Warning: session_start(): open(/tmp/sess_ovr58a5quqb9dtn6h2f2v8jom0, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/kajangl1/public_html/template-detial.php on line 2
Markas VOC yang Pertama di Jambi (4)
Senin, 03 Agustus 2020


Minggu, 28 Juni 2020 05:37 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (4)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Untuk Belanda (khususnya, Sterck), situasi di Jambi menjadi semakin parah. Itu terjadi ketika Inggris menjelek-jelekkan Belanda dan memanas-manasi orang-orang Cina di jongkong Simsuan, pedagang Cina (dari Banten) yang dulu menceritakan tentang adanya lada di Jambi kepada Sterck. Oleh ulah Inggris, usaha berdagang Belanda/Sterck menjadi terancam.



Rupanya, setelah berlayar mengantarkan Sterck ke Jambi, kapal milik Simsuan itu tetap saja berlabuh di sungai. Simsuan sudah menyiapkan berbagai barang yang dimaksudkan untuk dipertukarkan dengan lada. Akan tetapi, sesampai di Jambi, anak buah Simsuan di kapal itu bukannya membeli lada. Mereka malahan berfoya-foya, membeli perempuan, berjudi dan minum-minum. Saking asyiknya mereka berpesta-pora, mereka tak terpikir lagi untuk kembali ke Banten. Ketika Soury tiba di Jambi, mereka masih juga di sana!

Kapal Halve Maen yang ditumpangi oleh Soury tidak berhasil masuk sampai ke Jambi dan terpaksa membuang sauh di Koeala Nioer. Setelah membeli lada, Soury meminta bantuan awak kapal Simsuan untuk mengangkut lada itu ke kapal Halve Maen. Awak kapal itu enggan melakukannya, namun akhirnya mereka bersedia membantunya dengan syarat bahwa kapal Belanda itu berlayar mendekat ke kota Jambi. Apa pun yang dikatakan dan dilakukan Soury tidak berhasil membuat orang-orang itu mengubah pikiran. Ia terpaksa memerintahkan kapten kapal Halve Maen mendekat ke Jambi.

Walau jarak di antara Koela Nioer dan Jambi tidak seberapa jauh, namun perjalanan itu sulit dan berbahaya karena sungai mengalir deras dan arusnya kencang. Satu-satunya jalan untuk menggerakkan kapal besar itu adalah dengan menariknya ke hulu, ke arah Jambi. Beberapa awak kapal turun ke darat. Dari atas kapal, sebuah tambang dilemparkan di darat. Awak kapal di darat membawa tambang tadi beberapa ratus meter ke hulu dan kemudian mengikatnya ke sebatang pohon. Di atas kapal, tambang tadi tetap terikat di porosnya. Setelah tambang di darat diikatkan, poros di kapal di putar sehingga tambang itu kembali tergulung kembali dan kapal itu bergerak maju. Sedikit demi sedikit, sesenti, semeter demi semeter. Sesampai di pohon tempat ujung tambang terikat, awak di darat melepasnya kembali membawanya lagi beberapa ratus meter ke hulu. Lalu, mulailah lagi proses menggulung tambang dan mengerakkan kapal.

Menggerakkan sebuah kapal besar melawan arus seperti itu tentu saja memakan waktu banyak. Ketika Soury menceritakan hal itu kepada beberapa orang Inggris yang ditemuinya di Jambi, mereka tertawa pahit karena juga pernah mengalaminya. Kata mereka, dalam waktu yang dihabiskan untuk menggerek sebuah kapal besar ke Jambi, mereka dapat berlayar ke Eropa! Tambahan lagi, metode ini tidak hanya membuang-buang waktu, tetapi juga berbahaya. Bila tambang yang terikat di darat terlepas atau bila pohon tempat tambang itu diikatkan tumbang, maka kemungkinan besar kapal yang ditambang terbawa arus menghantam tepian sungai. Ini pun pernah dialami oleh sebuah kapal Inggris.

Soury tidak berhasil mendapatkan bantuan tenaga untuk menambang kapal dari Sultan. Terpaksa ia menyewa beberapa orang kuli Cina untuk membantu kapten kapalnya. Setelah memeras tenaga dan keringat selama 22 hari, kapal Halve Maen baru berhasil maju setengah perjalanan saja, sampai di dekat tempat berlabuh kapal The Attendant milik Inggris. Bagian sungai yang paling sulit sudah dilewati. Karena itu Soury memutuskan untuk mengangkut lada ke kapalnya dengan jongkong Simsuan. Dengan jalan paksa, bila perlu. Ternyata, jalan paksa itulah yang harus ditempuhnya karena awak kapal Simsuan (tentu saja) ribut menolak menyerahkan kapal mereka kepada Soury. Tak ada jalan lain. Soury mendatangkan kapten kapal Halve Maen, beberapa orang kelasi dan senjata mereka ke Jambi untuk menurunkan orang-orang Cina di atas jongkong Simsuan. Aksi ini membuat ribut awak kapal Simsuan. Dihasut oleh Inggris, sambil berteriak-teriak, mereka mengadu kepada Sultan bahwa jongkong itu milik mereka. Akan tetapi, Soury berhasil meyakinkan Sultan bahwa jongkong itu sebetulnya milik Simsuan dan dipinjamkan kepada Belanda. Untunglah, Sultan mempercayai keterangannya dan awak kapal di jongkong itu pun akhirnya mengalah. Dalam surat yang dikirimnya ke Banten, Soury menyampaikan bahwa selain ladanya berhasil dipindahkan ke kapal Halve Maen, Simsuan pun akan mendapatkan kembali kapalnya. Tanpa lada tentunya karena barang-barang penukar lada sudah dihabiskan berfoya-foya.

Lalu bagaimana dengan Sterck, orang Belanda pertama yang datang ke Jambi? Ketika Soury sibuk mengatur pengangkutan lada yang dibelinya, ke mana Sterck? Lelaki itu masih di Jambi. Soury dan Streck bertemu. Pertemuan itu membuat Soury, yang sudah dipusingkan dengan urusan lada dan jongkong Simsuan, semakin kesal. Masalahnya, pembukuan dan administrasi Sterck kacau. Ia hampir tidak membuat catatan apa pun. Yang tercatat pun tidak jelas ujung-pangkalnya. Ia memberi uang muka untuk sesuatu, tetapi tidak mencatat apa yang dibelinya dan siapa yang menerima uang muka tadi. Soury memutuskan untuk memulangkannya saja ke Banten. Ketika Soury mempertanyakan soal uang muka tadi, Sterck marah dan mulai memaki-makinya. Orang Inggris yang menyaksikan keributan itu memanas-manasi Sterck. Akhirnya Soury menyelesaikan pertikaian itu dengan mencabut status Sterck sebagai Pedagang Kepala. Ia lalu mengangkat dirinya sendiri untuk jabatan itu.

Siapa sebenarnya Sterck yang mendapat kepercayaan JP Coen untuk membuka hubungan dagang dengan Jambi? Tak banyak yang diketahui mengenai dirinya. Pada tahun 1613, ia berangkat ke Hindia sebagai Pedagang Kepala untuk armada yang dipimpin oleh seseorang bernama Jasper van Surck. Pada tahun 1615, ia bertugas sebagai Pedagang Kepala di Makassar sampai Spanyol datang dengan armada besar. Tampaknya satu-satunya jasa yang diberikannya untuk VOC adalah menyelamatkan barang-barang milik maskapai perdagangan itu ketika Spanyol menyerang.

Sterck adalah seorang pemabuk. Begitu tulis Soury di dalam surat yang dibawa oleh kapal Halve Maen kembali ke Banten. Sterck pun kembali ke Banten naik kapal itu. Di Banten, Coen tak berhasil berbicara dengan Sterck karena: ia ‘sakit’, tak mau keluar dari kamarnya dan demam. Sterck tinggal 7 bulan di Banten, tanpa melakukan apa-apa. Ia mengaku sakit dan tak kunjung sembuh juga. Ia tetap mengurung diri di kamar, tak mau makan atau pun minum, dan tak ingin bertemu dengan siapa pun. Ia galau, kata orang. Tentu saja, orang seperti itu tak bermanfaat bagi VOC.

Pada tanggal 16 September 1616, Sterck dipulangkan ke negeri Belanda. Ia masih diperbolehkan mempertahankan jabatan dan gajinya sebagai Pedagang Pembantu (ƒ50,- per bulan). Tamatlah cerita Sterck di Hindia-Belanda.

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan (ed), Abraham Sterck and Andries Sourij. “Onze Eerste Vestiging in Djambi. Naar Oorspronkelijke Stukken,” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Deel 82 (1926), pp. 339-383.


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #VOC di Jambi #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00