Warning: session_start(): open(/tmp/sess_pgv3p1r2lb8jagn7fs1dl5v3f2, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/kajangl1/public_html/template-detial.php on line 2
Sodalitas dan Keindonesiaan di Masa Pandemi
Selasa, 04 Agustus 2020


Kamis, 02 Juli 2020 16:09 WIB

Sodalitas dan Keindonesiaan di Masa Pandemi

Reporter :
Kategori : Perspektif

Iustrasi.covid-19.. Sumber: beritasatu.com

Oleh: Muhammad Syaiful Rohman*

Istilah sodalitas diperkenalkan oleh Sediono M.P. Tjondronegoro (alm.), guru besar sosiologi pedesaan IPB, guru bagi komunitas agraria di Indonesia yang wafat pada Kamis, 4 Juni 2020 lalu. Istilah ini berasal dari kata Latin Sodalis, kata Inggris Sodality, yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berarti perkumpulan. Sejarah kata tersebut berakar kuat dari teologi Kristen Eropa pada abad ke-16 yang mengandung makna suatu tugas suci yang dilandasi oleh spirit universal.



Dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora, istilah itu digunakan untuk menjelaskan suatu kelompok di luar ikatan kekerabatan yang diorganisasi untuk tujuan tertentu. Makna yang lebih kontekstual telah diberikan oleh Arjun Appadurai, seorang ahli antropologi globalisasi dari Amerika yang berkebangsaan India, untuk menjelaskan dimensi kolektif dari suatu bentuk lokalitas termasuk kelompok-kelompok budaya serta ruang-ruang yang memediasi arus budaya global yang menciptakan kemungkinan aksi sosial translokal melalui peran agensi.

Tjondronegoro menggunakan istilah sodalitas itu untuk menjelaskan jalinan kolektivitas di tingkat lokal dalam struktur sosial, yang pada kenyataannya juga terkait dengan sistem dan struktur pemerintahan paling rendah di Indonesia yaitu desa atau desapraja pada masa sebelumnya. Jalinan kolektivitas itu bukan terletak di Desa, melainkan di dalam Desa, di bawah struktur organisasi pemerintahan Desa. Di beberapa daerah di Jawa, bentuk-bentuk kolektivitas semacam itu masih bisa dikenali melalui ikatan-ikatan longgar di dalam pedukuhan.

Sebelum organisasi-organisasi sosial-budaya di Jawa diseragamkan melalui peran-peran modernisasi, sodalitas masih terasa dalam kelompok yang lebih kecil dari pedukuhan yaitu kelompok selametan. Bentuk yang paling populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang bertahan hingga akhir tahun 1980-an adalah kenduren, yang menjalin hubungan ketetanggan dari sekitar sepuluh atau lebih keluarga dan berfungsi untuk melonggarkan ketegangan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk perbedaan strata sosial-ekonomi masyarakatnya.

Selain karena modernisasi, jalinan kolektivitas semacam itu juga mengendor akibat perubahan struktur organisasi pemerintahan. Perubahan paling besar terjadi ketika konsep desapraja di dalam UU 19/1965 diubah menjadi konsep Desa pada UU 5/1979. Perubahan ini mengubah konsep otonom Desa menjadi tergantung secara administratif, yang pada akhirnya juga mengakibatkan ketergantungan pada banyak aspek kehidupan. Walaupun sekarang sudah ada UU 6/2014, namun Desa tidak dibentuk sebagai unit pemerintahan otonom sebagaimana desapraja sehingga tidak memungkinkan sodalitas tumbuh lagi.

Pandemi

Di tengah pandemi COVID-19 menyebar dengan sangat cepat ke seluruh dunia, mengguncang perekonomian negara-negara serta mengancam sumber-sumber mata pencaharian penduduk hingga memaksa penduduk perkotaan melakukan eksodus secara besar-besaran ke daerah perdesaan, makna sodalitas itu terasa ditemukan kembali. Paling tidak, hal itu terasa menguat dalam jalinan solidaritas sosial perdesaan, dimana penerimaan masyarakat perdesaan terhadap penduduk perkotaan yang melakukan eksodus secara besar-besaran begitu tinggi dan bahkan bersedia membantu membangun jalinan solidaritas sosial Desa-kota.

Menggeliatnya sodalitas sosial di kalangan masyarakat di saat pandemi sekarang ini telah membuka kembali kemungkinan pertanyaan penting tentang kondisi normalitas sebelumnya yang sudah terlanjur dianggap mapan seperti sistem ekonomi pasar, ketahanan pangan dan pembangunan Desa. Di tingkat Desa, pertanyaan itu bisa dibuka kembali untuk melihat secara reflektif pendekatan pembangunan perdesaan yang lebih mengedepankan fungsi modalitas yang diatur melalui sistem pemerintahan Desa daripada semangat sodalitas yang berakar kuat dalam tradisi budaya masyarakat hampir di seluruh Indonesia.

Desa-desa sebagaimana yang diatur di dalam UU 6/2014 selama ini tampak masih tergantung secara administratif dan kurang memiliki daya otonomi terutama di saat pandemi yang mengakibatkan krisis multi-dimensi yaitu krisis kesehatan masyarakat dan ekonomi sekarang ini. Berbanding terbalik dengan sodalitas masyarakatnya yang justru menggeliat secara organik, memperlihatkan keswadayaan dan bergerak luwes secara otonom. Hal itu antara lain terlihat pada semangat “jaga desa”, “berdayakan pekarangan”, “bantu kelompok rentan”, bahkan “rakyat bantu rakyat” dalam skala multi-regional yang melintasi Desa-kota seperti pada maraknya “petani bantu buruh pabrik” dan sebagainya.

Menggeliatnya sodalitas di kalangan warga masyarakat secara luas tanpa batas di saat pandemi itu di sisi lain juga memperlihatkan semangat gotong-royong serta rasa persaudaraan yang tinggi yang masih tertanam kuat di dalam jiwa dan budaya mereka. Jiwa serta budaya ini sangat mendasar apabila direfleksikan ke dalam bangunan keindonesiaan kita sekarang ini, di saat Indonesia dilanda krisis yang sangat hebat tetapi justru semangat keindonesiaan itu masih hidup dan memperlihatkan kekuatannya. Jiwa, budaya dan semangat keindonesiaan semacam ini yang sejak lama telah dicari-cari oleh banyak kalangan.

Di luar Desa memang masih terlihat sodalitas itu di kalangan Nahdliyin, misalnya melalui pemeliharaan tiga pilar yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniah (persaudaraan sebangsa) dan ukhuwah basyariah (persaudaraan umat manusia). Tetapi Desa-desa dimana pondok-pondok pesantren tradisional itu didirikan agar menyatu dengan masyarakatnya telah mengalami perubahan justru oleh fungsi modalitas pemerintahan desa yang tergantung secara administratif.

Momentum

Pandemi yang nyaris menghentikan ambisi pembangunan sekarang ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, yang berakibat pada krisis multi-dimensi yang perlu penataan kembali; dan kedua, yang menciptakan momentum untuk menemukan kembali keindonesiaan kita dalam proses penataan kembali itu. Indonesia yang dibayangkan oleh para pendiri bangsa kita dibangun di atas intisari peradaban yang tertuang dalam jiwa, budaya dan semangat kegotong-royongan dan rasa persaudaraan sebagaimana yang termaktub di dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Walaupun mengambil momentum keindonesiaan itu di saat krisis sekarang ini akan membawa pada pemutarbalikan paradigma pembangunan, namun hal itu akan meletakkan kembali fondasi pembangunan yang kokoh di era globalisasi. Secara tidak sadar, fondasi ini yang sesungguhnya sedang dicari oleh banyak kalangan, dirindukan sejak era Orba selama lebih dari setengah abad terakhir. Fondasi pembangunan keindonesiaan yang berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang senantiasa meredam kekuatan ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial serta wacana anti-kebhinekaan.

Rasa keindonesiaan dalam fondasi itu seperti tidak ada dalam benak kebanyakan orang Indonesia sekarang, tidak juga dalam sistem ekonomi, sosial, politik dan budayanya. Ia seperti menguap, tidak menjadi fondasi kehidupan keseharian secara luas. Orang bisa saja bilang ini zaman baru modern yang serba global yang rasa seperti itu menjadi kabur, tetapi justru di situlah letak pertanyaannya, dimanakah identitas keindonesiaan itu di tengah perubahan zaman sekarang ini?

Kita mungkin masih bisa melihat solidaritas sosial yang menguat di sebagian negara-negara Asia disaat krisis sekarang ini tetapi hampir mustahil melihat hal itu di negara-negara Barat yang begitu mekanis. Tetapi di Indonesia jauh di dalam jiwa, budaya dan semangat rakyatnya, solidaritas sosial itu bukan hanya mewujud dalam geliat gotong-royong dan rasa persaudaraan yang luas namun juga menciptakan momentum untuk menemukan kembali keindonesiaan kita.

*Koordinator PASaL (Partnership for Agriculture and Sustainable Livelihoods).


Tag : #Perspektif #Pandemi #Covid-19 #kesehatan masyarakat



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00