Jumat, 07 Agustus 2020


Jumat, 10 Juli 2020 09:29 WIB

Pandemi, Centering the Margin dan re-Learning.

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Pada hari Rabu, 8 Juli 2020, dirumah, saya mendapatkan dua informasi yang menarik dan penting ditengah pandemi yang belum terkendali penyebarannya. Pertama, pada pagi hari, di harian Kompas halaman depan disajikan infografis lonjakan kasus Covid-19 di kota-kota sepanjang Pantura (Pantai Utara Jawa), dan kedua, pada malam harinya, saya berkesempatan mendengarkan kisah Singgih Susilo Kartono tentang bagaimana "memuliakan desa" melalui YouTube yang disiarkan langsung oleh Salihara dan dipandu dengan baik oleh Zen Hae. Dua informasi yang masuk ke kepala saya dalam waktu kurang dari 24 jam itu merangsang insight mengenai proses transformasi sosial, centering the margin dan re-learning.



Berita yang dilansir Kompas itu menunjukkan dengan jelas penyebaran dan peningkatan Covid-19 di kota-kota yang dihubungkan oleh jalan raya Daendels dan sekarang ditambah oleh jalan tol Trans-Jawa. Angka dan lonjakan tertinggi terlihat di DKI Jakarta dan Surabaya sebagai pusat aglomerasi terbesar di Indonesia. Apa yang terjadi membuktikan kebenaran bahwa penyebaran virus terjadi melalui mobilitas manusia. Pantura yang oleh planolog dari ITB, Tomy Firman, disebut sebagai urban corridor terpanjang di Asia Tenggara, memang merupakan jalur transportasi darat tersibuk di Jawa. Henk Schulte Nordholt, sejarawan dan antropolog Belanda, mungkin setengah bergurau, menceritakan para ilmuwan NASA terheran-heran karena melalui satelitnya melihat ada sebuah garis di permukaan planet bumi yang selalu memancarkan sinar tanpa henti, setelah diteliti ternyata itu adalah jalur Pantura.

Singgih Susilo Kartono, biasa dipanggil Singgih Kartono, pada malam Rabu itu menceritakan bagaimana ditengah pandemi Covid-19 dia justru melihat peluang yang terbuka untuk mengubah keadaan. Rupanya, keputusannya untuk kembali ke Kandangan, desanya di Temanggung, Jawa Tengah 25 tahun yang lalu dan usahanya melalui berbagai inisiatif, antara lain mendesain radio dari kayu yang diberi label Magno, membuat sepeda bambu yang diberi nama Spedagi serta mengembangkan Pasar Papringan; telah membawa namanya dikenal tidak saja di Indonesia tapi juga di luar negeri. Apa yang menarik dari cerita pengalamannya hidup di desa yang cukup lama itu adalah hasil perenungannya tentang pandemi yang menurutnya justru menunjukkan kekeliruan yang selama ini ada dalam memandang hubungan antara desa dan kota yang diistilahkannya sebagai “cyral” (city-rural). Menurut pengamatannya sumber masalah ini justru karena desa selama ini diabaikan perkembangannya. Akibatnya  orang mengalir ke kota dan menganggap kota sebagai sumber segala hal yang berkaitan dengan apa yang disebut kemajuan. Kunci perbaikan, menurutnya, adalah jika kita mengubah cara pandang, dengan melihat sumber masalah sesungguhnya ada di desa. Artinya, jika desa diperbaiki, kota juga akan menjadi baik. Sebuah cara pandang yang betul-betul baru, out of the box, think the unthinkable, centering the margin.

Pandemi saat ini adalah peluang untuk melakukan refleksi tentang transformasi sosial yang dalam analisa Singgih Kartono berpusat pada ketidakseimbangan hubungan antara desa dan kota. Pandemi yang mewabah terutama di kota, sebagaimana diperlihatkan angka-angkanya di kota-kota Pantura oleh Kompas, membuka kenyataan bahwa ada yang selama ini keliru dalam pembangunan kita. Kota-kota yang selama ini dianggap sebagai simbol kemajuan dan kemodernan justru menunjukkan kerentanan dalam menghadapi serangan pandemi. Jelas ada yang salah dalam proses transformasi sosial yang selama ini kita jalani. Kota-kota yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pusat pemerintahan dan konsentrasi kelas menengah negeri ini justru menjadi pusat penyebaran virus. Oleh karena itu, inilah saat yang tepat untuk mengubah cara pandang kita tentang apa itu kemajuan. Menurut Singgih Kartono negara-negara maju saat ini justru sedang mencari tujuan baru, sementara kita masih ingin meniru mereka. Singgih Kartono, dari pengalaman, bacaan maupun koneksinya dengan koleganya di dunia internasional, menyusun semacam paradigma baru yang menekankan kolaborasi dan tidak mendikotomikan antara desa dan kota.

Membaca berita Kompas yang memperlihatkan jalur Pantura sebagai pusat penyebaran virus dan mencerna perenungan Singgih Kartono tentang desa sebagai pusat gravitasi baru dalam transformasi sosial yang akan datang memberikan insight baru, menurut hemat saya, paling tentang dua hal: centering the margin dan re-learning. Beberapa tahun terakhir ini saya dan beberapa teman dari LIPI dan luar LIPI memperhatikan apa yang dalam literatur disebut sebagai marginal communities, yang kemudian mendorong saya untuk memperkenalkan konsep masyarakat pinggiran. Masyarakat pinggiran dalam konsep kami adalah warganegara yang melalui proses sosial-politik yang panjang kemudian berada dalam kondisi terpinggirkan, misalnya komunitas adat, agama minoritas, perempuan, buruh, petani, nelayan, difabel, LGBT; tetapi juga masyarakat desa.

Hal yang menarik dalam konteks pandemi yang saat ini telah membobol daya tahan tubuh kita terhadap penyakit; komunitas adat atau masyarakat desa, sebagai masyarakat pinggiran sesungguhnya telah memiliki mekanisme untuk menghadapi pandemi. Orang Baduy, Orang Samin (Sedulur Sikep) dan Orang Rimba yang pernah kami teliti selama dua tahun (2015-2016) memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kemudian menjadi tradisi, untuk selalu siap jika sewaktu-waktu ancaman kelaparan, penyakit atau bencana alam datang. Tradisi itu diturunkan dari generasi ke generasi; dan sampai sekarang masih bisa kita pelajari.

Berdasarkan pengamatan kami, dari tiga komunitas adat yang kami teliti itu, Orang Baduy yang paling mampu mempertahankan tradisi resiliensi untuk melakukan adaptasi dan resistensi terhadap perubahan. Sedulur Sikep berbeda dengan orang Baduy yang memiliki teritori tetap, kemampuan adaptasi dan resistensi yang dimiliki bervariasi tergantung lokasi. Komunitas Sedulur Sikep di Pati dan Rembang misalnya saat ini sedang mempertahankan lingkungan pertanian mereka dari kerusakan yang disebabkan karena adanya pabrik semen (baca: http://kajanglako.com/id-9558-post-gunarti.html). Orang Rimba saat ini menghadapi ancaman yang sangat serius karena hutan yang merupakan life space mereka semakin menyempit karena logging, ekspansi perkebunan sawit dan program transmigrasi. Tradisi resiliensi terhadap pandemi dari Orang Rimba semakin hilang karena tradisi mereka semakin sulit untuk diteruskan bersamaan dengan hilangnya hutan yang menjadi lingkungan hidup mereka (baca: http://kajanglako.com/id-9644-post-pangendum-tampung.html).

Sebagai contoh, dalam tradisi Orang Rimba, orang yang sakit akan “dikarantina”. Saat kami berada di tengah Orang Rimba, salah seorang tetua adat yang ingin kami wawancarai sedang sakit, meskipun dia masih bisa beraktifitas. Karena dia dianggap sebagai informan kunci, dan dia bersedia untuk diwawancarai, wawancara tetap dilakukan. Yang menarik, wawancara yang dilakukan dibawah rimbun pohon-pohon itu, dilakukan dengan melakukan “social distancing”, ada jarak yang cukup jauh antara tempat berjongkok tetua adat, rekan dari Orang Rimba yang menjadi penterjemah, dan kami. Menjadi adat mereka juga ketika ada warga yang meninggal mayatnya dibuatkan keranda dari bambu dengan tiang cukup tinggi dan ditempatkan di sebuah tempat yang jauh dari pemukiman mereka. Anggota keluarga yang ditinggalkan kemudian melakukan perjalanan keluar desa (melangun) untuk beberapa waktu, seperti ingin menjauhkan diri untuk tidak menjadi sumber penularan.

Belajar dari pengalaman Singgih Kartono dalam "memuliakan desa" dan pengalaman kami meneliti komunitas adat;  menjadikan masyarakat pinggiran sebagai referensi untuk mencari alternatif di saat pandemi dan sesudahnya nanti, merupakan sesuatu yang perlu dilakukan. Dalam diskursus tentang transformasi sosial, kita harus mulai menempatkan masyarakat pinggiran sebagai "pusat" atau centering the margin.  Paradigma dan cara pandang kita tentang kemajuan dan "modernitas" juga harus mulai diubah. Belajar kembali  dari Orang Baduy, Sedulur Sikep dan Orang Rimba; tentang bagaimana kebiasaan-kebiasaan mereka yang telah menjadi tradisi resiliensi, kemampuan adaptasi dan resistensi terhadap perubahan, tampaknya harus mulai kita lakukan. Re-learning, belajar kembali dari  masyarakat-masyarakat pinggiran yang selama ini kita sisihkan. Sudah waktunya diperhatikan. Apa yang menjadi tujuan baru dari mereka yang ada di negara-negara maju, jangan-jangan yang selama ini prinsip-prinsipnya sudah dilakukan oleh Orang Baduy, Sedulur Sikep, Orang Rimba dan orang-orang di desa.

*Peneliti. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #akademia #corona #pandemi #masyarakat pinggiran



Berita Terbaru

 

Jumat, 07 Agustus 2020 11:37 WIB

Al Haris Resmikan Wisata Edukasi Benuang


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin Al Haris, meresmikan wisata Edukasi Benuang, Jumat (7/8/20). Peresmian ini dilakukan usai Gerakan Pendidikan

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:39 WIB

PJ Sekda Lantik 35 Pejabat Fungsional Lingkup Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Jambi H Sudirman SH MH, melantik 35 orang pejabat fungsional dalam lingkup Pemerintah

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:33 WIB

Rapat Evaluasi Penandatanganan Covid-19, PJ Sekda: Tekan Penambahan Kasus


Kajanglako.com, Jambi – Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jambi menggelar Rapat Evaluasi Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:20 WIB

Kelurahan Pasar Sarolangun Gelar Pelatihan Relawan Siaga Bencana Tahun 2020


Kajanglako.com, Sarolangun - Pemerintah Kelurahan Pasar Sarolangun Kabupaten Sarolangun menggelar Pelatihan Pembinaan Kelembagaan Kemasyarakatan Relawan

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:15 WIB

30 Paskibraka Batanghari Dipastikan Gagal Tampil


Kajanglako.com, Batanghari - Sebanyak 30 siswa-siswi SMA terpilih yang telah mengikuti rangkaian seleksi untuk menjadi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka