Jumat, 07 Agustus 2020


Sabtu, 20 Juni 2020 06:06 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (3)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di musim hujan, mulai dari September sampai Februari, sudah hampir dapat dipastikan bahwa kapal sebesar de Halve Maen tak dapat melayari sungai sampai ke ibukota Djambi. Hal itu hanya dapat dilakukan di bulan Mei sampai Juli atau pertengahan Agustus. Pada waktu itu, air sungai pasang sampai di dekat Djambi dan kapal-kapal hanya memerlukan 8 hari saja untuk berlayar dari muara. Karena itu, Soury dan kapten kapal memutuskan untuk membiarkan kapal berlabuh di tempatnya dan mereka meneruskan perjalanan mendayung perahu yang disewa di dusun di dekat muara. Tak disebutkan apa nama dusun itu.



Sebelum memulai perjalanan itu, mereka sempat bertemu dengan sebuah kapal Portugis yang baru meninggalkan Jambi. Kapal itu penuh dengan lada. Sesuai dengan kebiasaan pada waktu itu, Soury sudah siap memerintahkan kapten untuk menyerang kapal Portugis itu. Namun, niatnya dibatalkannya setelah mendengar peringatan seorang kepala dusun. Sultan Djambi melarang siapa pun mengganggu kapal atau orang Portugis di Sungai Djambi. Walaupun kepala dusun itu tidak dapat menunjukkan larangan Sultan hitam di atas putih, Soury memutuskan untuk mematuhi kata-kata kepala dusun itu dan membiarkan kapal Portugis tadi berlalu.

Perjalanannya ke Djambi dengan perahu memakan waktu enam hari. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan sebuah kapal Inggris (kemungkinan kapal Attendant yang tak sanggup melawan arus dan kembali ke muara). Akhirnya, ia tiba di Djambi. Yang pertama-tama dilakukannya adalah memeriksa apakah masih ada kapal Portugis yang harus dibiarkannya. Kedatangannya di Djambi disambut dingin-dingin saja. Di matanya, Sultan tidak terlalu dipandang oleh rakyatnya dan tidak (tampak) berkuasa. Walaupun menyadari bahwa orang Portugis berhasil kabur membawa lada, ia memutuskan untuk  diam saja (catatan FA: perlu diingat di sini bahwa kesepakatan apa yang ada di antara Sultan dan Portugis tidak diketahui oleh Belanda).

Walaupun Sterck hanya tinggal selama dua bulan saja di Djambi, dalam waktu waktu singkat itu, ia berhasil mengacaukan situasi. Sebagai contoh, masalah keberadaan orang Inggris di Djambi. Belanda sudah melakukan segala macam usaha untuk menghalangi masuknya orang Inggris. Belanda sudah menulis surat kepada Sultan Djohor dan mengajak/memohon kepadanya agar mempengaruhi sultan di Djambi untuk menolak kedatangan Inggris. Di dalam surat itu, Belanda membeberkan betapa licik dan betapa jahatnya orang Inggris. Namun, apa yang terjadi? Ternyata, ketika Soury tiba di Djambi, ia menyaksikan bahwa orang Inggris tidak hanya telah berhasil memperoleh sebidang tanah untuk membangun markas (loge), mereka juga diperbolehkan melakukan apa saja yang dilakukan oleh Belanda. Mengapa bisa begitu? Menurut Wellan, hal itu disebabkan oleh ulah Sterck yang bergaul sebagai ‘mitra’ dengan orang Inggris dan oleh prilakunya yang a-politis, ia telah membuat para pembesar Djambi kesal dengan Belanda.

Apa yang terjadi sebetulnya? Rupanya Sterck membuat kesal pembesar Djambi karena telaj berjanji akan menjualkan kain milik seseorang. (Di dalam tulisan-tulisan Belanda, orang ini disebut ‘Quechille Japon’ ; orang Inggris menyebutnya ‘Cay Chilly’ atau ‘China slave’. Di dalam tulisannya, Wellan menggunakan istilah ‘Orangkaya’). Lelaki itu, si Orangkaya sebelumnya berteman—berhubungan baik—dengan Belanda, namun di kemudian hari, ia berhubungan lebih dekat dengan Inggris dan berusaha menghalang-halangi kegiatan Belanda. Orangkaya itulah, menurut Wellan, yang mempengaruhi Sultan Djambi sehingga sultan menyamaratakan Inggris dan Belanda. Dalam laporannya, Soury menambahkan bahwa sesuatu tindakan yang dianggap sederhana seringkali membawa akibat negatif yang tak terduga di kemudian hari. Menurut Soury, cenderamata atau hadiah yang dibawa Inggris, yaitu alat untuk mengemudikan kapal/perahu, sangat disukai oleh orang Djambi.

Orang Inggris sadar betul bahwa pesaing mereka yang utama adalah orang Belanda. Banyak surat dan laporan mereka menceritakan hal itu. Misalnya saja, seseorang bernama Sainsbury menulis dalam laporan perjalanannya tertanggal 11 September sampai 25 Oktober 1615: “Audiensi dengan Sultan. Memberikan cenderamata untuknya. Ia (Sultan) memberikan hak kepada Inggris untuk bergerak bebas, namun menolak memberikan tanah untuk membangun rumah karena telah mendengar tentang kejahatan orang Inggris dari orang Belanda dan Portugis.” Lalu, ditambahkannya lagi: “Orang Inggris dipandang sebagai bangsa yang kasar dan tidak tahu aturan, terbiasa mabuk dan berlaku keras terhadap perempuan, berkelahi, bercekcok dan sejenisnya. Diduga bahwa orang Belandalah yang menyebarkan cerita-cerita itu.” Kata-kata Belanda itu terbukti kebenarannya (di mata orang Djambi) dari laporan berikut: “Orang mengeluhkan prilaku Robert Burguess, yang mengejar-ngejar perempuan Jawa ketika sedang mabuk; ia berkelahi dengan orang Cina dan membuat huru-hara di atas kapal. Semua itu membuat orang di kota (Djambi) terheran-heran.”

Walaupun demikian, nyatanya Sultan Djambi tidak terlalu menggubris cerita-cerita jelek tentang Inggris itu. Ia tetap suka menerima hadiah-hadiah yang dibawakan Inggris untuknya dan akhirnya, memberikan izin kepada Inggris untuk beroperasi di Djambi. Inggris kemudian tidak tinggal diam. Mereka pun berusaha dengan segala cara untuk menjatuhkan nama dan menghalang-halangi usaha Belanda. Inggris pun menyebarkan cerita-cerita jelek mengenai Belanda.

Kepada Sultan Djambi, mereka mengatakan bahwa Belanda datang dengan tujuan untuk merampas (dengan kekerasan) tanah milik para kepala adat. Orang Belanda bukanlah bangsa baik-baik seperti yang ditampilkan dan mereka merupakan bangsa kasar tanpa raja dan sebagainya. Yang terakhir itu rupanya menyengat harga diri Belanda. Ketika Soury mendengar cerita-cerita itu, ia bertanya kepada Sultan Djambi: “Bukankah banyaknya dan kuatnya armada kapal di Hindia tidak membuktikan keberadaan dan kekuasaan seorang raja? Dan, siapa sebetulnya yang dikenal dengan istilah  ‘Radja Laut’? Orang Inggris atau orang Belanda?

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan (ed), Abraham Sterck and Andries Sourij. “Onze Eerste Vestiging in Djambi. Naar Oorspronkelijke Stukken,” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Deel 82 (1926), pp. 339-383.

*Keterangan foto: Kediaman Sultan Jambi di Dusun Tengah (sekarang di desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi),kabupaten Batanghari pada tahun 1877-1879. Sumber foto: Tropenmuseum.


Tag : #Telusur #VOC di Jambi #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 07 Agustus 2020 11:37 WIB

Al Haris Resmikan Wisata Edukasi Benuang


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin Al Haris, meresmikan wisata Edukasi Benuang, Jumat (7/8/20). Peresmian ini dilakukan usai Gerakan Pendidikan

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:39 WIB

PJ Sekda Lantik 35 Pejabat Fungsional Lingkup Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Jambi H Sudirman SH MH, melantik 35 orang pejabat fungsional dalam lingkup Pemerintah

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:33 WIB

Rapat Evaluasi Penandatanganan Covid-19, PJ Sekda: Tekan Penambahan Kasus


Kajanglako.com, Jambi – Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jambi menggelar Rapat Evaluasi Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:20 WIB

Kelurahan Pasar Sarolangun Gelar Pelatihan Relawan Siaga Bencana Tahun 2020


Kajanglako.com, Sarolangun - Pemerintah Kelurahan Pasar Sarolangun Kabupaten Sarolangun menggelar Pelatihan Pembinaan Kelembagaan Kemasyarakatan Relawan

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:15 WIB

30 Paskibraka Batanghari Dipastikan Gagal Tampil


Kajanglako.com, Batanghari - Sebanyak 30 siswa-siswi SMA terpilih yang telah mengikuti rangkaian seleksi untuk menjadi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka