Jumat, 18 September 2020


Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri dan arsonis (pembakar rumah/gedung). Pendapat ini disetujui oleh Sterck. Orang Inggris pun mempunyai penilaian yang tidak kurang jeleknya. Sainsbury, dalam bukunya Journal of the Voyage from Bantam to Djambi, menulis: “Raja memperingatkan kami agar berhati-hati dengan rakyatnya. Bila ada yang tertangkap basah mencuri, mereka boleh dihukum, bahkan boleh dibunuh.”



Karena khawatir akan keamanan barang-barang Kumpeni, Soury memutuskan untuk membongkar gudang-gudang VOC, yang tadinya terbuat dari kayu (sehingga mudah dibakar) dengan bangunan-bangunan batu (tetapi ini baru dilakukan beberapa tahun kemudian). Bahan bangunannya dipesannya dari Banten. Dalam sebuah laporan tertanggal 26 Mei 1616, Coen mencatat telah dikirimnya bebatuan dan 300 bilah papan dan balok kayu ke Jambi untuk membangun ‘gedong’.

Lahan yang diberikan untuk Belanda berukuran kira-kira 40 X 25 meter. Di atas lahan itu sudah ada rumah yang dibangun di atas tiang. Praktis karena pada musim hujan, lahan itu terendam air setinggi 1,5 meter. Selain itu juga terdapat sebuah gudang kecil  yang dapat menyimpan sekitar 60 pikul lada. Lahan itu dikelilingi sebuah pagar bambu. Menurut Sterck, yang membangun markas itu, pembuatan pagar itu memerlukan 100 pikul. Seratus pikul bambukah? Entah pikul apa yang dimaksudkan karena hal itu tidak dijelaskan. Sterck juga tidak mencatat berapa biaya yang dihabiskannya untuk membangun markas itu.

Ketika Soury tiba di Jambi, orang Inggris sedang membangun markas mereka. Markas Inggris lebih kokoh dan biaya pembangunannya jauh lebih sedikit daripada markas Belanda. Pagarnya, yang bertonggak besi, hanya memerlukan 42,5 pikul. Mereka juga berniat membangun bangunan rumah/kantor dari batu. Dan, bebatuan yang diperlukan juga didatangkan dari Banten. Rupanya pada waktu itu, baik Inggris maupun Belanda tidak tahu bahwa di dekat kota Jambi ada tempat dengan tanah liat yang baik untuk membuat bata. Orang Inggris lebih pintar. Pada tahun 1636, mereka membeli tempat pembakaran bata dari Sultan Jambi. (Catatan FA: catatan ini menunjukkan bahwa orang Jambi sudah membuat bata dan gerabah lainnya di masa ini).

Di mana persisnya markas-markas Belanda dan Inggris itu dibangun, tidak diketahui. Keduanya tampaknya cukup berdekatan karena orang Inggris dapat mendengar pertengkaran di antara Sterck dan Soury. Sultan Jambi tinggal di dusun Solok, di tepian kanan Batang Hari. Di hulu bukit Tanah Pileh. Di sebelah timur, Tanah Pileh dibatasi oleh Soengei Asam dan di sebelah barat oleh garis maya yang berjarak sekitar 100 meter dari benteng. Seberapa jauhnya batas selatan daerah itu dengan sungai tidak diketahui. Dalam laporan-laporan Inggris maupun Belanda, tak pernah diceritakan bahwa mereka harus menyeberangi sungai bila hendak menemui Sultan. Dengan demikian, kemungkinan besar, kedua markas orang-orang asing itu berada di tepian yang sama dengan tempat tinggal Sultan. Catatan lain menulis bahwa markas atau ‘benting’ Belanda dibangun di tempat yang dulunya kraton Sultan.

Di dusun Solok juga diketemukan tinggalan dari zaman Hindu. Salah satu artefak bertanggal 1064 Sebelum Masehi. Di Solok pula terdapat balai adat. Ini membuktikan bahwa dusun itu sudah dan masih ada pada tahun 1615. Baik markas Inggris maupun Belanda terletak di daerah yang rendah. Markas Belanda bahkan terendam air pada musim hujan atau ketika air sungai pasang. Hanya Sultan yang tinggal di daerah yang lebih tinggi.

Beberapa tahun setelah dibangun, tepatnya 1617, markas Belanda terbakar ketika diserang oleh Portugis. Dalam peristiwa ini, banyak dokumentasi dan catatan Soury terbakar.

Di hilir bukit Tanah Pileh, di tempat yang kemudian menjadi dusun Magetsari, Pedagang Kepala Belanda membuat perjanjian dengan Sultan, yaitu bahwa Sultan akan memberikan bantuan bila orang Belanda diserang oleh Portugis. Dengan satu syarat: kapal-kapal Belanda tidak lagi berlabuh di depan markasnya, melainkan di sebelah hilir bukit Tanah Pileh. Kemungkinan, perjanjian ini dibuat setelah serangan Portugis pada tahun 1617 itu. Pada tahun 1636, markas Belanda terbakar lagi. Kebakaran kali ini lebih parah dari yang sebelumnya. Pada tahun itu juga, sebuah markas baru dibangun lagi. Akan tetapi, tidak diketahui apakah markas baru itu dibangun di tempat yang sama dengan markas yang lama.

Rencana Soury untuk merenovasi markas Belanda dan mengganti bahan bangunan kayu dengan batu menunjukkan rencananya untuk mendirikan tempat usaha yang permanen di Jambi. Rencana ini pastilah berkembang setelah ia agak lama berada di Jambi karena awalnya ia tidak terlalu optimistis dengan keberhasilan usaha itu. Di awal kedatangannya, yang dapat dibelinya hanyalah komoditi yang tak terlalu berharga. Secara keseluruhan, hanya ada sekitar 50 sampai 60 perahu milik penduduk. Dengan perahu-perahu itu, dua kali setahun mereka pergi ke daerah dataran tinggi untuk membeli lada yang kemudian dijual lagi di pasar di Jambi.

Ketika lada itu tiba di pasar di Jambi, untuk membelinya, Soury harus berurusan dengan kaum Orang Kaya yang bertindak sebagai penengah. Ia juga harus bersaingan dengan pedagang-pedagang lainnya: orang Inggris, Portugis, Cina, Jawa, Melayu dan sebagainya. Lada yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi keinginan semua pedagang itu sehingga harganya melangit. Tambahan lagi, perdagangan di Jambi banyak dilakukan dengan sistem persekot, yaitu memberikan uang muka terlebih dahulu sebelum barang diterima. Di Belanda, ia tak terbiasa melakukan itu. Namun, mau tak mau, ia harus ikut menjalankan sistem itu untuk mendapatkan lada yang diinginkannya. Masalahnya, karena tak biasa, seperti orang Belanda lainnya, ia belum lihai membuat perjanjian-perjanjian informal seperti yang dilakukan pedagang-pedagang Jawa dan Melayu agar pada waktunya, lada yang sudah dijanjikan (dan dibayar sebagian) memang akhirnya diterima di tangan.

Di awal kedatangan mereka di Jambi, orang Belanda hanya tertarik untuk membeli lada, sementara orang Inggris juga membeli bubuk emas. Lada yang dicari-cari itu dipertukarkan dengan kain dan tekstil, panci, kaleng, garam, pisau dan juga kacamata. Mereka tidak tertarik membeli beras. Beras bukanlah komoditi yang dapat menghasilkan banyak uang. Ini berarti bahwa beras yang dihasilkan di Jambi, kemungkinan besar lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya sendiri.

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan (ed), Abraham Sterck and Andries Sourij. “Onze Eerste Vestiging in Djambi. Naar Oorspronkelijke Stukken,” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Deel 82 (1926), pp. 339-383.


Tag : #Telusur #VOC di Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 September 2020 17:33 WIB

Belajar Tatap Muka, Sekolah Wajib Perketat Protokol Kesehatan


Kajanglako.com, Sarolangun - Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun telah memberlakukan belajar di sekolah secara tatap muka. Walaupun demikian, Dinas Pendidikan

 

Jumat, 18 September 2020 15:22 WIB

Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Melejit


Kajanglako.com, Jambi - Tingginya angka kekerasan terhadap anak selama masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu persoalan yang disorot pemerintah. Berdasarkan

 

Jumat, 18 September 2020 15:16 WIB

Mesin ATM BNI di Kota Jambi Dibobol Maling, Ratusan Juta Rupiah Raib Dibawa Pelaku


Kajanglako.com, Jambi - Di tengah pandemi Covid-19, tindak kejahatan pembobolan mesin anjungan tunai (ATM) kembali terjadi di wilayah hukum Polresta Jambi. Informasi

 

Jelang Pilgub 2020
Jumat, 18 September 2020 13:35 WIB

CE-Ratu Komitmen Selesaikan Jalan Teluk Nilau Tanjab Barat Hingga Kilometer 91


Kajanglako.com, Tanjab Barat – Di hadapan Tim Pendukungnya dan juga mantan Bupati Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), Bakal Calon Wakil Gubernur

 

Jelang Pilgub 2020
Jumat, 18 September 2020 12:15 WIB

Ucapan Bismillah dari Kampung Halaman Iringi Ikrar Warga untuk Syafril Nursal Menuju Jambi Berkah


Kajanglako.com, Sungai Penuh -  Masyarakat Desa Koto Keras, Kecamatan Pesisir Bukit, Sungai Penuh, mendoakan dan memberikan dukungan penuh kepada