Rabu, 22 September 2021


Senin, 09 Maret 2020 11:36 WIB

Van Vollenhoven

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Nama lengkapnya Cornelis van Vollenhoven, lahir 1874 dan meninggal 1933, sezaman dengan Kartini dan Dewi Sartika. Namanya diabadikan sebagai nama sebuah institute di Universitas Leiden, Institute van Vollenhoven, selain merupakan pusat penelitian, juga mendidik para calon master dan doktor di bidang hukum. Tidak sedikit doktor hukum dari Indonesia lulusan lembaga ini. Pada tanggal 22-24 Mei 2017 sebuah konferensi diadakan di Leiden dengan tema:“Adat law 100 year on: Towards a New Interpretation?” dan kebetulan saya termasuk peserta konferensi ini. Dalam jeda makan siang, saya sempat ngobrol sebentar dengan direktur Vollehoven Institute saat itu, Profesor Jan Michiel Otto, dan bertanya kepadanya: Tidakkah kiprah van Vollenhoven di Indonesia didorong oleh motif politik?. Tampak kaget mendengar pertanyaan saya, sejenak dia terdiam, dan kemudian menjawab, agak singkat: “Kalau Snouck iya, kalau dia enggak”. Snouck yang dimaksud oleh Professor Otto adalah Christiaan Snouck Hurgronye (1857-1936) alias Abdul Ghafar.




Snouck Hurgronye dan van Vollenhoven adalah dua orang sarjana Belanda yang ahli tentang bahasa dan budaya timur dan keduanya erat bekerjasama membantu pemerintah kolonial belanda di tanah jajahannya yang saat itu bernama Hindia Belanda. Menggunakan istilah Edward Said, kedua sarjana Belanda ini bisa digolongkan sebagai “orientalist” yang mengabdikan ilmunya bagi kepentingan pemerintah kolonial, seperti juga banyak ditemukan di Portugis, Spanyol, Inggris, Jerman, Perancis dan Belgia. Ilmu-ilmu sosial di tangan para orientalis ini menjadi alat penting untuk mempelajari kebiasaan dan tingkah laku orang-orang yang dijajahnya agar kebijakan kolonial dapat berlangsung mulus tanpa kesulitan karena mereka tahu secara rinci watak orang jajahan dan bagaimana mengendalikan tingkah laku mereka Di Hindia Belanda, mereka menemukan bahwa satu-satunya penghalang utama bagi kolonialisme saat itu adalah Islam, dan orang Islam yang paling sulit ditaklukkan adalah Orang Aceh. Setelah menyatakan masuk Islam dan naik haji, Snouck Hurgronye masuk dan tinggal lama di aceh, meneliti watak Orang Aceh. Aceh memang kemudian berhasil ditaklukkan.

Ket: Cornelis van Vollenhoven. Sumber: wikipedia.


Ketika melakukan penelitian di Aceh inilah Snouck Hurgronye menemukan istilah adat dan memperkenalkan apa yang sampai sekarang disebut hukum adat (adat recht). Yang menarik, orang yang kemudian mengembangkan hukum adat menjadi sebuah kodifikasi hukum yang lengkap adalah Van Vollenhoven, yang berbeda dengan Snouck Hurgronye yang melakukan penelitian lama, menetap dan dua istrinya berasal dari Pasundan; Van Vollenhoven hanya berkunjung dua kali, itupun singkat, ke Hindia Belanda. Van Vollenhoven lebih banyak bekerja di perpustakaannya di Leiden, menganalisa data dan informasi yang dikumpulkan oleh para asisten dan murid-muridnya, yang sebagian adalah orang Indonesia, antara lain Supomo, yang setelah kemerdekaan menjadi Menteri Kehakiman RI yang pertama. Menurut Professor Jan Michiel Otto dalam pidato pengantar konferensi memperingati 100 tahun van Vollenhoven itu, dia mendeskripsikan Van Vollenhoven sebagai “a dreamer” yang punya niat baik untuk mensejahterakan rakyat jajahan, dengan cara mengusulkan hukum yang terpisah dengan hukum yang diberlakukan bagi Orang Belanda, dan itulah hukum adat.


Sepulang dari konferensi itu, saya harus memperbaiki paper, karena oleh panitia konferensi akan diterbitkan dalam sebuah jurnal. Untuk merevisi paper, saya harus membaca cukup banyak buku, terutama tentang pemikiran-pemkiran Vollenhoven, yang untungnya sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Daniel Lev, sarjana Amerika yang menulis disertasi doktornya di Universitas Cornell tentang evolusi hukum di Indonesia, dalam resensinya terhadap buku van Vollenhoven, mengemukakan hal yang menurut saya sangat menarik dan penting, namun seperti tidak ada orang yang memperhatikan.

Ket:  Christiaan Snouck Hurgronye 


Daniel Lev (1984) dalam resensi itu mengutip kata-kata van Vollenhoven, yang menurut hemat saya kalimat kunci, demikian: “The destruction of adat law will not pave the way for our codified law, but for social chaos and Islam”. Bagi saya ini pernyataan menarik, dan interpretasi baru terhadap pemikiran Vollenhoven, harus mulai dari sana, dan konteks sosial politik masa itu menjadi krusial untuk mengembangkan tafir baru tentang adat dan hukum adat. Tahun 1888 terjadi pemberontakan petani di Banten yang dipimpin oleh para ulama Islam, keresahan petani hampir merata di seluruh Jawa, dan dalam keserahan itu Islam memberikan inspirasi bagi perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan yang dirasakan. Seperti di Aceh, Islam adalah satu-satunya "cotending power" bagi kekuasaan kolonial saat itu. Membaca ini, secara singkat, kesimpulan saya, penerapan hukum adat adalah strategi penting pemerintah kolonial untuk melumpuhkan Islam politik ketika pan-Islamisme mulai merebak. Ingat, saat itu nasionalisme belum tumbuh di Hindia Belanda.


Hari-hari ini, ketika pembicaraan kita tentang hukum adat dan masyarakat adat seperti menemui jalan buntu, tampaknya kita harus membaca sejarah van Vollenhoven dengan lebih teliti. "Adatrechtpolitiek", yang menjadi cikal bakal diskursus tentang hukum setelah Indonesia merdeka, hingga hari ini, perlu kita telaah dengan sungguh-sungguh, jika kita ingin keluar dari impase politik gerakan masyarakat adat yang marak di era pasca Orde Baru ini. Sebagai sebuah “rallying point” untuk mendapatkan rekognisi akan adanya komunitas-komunitas yang terpinggirkan, dan menuntut untuk dikembalikannya tanah-tanah adat yang diambil secara paksa (land dispossession) oleh negara dan korporasi; memang perlu sebagai strategi jangka pendek, tapi bagaimana prospek jangka panjangnya?


Membaca kembali van Vollenhoven, tafsir saya mengatakan bahwa hukum adat yang diciptakannya adalah sebuah rekayasa politik untuk mencegah meluasnya Islam politik di nusantara, strateginya bisa disebut sebagai “identity politics from above”, sebuah politik identitas dari atas. Sebagai politik identitas, adatrecht-politiek, dalam “new interpretation” adalah taktik untuk mengalihkan perhatian dari politik kelas (class politics) yang sangat ditakuti oleh penguasa dimanapun. Di Amerika Serikat saat ini, Bernie Sanders, kandidat calon presiden yang sedang beretarung, ditakuti bahkan oleh rekan-rekannya sendiri di Partai Demokrat, karena dipakainya "class politics" dengan "democratic socialism" sebagai platformnya.

Apabila kita amati, rezim Jokowi yang semula seperti ingin memberikan perhatian pada komunitas-komunitas adat, saat ini seperti melupakannya. Janji akan mengembalikan tanah dan hutan adat yang menjadi salah satu tema kampanyenya pada tahun 2014 saat ini terlihat melempem. Mungkin ini saat yang tepat untuk memikirkan kembali apa yang sebaiknya dilakukan oleh mereka yang peduli dengan nasib warga komunitas adat yang selalu terpinggirkan. Gerakan politik masyarakat adat, jika tidak hati-hati dapat terjebak pada politik identitas, seperti memang begitulah yang dimaksudkan oleh pembuatnya, van Vollenhoven di awal abad 19, untuk menghempang pesatnya perkembangan dan pengaruh Islam politik.

Profesor Tania Li, antropolog dari Kanada yang banyak melakukan penelitian di Sulawesi Tengah, dalam epilog yang ditulisnya sebagai penutup kumpulan artikel konferensi 100 tahun Van Vollenhoven di Leiden yang dimuat dalam jurnal TAPJA (2020) itu, menyimpulkan bahwa kegagalan dalam advokasi gerakan masyarakat adat yang telah berlangsung sekitar 25 tahun berhubungan dengan problematik yang diidap oleh konsep adat itu sendiri, tidak terkonsolidasinya kekuatan yang bisa merepresentasikan “rakyat” untuk mengubah ketidakadilan yang semakin menganga, dan oleh karena itu memang diperlukan strategi baru yang mampu membangun aliansi yang bersifat multi-etnik, mengikutsertakan anak muda, baik di Desa maupun di kota, dengan kata lain dibutuhkan platform politik yang bersifat inklusif.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK portal kajanglako.com


Tag : #Sosok #Cornelis van Vollenhoven



Berita Terbaru

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 13:03 WIB

70 Ribu Warga Sarolangun Telah di Vaksin


Kajanglako.com, Sarolangun – Pelaksanaan vaksinasi covid-19 di Kabupaten Sarolangun terus dilaksanakan. Baik dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri,

 

Vaksinasi Covid-19
Rabu, 22 September 2021 12:51 WIB

Bersama TNI, Pemkab Sarolangun Sasar Vaksinasi untuk Remaja Diatas 12 Tahun


Kajanglako.com, Sarolangun – TNI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sarolangun kembali melaksanakan vaksinasi gratis, Rabu, (21/09/2021). Kali ini, yang

 

Rabu, 22 September 2021 12:36 WIB

Pemkab Merangin Ingin Perangkat Desa Pahami Sistem Digitalisasi


Kajanglako.com, Merangin - Kapasitas dan kemampuan para perangkat desa harus terus ditingkatkan, terlebih untuk pemahaman sistem digitaliasi yang wajib

 

Perspektif
Minggu, 19 September 2021 22:27 WIB

Membaca Indonesia. Catatan Kecil Atas 50 Tahun Rekayasa Sosial: 5 Bias dan 5 Mitos


Oleh: Wahyu Prasetyawan* Riwanto Tirtosudarmo (selanjutnya Riwanto) dalam tulisannya membahas adanya 5 bias dan 5 mitos dalam proses rekayasa sosial selama

 

Sosok dan Pemikiran
Minggu, 19 September 2021 08:00 WIB

Ketangguhan Membaca dan Menulis Seorang Riwanto Tirtosudarmo


Oleh: Anggi Afriansyah* Rabu, 15 September 2021 saya menerima pesan dari Pak Riwanto Tirtosudarmo. Dalam pesan itu ia mengirim sebuah buku Berjudul “Mencari