Jumat, 23 Oktober 2020


Kamis, 17 September 2020 07:15 WIB

Sejarah Kecil Bersama Pak Taufik Abdullah

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Saya yakin beliau tidak ingat. Saat itu sekitar pertengahan Desember 1979, saya duduk di sebelahnya. Wajahnya terlihat bete, lesu tidak bersemangat, mungkin baru pulang dari luar negeri dan masih jetlag. Saya tidak yakin kalau dia ikut minum bir atau menenggak sake yang malam itu mbanyu mili. Malam itu Mitsuo Nakamura mengadakan pesta perpisahan. Saya hadir bersama Wikrama, teman seasrama di Daksinapati Rawamangun, mahasiswa Fakultas Hukum dan Pujianto mahasiswa Fakultas Sastra. Kami diundang Mitsuo Nakamura yang berakhir masa tugasnya sebagai representatif CSEAS (Center for Southeast Asian Studies), Kyoto University di Indonesia. Pesta itu diadakan di rumah sekaligus kantornya di Jl. Kebon Binatang Cikini. Ketika tahu orang yang duduk disebelah saya adalah Pak Taufik Abdullah, saya beranikan diri bertanya bagaimana kalau saya ingin masuk Leknas-LIPI, seingat saya dia menjawab ogah-ogahan sambil menyelonjorkan kakinya, "masukin lamaran saja".



Mitsuo Nakamura, saat itu saya kenal sebagai orang Jepang dengan penampilan yang ramah, tidak tahu dia sebenarnya siapa. Ketemu Mitsuo juga secara kebetulan saat sama-sama hadir mendengarkan ceramah Sutan Takdir Alisyahbana, di sebuah gedung di bilangan Cikini kalau nggak salah ingat penyelenggaranya Japan Foundation. Dihitung sampai dengan hari ini berarti sudah lebih dari 40 tahun yang lalu. Seingat saya yang hadir dalam ceramah STA itu tidak terlalu banyak, topiknya seputar masa depan umat manusia. Ketika ceramah itu usai, saya dan beberapa teman dari UI sempat ngobrol dengan STA dan Mitsuo. STA sempat bertanya saya kuliah dimana, dan ketika saya bilang di Fakultas Psikologi UI, STA nyeletuk, “kalau begitu bisa jadi penulis nanti”. Mungkin yang dimaksud jadi pengarang cerita atau apa, nggak begitu jelas. Mitsuo, saya kemudian tahu itu kebiasaan orang Jepang, membagikan kartu namanya, sampil mencatatkan sebuah tanggal di baliknya, dan mengatakan silahkan hadir di tanggal itu, ada pesta kecil, katanya.

Di pesta kecil Mitsuo Nakamura yang di kemudian hari saya tahu sebagai seorang ahli tentang Muhammadiyah, takdir saya rupanya telah ditentukan. Rumah sekaligus kantor perwakilan CSEAS itu tipikal rumah lama di kawasan Menteng. Tidak terlalu besar dengan halaman depan yang agak luas dimana pesta kecil itu - seingat saya betul-betul pesta makan dan minum, dan ngobrol santai. Saya lihat malam itu Goenawan Mohamad berbicara seperti berbisik dengan Ismid Hadad sambil berdiri. Ada Onghokham, Nono Anwar Makarim, Marsilam Simanjuntak, Alfian, Thee Kian Wie, Melly G Tan, Edi Masinambow, Lapian dan masih banyak lagi yang tidak saya kenal. Malam itu malam yang penting karena melihat begitu banyak orang yang selama ini hanya saya tahu nama dan tulisannya. Akhir tahun 1970an itu dunia intelektual masih kecil. "Cuma ada saya dan Alfian, kalau soal politik", begitu saya dengar Pak Taufik berkata, setelah saya bekerja di Leknas. Pesta itu meriah, kami mahasiswa undangan nggak penting cuma sibuk makan dan banyak sekali minum bir. Malam itu kami pulang naik bemo dengan kepala pusing setengah mabuk.

Januari 1980, saya memasukkan lamaran yang ditulis tangan dengan rekomendasi dua guru saya di Fakultas Psikoligi UI, Pak AS Munandar dan Bu Suwarsih Warnaen; ke Leknas-LIPI. Beberapa hari sebelum memasukkan lamaran itu saya mendatangi kantor Leknas-LIPI untuk memastikan bagaimana cara melamarnya. Saat memasuki kantor itu, di bagian tengah ada taman kecil, ada satu pintu yang terbuka, dan rupanya itu kamar kerja Pak Edi Masinambow.

Pak Edi, saat itu menjabat sebagai Sekretaris Leknas-LIPI, menyarankan mengirimkan lamaran tertulis saja. Ketika tahu saya dari Fakultas Psikologi UI dia bilang nanti bisa ikut penelitian Pak Lapian tentang maritim di Maluku. Saya tidak lama harus menunggu karena sebuah surat via pos datang di Asrama Daksinapati Rawamangun. Surat itu ditandatangani oleh Pak Sinaga, kepala bagian kepegawaian Leknas, isinya pendek, menyatakan lamaran saya diterima dan saya harus datang ke Leknas pada hari, tanggal dan jam yang disebutkan di surat itu.

Saya datang dan langsung diterima oleh Pak Suharso, Direktur Leknas-LIPI dan seingat saya diajak ngobrol sedikit dan diminta untuk mulai masuk kerja. Saya mengatakan kalau boleh minta waktu sekitar dua minggu karena masih harus mengerjakan tugas dari Koran Salemba untuk meliput kehidupan kampus di beberapa negara ASEAN. Pada awal Januari 1980 itu bersama Mohamad Sobary, teman seasrama dari FIS UI, kami ditugaskan oleh Koran Salemba untuk menulis tentang kehidupan mahasiswa ASEAN. Tugas itu diberikan oleh Wikrama yang jadi Pemred Koran Salemba. Kami dibuatkan paspor, dicarikan tiket PP ke Singapura. Dari Singapura kami naik kereta api ke Kuala Lumpur, kemudian ke Bangkok,Thailand. Di Kuala Lumpur, kami menginap di rumah Umar Junus, ahli kritik sastra Indonesia yang menjadi pensyarah di University Malaysia. Di Singapura kami menumpang di apartemen Pak Onghokham yang saat itu jadi visiting fellow di ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies). Sepulang dari lawatan itu saya langsung bekerja di Leknas-LIPI. Lawatan itu ditulis berseri oleh Sobary di Majalah Gadis. Sobary memang sejak mahasiswa telah menjadi penulis terkenal sementara saya cuma seneng jalan-jalannya. Tidak lama setelah saya masuk LIPI, Sobary rupanya kemudian menyusul ikut masuk LIPI, dia di LRKN (Lembaga Riset Kebudayaan Nasional). Pada tahuan 1986, Leknas dan LRKN dilebur dan menjadi empat pusat penelitian (politik, ekonomi, kemasyarakatan-kebudayaan, dan kependudukan).

Oleh Pak Suharso, Direktur Leknas-LIPI tanpa ditanya apa saya mau atau enggak, saya ditempatkan sebagai calon peneliti di Pusat Penelitian Penduduk yang langsung dibawahinya. Saya dapat kursi di kantor Leknas-LIPI yang ada di Jl. Raden Saleh, nggak jauh dari RS Cikini, bekas rumah pelukis Raden Saleh. Di bagian kependudukan itu ada teman yang rada nakal, Miftah Wirahadikusumah, yang selalu ngajak untuk ikut seminar di Leknas Jl. Gondangdia Lama 39. Seminar yang hampir setiap minggu diadakan itu, bagi saya, bagian penting dalam ritual untuk menjadi peneliti di Leknas. Untuk itu saya harus mengucapkan terimakasih pada Miftah Wirahadikusumah, sobat di kependudukan yang sedikit urakan itu. Seminar mingguan di kantor Leknas itu selalu diadakan di ruang seminar yang tidak terlalu luas yang terletak di bagian depan kantor, tapi pembicaranya selalu menarik, tidak jarang peneliti asing. Dalam seminar itulah saya sering melihat Pak Taufik, Bu Melly G. Tan, Pak Thee Kian Wie, Pak Lapian, Pak Alfian, juga Bung Mochtar Pabottingi dan Rusdi Muchtar. Seminar dan diskusinya informal dengan suasana kolegial. Pernah yang bicara Sabam Siagian dan Fikri Jufri, keduanya wartawan senior, mereka menceritakan kunjungannya ke Vietnam. Leknas memang waktu itu punya daya tarik tersendiri dimana intelektual dari berbagai latar belakang bertemu. Jadi tidak heran kalau Ignas Kleden ketemu calon istrinya Mbak Ninuk, peneliti Leknas yang dekat dengan Pak Taufik dan Daniel Dhakidae ketemu Mbak Lily sekretaris Pak Taufik, di Leknas-LIPI. Di kantor Leknas Jl Gondangia itu juga terdapat perpustakaan yang cukup lengkap untuk ilmu-ilmu sosial.

Saya tidak lama menjadi calon peneliti, pada awal 1982 berangkat dengan beasiswa dari pemerintah Australia untuk mengikuti program master di bidang demografi sosial di Australian National University (ANU) di Canberra. Awal tahun 1984 saya kembali, dan menjelang akhir 1986, kembali lagi ke ANU untuk menulis disertasi program doktor, juga di bidang demografi sosial. Sampai pertengahan 1990an itu kesempatan berhubungan dengan Pak Taufik tidak banyak, kecuali dalam seminar-seminar, dan setelah saya menyelesaikan program doktor pada tahun 1990 dan kembali ke LIPI  tahun 1991 sempat diminta Pak Taufik mengerjakan sebuah penelitian kecil melalui Yayasan Ilmu Ilmu Sosial (YIIS) yang diketuai Profesor Selo Sumardjan. Rapat YIIS biasanya dilakukan di kantor YIIS atau di rumah Pak Selo Sumardjan, Jl. Kebumen di kawasan Menteng. Dalam rapat-rapat YIIS saya melihat Pak Taufik yang biasanya garang, terlihat lebih jinak di hadapan Pak Selo yang memang seniornya di Cornell University. Selain dengan Pak Selo, orang yang juga tampak disegani Pak Taufik adalah Profesor Sartono Kartodirdjo, gurunya sejak memasuki jurusan sejarah di UGM.

Menjelang dan setelah 1998 saya menjadi lebih sering bertemu dengan Pak Taufik karena menjadi Kapus PMB (Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan) dimana Pak Taufik selalu berkamar di sana meskipun resminya telah pensiun. Di PMB ini kamar Pak Taufik sekaligus menjadi kantor Southeast Asian Studies Program (SEASP) yang dipimpinnya. Melalui bendera SEASP ini Pak Taufik melakukan kerjasama penelitian dengan berbagai lembaga dari luar negeri. Setelah Pak Taufik menjadi Ketua LIPI, SEASP menjadi PSDR (Pusat Penelitian Sumber Daya Regional) sebuah nama lain dari pusat kajian wilayah (area studies). Ketika masih bernama SEASP saya beberapa kali diajak ikut serta, salah satunya penelitian tentang demokrasi pasca Suharto kerjasama dengan Universitas Goteborg dari Swedia. Pak Taufik bilang, kalau riset yang dia pimpin adalah riset yang anggotanya selalu para bintang. Tim riset dengan Swedia ini memang anggotanya tokoh-tokoh menarik, antara lain Ryaas Rasyid, Arbi Sanit, AS Hikam, Mochtar Pabottingi, Haris Syamsuddin dan Hans Antlov. Riset ini berjalan beberapa tahun, dan setiap bulan kami mengambil gaji di kamar Pak Taufik melalui bendaharanya, Pak Sukri Abdurrachman, yang akan mencatat dengan teliti uang yang setiap bulan kami terima, yang aslinya berupa mata uang Swedia, kronos.

Yang menyenangkan menjadi anggota tim riset Pak Taufik adalah kesempatan ikut seminar di luar negeri yang setiap tahun berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Yang saya ingat kami beberapa kali ke Eropa, antara lain ke Hamburg di Jerman dan Goteborg di Swedia. Dalam kesempatan seminar ke luar negeri inilah saya sedikit mengenal lebih jauh Pak Taufik. Ada pengalaman yang lucu dan menyenangkan bersama Pak Taufik, yang biasanya suka jalan pagi itu. Salah satu yang tak terlupakan adalah ketika kami (Pak Taufik, Bung Mochtar, AS Hikam dan saya) oleh sang tuan rumah, Profesor Sven Cederroth, di tengah udara malam yang dingin diajak nonton opera di sebuah gedung teater di Goteborg. Selama opera itu berlangsung, rasanya saya menjadi orang udik yang memasuki sebuah dunia lain, sebuah dunia yang sangat beradab dimana kami bukanlah bagiannya.

Mungkin sekitar akhir 1998 ketika udara Jakarta masih dipenuhi eforia reformasi, saya dapat undangan dari Profesor Myron Weiner untuk menghadiri workshop tentang political demography di MIT (Massachuset Institute of Technology), Cambridge, Amerika Serikat. Saat itu Pak Edi Masinambow sedang menjadi fellow di IIAS (International Institute of Asian Studies), Leiden. Pak Edi meminta saya mampir di Leiden untuk bertemu dengan Wim Stokkhof, Direktur IIAS dan Jos Platenkamp Direktur Southeast Asian Studies, Departement of Ethnology Munster University, Jerman. Pak Edi menggagas kerjasama PMB dengan IIAS tentang penelitian di Papua dan pengiriman mahasiswa Indonesia ke Munster University. Ketika tahu saya akan ke Leiden Pak Taufik menyarankan nginap di Hotel Mayflower saja. “Sebelahnya MacDonald”, katanya,” jadi mudah cari makan”. Saya mengikuti saran Pak Taufik karena saya memang belum pernah ke Belanda. Setelah itu jika ke Leiden dan harus cari penginapan sendiri saya selalu menginap di Hotel Mayflower.

Tidak lama setelah Pak Taufik menjabat sebagai Ketua LIPI saya pamit karena lamaran saya untuk menjadi visiting fellow di NIAS (Netherland Institute for Advance Studies) untuk periode 2000-2001 diterima. Saya memang telah menyampaikan kepada Pak Ardjuno Brojonegoro yang saat itu menjadi Deputi IPSK, juga kepada Pak Taufik, sebelum saya menerima jabatan sebagai Kapus PMB, bahwa jabatan sebagai Kapus akan saya tinggalkan jika lamaran saya di NIAS diterima. Ketika saya datang ke kamarnya sebelum berangkat ke NIAS untuk pamitan, saat itu beliau sedang bersama Sukri Abdurrchman, menghadapi setumpuk surat yang satu persatu harus ditandatanganinya. Beliau tampak cuek ketika saya pamiti, kesan saya dia nggak senang saya meninggalkan jabatan sebagai Kapus. Tapi mungkin juga dia tidak senang saya diterima di NIAS. Tidak banyak orang Indonesia diterima di NIAS, setahu saya hanya Anak Agung Gede Agung, Koesnadi Hardjasoemantri,Sartono Kartodirdjo; dan  dari LIPI hanya Pak Taufik dan Pak Three. Saya bisa ke NIAS atas rekomendasi Pak Three Kian Wie. NIAS terletak di sebuah kota kecil Wasennar antara Leiden dan Den Hague terkenal sebagai daerah elite yang tenang. Di NIAS selain saya dari Indonesia ada Irwan Abdullah dari UGM yang berpatner dengan Profesor Benjamin White dari ISS (Istitut of Social Studies) Den Hague.

Sepulang dari NIAS saya kembali ke PMB karena status kepegawaian saya rupanya sudah dipindah ke PMB. Kapus pengganti saya adalah Mas Muhamad Hisyam yang baru menyelesaikan doktornya di Leiden University, dia memang orang yang menurut Pak Taufik telah dipersiapkan untuk menduduki jabatan itu. Sebelum saya pulang rupanya ada pemungutan suara untuk memilih Kapus baru, dan rupanya nama saya diikutkan. Konon dalam pemungutan suara itu angka saya lebih tinggi dari Mas Hisyam, tapi rupanya Pak Taufik menetapkan Mas Hisyam sebagai Kapus dan bukan saya. Sebagai Ketua LIPI tentu punya semacam hak prerogatif memilih Kapus. Mendengar hal itu saya sendiri tidak merasa ada masalah. Oleh Mas Hisyam saya diberi kamar kerja di bekas kamarnya di Lantai 9 Gedung Widyagraha. Kamar itu sebelumnya adalah kamar Bu Melly G. Tan. Di Lantai 9 itu juga Pak Taufik yang sebagai Ketua LIPI rupanya sudah digantikan oleh Pak Umar Anggoro Jenie dari UGM, menempati kembali kamarnya. Setahu saya beliau kemudian sibuk menjadi koordinator  API (Asian Public Intelectuals) fellowship program dari Nippon Foundation, dibantu sahabat saya John Haba. Karena satu lantai kami sering bertemu, jika tidak di toilet ya di lift.


Setelah Soedjatmoko, mungkin ilmuwan sosial Indonesia yang paling banyak memperoleh pengharagaan di luar negeri adalah Pak Taufik, di antaranya hadiah paling bergengsi di Asia, Fukuoka Prize. Dibandingkan kami yang lebih muda aktifitas Pak Taufik sulit ditandingi. Ingat, dia pernah bilang, saat di Leknas, “cuma ada saya dan Alfian”, setelah pensiun, dia juga bilang “cuma Three Kian Wie yang bisa menandingi dalam jumlah publikasi”. Pak Taufik adalah dari sedikit orang yang berhak menyombongkan diri dan kebiasaannya marah-marah dalam seminar-seminar, semua yang mengenalnya juga sangat memahami. Profesor Bambang Hidayat dari ITB yang sama-sama menjadi anggota AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia), sedikit bercerita: “Saya gemeteran jika Pak Taufik sudah mulai bicara”. Saya bukan orang yang dekat dengan Pak Taufik meskipun dia orang yang tanpa sepengetahuannya telah ikut mendorong saya memilih bekerja di Leknas-LIPI. Pertemuan tidak disengaja di pesta kecil Mitsuo Nakamura lebih dari 40 tahun yang lalu itu kalau saya ingat lagi sesungguhnya bisa berbicara banyak. Sejak malam itu rupanya sejarah kecil saya bersama Pak Taufik Abdullah dimulai.

Pada tahun 1977-78 ketika mahasiswa melakukan demo-demo menentang Orde Baru; Pak Taufik, Pak Thee Kian Wie dan Bu Melly G Tan adalah peneliti Leknas-LIPI yang ikut menandatangani Surat Keprihatinan. Dari Pak Abdulrahman Surjomihardjo saya dengar saat itu WS Rendra dan Adnan Buyung Nasution yang datang ke Leknas membawa draft Surat Keprihatinan untuk minta dukungan. Gara-gara ikut menandatangani Surat Keprihatinan ketiga peneliti Leknas itu mendapatkan teguran dan sanksi dari Ketua LIPI saat itu Bachtiar Rivai. Pak Taufik yang saat itu menjabat sebagai Direktur Leknas dicopot dari jabatannya. Dalam pesta kecil di rumah Profesor Mitsuo Nakamura, sekitar pertengahan Desember 1979, ketika para intelektual Jakarta berkumpul dan Pak Taufik terkesan lesu dan tidak bersemangat, apakah mencerminkan mendung tebal di udara Jakarta? Apakah hari-hari kelam itu awal dendam dan sakit hatinya terhadap kekuasaan yang telah memperlakukannya secara sewenang-wenang? Pada suatu hari, ketika mau memimpin rapat penelitian, dengan nada geram dia berkata “Kalian nggak tahu saya dijadikan anjing kurap”, suaranya bergetar. Rupanya, sehari sebelumnya, dalam acara peluncuran buku “Menjinakkan Sang Kuli” karya Profesor Jan Breman ada insiden yang membuatnya tersinggung. Gus Dur ketika mengangkat Pak Taufik sebagai Ketua LIPI sesungguhnya telah mengembalikan kehormatan yang tahun 1978 terenggut itu, tapi bagi Pak Taufik tampaknya itu tidak cukup, ada yang baginya unbareable.

Suatu saat, ketika sedang mecari-cari buku bekas koleksi Institut Javanologi di perpustakaan BPNB (Badan Pelestarian Nilai Budaya) di Ndalem Yosodipuran, Yogya, tanpa sengaja saya menemukan tulisan Pak Taufik di buku untuk menghormati Profesor Ibrahim Alfian, mantan guru besar sejarah UGM. Tulisan Pak Taufik di buku itu berjudul pendek "Wijilan". Rupanya Ibrahim Alfian adalah kakak kelasnya. Mereka sama-sama “anak sebrang”, jika Pak Taufik dari Sumatra Barat, Ibrahim Alfian dari Aceh. Tulisan itu antara lain mengisahkan kenangannya sebagai anak rantau di kota Jogya dan sama-sama kuliah di jurusan sejarah akhir tahun 50an atau awal 60an. Bagi Pak Taufik, Ibrahim Alfian yang lebih tua itu, betul-betul menjadi seorang Abang yang seringkali menjadi tempat berlindung. Tempat kuliah mereka di Wijilan dan dosen-dosen mereka sebagian masih professor-profesor Belanda di samping dosen senior seperti Profesor Purbatjaraka. Tulisan-tulisan Pak Taufik memang selalu bagus, mengalir enak dibaca, tapi tulisan yang berjudul “Wijilan” itu bagi saya sangat indah. Ketika ketemu beliau karena sama-sama di lift, saya sampaikan kalau saya baru membaca tulisannya, dan saya menikmati sekali saat membacanya. Pak Taufik terlihat senang, sambil tersenyum dia bilang, "bagus ya, puitis...".

Pak Taufik Abdullah awal bulan Januari nanti berusia 85 tahun, sebuah umur yang panjang bagi rata-rata usia orang Indonesia. Saya menduga Pak Taufik orang yang tidak pernah memikirkan soal umur, karena baginya tidak ada hari tanpa bekerja. Setahu saya, selain menjadi anggota AIPI, beliau juga menjadi Ketua Akademi Jakarta, jabatan-jabatan yang akan disandang seumur hidupnya. Selain di dua lembaga itu, saya tidak tahu apa kegiatan beliau yang lain saat ini. Saya mendoakan Pak Taufik Abdullah tetap sehat dan terus berkarya, bisa membuat memoar seperti Deliar Noer, Ahmad Sjafii Maarif dan Ajip Rosidi, seperti juga pernah disarankannya sendiri pada sahabatnya Umar Kayam.

*Peneliti independen. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Taufik Abdullah #LIPI #CSEAS



Berita Terbaru

 

Kamis, 22 Oktober 2020 18:20 WIB

Dukungan untuk Haris-Sani dari Rantau Pandan dan Muko-Muko Bathin VII Bungo: Kami Pilih Calon yang Visi Misinya Membangun Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Al Haris calon gubernur Jambi nomor urut 3, Kamis (22/10/20) turun melihat kondisi masyarakat lebih dekat di kecamatan Rantau Pandan

 

Kamis, 22 Oktober 2020 16:13 WIB

Cuti Panjang, Mashuri Himbau Warga Tidak Mudik


Kajanglako.com, Merangin - Pemkab Merangin melalui surat nomo 800/103/PSDM.3/BKPSDMD/2020, meliburkan kerja pegawai pada tanggal 28 dan 30 Oktober 2020,

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Kamis, 22 Oktober 2020 16:06 WIB

Tumino: Meski Dulu Lawan Sukandar, Demi Cek Endra Kami Siap Bersatu


Kajanglako.com, Tebo – Aliran dukungan total memenangkan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi nomor urut satu, Cek Endra – Ratu

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Kamis, 22 Oktober 2020 15:38 WIB

Kembali Ajak Warga Pilih Cek Endra, Sukandar: Hanya Beliau yang Punya Visi dan Komitmen Bangun Tebo


Kajanglako.com, Tebo – Bupati Tebo Sukandar kembali mengajak warga masyarakat Kabupaten Tebo, mendukung dan memilik pasangan Calon Gubernur dan Wakil

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Kamis, 22 Oktober 2020 15:22 WIB

Di Kumpeh Ulu, Cawagub Sayfril Berkunjung ke Peternakan Sapi


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Disela-sela safari politik dan kampanyenya, Kamis (22/10), Calon Wakil Gubernur Jambi, Syafril Nursal menyempatkan