Kamis, 16 September 2021


Jumat, 31 Januari 2020 14:41 WIB

Candi Muarajambi Menuju Warisan Budaya Dunia

Reporter :
Kategori : Perspektif

Candi Muarajambi

Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali*

Tahun ini, genap dua ratus tahun ditemukannya kembali reruntuhan  pusat pendidikan tertua di Asia Tenggara “Mahavihara Muarajambi” setelah seribu tahun tenggalam dalam lebatnya belukar Desa Muarajambi. Berawal dari satu hari yang biasa di tahun 1820, S.C Crooke, tentara Inggris berpangkat Kapten kebetulan melakukan tinjauan di aliran sungai Batanghari menemukan suatu hal yang tidak biasa. Pada laporannya, ia menuliskan bahwa telah mendapati reruntuhan bangunan dan menemukan sebuah arca berbahan batu yang menggambarkan peruwjutan arca Budha. Seratus tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1921 laporan S.C Crooke oleh T. Adams diterbitkan ke dalam Oudheidkundig Verslag, sebuah laporan tahunan terkait tinggalan purbakala. Tuah leluhur Muarajambi rupanya terus bergulir kepada orang yang telah ditakdirkan alam semesta untuk mensyiarkan keagungannya ke seluruh dunia, sebagaimana hakikatnya di masa lampau.



Tuah itu jatuh ke tangan seorang arkeolog Belanda bernama Frederic Martin Schnitger, yang setelah membaca Oudheidkundig Verslag, di tahun 1935 tergerak melakukan penelitian, setahun kemudian hasil penelitian itu dipublikasikannya lewat penerbit E.J Brill Leiden dengan judul Hindoe-Oudheden aan de Batang Hari. Belum cukup puas menerbitkannya dalam satu karya, pada tahun 1937 Schnitger kembali mengabarkan tuah Muarajambi dalam sebuah buku berjudul The Archaeology of Hindoo Sumatera. Buku itu kini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi bahan bacaan wajib para sarjana yang menggeluti peradaban klasik Hindu-Budha Sumatera.

Nilai penting pada Candi Muarajambi bukan datang dalam sekejap mata, demikian juga dengan popularitasnya. Sekiranya di kemudian hari banyak yang mengira bahwa Muarajambi baru terkenal setelah UNESCO menetapkannya sebagai tentavive list warisan dunia di tahun 2009, tentu itu salah besar. Sejatinya sebagai pusat pendidikan tertua di Asia Tenggara, popularitasnya telah viral hingga ke negeri China. Bersama angin yang melayarkan kapal-kapal Samudera ke Madagsakar dan negeri China, tersiar kabar bahwa pada pusat pendidikan itu bersemanyam guru-guru terkemuka, di antaranya Mahaguru Agung Serlingpa Dhamramakirti, yang juga merupakan guru dari Atisa, sang pembaharu ajaran Budha di Tibet. Satu di antara ribuan pelajar yang mendengar kemahsyuran dan menuntut ilmu di Mahavihara Muarajambi adalah cendikiawan dinasti Tang bernama It-Sing, yang pada memorabilia-nya kitab Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch’uan, menuliskan testimoni “apabila hendak menuntut ilmu ke Nalanda-India, sebaiknya belajar dahulu di Mahavihara “Muarajambi” untuk mendalami pengetahuan dan sabdwidya-tata bahasa sansekerta”. Dua ratus tahun kemudian, mungkin testimoni ini dibaca juga oleh Atisa, lantas belajar ke Muarajambi pada kurun waktu ±1025 M.

Atisa adalah satu di antara alumni Mahavihara Muarajambi yang melalui pengetahuannya membawa perubahan pada dunia. Demikian halnya Universitas Oxford yang lahir di Inggris tahun 1096 M, juga menghasilkan para sarjana peraih Nobel dunia. Muarajambi sebagai ‘titik kumpul’ para cendikiawan dari berbagai bangsa, telah menorehkan jejaknya pada artefak yang tersebar di Muarajambi; semisal gong pemberian kaisar dinasti Sung, ratusan manik-manik dari berbagai penjuru dunia “Persia, India, Thailand, Vietnam”, keramik dari berbagai dinasti “Tang, Sung, Yuan, Ming”, arsitektur bangunannya yang merupakan perpaduan antara gaya India dengan lokal Melayu, arca makara bergaya Jawa Kuno, sarca Dewi Prajnaparamitha yang hanya ada dua di dunia, serta artefak lainnya yang luar biasa. Nilai-nilai penting inilah yang menginspirasi dan mendorong pemerintah Jambi di tahun 2009 mengsulkannya sebagai warisan dunia kategori budaya. Gayung bersambut, setelah melewati perjuangan panjang, UNESCO menetapkan Candi Muara Jambi sebagai tenteive list World Heritage dengan Nomor Penetapan: 5465. Jambi bangga dan larut dalam sukacita, lupa sepuluh tahun telah berlalu, dan nasib baik belum menghampiri. Cita-cita menjadi warisan dunia masih mengantung di antara atap gedung UNESCO dan birunya langit Paris, menunggu digiring ke meja tim asesor dengan langkah yang lebih kongkrit dan progresif.

Perjalanan dari Muarajambi menuju Warisan Dunia; harus ditempuh dengan dukungan penuh seluruh komponen masyarakat bersama pemerintah. Bak kata pepatah, “malu bertanya sesat di jalan”. Demikian pun untuk mewujudkan Candi Muarajambi menjadi warisan dunia, maka harus bertanya ke tempat yang tepat, yakni pada Kota Tambang Sawahlunto yang terbukti sukses dalam mewujdukan cita-citanya. Rekam jejak pengusulan Sawahlunto dimulai dari tahun 2012 dalam tahapan belajar membuat dokumen pengajuan, pada tahun 2014 lalu ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional, dan pada 30 Januari 2015 berhasil ditetapkan sebagai tentative list warisan dunia kategori budaya. Setelah melewati proses melengkapi dokumen dossier dan management plan, lantas pada 6 Juli 2019 dalam sidang ke-43 Komite Warisan Dunia-UNESCO, di kota Baku-Azerbaijan, Sawahlunto ditetapkan sebagai warisan dunia. Tidak kurang empat tahun, dari tentive list berubah menjadi predikat warisan dunia, dan ini boleh dikatakan yang tercepat di antara puluhan negara lain yang juga mengajukan masing-masing nominasinya.

Pencapaian dan keberhasilan yang luar biasa ini, berdasarkan hasil studi banding penulis, serta kajian dokumen dan diskusi dengan Bapak Gino Seagames selaku Ketua Tim Kerja pengusulan Sawahlunto sebagai Warisan Dunia, maka didapati tiga faktor keberhasilan, yakni; (1) nilai penting atau Outstanding Universal Velue yang diusulkan telah dikaji secara mendalam sehingga menyentuh inti utama dari nilai universal yang dapat diterima oleh masyarakat dunia, (2) komitmen dan totalitas pemerintah Daerah Kota Sawahlunto yang sejak awal secara sistematis-berkelanjutan mengupayakan berbagai tindakan terkait pengusulan warisan dunia, termasuk penyusunan dokumen dossier dan dokumen management plan pengelolaan, (3) dukungan penuh segenap masyarakat Sawahlunto dan Sumatera Barat secara kesulurahan, yang senantiasa terlibat aktif dalam kegiatan terkait promosi Sawahlunto menuju warisan dunia, semisal dalam event tahunan SIMFEST (Sawahlunto International Music Etnic Festival) . Lantas bagaimana dengan daerah tetangganya, Muarajambi?

Bermodal rasa tanggungjawab sebagai akademisi, penulis kemudian mencoba mengkaji penyebab kemacetan pengusulan Candi Muarajambi. Penulis kembali membuka dokumen-dokumen lama pengajuan Candi Muarajambi, sembari membandingkan dengan Operational Guidelines for the Implementation of The World Heritage Convention yang dikeluarkan UNESCO, lalu menganalisis dokumen dossier dan management plan milik Sawahlunto. serta memperdalamnya dengan studi banding sekaligus diskusi dengan Tim Kerja Warisan Dunia Sawahunto. Alhasil dirumuskan setidaknya terdapat empat faktor penyebab Muarajambi belum dapat menjadi warisan dunia; (1) Outstanding Universal Value, atau nilai-nilai penting yang diajukan sebelumnya (2009), (2) adanya pertukaran nilai kemanusian baik dalam wujud arsitketur, seni, pengetahuan, maupun konsep pemanfaatan suatu kawasan, (3) jejak yang unik dari tradisi atau suatu peradaban yang telah punah atau terancam punah, (4) menjadi contoh utama dari satu bentuk arsitektur bangunan, atau gabungan arsitektur, teknologi, bentang lahan yang menggambarkan babakan penting dalam peradaban manusia. Tiga kriteria ini yang diusung dalam menggambarkan OUV atau nilai-nilai penting keluarbiasaan Candi Muarajambi untuk dianggap pantas sebagai warisan masyaralat sedunia. Kriteria OUV dalam dokumen diulas hanya menjelaskan keberadaan bangunan-bangunan di Percandian Muarajambi dan bagaimana kedudukannya dengan kanal serta sungai Batanghari, baik secara konsep landskap maupun konsep filosofis ajaran Budha. Kemudian secara arsitektural bangunan mengusung bahan bata yang digunakan. Tentu penjabaran ini masih jauh dari  kata mengerucut dan mendalam pada inti nilai penting yang sebenarnya dimiliki kawasan Percandian Muarajambi.

Kriteria ketiga yang diusung dalam dokumen, terkait Candi Muarajambi sebagai bukti peradaban yang dibangun pada masa kerajaan Melayu kuno abad ke-7 s.d 14 M disayangkan jejak yang unik dari peradaban Muarajambi yang luhur belum muncul dalam ulasan dokumen 2009. Tentu masyarakat dunia ataupun menginginkan sesuatu yang unik dan luarbiasa sehingga patut mereka akui sebagai warisan peradaban mereka juga, warisan dunia. Namun ulasan yang diajukan belum mencapai titik klimaks. Apabila memang dirasa Muarajambi tidak memiliki kriteria ini, sebaiknya dihilangkan saja, sebab penilaian bukan dihitung sebarapa banyak kriteria yang diusung, namun seberapa unik dan seberapa penting nilai-ilai dalam Candi Muarajambi yang memiliki ketersingungan dan peranan dalam mengubah dunia pada masa itu.

Kriteria keempat yang dimuat dalam dokumen mengenai tipe bangunan Candi Muarajambi yang dikaitkan dengan mewakili era peradaban Hindu-Budha abad ke-7 s.d 14 M di Sumatera, dimana di kawasan Percandian Muarajambi terdapat 82 situs yang diduga struktur bangunan dimana sebagian besar masih berupa gundukan tanah, sedangkan yang telah dipugar berjumlah tujuh; Gumpung, Tinggi 1 dan 2, Kembar Batu, Astano, Gedong 1 dan 2, dan Candi Kedaton. Memang betul kriteria keempat terkait tipe/bentuk bangunan yang mewakili masa tertentu, namun yang diulas bukan hanya dilihat dari bahan bata sehingga dikatakan mewakili masa Hindu-Budha Sumatera, tentu ini terkesan tidak unik, tidak spesial, dan tidak cukup mewakili peradaban dunia. Masih banyak nilai penting lain yang unik dan luar biasa di Muarajambi yang masyarakat dunia akan terkagum-kagum; Tentu penulis tidak bisa mengulas segalanya dalam tulisan singkat ini. Satu hal yang pasti, Candi Muarajambi memang memiliki nilai-nilai luhur yang mendunia, dan mampu membuat masyarakat dunia terkagum dan belajar banyak darinya. Mimpi-mimpi negeri seribu Candi menjadi warisan dunia tentu akan terwujud, sejatiya telah menjadi hak dan hakikatnya. Begitu juga manfaatnya kelak untuk masyarakat Muarajambi dan Jambi, juga telah menjadi fitrahnya sejak awal berdiri memberi kebahagiaan dan kesejahteraan bagi sekitarnya. Menuju pada capaian itu tentu membutuhkan strategi dan langkah-langkah sistematis yang kongkrit dan progresif, sebagaimana yang dilakukan Sawahlunto, Bali dengan subaknya, dan warisan dunia lainnya.

Strategi Muarajambi Menuju Warisan Dunia; yang harus dilakukan segenap stakeholder terkait, terutama Pemda Kabupaten Muara Jambi bergerak bersama Pemprov Jambi, adalah beberapa poin berikut ini: (1) Membentuk tim kerja yang berkualitas sesuai keilmuan yang dibutuhkan dan mampu bekerja secara sistimatis dan profesional. Tim ini boleh dikatakan tulang punggung, mesin utama perahu Muarajambi menuju warisan dunia, (2) memperbaiki dokumen dossier yang berisi OUV dan sebaiknya yang ditonjolkan lebih spesifik Candi Muarajambi sebagai pusat pendidikan terkemuka di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga 14 M. Poin ketiga sebagaimana penulis kemukakan di atas, sebaiknya dihilangkan sebab dalam penjelasan Guidelines UNESCO, karena lebih kepada cagar budaya yang unik, dan langka seperti Piramida atau Temok China. Kriteria poin ini bisa diulas lebih mendalam pada bentuk arsitektur; semisal bentuknya yang merupakan perpaduan antara local genius arsitketur Melayu dengan global genius arsitektur India; ditandai dengan konsep, penggunaan tiang-tiang umpak di atas mandapa, atap limasan, perwujutan arca penjaga yang berwajah ramah dan satu-satunya di dunia dengan wajah tersenyum, yakni arca Dwarapala temuan pada candi Gedonng II. Ditinjau secara landskap; sistem jaringan kanal kuno yang multifungsi dan multiphilosofis juga harus dikemukakan, demikian juga tata letak bangunan-bangunan yang membentuk sebuah tatanan kosmologi horizontal dan vertikal, membagi antara ruang sakral dan profan, menyusun tingkat-tingkat ruang secara hirarkis dalam level pengetahuan dan tingkatan pembelajaran, yang berujung pada situs Bukit Perak sebagai ruang tingkatan pencapaian keilmuan tertinggi, (3) menyusun dokumen rencana pengelolaan Candi Muarajambi jangka panjang sebagai warisan dunia, (4) Segera membuat Perda Cagar Budaya Kabupaten Muarajambi dan Provinsi Jambi, (5) membentuk Tim Ahli Cagar budaya Kabupaten Muarajambi dan Provinsi Jambi untuk pentapan SK Cagar Budaya tingkat Kabupaten dan Provinsi, (6) menyelenggarakan forum diskusi dan seminar secara berkala terkait pengajuan Candi Muarajambi sebagai warisan dunia. Hal ini bertujuan untuk melengkapi kajian dan memantapkan isi dari dokumen dossier dan management plan yang akan diusulkan, (7) mengajukan usulan dokumen setidaknya sebelum bulan September telah diterima sekretariat Unesco Paris, (8) melakukan pembenahan fisik dan non-fisik pada zona inti, zona pendukung dan zona penyanggah, (9) menggalang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan yang bersifat pelestarian dan pemanfaatan, semisal mengadakan kegitan rutin merawat candi, festival bersakala internasional yang sekaligus promosi keberadaan Candi mMarajambi kepada dunia, dan (10) menjalin komunikasi dan silaturahmi yang baik dengan segenap stakeholder terkait, baik antar lembaga pemerintah, masyarakat, akademisi, pemerhati, komunitas, dan pihak swasta.

*Asyhadi Mufsi Sadzali, pengajar arkeologi universitas Jambi dan peneliti Candi Muarajambi.

 


Tag : #Candi Muarajambi #Warisan Budaya Dunia



Berita Terbaru

 

Buku Mencari Indonesia
Kamis, 16 September 2021 14:44 WIB

Mencari Indonesia: Laku Pikir Riwanto Tirtosudarmo "Pasca-Cornell"


Oleh: Gutomo Bayu Aji* Dalam kurun waktu empat belas tahun terakhir, Riwanto Tirtosudarmo setidaknya telah menerbitkan tiga buku yang diberi judul berseri.

 

Rabu, 15 September 2021 16:30 WIB

6 Manfaat Bermain Lego Bagi Berbagai Kalangan Usia


  Kajanglako.com - Lego merupakan sebuah game puzzle yang sangat menyenangkan untuk dimainkan. Biasanya lego adalah mainan untuk anak berusia balita

 

Selasa, 14 September 2021 12:36 WIB

Diduga Buronan Narkoba Hanyut di Sungai Saat Dikejar Petugas


Kajanglako.com, Bungo - Diduga seorang pelaku pengguna Narkoba dikabarkan hanyut di Sungai Batang Tebo, sekira pukul 17:55 WIB. Berusaha selamatkan diri

 

Senin, 13 September 2021 11:33 WIB

Gelapkan Mobil, Warga Desa Dusun Dalam Sarolangun Terancam 4 Tahun Penjara


Kajanglako.com, Sarolangun - Kepolisian Unit Reskrim Polsek Bathin VIII, Polres Sarolangun berhasil mengamankan seorang pelaku AR (36) Tahun Warga Desa

 

Cafe dan Perempuan
Minggu, 12 September 2021 20:54 WIB

Cafe, Gaya Hidup dan Aktualisasi Perempuan


Oleh: Nor Qomariyah* Belakangan ini marak kita jumpai di berbagai tempat, mulai jalanan kecil kompleks perumahan hingga jalan koridor utama, kedai kopi