengusulkan RUU anti-miscegenasi (kawin campur).

Stoddard menulis bukunya di atas berdasarkan kajiannya atas fenomena kebangkitan gerakan nasionalis di berbagai bagian dunia. Tetapi buku itu juga dilatarbelakangi kekhawatiran meningkatnya jumlah dan pengaruh penduduk kulit hitam dan berwarna lainnya di Amerika.

Stoddard mengkhawatirkan  ancaman kebangkitan kulit berwarna terhadap dominasi kulit putih dalam kehidupan ekonomi dan politik.

Pikiran-pikiran Stoddard tentang soal ini dapat dibaca  pada beberapa bukunya yang lain, salah satunya Racial Realities In Europe (1924).

Namun di balik pikiran-pikirannya yang rasialis, Stoddard sebenarnya mampu menganalisis secara tepat dua fenomena sosial penting, yang belum banyak disadari eksistensinya dan karena itu belum cukup dikaji oleh ilmuwan atau pemikir lainnya saat itu.

Pertama, fenomena bertambahnya jumlah populasi penduduk kulit hitam dan kaum migran non-Eropa lainnnya. Stoddard sudah memprediksi dampak dari fenomena ini terhadap supremasi kulit putih.

Kedua, fenomena kebangkitan gerakan-gerakan nasionalis di berbagai bagian dunia sejak awal abad 19. Termasuk juga gerakan nasionalis di Indonesia, yang hanya sekilas disinggung oleh Stoddard (itu sebabnya Soekarno menyuruh ditambahkan satu bab khusus tentang Indonesia dalam terjemahan Indonesia buku tersebut).

***

Sudah genap satu abad sejak buku Stoddard pertama kali diterbitkan (1920). Tapi apa yang dikaji dan diprediksi Stoddard satu abad lampau itu ternyata  masih relevan.

Bahkan sebagian prediksinya tampak menjadi kenyataan, kalau kita hubungkan dengan akar persoalan di balik gelombang demonstrasi yang tengah melanda Amerika saat ini.

Ketika ilmuwan besar Samuel P. Huntington menerbitkan bukunya Who Are We? The Challenges to America's National Identity (2004), atau Amy Chua dengan bukunya Political Tribes: Group Instinc and The Fate of Nations (2018), keduanya seakan memperbarui atau sedang menyajikan pemutakhiran fakta dari fenomena lama yang sudah dikaji Stoddard satu abad lalu.

Banyak orang menuding sikap dan kebijakan Presiden Trump sebagai pemicu konflik rasial di Amerika saat ini. Untuk sebagian betul. Tetapi sesungguhnya rasialisme adalah fenomena lama di Amerika (dan sebagian Eropa)  yang setiap saat dapat muncul kembali ke permukaan. Kemunculannya memang dapat menjadi dahsyat, ketika yang memimpin negeri itu orang macam Trump.

 

*Intelektual Publik. Dalam masa kepresidenan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Manuel Kasiepo diangkat menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Sosok Manuel Keisiepo ditulis oleh Riwanto Tirtosudarmo dalam rubrik “Sosok” Kajanglako.com


Tag : #Pustaka #Rasialisme di Amerika #Supremasi Kulit Putih #Soekarno



Berita Terbaru

 

Perspektif
Rabu, 24 Februari 2021 20:17 WIB

Jokowi dan Anies Baswedan


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin ada banyak perbedaan antara keduanya. Gaya bicaranya, blusukannya, taktik melobinya, politik identitasnya dan

 

Perspektif
Senin, 22 Februari 2021 17:18 WIB

Ada Yang Membusuk dalam Darah di Tubuh Kita


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Mungkin di tubuh saya dan sebagian dari kita sudah ada virus covid-19, tetapi tidak ada gejala yang tampak dari luar. Kita

 

Sejarah Jambi
Senin, 22 Februari 2021 16:29 WIB

Walter M Gibson


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam rangka menyiapkan tulisan untuk rubrik ‘Telusur Jambi,’ saya teringat pada satu tas

 

Hari Sampah
Minggu, 21 Februari 2021 10:20 WIB

Peringati Hari Sampah Lewat Program Sepuluh Jari Menganyam


JAMBI--Memperingati hari sampah yang jatuh setiap 21 Februari, masyarakat Jambi diajak untuk lebih peduli lingkungan. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari

 

Sengketa Rumah Ibadah
Kamis, 18 Februari 2021 10:42 WIB

Sengketa Rumah Ibadah dan Kearifan Budaya Lokal Jambi


Oleh: Juparno Hatta* Di mata dunia internasional, Indonesia dikenal dengan nilai toleransi yang tinggi di tengah-tengah kemajemukan sebagai sebuah kesemestian.