Warning: session_start(): open(/tmp/sess_ggkes68aaauieedicoub9ciuf0, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/kajangl1/public_html/template-detial.php on line 2
Kenduri Sko, Menuai Berkah Negeri Serampas di Masa Covid-19
Selasa, 04 Agustus 2020


Senin, 06 Juli 2020 21:13 WIB

Kenduri Sko, Menuai Berkah Negeri Serampas di Masa Covid-19

Reporter :
Kategori : Ragam

kenduri sko / foto: istimewa

Oleh: Nor Qomariyah*)

Hujan gerimis tak menyurutkan langkah Nenek Rada, Depati Payung di negeri Rantau Kermas, untuk sampai di Balai Adat Desa dengan cepat. Jalanan becek dan berbatu, justru membuat Nenek Rada bersemangat menuju bangunan besar berukuran 8x5 m itu.



Bangunan yang beratap seng berbentuk kerucut menengadah langit sebagai lambang Balai Adat, selama ini menjadi saksi berbagai ritual adat nenek moyang Desa Rantau Kermas, salah satu desa yang menjadi bagian dari wilayah hukum adat Serampas. Bahkan berbagai acara besar, seperti baralek gadang dan upacara adat lainnya, terutama Kenduri Sko, harus dilakukan di tempat ini.

Sebagai Depati, Nenek Rada sangat sadar, bahwa Kenduri Sko baginya adalah hal yang tak boleh dilewatkan sebagai warisan leluhur nenek moyang, apapun kondisinya. Karena jika terlewat, itu diyakini betul akan membawa dampak negatif bahkan hingga bencana di dalam desa.

Di kejauhan terlihat masyarakat lain juga menyusul nek Rada menuju Balai Adat. Mereka membawa berbagai "hantaran negeri" berupa ayam 1 ekor yang telah dibersihkan dan siap masak, beras ketan 1 gantang, beras payo 1 gantang, cabai dan bumbu dapur serta lemang 2 buluh.

Masyarakat dari 3 RT yang mendiami desa tersebut, tumpah ruah. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, baik laki-laki maupun perempuan dengan berbagai peran masing-masing.

Sebagian laki-laki yang ditunjuk panitia oleh negeri, menjadi juru masak dengan menyiapkan dapur umum, kayu bakar dan kelapa yang telah dibeli oleh negeri. Para perempuan yang sebagian besar merupakan induk negeri juga tak kalah perannya dengan menyiapkan berbagai bumbu dapur dengan batu giling berukuran besar sebagai penggiling bumbu tradisional.

Pukul 12.30 WIB, ruang dapur umum terasa begitu penuh sesak oleh bau harum yang menyengat. Perpaduan rempah negeri seperti cabai merah lokal, kunyit, jahe, serai, bawang merah yang dipetik dari kebun masyarakat sendiri, menjadi tanda suburnya tanah negeri atas tumbuhnya berbagai tanaman pangan tumbi (keluarga). Belum lagi beras payo yang telah ditanam selama 7 bulan ini, telah dituai, dan akan segera dinikmati bersama pada malam harinya. Begitu juga lemang, yang telah dibakar di atas tungku perapian oleh para induk negeri selama 2 jam pada malam harinya.

Suasana seperti inilah yang sering dirindukan oleh para induk semang, saling bergurau, bercerita, menuturkan berbagai sejarah mengapa lemang menjadi penting dalam kenduri sko hingga sugi sirih yang setia menemani sela-sela obrolan mereka sekalgus menghangatkan badan di tungku perapian.

Sore harinya, para orang tua baik laki-laki maupun perempuan, menyiapkan seluruh hidangan di atas tempat tinggi dalam balai Adat. Seluruh persembahan ini nantinya akan dinikmati bersama pada malam harinya yang dimulai pada pukul 20.00 WIB, selepas shalat isya.

Tahun ini ada yang istimewa, yakni persembahan negeri berupa beras 20 gantang dan kambing 1 ekor sebagai persembahan tolak balak atas terjadinya bencana internasional yakni pandemic Covid 19. Meski menurut masyarakat, di desa ini masih terasa nyaman dan tidak ada kasus Covid 19, namun hal ini harus tetap dilakukan sebagai bentuk tolak balak, agar terbebas dari pandemic. Bahkan kali ini, kenduri sko tuai padi payo akan dilakukan ritual khusus dengan membacakan Yasin dan berdoa bersama. Surat Yasin dalam tradisi Islam diyakini sebagai bentuk surat di al-Qur’an yang diyakini mampu menolak segala bencana yang hadir atas kuasa Allah Swt, sebagai Tuhan semesta alam yang juga menggerakkan nenek penjaga hutan sekaligus pengusir pandemic Covid 19.

Diiringi rebab, Kepala Desa dan Depati Payung melangkah menuju singgasana tinggi di dalam balai. Meski tidak mengenakan baju adat, para tuo tengganai tetap tampil mengenakan baju yang dinilai paling pas dengan setelan lengan panjang, sarung dan ‘songkok nasional, duduk rapi berjajar, membacakan susunan acara kenduri sko yang digelar. Kali ini, Depati hanya memberikan pengumuman dan arahan sebagai Ketua Lembaga Adat Desa Rantau Kermas.

Beberapa hal yang beliau sampaikan merupakan hasil bersama keputusan musyawarah dari usulan masyarakat, seperti himbauan untuk tetap menjaga rimba, mematuhi aturan adat dan juga aturan khusus bagi masyarakat selama pandemic Covid 19, seperti keluar dari desa harus benar-benar dipastikan sebagai kepentingan mendesak dan menggunakan protokol Covid 19 seperti penggunaan masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan pada kran bambu hijau yang ada di sudut desa atau rumah-rumah penduduk.

Cerita Covid 19 bukanlah cerita baru bagi masyarakat Serampas. Covid yang mewabah ini adalah bagian dari batuk ‘Selemo’ yang dibawa oleh Kelelawar. Karena itu, terdapat larangan adat untuk keluar rumah saat Kelelawar bermigrasi dari hutan melewati rumah mereka. ‘Itu dulu lah ado mbak, jaman kami kecik dulu, kami ndak boleh keluar rumah’ tutur Mak Cha yang kini telah berusia 37 tahun.

Ketika kenduri sko ini berakhir pukul 09.00 WIB, masyarakat kemudian menyantap hidangan yang telah disediakan, dari hasil bumi yang selama ini mereka tanam. Setiap orang hadir dari usia tua, pemuda, anak-anak, berapapun usianya mendapatkan bagian yang sama: lemang 2 potong, nasi 1 bungkus, ayam 1 potong, yang telah mereka setorkan pada pagi harinya.

Doa, tawa dan senda gurau masyarakat menikmati sntapan khas berbumbu daun ketumbar dan gulai ayam. Meski tanpa musik tari tauh beralun, kenduri sko kali ini sarat dengan makna, larut dalam nuansa kebahagiaan dan kebersamaan, di tengah udara yang sangat dingin dan keheningan malam yang merayap menyelimuti desa.

*) Fasilitator WARSI, (norayyashareef@gmail.com)


Tag : #Merangin



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00