Jumat, 18 September 2020


Minggu, 26 Juli 2020 15:44 WIB

Markas VOC 1707 - Matinya Sybrandt Swart

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie (1917) tertulis bahwa markas Belanda yang pertama didirikan pada tahun 1616. Ini salah. Laporan-laporan dari Sterck dan Soury menunjukkan bahwa markas pertama itu didirikan pada tahun 1615. Ensiklopedi itu tertama mendasarkan keterangannya dari tulisan-tulisan Prof Veth dalam kata pengantar tulisan Ridder de Stuers mengenai Pesisir Barat Sumatra (De Vestiging en Uitbreiding der Nederlanders ter Westkust van Sumatra. Amsterdam. 1849). Selain kesalahan di atas, keterangan lain di dalam ensiklopedi itu mengenai kehadiran Belanda di Jambi di tahun 1643 dan dari 20 September 1679-30 Mei 1680, benar.



Ensiklopedi itu mengungkapkan peristiwa yang terjadi setelah tahun 1690, yaitu pembunuhan kepala gudang VOC dan pengucilan Sultan Ingalaga karenanya. Tetapi menurut Wellan, keterangan mengenai peristiwa itu tidak sepenuhnya benar. Juga keterangan mengenai terhentinya usaha Belanda di Jambi di antara tahun 1696 sampai 1707 tidak benar.

Apa yang terjadi pada tahun 169o? Dalam artikel ‘Stamboom van het Vorstenhuis (Kraton) van Djambi (volgens de Overlevering)’  (‘Silsilah Kesultanan Djambi’ yang dimuat dalam Reizen en Onderzoekingen der Sumatra Expeditie 1877-1879, KNAG), dijelaskan bahwa Sultan Ingalaga dikenal juga dengan nama Sultan Abdoel Mohji atau Sultan Serian Laga. Sementara ia bermusuhan dengan VOC dan putranya yang tertua, Kiai Gede, Sultan Ingalaga tinggal di pedalaman.

Dari laporan-laporan (tertanggal 25 Februari dan 31 Maret 1688) yang ditulis dua orang pedagang Belanda di Jambi, yaitu Sybrant Swart dan Cornelis Couwenhoven, diketahui pada bulan Maret tahun itu, dengan suatu tipu daya, Sultan Ingalaga berangkat ke kota. Sesampainya di Jambi, ia ditawan dan dibawa ke Batavia. Awalnya, para petinggi di Batavia menahannya di atas kapal lalu kemudian mengucilkannya ke Banda.

Putranya yang sulung dinobatkan oleh pembesar-pembesar kesultanan sebagai penggantinya dengan gelar Sultan Kiai Gede pada tahun 1687. Setelah Sultan Ingalaga dikucilkan, Belanda pun memberikan pengakuan kepadanya sebagai Sultan Jambi, walau dalam surat-surat dari pemerintah pusat Belanda di Batavia, ia masih seringkali diacu sebagai ‘Prins Regent’ atau Putra Mahkota. Pada tahun 1710, barulah ia resmi diakui sebagai Sultan Jambi.

Kiai Gede memiliki dua orang adik lelaki, yaitu Pangeran Ratoe (yang juga disebut Pangeran Tjoelit atau Pangeran Pringabaja) dan Kiai Singa Patih. Keduanya, yang tidak menyetujui penobatan Kiai Gede sebagai Sultan dan pembuangan ayah mereka, Sultan Ingalaga, menarik diri ke daerah pedalaman. Dari sanalah Pangeran Ratoe beraksi memerangi VOC. Raden Tjoelit pindah ke Moeara Tebo dan menobatkan diri sebagai Sultan Mangoendjaja dengan gelar Sultan Sri Maharadja Batoe atau Sulta Abdoel Rachman.

Permusuhan dengan kedua pangeran ini dan aksi-aksi gerilya yang mereka lakukan cukup merepotkan Belanda dan kantor VOC di Jambi menderita banyak kerugian karenanya. Sampai-sampai pada tanggal 15 September 1690, VOC memutuskan untuk menghentikan kedudukan Jambi sebagai markas mandiri VOC dan menempatkannya di bawah kantor VOC di Palembang. Walaupun tak banyak yang dilakukan, di Jambi masih ada Coopman dan Sybrandt Swart yang bertugas menjaga bangunan-bangunan VOC. Keduanya bertugas di sana di bawah pimpinan Residen Palembang. Dengan demikian, pernyataan bahwa VOC meninggalkan Jambi pada tahun 1690 pun tak sepenuhnya benar.

Pada tanggal 31 Oktober 1690, kemungkinan karena berlaku terlalu keras dan kasar, Sybrandt Swart tewas dibunuh seorang pembantu di rumahnya. Peristiwa ini dilaporkan oleh Willem Sabelaar dan Rippert Pelle, dua orang pedagang di Palembang (Laporan tertanggal 6 November 1690 itu kini masih tersimpan di Arsip Kerajaan Belanda di Den Haag). Mereka menceritakan bahwa Sybrandt Swart sakit sejak dua bulan sebelumnya. Ketika mulai sembuh, entah apa pasalnya, ia menjadi marah dan menghukum pembantunya. Walaupun kaki lelaki itu dibelenggu rantai, ia berhasil meraih sebilah keris yang terletak di atas kursi. Ia menusukkan senjata itu empat kali ke tubuh majikannya. Tak lama kemudian, tewaslah Sybrandt Swart, majikannya itu. Setelah dank arena terjadinya peristiwa ini, VOC memutuskan untuk mengalihkan tanggungjawab operasionalnya di Jambi kepada Residen Palembang.

Setelah 1690, masih ada beberapa keputusan berkenaan dengan Jambi. Salah satunya tertanggal 14 Juli 1702 berisi semacam instruksi bagi Sersan yang bertugas menjaga gawang di Jambi. Sersan yang mewakili VOC di Jambi menyebut dirinya sebagai ‘Residen’ dan menuntut pembayaran gaji yang sesuai dengan jabatan itu. Pada tahun 1706, mantan Gubernur Maluku (dan kemudian menjadi Gubernur Malakka) diutus ke Jambi untuk mempelajari dan menentukan apakah sudah waktunya untuk memisahkan Jambi dari Palembang dan menjadi markas mandiri lagi. Ia juga ditugaskan untuk membuat kontrak kerjasama baru dengan Kiai Gede. Laporannya membuat VOC mengeluarkan resolusi tertanggal 28 Juni 1707 yang memutuskan untuk mengangkat seseorang menjadi Residen. Pada tanggal 7 Juli 1707, Jambi resmi dipisahkan dari Palembang dan kembali berusaha mandiri. Abraham Patras menjadi Residen Jambi.

Beberapa bulan setelah tiba dan bertugas di Jambi, Patras mengirimkan surat dari Gubernur-Jendral di Batavia kepada Pangeran Pringabaja Mangoendjaja di Moeara Tebo. Pangeran itu diundangnya datang ke Jambi. Ia bermaksud mempertemukan dan mendamaikan hubungan pangeran itu dengan kakaknya, Sultan Kiai Gede. Tidak dijelaskan apakah Pangeran Pringabaja sempat datang ke Jambi atau tidak, namun yang jelas, upaya Residen Patras  tidak berhasil.  Pada tahun 1710, Pangeran Pringabaja ditangkap, diturunkan dari tahtanya dan kakaknya, Sultan Kiai Gede dinobatkan sebagai Sultan Jambi. Pada tahun berikutnya, Pangeran Pringabaja—bersama 99 orang pengikutnya—dikucilkan. Pertama-tama ke Pulau Edam (kini Pulau Damar Besar), dan kemudian ke Pulau Banda.

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan. “De Loge te Djambi in het jaar 1707,”  dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde. 1927. Hal 446- 458.


Tag : #Telusur #VOC di Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 September 2020 17:33 WIB

Belajar Tatap Muka, Sekolah Wajib Perketat Protokol Kesehatan


Kajanglako.com, Sarolangun - Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun telah memberlakukan belajar di sekolah secara tatap muka. Walaupun demikian, Dinas Pendidikan

 

Jumat, 18 September 2020 15:22 WIB

Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Melejit


Kajanglako.com, Jambi - Tingginya angka kekerasan terhadap anak selama masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu persoalan yang disorot pemerintah. Berdasarkan

 

Jumat, 18 September 2020 15:16 WIB

Mesin ATM BNI di Kota Jambi Dibobol Maling, Ratusan Juta Rupiah Raib Dibawa Pelaku


Kajanglako.com, Jambi - Di tengah pandemi Covid-19, tindak kejahatan pembobolan mesin anjungan tunai (ATM) kembali terjadi di wilayah hukum Polresta Jambi. Informasi

 

Jelang Pilgub 2020
Jumat, 18 September 2020 13:35 WIB

CE-Ratu Komitmen Selesaikan Jalan Teluk Nilau Tanjab Barat Hingga Kilometer 91


Kajanglako.com, Tanjab Barat – Di hadapan Tim Pendukungnya dan juga mantan Bupati Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), Bakal Calon Wakil Gubernur

 

Jelang Pilgub 2020
Jumat, 18 September 2020 12:15 WIB

Ucapan Bismillah dari Kampung Halaman Iringi Ikrar Warga untuk Syafril Nursal Menuju Jambi Berkah


Kajanglako.com, Sungai Penuh -  Masyarakat Desa Koto Keras, Kecamatan Pesisir Bukit, Sungai Penuh, mendoakan dan memberikan dukungan penuh kepada