Warning: session_start(): open(/tmp/sess_bs1ata2vc8sbsfolic1j02vp04, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/kajangl1/public_html/template-detial.php on line 2
Nh Dini
Selasa, 04 Agustus 2020


Senin, 06 Juli 2020 14:50 WIB

Nh Dini

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Nama lengkapnya sangat panjang, Nurhayati Srihardini Siti Nukatin, biasa dipanggil Nh Dini. Lahir di Semarang 29 Februari 1936, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Setelah hidup membawanya melanglang buana, Perancis, Jepang, Amerika Serikat, untuk menyebut beberapa negeri yang dia tinggali cukup lama; menjelang akhir hidupnya, nasib ternyata membawanya kembali ke kota kelahirannya, dan meninggal tidak lama setelah mengalami kecelakaan ketika hendak pulang ke Ungaran dari Semarang, 4 Desember 2018, dalam usia 82 tahun. "A full circle of life", sebuah lingkaran hidup seorang anak  manusia yang penuh dan kaya, telah seutuhnya menjadi miliknya. Kepenuhan dan kekayaan hidup Nh Dini, mungkin tidak pernah menjadi rencananya, tapi kemudian dapat dinikmati oleh kita yang masih hidup, melalui buku-bukunya, dalam bentuk novel maupun kumpulan cerita pendeknya, yang mencapai puluhan jumlahnya.



Saya pertama kali mengenalnya, mungkin sekitar akhir tahun 1970an, dari novelnya Pada Sebuah Kapal, kemudian Namaku Hiroko, dan seterusnya. Sebagai orang yang membaca novel karena merasa nikmat saja, bagi saya novel dan cerita-cerita pendeknya, membawa saya seperti bertamasya, tidak saja untuk menikmati suasana dari tempat-tempat yang menjadi seting ceritanya, namun juga suasana hati tokoh-tokohnya. Meskipun telah melanglang jagad tidak nampak keinginan Nh Dini untuk bergaya-gaya dalam teknik penulisannya. Nh Dini seorang pencerita yang pandai menciptakan suasana melalui imajinasi naratif yang dicipta dan dibentuknya. Seringkali di tengah uraiannya yang sangat rinci tentang sebuah tempat dimana si tokoh berada kita tanpa sadar diajak masuk ke dalam suasana hati si tokoh, persoalan yang sedang dihadapinya, ketegangan dan konflik yang sedang berkecamuk di batinnya; namun tentu saja kegembiraan dan sukacita yang sedang merona di dalam kalbunya. Dalam novel Pada Sebuah Kapal yang mungkin merupakan novel terbaiknya, hubungan dua kekasih yang dipertemukan dalam sebuah perjalanan digambarkannya dengan memikat, juga persenggamaan yang dilakukan di antara rasa cinta yang menggelegak namun disertai gelisah dan mungkin rasa bersalah karena keduanya belum menikah, digambarkan oleh Nh Dini dengan halus dan indah.

Oleh beberapa pengamat atau pengagumnya, Nh Dini dianggap sebagai seorang feminis. Saya sendiri  tidak melihatnya seperti itu. Nh Dini yang dibesarkan dalam sebuah keluarga dan lingkungan Jawa di Semarang, kota pelabuhan yang sejak lama merupakan tempat bertemu dan bercampurnya berbagai kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang etnis berbeda, adalah sebuah kota dengan masyarakatnya yang berkebudayaan hibrida. Semarang adalah kota yang didesain untuk menjadi pusat pemukiman kelas menengah Belanda, pusat pengendalian pemerintahan dan perdagangan; dalam sejarahnya telah ikut membawa masyarakat "pribumi" tidak saja memasuki modernitas tetapi juga melahirkan kelompok yang progresif pada zamannya. Kita tahu dari sejarah, Sarekat Islam, Mas Marco, pemogokan buruh, berlangsung di Semarang. Lingkungan sosial kota Semarang yang hybrid telah membentuk Nh Dini, saya kira, menjadi kosmopolitan di dalam dirinya, dan dalam konteks itu sikapnya yang sejak muda egaliter dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dari Wikipedia saya memperoleh informasi bahwa Nh Dini  sejak tahun 1956 bekerja sebagai pramugari Garuda, dan pada tahun 1960 dia menikah dengan seorang diplomat, Yves Coffin, konsul Perancis di Kobe, Jepang. Sejak itu dia ikut suaminya yang ditempatkan sebagai diplomat Perancis di Pnom Penh (Kamboja), Manila (Filipina) dan Detroit (USA). Tahun 1984 secara resmi dia bercerai dengan suaminya dan memutuskan kembali ke tanah air dan menjadi warga negara Indonesia kembali. Pada tahun 2003 Nh Dini mendapatkan penghargaan SEA Award, saat itu dia sudah tinggal di sebuah Panti Wredha di Sleman, Yogyakarta. Buku-bukunya, berupa novel dan kumpulan cerita pendek, di mulai oleh Dua Dunia (1956),  Hati Yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), dan yang terakhir Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018). Buku terakhirnya ini berkisah tentang kediamannya di Wisma Lansia Langen Wredasih, di lereng gunung Ungaran yang sejuk itu rupanya menjadi penggalan akhir dari garis hidupnya. 

Membaca buku-buku Nh Dini, bagi saya, adalah membaca seorang perempuan Indonesia yang menjadikan menulis sebagai kerja panggilan yang dijalani sepanjang hayatnya. Buku-bukunya, meskipun kadangkala menokohkan orang di luar dirinya, namun sebagai sang pencerita Nh Dini sesungguhnya selalu hadir di sana. Dalam novelnya La Barka misalnya, melaui tokoh-tokohnya Monique, Francine dan lain-lain yang bertemu di villa yang bernama La Barka di pinggir pantai Perancis Selatan, dia kisahkan perjalanan lika-liku mereka dengan sangat rinci, tetapi sebagai sang pengkisah, si aku, Nh Dini sendiri pada saat yang berbarengan juga mengkisahkan hidupnya sendiri, terutama hubungannya dengan suaminya yang tampaknya mulai dingin.  Sejauh yang bisa saya tangkap meskipun selalu ada ketegangan Nh Dini tidak menggunakan novel atau cerita-cerita pendeknya sebagai alat pemberontakan, atau sekedar menggugat ketidak adilan. Mungkin itu juga membuat pembaca menyukainya karena tidak ada pesan moral yang terlalu berat menjadi beban.

Dugaan saya, bahwa Nh Dini selalu mendasarkan tulisan-tulisannya dari hal-hal yang dialami atau dirasakannya, terjawab ketika membaca kata pengantar dari kumpulan cerpen pertamanya Dua Dunia (1956) yang dia tulis saat masih SMA, diterbitkan ulang setelah kesekian kalinya, di tahun 2002, di situ Nh Dini menulis:  "Tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup daripada hanya khayalan". Tentu, yang Nh Dini tidak kemukakan adalah kenyataan hidup yang menjadi dasar ceritanya telah mampu diolahnya dengan daya imajinasi seorang pengarang yang luar biasa dengan jam terbang tinggi. Membaca kisah-kisahnya kita dibawa ke dalam suasana dan situasi hubungan-hubungan antar manusia yang sesungguhnya tidak pernah sederhana, meskipun sepintas hubungan-hubungan itu tampak sepele. Daya olah yang tidak mungkin dipunyai tanpa proses pengalaman menulis yang panjang, hampir tanpa jeda, sepanjang masa hidupnya itu, menjadikan tulisan-tulisan Nh Dini bacaan yang renyah,  mencerahkan dan menenangkan. Tema-tema cerita yang dipilihnya bukanlah tema-tema besar dan jauh dari pretensi ingin membawa pembaca memasuki persoalan-persoalan besar dari sejarah negerinya. Pengalamannya hidup dalam dua dunia, menyelam dalam berbagai kebudayaan dan meresapinya menjadi miliknya sendiri membiasakannya melihat perbedaan sebagai sesuatu yang lumrah. Hidup bagi Nh Dini, seperti Orang Jawa bilang, "urip mung mampir ngombe" (hidup cuma mampir untuk minum).

Novel atau cerita pendek memang sebuah cerita rekaan, fiksi bukan fakta, namun di tangan Nh Dini cerita rekaan itu terasa dekat dengan kita sebagai pembaca yang menikmatinya. Kita seolah-olah melihat dan menemukan diri kita dalam tokoh-tokoh yang diceritakan oleh Nh Dini. Ketika beranjak tua, Nh Dini semakin banyak menulis apa yang dia sebut sebagai cerita kenangan, tentang masa kecilnya di Sekayu, tetapi juga tentang hari-hari tuanya setelah sekian tahun tinggal dan kembali ke tanah air, ke kampung halamannya. Berturut-turut kisahnya mengalir dari tempat kediamannya di jalan Lembang di Jakarta, di rumah yang dibeli dan kemudian dijualnya di jalan Beringin di Semarang, di Panti Wredha di Yogyakarta, dan terakhir di Rumah Lansia Langen Werdasih di Ungaran. “Lerep”, sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti mengendap, tenang, diam, sepi; adalah nama sebuah Desa di lereng gunung Ungaran menjadi tempat tinggalnya yang terakhir. “Lerep” seperti telah disiapkan untuk dirinya, sebagai pemberhentian terakhir dari bepergian melanglang buana, dari kerja kepengarangannya, dari menulis yang hampir tanpa jeda.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku, dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Nh Dini



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00