Jumat, 23 Oktober 2020


Rabu, 09 September 2020 08:17 WIB

Ekspedisi Militer Belanda ke Djambi (4)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pasukan utama yang mengikuti jejak langkah pasukan pembuka dipimpin oleh Mayor van Langen. Lelaki ini memerintahkan untuk memberangus rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar medan yang dilalui, lalu secepat mungkin berangkat lagi untuk memperkuat pasukan pembuka yang dipimpin oleh Kroesen. Dengan demikian, Kroesen mendapatkan bala bantuan tambahan dari pasukan utama itu.



Setelah beristirahat sejenak, ia memerintahkan pasukannya untuk bergerak lagi. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kampung yang berpenduduk cukup banyak. Kampung itu tidak diperkuat dengan pertahanan atau benteng apa pun. Kroesen memerintahkan untuk melemparkan beberapa buah granat, lalu sepeleton serdadu Eropa menyerang  kampung itu. Gallas, pemimpin peleton itu, hampir tewas oleh sabetan sebuah klewang dari seorang penduduk kampung tadi. Serdadu di belakangnya segera membantunya. Dengan bantuan peleton marinir, rumah-rumah di kampung itu dikosongkan dan kemudian seluruh kampung dibakar.

Di air, kapal-kapal perang belanda terus menembaki benteng-benteng di tepian kiri sampai tak ada lagi tembakan balasan. Setelah itu, kraton yang menjadi sasaran tembakan mereka. Di darat, Kroesen dan pasukannya terus bergerak ke arah kraton juga. Dalam perjalanan, mereka menghadapi dan menaklukkan rumah yang penghuninya menghujani mereka dengan tembakan dan sebuah benteng (yang juga berhasil ditaklukkan). Sampailah mereka di kraton.

Sampai saat ini, seorang serdadu tewas, beberapa serdadu lagi terluka. Beberapa orang kuli tewas dan beberapa lagi luka-luka. Korban yang jatuh di antara pasukan Sultan lebih banyak lagi. Mayat bergelimpangan. Segala persenjataan di benteng-bentengnya sudah dirampas pula oleh Belanda. Van Langen memerintahkan komandan pasukannya untuk melemparkan semua persenjataan itu ke dalam sungai atau merusaknya dan menghancurkan benteng-benteng yang telah ditaklukkan. Sebuah meriam berbobot 6 pon, sebuah lagi berbobot 12 pon dan sebuah ‘draaibas’—senjata di atas standar yang dapat diputar-putar--ditenggelamkan di sungai. Senjata-senjata lainnya dihancurkan.

Ketika mendapat berita bahwa pasukan Sultan akan melakukan aksi pengepungan, komandan pasukan-pasukan di garis belakang diperintahkan untuk menduduki salah sebuah benteng yang sudah ditaklukkan. Pasukan-pasukannya akan didukung oleh dividi marinir. Karena tidak menerima konfirmasi berita dan perintah ini, ia memerintahkan anak buahnya untuk bergerak lagi, menyusul pasukan-pasukan di depannya.

Kraton yang dituju terdiri dari sekelompom rumah yang dikelilingi oleh pagar kayu ganda setinggi kira-kira 1.50 meter. Ruang yang ada di antara kedua pagar itu diisi dengan tanah sehingga membentuk semacam dinding pertahanan berbentuk persegi empat sepanjang 1400meter. Di bagian depan, pintu utama diamankan oleh pertahanan dengan 7 buah persenjataan berat dan beberapa persenjataan ringan. Kapal-kapal Belanda terus-menerus memberondong kraton dengan tembakan. Kraton tertembak oleh sebuah peluru berbobot 30 pon. Sultan terpaksa meninggalkan tempat itu untuk menyelamatkan diri. Walaupun demikian, pasukan-pasukannya tetap gigih berjuang mempertahankan kraton.

Kroesen memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan beberapa buah granat ke dalam kraton. Sepeleton divisi marinir yang dipimpin Stuers berusaha mengelilingi kraton agar pasukan Sultan terpecah-belah. Sementara itu, Kroesen sendiri memimpin penyerangan langsung. Serangan itu gagal total. Mereka menghadapi dinding benteng pertahanan yang tegak lurus. Mereka tak membawa alat apa pun yang dapat membantu memanjati dinding curam itu. Kroesen menarik mundur pasukannya.

Steurs yang berusaha mengelilingi kraton dengan pasukannya pun gagal karena langkah-langkah mereka terhalang oleh rawa-rawa. Ia juga terpaksa menarik mundur anak buahnya. Pasukan-pasukan garis belakang yang kini telah bergabung dengan anak buah Kroesen juga berkali-kali berusaha menyerang. Semua itu sia-sia saja. Beberapa anggota pasukan, termasuk seorang letnan tertembak. Walaupun demikian, dua buah peleton diperintahkan untuk menyerang lagi. Pun ini gagal.

Keempat serangan Belanda yang berhasil digagalkan itu membuat pasukan-pasukan Sultan semakin bersemangat.  Mereka semakin gigih menembak. Namun ketika ada jeda sesaat di antara tembakan-tembakan dari dalam kraton, Kroesen segera paham bahwa ia harus secepat mungkin bergerak. Ia memberi semangat kepada pasukan-pasukannya, maju ke depan, didampingi Backerus, lalu berteriak untuk menyerang. Serdadu-serdadunya pun berteriak garang dan mereka maju cepat ke benteng yang curam itu. Teriak-teriak mereka dibalas dengan teriakan-teriakan pasukan Sultan. Mereka tak mempedulikannya. Mereka juga tidak mempedulikan tembakan-tembakan yang semakin gencar dan tak pula mempedulikan lembing dan tombak yang dilemparkan dari dinding benteng. Tentara-tentara Belanda itu naik ke atas bahu yang lain dan mulai memanjati dinding benteng. Yang pertama berhasil sampai ke atas adalah dua orang serdadu pribumi, yaitu Sodrono dan Napio. Mereka segera disusul oleh serdadu-serdadu Belanda lainnya. Kroesen membantu serdadu bernama Saidin lalu memberikan senapannya sendiri kepada lelaki itu. Secepat mungkin, ia lari mendekati gerbang kraton. Dengan gagang senapan, mereka mendobrak pintu gerbang itu. Dalam waktu singkat, pintu itu terbuka lebar dan mereka berhasil masuk. Pasukan-pasukan Sultan di dalam kraton menyambut mereka dengan tembakan gencar. Namun, situasi tak tertolong lagi. Pasukan-pasukan Belanda menaklukkan Kraton Sultan Jambi.

Sementara Kroesen dan pasukannya berusaha memanjati dinding benteng pertahanan kraton, sekompi pasukan infanteri dan sebagian divisi marinir menyerang pertahanan Sultan yang terdapat di luar krato. Mereka berhasil menguasainya. Dari tempat ini, mereka memberondong pasukan Sultan dengan tembakan agar Kroesen dan pasukannya mendapatkan waktu untuk memanjati dinding kraton. Setelah itu, pun mereka ikut menyerang kraton.

Beberapa orang matros menurunkan bendera putih Sultan dan mengerek bendera Belanda ke atas tiangnya. Warna-warna merah-putih-biru bendera itu berkibar di atas kraton. Di air, kapal Celebes melepas beberapa tembakan penghormatan menyambut pengibaran bendera itu. Setelah tiga jam, Jambi ditaklukkan Belanda. Namun, Sultan Jambi sudah berhasil menyelamatkan diri.  

*Pustaka Acuan: WA van Rees. Eenige Krijgstogten op de Buitenbezittingen. Arnhem: DA Thieme. 1866. (Hal. 159-176)


Tag : #Telusur #Mayor van Langen #Kesultanan Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Kamis, 22 Oktober 2020 18:20 WIB

Dukungan untuk Haris-Sani dari Rantau Pandan dan Muko-Muko Bathin VII Bungo: Kami Pilih Calon yang Visi Misinya Membangun Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Al Haris calon gubernur Jambi nomor urut 3, Kamis (22/10/20) turun melihat kondisi masyarakat lebih dekat di kecamatan Rantau Pandan

 

Kamis, 22 Oktober 2020 16:13 WIB

Cuti Panjang, Mashuri Himbau Warga Tidak Mudik


Kajanglako.com, Merangin - Pemkab Merangin melalui surat nomo 800/103/PSDM.3/BKPSDMD/2020, meliburkan kerja pegawai pada tanggal 28 dan 30 Oktober 2020,

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Kamis, 22 Oktober 2020 16:06 WIB

Tumino: Meski Dulu Lawan Sukandar, Demi Cek Endra Kami Siap Bersatu


Kajanglako.com, Tebo – Aliran dukungan total memenangkan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi nomor urut satu, Cek Endra – Ratu

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Kamis, 22 Oktober 2020 15:38 WIB

Kembali Ajak Warga Pilih Cek Endra, Sukandar: Hanya Beliau yang Punya Visi dan Komitmen Bangun Tebo


Kajanglako.com, Tebo – Bupati Tebo Sukandar kembali mengajak warga masyarakat Kabupaten Tebo, mendukung dan memilik pasangan Calon Gubernur dan Wakil

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Kamis, 22 Oktober 2020 15:22 WIB

Di Kumpeh Ulu, Cawagub Sayfril Berkunjung ke Peternakan Sapi


Kajanglako.com, Muaro Jambi – Disela-sela safari politik dan kampanyenya, Kamis (22/10), Calon Wakil Gubernur Jambi, Syafril Nursal menyempatkan