Sabtu, 19 September 2020


Kamis, 06 Agustus 2020 09:43 WIB

Markas VOC di Jambi (1707)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Walaupun ada pendapat bahwa Belanda sempat meninggalkan Jambi pada tahun 1724, Wellan menekanan bahwa itu tidak terjadi. Setidak-tidaknya hal itu tidak sepenuhnya benar. Yang benar adalah bahwa Belanda meninggalkan Jambi di antara tahun 1754-1756 dan 1759-1760.



Pada tahun 1768, benteng VOC baru saja dibangun kembali dan diperkuat. Namun, di awal tahun itu juga, tepatnya 20 Maret 1768, ketika matahari baru saja mulai bersinar, menjelang pukul 06.00 pagi, benteng itu tiba-tiba diserang oleh penduduk setempat. Orang Belanda di benteng sama sekali tidak menduga hal itu akan terjadi. Sia-sia mereka berusaha mempertahankan diri. Setelah jatuh banyak korban dan lelah setengah mati, orang Belanda yang tersisa terpaksa cepat-cepat naik ke atas kapal dan berlayar meninggalkan Jambi.

Dua bulan kemudian, 10 Mei 1768, Mr. Wouter Rudolph van Senden, seorang pengacara, ditugaskan untuk meneliti sebab-musabab serangan itu dan situasi di tempat pada waktu serangan itu terjadi. Karena menduga bahwa serangan orang Jambi itu disebabkan oleh tindakan sewenang-wenang para pegawai VOC di benteng, maka ketika mereka tiba di Batavia, kesemuanya ditangkap dan ditawan di dalam penjara. Dari penelitiannya, van Senden menyimpulkan di dalam laporannya bahwa Residen Jambi pada waktu itu memang ketat berpegang pada kontrak dengan kesultanan. Hal ini rupanya membuat orang kesal sehingga akhirnya mengakibatkan penyerangan tadi. Di mata VOC, Residen Jambi itu tak dapat disalahkan. Semua orang yang tadinya ditawan, kembali dibebaskan. Gaji mereka dibayar penuh dan bahkan ditambahkan dengan semacam uang ganti rugi sebesar gaji yang berhak diterima. Secara keseluruhan, peristiwa ini membuat VOC terpaksa merogoh kocek dan mengeluarkan biaya sebesar ƒ116.241,- . Tidak mengherankan bahwa sesudahnya, mereka memutuskan untuk tidak mencuekkan Jambi.

Kita kembali dulu ke tahun 1707. Pada waktu itu, VOC sudah membangun markasnya di Jambi. Benteng itu menghadap ke sungai. Pagar bambu dibangun di sebelah kiri dan kanannya. Bagian halaman di belakang bangunan markasnya, terbuka. Pada waktu air sungai pasang, pagar itu terendam lebih dari setengah meter di dalam air. Menurut gambaran di laporan yang ada, pada waktu air surut, ujung pagar dan tepian sungai berjarak ‘setembakan senapan’ (seorang di Korps Marinir ketika itu memperkirakan bahwa senapan ‘musket’ pada waktu itu dapat menembak sejauh kurang-lebih 125 meter).

Pintu utama terdapat di bagian depan bangunan, kira-kira di tengah-tengah bangunan. Di atas pintu itu, di atas tiang, dibangun sebuah kamar yang berfungsi sebagai pos penjagaan. Di dalam wilayah yang dilingkungi pagar, terdapat benteng yang sebetulnya. Panjangnya kira-kira 75 meter, lebar 38 meter. Benteng itu dibuat dari gundukan-gundukan tanah berbentuk segi empat. Gundukan tanah ini diapit oleh pagar bambu setinggi 4 meter (lebar 2 meter). Dua buah pintu tersedia untuk memasuki benteng itu. Pintu utama menghadap ke sungai. Pintu kedua terdapat di sebelah timurnya.

Bagian terbesar di dalam benteng diperuntukkan bagi rumah dan gudang. Bangunan ini berukuran 50 X 20 meter. Bangunan itu dibuat dari batu dan kayu; bagian atas ditutup dengan genteng. Bangunan batu setinggi 2,50 meter di atas tanah menyangga dinding-dinding kayu rumah di atasnya. Seluruh bagian bawah bangunan itu digunakan sebagai gudang.

Sebuah tangga kayu, di bagian depan dan belakang bangunan itu, mengantarkan orang ke rumah tinggal. Pun sebagian ruangannya digunakan sebagai gudang. Pedagang Kepala menempati tiga kamar yang terletak di sebelah timur. Ruangan yang menjadi kantor VOC juga di bagian ini. Kamar lainnya, yang menghadap ke sungai, terhubung dengan sebuah gang. Di gang itu terdapat tangga lagi ke sebuah kamar di tingkat atasnya.

Sersan yang bertugas di sana mendapatkan dua buah kamar di sebelah barat bangunan. Lima buah kamar di bagian belakang bangunan itu diperuntukkan bagi orang-orang lainnya.

Pada tahun 1707, markas VOC itu dijalankan oleh 11 orang Eropa (seorang Pedagang Pembantu/kepala markas; seorang sersan; seorang asisten; 3 orang kopral dan 5 orang pelukis/juru gambar). Selain kesebelas orang Belanda itu, juga ada seorang kopral Bugis dan 11 orang anggotanya. Dua orang budak Bugis juga bertugas di sana. Dalam administrasi kepegawaian VOC tercatat 11 ‘coppen’ (kepala) orang Eropa; dan 12 ‘coppen’ orang Bugis. Kedua budak Bugis yang disebut terakhir itu tidak tercatat sebagai ‘coppen’.

Dari peta Sungai Jambi (abad ke-17), yang tersimpan di Arsip Kerajaan Belanda, tampak bahwa baik markas Belanda maupun Inggris terletak di tepian kiri sungai. Tidak diketahui pasti bahwa keduanya terletak di dalam atau di dekat daerah Petjinaan (Pecinan). Anehnya, walaupun sebetulnya pada tahun 1615, Koeala Nioer dianggap merupakan sungai yang lebih memungkinkan pelayaran mendekati Jambi, yang digambarkan dengan rinci di peta itu adalah Koeala Berbah. Nama-nama yang tertera di peta itu barangkali terdengar lain dengan toponimi lokal (dan toponimi kontemporer bahasa Indonesia).

Berikut adalah nama-nama itu (dieja sesuai yang ada di dalam teks tulisan Wellan): Musquite Gat  (Soengei Sadoe); Ajer Itam (Soengei Ajer Itam Dalem); Qualeschoor (Koeala Nioer); Jebas (Djeboes):  Compo dan Compeschoor (Soengei Koempeh dan dusun Koempeh); Londran (dusun Londrang); Tornan (Soengei Tomian); Langar (dusun Langgar); Roucano (dusun Roekam); Combon (Sekombang); Songi Bonto (Soengei Boengin); Pambailamma (Djambi Lama); Out Suchedana (Soekadana Lama); Nieu Suchedan (Soekadana Baru); Tallam Douckoi (Talang Doekoe); Moori Compe (Moeara Koempeh); ‘Patterijen’ (kemungkinan: ‘Potterijen’, yaitu tempat membuat gerabah atau ‘Batterijen’, yaitu dinding pertahanan); Jamby (Djambi); ‘Paseban’ (balai adat); Desapijn (Danaw Sipin); Canali (Danaw Kenali).

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan. “De Loge te Djambi in het jaar 1707,”  dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde. 1927. Hal 446- 458.


Tag : #Telusur #VOC di Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Sabtu, 19 September 2020 15:25 WIB

Air Garam Inum Sei Keradak Dipercaya Sembuhkan Penyakit Kulit


Kajanglako.com, Sarolangun - Asam di gunung garam di laut, itulah yang selama ini terdengar di telinga kita. Namun kata-kata tersebut terbantahkan dengan

 

Sabtu, 19 September 2020 10:20 WIB

Mantan Lurah dan Mantan Camat Kota Jambi Kompak Dukung Haris-Sani


Kajanglako.com, Jambi - Calon kuat Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi, Haris-Sani, mendapat dukungan masyarakat. Al Haris yang pernah mejabat sebagai lurah

 

Ulasan Buku
Sabtu, 19 September 2020 08:54 WIB

Kisah Mantan Aktivis Hizbut-Tahrir


Oleh: Suratno Muchoeri* Tahun 2007 Penguin Publisher menerbitkan sebuah buku berjudul "The Islamist: Why I Joined Radical Islam in Britain, What I Saw

 

Sabtu, 19 September 2020 00:41 WIB

Tokoh Jawa Kota Jambi Dukung Haris-Sani


Kajanglako.com, Jambi - Calon kuat Gubernur dan Wakil Gubernur Jambj, Haris-Sani, bersilaturrahmi dengan  tokoh Jawa Kota Jambi, Jumat (18/9/20) malam. Tampak

 

Sabtu, 19 September 2020 00:35 WIB

Kyai Sepuh Seberang Doakan Haris-Sani Jadi Gubernur


Kajanglako.com, Jambi - Calon kuat Gubernur Jambi, Al Haris, hadir memenuhi undangan tokoh Jambi, Hasip Kalimudin Syam di kediamannya di Telanaipura, Jumat