Kamis, 16 September 2021


Kamis, 06 Februari 2020 12:59 WIB

Efek Domino Predikat Warisan Budaya Dunia Candi Muarajambi

Reporter :
Kategori : Perspektif

Candi Muarajambi

Oleh; Asyhadi Mufsi Sadzali*

Pengetahuan berangkat dari rasa ingin tahu, dan kepastian dimulai dari keragu-raguan, sedangkan keberhasilan dimulai dari keduanya. Kombinasi ini telah dibuktikan oleh S.C Crooks, T. Adams, F.M Schnitger, Prof. Mundardjito, Bambang Budi Utomo, Agus Widiatmoko, Retno Purwanti dan sederetan peneliti lain yang mengawali langkahnya dari rasa ingin tahu kemudian berhasil mengembangkan pengetahuan baru; bahwa percandian Muarajambi sebagai pusat pendidikan teremuka di Asia Tenggara pada abad ke-7 s.d ke-14 M, telah membawa perubahan positif kepada peradaban dunia di masa lalu.



Para peneliti ini berhasil mengungkap serangkaian misteri yang terlupakan selama berabad-abad. Lantas bagaimana peran dan manfaat Candi Muarajambi di masa kini dan masa depan? Pertanyaan ini rupanya menjadi pusat perhatian para peneliti dan akademisi, semisal; Siti Heidi Karmela, Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Batanghari, berpandangan bahwa di masa kini Candi Muarajambi dapat berperan sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal-Jambi bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, peneliti, dan masyarakat luas. Hipotesa ini tentu tidak lepas dari hasil penelitian sebelumnya, atau boleh dikatakan merupakan efek lanjutan dari riset panjang Candi Muarajambi.

Efek lain yang muncul yakni rasa bangga masyarakat Jambi atas nilai-nilai pentingnya sebagai pusat pendidikan Asia Teggara pada masa lampau. Hal ini pula yang melandasi pemerintah daerah Jambi mengajukannya sebagai warisan budaya dunia, dan tercatat sebagai tentative list (daftar tunggu) pada tahun 2009. Peristiwa Candi Muarajambi sebagai tentative list, memunculkan efek domino (Domino Effect) yang berimbas kepada cagar budaya, pemerintah daerah, maupun masyarakat sekitar, seperti kata seloko adat Jambi “menurut runut yang terentang, tijak nan tatukik”.

Merriam Webster, mendefenisikan Domino Effect sebagai konsekuensi dari satu peristiwa penting yang kemudian memicu gelombang peristiwa lain yang berdampak luas dan mempengaruhi berbagai elemen di sekitarnya. Secara akademik, salah satu metodologi yang dapat dipakai untuk memprediksi efek lanjutan atas predikat Candi Muarajambi sekiranya menjadi warisan dunia dapat dilakukan melalui tiga tahapan; pertama; perlu dilakukan identifikasi historis sumber domino effect, tahap kedua; pemetaan kronologi historis domino effect yang muncul dimasa lalu di tempat lain yang serupa, dan tahap ketiga; memperkirakan domino effect yang muncul kemudian di masa kini dan masa mendatang berdasar analisis perbandingan dan predikisi situasi kondisi. Perlu digaris bawahi, dalam mengalisis domino effect, fokus pengkajian harus tetap pada objek penghasil efek, yakni Candi Muarajambi, yang didentifikasi sebagai pusat pendidikan terkemuka di Asia Tengggra. Sedangkan dampak lanjutan setelah tidak difungsikan sebagai pusat pendidikan, yakni ditinggalkan dan diangap peneliti sebagai reruntuhan peradaban kuno.

Efek yang muncul setelah tidak difungsikan sebagai pusat pendidikan, ditinjau dari peta kronologi historis; starting point-nya dipicu oleh S.C Crooks, 1820 M, penemuan kembali Candi Muarajambi serta dikategorikan sebagai reruntuhan peradaban masa lampau, sebagaimana laporannya yang dibaca T. Adams lalu diterbitkan tahun 1921 M. Laporan ini berdampak lanjutan ke F.M Schnitger yang melakukan penelitian di Muarajambi tahun 1935, dan hasil penelitiannya diterbitkan tahun 1936 dengan judul Hindoe-Oudheden aan de Batang Hari, dan buku karya kedua berjudul The Archaeology of Hindoo Sumatera diterbitkan tahun 1937 M.

Kartu domino yang disusun berdiri-rapi-berurutan, lantas kartu terdepan jatuh bergulir, lalu memberikan efek beruntun dimana kartu lainnya berjatuhan menyeret satu sama lain hingga kartu paling terakhir. Demikian pula efek domino Candi Muarajambi, tidak terhenti pada buku F.M Schnitger yang terbit ditahun 1937. Pada era Indonesia merdeka, tepatnya di tahun 1954, Kementerian Pendidikan menugaskan R. Soekmono untuk meninjau reruntuhan Candi Muarajambi. Dari hasil laporan R. Soekmono kemudian berdampak dilakukannya pemugaran pertama pada tahun 1975, dan efek lanjutannya terjadi pada tahun 1981 yakni dilakukan penelitian pertama di Muarajambi, yang berlanjut hingga kini.

Menjadi Warisan Budaya Dunia, tentu hal yang istimewa dan impian banyak pihak. Namun apa sebenarnya predikat Warisan Budaya Dunia itu? Bagaimana efek positif dan implikasinya? Mungkin pertanyaan ini masih banyak yang tidak memahami secara benar serta belum merujuk pada sumber yang tepat. Hal ini terbukti melalui riset kecil-kecilan yang dilakukan penulis terhadap masyarakat sekitar candi dan beberapa pengunjung. Hasil rata-ratanya, 40 % tidak paham, 25 paham, dan 35 % lainnya salah memahami. Adapun pemahaman warisan budaya dunia, merujuk kepada Konvensi UNESCO 1972, Guidelines Operational, Modul World Heritage Preparation, juga informasi pada website whc.unesco.org, yang dimaksud Warisan Budaya Dunia adalah warisan budaya dari masa lalu yang tidak tergantikan, dan penting untuk generasi masa kini dan mendatang yang mampu menjadi inspirasi dan sumber kehidupan. Sedangkan tujuan UNESCO membentuk komite Warisan Budaya Dunia adalah untuk mendorong dan membantu negara-negara pemilik warisan budaya dengan nilai-nilai penting bersifat global terkait upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan.

Jelas dapat dipahami, bahwa UNESCO berperan sebagai fasilitator, penggerak, membantu memonitor, dan menyediakan tenaga ahli dari berbagai Negara untuk menangani hal-hal teknis. Sedangkan terkait pengelolaan candi Muarajambi, sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat dibantu dan difasilitasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat sesuai prinsip dalam Undang-Undang Cagar Budaya No.11 Tahun 2010 dan Konvensi UNESCO 1972 terkait Warisan Budaya Dunia,

Sekiranya Candi Muarajambi setelah diajukan kembali ke UNESCO, dan kemudian lolos menjadi warisan budaya dunia, apa yang akan terjadi pada cagar budaya, masyarakat sekitar, serta kepada pemeritah daerah? Apakah efek domino positif atau negatif yang akan dipanen? Metode prediksi efek domino yang sebelumnya telah dijelaskan, akan diperkuat dengan melakukan studi perbandingan kasus yang sama; semisal Borobudur dan Sawahlunto, sebagaimana petuah orang tua-tua kita “Kalu Aek Keruh di Muaro, Cubo Tengok ke Hulu”, maka dapat diambil suatu prediksi bahwa setidaknya akan muncul dua belas efek dominoyang muncul apabila Candi Muarajambi menjadi warisan budaya dunia, seperti berikut ini:

(1) Upaya pelestarian Candi Muarajambi lebih terjamin, sehingga akan mampu bertahan hingga beberapa generasi mendatang. Dasar argumennya dengan predikat Warisan Dunia, standar pelestarian, konservasi, preservasi, dan kebijakan pemanfaatan yang diterapkan akan sesuai standar internasional yang telah teruji pada 869 warisan budaya dunia di 167 negara, termasuk di antara Indonesia dengan situs Borobudur, Subak dan Sawahlunto.

(2) Kesejahteraan masyarakat sekitar lebih berkembang dan meningkat. Predikat warisan dunia mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, terlebih lagi mancanegara. Semisal Sawahlunto; melalui data Dinas Pariwisata tahun 2019, Januari s.d Juni 2019, jumlah pengunjung Mancanegara 200 orang, kemudian setelah ditetapkan sebagai warisan dunia, pengunjung mancanegara pada bulan Juli s.d November 2019 meningkat hingga 600 orang. Artinya jumlah pengunjung mancanegara meningkat hingga 200 persen.

(3) Peningkatan pemdapatan daerah dan negara. Semakin banyak yang berkunjung ke Muarajambi, maka pendapatan daerah dan negara melalui perputaran uang yang terjadi selama masa berwisata juga meningkat.

(4) Muncul kebanggan sebagai orang Muarajambi, sebagai orang Jambi, dan Indonesia, dengan keberadaan Candi Muarajambi yang diakui sebagai warisan budaya dunia.

(5) Terjadinya pembenahan sistem pengelolaan Candi Muarajambi. Mau tidak mau hal ini harus dan akan terjadi. Para ahli melalui dokumen Mengament Plant yang diajukan kepada UNESCO, harus berpegang pada prinsip pelestarian dan juga azas kesejahteraan masyarakat sekitar. Pemerintah daerah, dalam usulannya terkait badan pengelola harus menegaskan kepada pihak pemerintah pusat, bahwa keterlibatan masyarakat sekitar dan bersinergi dengan pemerintah daerah juga pusat adalah mutlak, Untuk menguatkan hal ini harus dituangkan dalam Peraturan Daerah sehingga persoalan yang kini terjadi di Sawahlunto dan Subak-Bali dapat diantisipasi sejak dini.

(6) Upaya-upaya peningkatan SDM pengelola dan masyarakat pendukung. Kondisi ini adalah satu hal mutlak, sehingga pihak pemeritah daerah dan pusat bertanggungjawab untuk mengadakan pelatihan secara berkala guna peningkatan kualitas SDM.

(7) Peningkatan kualitas dan kwantitas sarana-prasarana pendukung wisata edukasi kawasan Candi Muarajambi. Negara dan dunia bersama masyarakat Muarajambi, bersama-sama membenahi sarana-prasarana untuk mendukung segala aktifitas yang dibutuhkan sebagai warisan budaya dunia “Jangan membuka pintu sebelum rumah pantas menerima tamu”.

(8) Pemerintah harus menyiapkan segala peraturan terkait perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan kawasan Candi Muarajambi. Bahkan ini harus dilakukan saat proses pengajuan dokumen dossier dan MP. Semisal sebelum pengajuan dokumen ke UNESCO harus membuat Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya, dan setelah pengajuan melanjutkannya dengan Perda lain, seperti Peraturan Daerah terkait perlindungan Sungai Batanghari dan lingkungan sekitar candi.

(9) Penelitian dan pemugaran Candi Muarajambi jangka panjang akan berjalan secara sistematis, berkelanjtan, dan terpadu dengan melibatkan banyak stakeholder terkait. Dapat dibayangkan betapa luar biasanya ini, sehingga dapat membantu mengungkap nilai-nilai penting pada Candi Muarajambi yang masih tersimpan pada 82 menapo, atau gundukan tanah yang diduga menyimpan struktur bata. Terhadap hal demikian kita bisa bercermin kepada Kawasan Percandian Angkor Watt-Kamboja, yang setelah ditetapkan menjadi warisan dunia, penelitian dan pemugaran secara terus menerus dilakukan secara sistematis dan terpadu. 

(10) Pemberlakuan sistem zonasi secara ketat demi kelestaraian Candi Muarajambi. Tentu hal ini akan membutuhkan strategi jitu dan konsep kreatif yang bijaksana sehingga baik untuk semua pihak tanpa melangar aturan yang ada, baik Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 atau Konvensi UNESCO 1972.

(11) Beban kerja Pemerintah Daerah dan masyarakat sekitar akan semakin bertambah. Dimana tanggung jawab semakin besar karena menuntut tindakan profesional terutama dalam aktifitas wisata

(12) Segenap stakeholder terkait dituntut komit dan berkolaborasi lintas sektoral, baik dalam merumuskan kebijakan, dan rencana pengembangan. Bekerja bersama untuk cita-cita bersama.

Segenap stakeholder dituntut untuk senantiasa berkomunikasi dan bersilaturahmi rutin secara formal dan informal dalam rangka monitoring evaluasi kawasan Muarajambi. Misalnya pertemuan dengan pemerintah pusat setidaknya satu tahun sekali, sedangkan rapat dengan pihak UNESCO minimal dua tahun sekali.

Setelah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, Candi Muara Jambi bukan lagi semata-mata tanggungjawab Pemerintah Daerah Jambi dan masyarakat Muarajambi, namun menjadi tanggungjawab bersama; semua masyarakat Indonesia, dan masyarakat dunia, sebagaimana hakikatnya sebagai Cagar Budaya Nasional dan Warisan Budaya Dunia. Bukankah cita-cita luhur dari pelestrian adalah lestarinya Candi Muarajambi hingga seratus generasi mendatang? Seperti kata seloko adat Jambi “Bejalan sampai ke bateh, Belayar sampe ke pulau”. Adapun buah yang dapat dipetik dari usaha pelestraian adalah kebanggan, kepuasan lahir-batin, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar, sebagaimana petuah orang tua-tua kita dahulu “Musim elok ketika baik, teluk tenang, ranntau selesai, padi menjadi, ke ayek cemetik keno, ke darat jerat keno, ke balik rumah durian runtuh, naek ke rumah anak lah lahir, ke dapur lemang lah tejulur, rumput mudo kerbaunya gemuk, aek jernih ikannyo jinak, apo yang dikehendak ado”. Gambaran yang hanya akan terwujud dengan keberanian menghadapi perubahan, serta kerja keras untuk melakukan perubahan menuju Candi Muarajambi yang lestari, dan menginspirasi dunia untuk  menebar welas asih yang hakiki.

*Penulis adalah Dosen Arkeologi Universitas Jambi dan Peneliti Candi Muarajambi.


Tag : #Candi Muarajambi #Warisan Budaya Dunia #Cagar Budaya Nasional



Berita Terbaru

 

Buku Mencari Indonesia
Kamis, 16 September 2021 14:44 WIB

Mencari Indonesia: Laku Pikir Riwanto Tirtosudarmo "Pasca-Cornell"


Oleh: Gutomo Bayu Aji* Dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir, Riwanto Tirtosudarmo setidaknya telah menerbitkan tiga buku yang diberi judul berseri.

 

Rabu, 15 September 2021 16:30 WIB

6 Manfaat Bermain Lego Bagi Berbagai Kalangan Usia


  Kajanglako.com - Lego merupakan sebuah game puzzle yang sangat menyenangkan untuk dimainkan. Biasanya lego adalah mainan untuk anak berusia balita

 

Selasa, 14 September 2021 12:36 WIB

Diduga Buronan Narkoba Hanyut di Sungai Saat Dikejar Petugas


Kajanglako.com, Bungo - Diduga seorang pelaku pengguna Narkoba dikabarkan hanyut di Sungai Batang Tebo, sekira pukul 17:55 WIB. Berusaha selamatkan diri

 

Senin, 13 September 2021 11:33 WIB

Gelapkan Mobil, Warga Desa Dusun Dalam Sarolangun Terancam 4 Tahun Penjara


Kajanglako.com, Sarolangun - Kepolisian Unit Reskrim Polsek Bathin VIII, Polres Sarolangun berhasil mengamankan seorang pelaku AR (36) Tahun Warga Desa

 

Cafe dan Perempuan
Minggu, 12 September 2021 20:54 WIB

Cafe, Gaya Hidup dan Aktualisasi Perempuan


Oleh: Nor Qomariyah* Belakangan ini marak kita jumpai di berbagai tempat, mulai jalanan kecil kompleks perumahan hingga jalan koridor utama, kedai kopi