Senin, 03 Agustus 2020


Sabtu, 20 Juni 2020 04:47 WIB

Selebrasi Penutupan McD di Tengah Normal Baru

Reporter :
Kategori : Perspektif

MCD-Sarinah. Sumber foto: Tribunnews.com/Twitter/ @Madann_dan @Sonyadeputra01

Oleh: A. Windarto *

Masih ingatkah dengan peristiwa selebrasi penutupan gerai McD di pusat perbelanjaan Sarinah saat Jakarta tengah diberlakukan PSBB? Tentu, selain karena telah menciptakan kehebohan di jagat medsos, peristiwa itu telah memberi pelajaran penting.



Pertama, bahwa massa atau kerumunan bukan hadir secara tiba-tiba alias jatuh dari langit, melainkan lantaran diciptakan. Itu artinya, hal itu merupakan bagian dari rekayasa sosial yang dihasilkan oleh kalangan terdidik dan terpelajar. Dalam kajian budaya yang pernah dilakukan oleh James T. Siegel, rekayasa itu adalah kerja intelektual dari kalangan yang kerap disebut sebagai kelas menengah. Itulah mengapa massa seolah-olah menjadi ibarat "bungker" bagi pihak-pihak yang sesungguhnya takut akan dituduh dengan berbagai prasangka. Dalam konteks penutupan McD Sarinah, prasangka sebagai konsumen dari komoditi global dapat tertutupi atau disembunyikan di balik identitas tanpa wajah.

Kedua, hal dan masalah di atas mirip dengan apa yang oleh Gunawan Mohamad pernah kaji dengan jeli dan cerdas, yaitu tentang selebritas (Tempo, 10/2/2013). Pada tataran ini, hal itu boleh dibilang sebagai akibat dari pengaruh media komunikasi massal modern, khususnya dalam industri film dan teknologi fotografi. Persisnya, selebritas diciptakan pada pertengahan abad ke-20 dan telah menghadirkan apa yang disebut sebagai para penonton, pendengar dan pembaca. Mereka adalah massa yang sehari-hari tak pernah berjumpa, saling kenal, apalagi bertegur sapa, terutama dengan para aktor/aktris yang menjadi tokoh-tokoh penting di media massa. Maka masuk akal jika sebagai orang kebanyakan, wajahnya tak punya riwayat. Karena itulah, mereka praktis ada dalam penjara budaya massa yang membuat segalanya, termasuk penutupan gerai McD, layak untuk dirayakan.

Ketiga, perayaan yang di mata sebagian besar konsumen dianggap menentukan itu sesungguhnya lantaran ada yang merekayasanya secara kultural. Khususnya melalui "tangan-tangan tak kelihatan" ("the inivisible hands") dari para pekerja media massa, apa/siapa pun dapat menjadi tontonan, pajangan atau pameran yang berdaya pukau sedemikian menggairahkan, meski sudah tampak koyak dan boyak (hambar). Jadi, gairah terhadap komoditi yang membuat orang mudah larut dalam kekaguman dan siap menanggung segala risikonya itulah yang mendorong dan membentuk massa di sekitar gerai McD. Namun, kajian Benedict Anderson (1991/2001) tentang "komunitas-komunitas terbayang" ("Imagined communities") memperlihatkan ironi yang sedemikian tajam, signifikan dan relevan dari budaya massa. Sebab di sanalah sesungguhnya segalanya siap untuk dikorbankan, termasuk melepas apa yang menjadi miliknya sendiri.

Dari ketiga pelajaran di atas, tampak bahwa peristiwa selebrasi di atas dimungkinkan terjadi bukan oleh rasa kehilangan akibat penutupan itu. Namun, terlebih karena McD sebagai arena selebrasi telah disingkirkan dari hadapan massa yang pada dasarnya gemar untuk berkerumun. Penyingkiran itu membuat mereka seperti kehilangan patron. Meski pada patron itu yang terlihat sebenarnya hanyalah "diri" yang tanpa aura, tanpa gelora, bahkan tanpa subjek, tapi di sanalah massa justru mendapatkan saat dan tempat yang tepat untuk selalu dapat berakrobat seperti dalam atraksi tong setan yang berputar-putar dari bawah ke atas dan begitu terus selamanya. Membosankan memang. Namun, di situlah kebanyakan orang sudah merasa terhibur asal dikerjakan dengan tekun dan rapi tanpa perlu mengumbar banyak kata. Maka tak heran jika dalam selebrasi pada intinya tak ada rasa kehilangan, apalagi duka dan ratapan. Karena segalanya telah direkayasa untuk dijadikan perayaan akan bertahannya budaya massa yang seakan-akan abadi sepanjang segala masa. Budaya yang selalu mampu beradaptasi dalam dunia industri dan tidak akan mudah punah ini telah menjadi "selendang" bagi massanya. Dengan cara itulah, massa tetap punya alat atau media untuk menggendong segala yang sudah hilang hingga mereka dapat menemukan aktor/aktris baru yang dapat ditampilkan. Dan penampilan yang mampu membuat orang banyak terpukau adalah instrumen yang paling menentukan secara teknis. Karena mereka hanya perlu dituntun dan, jika perlu, dituntut dengan konstruksi "diri" dari arena selebrasi.

Maka bukan kebetulan jika sosok seperti Anya Dwinov yang hampir terjebak dalam kerumuman selebrasi itu menjadi layak untuk diberitakan di media massa (Kompas.com, 11/5/2020). Bukan karena dirinya telah populer sebagai pembawa acara, namun lantaran selebritasnya lebih "bernilai" di hadapan kamera, alat perekam suara, atau catatan seorang jurnalis. Nilai itulah yang saat ini menjadi ukuran di mana-mana meski mudah usang dan dibuang kapanpun dan di manapun. Hal itu senada dengan yang pernah diujarkan oleh Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri AS yang pintar dan tersohor bahwa menjadi selebritas adalah sesuatu yang menyenangkan. Sebab ketika menjadi selebritas, semakin membosankan justru semakin layak untuk dikenang dan diabadikan. Jadi, kerumunan yang bikin resah dan gelisah sesungguhnya hanyalah rekayasa yang juga kerap ditampilkan di depan media massa. Dengan kata lain, mereka adalah arena selebrasi yang di masa lalu digemari juga oleh Hitler dan Mussolini. Dua tokoh historis yang mampu menggemparkan dunia karena ramai-ramai telah diubah untuk menjadi pemimpin yang estetis secara politik. Singkatnya, pemimpin yang mampu membuat khalayak sedemikian terpukau lantaran "sang juara, sang bintang dan sang diktator" justru jadi pemenangnya.

Alih-alih di tengah normal baru, pelajaran dari selebrasi di atas semoga dapat membuka mata dan telinga siapapun, termasuk para pemimpin di masa kini, agar dapat lebih peka dan tajam menangkap dan menyuarakan kepentingan hidup ber(se)sama. Kepentingan yang bukan sekadar demi mengamankan aset-aset produksi dan/atau industri, tetapi juga keselamatan rakyat yang selama ini nasibnya kerap terbuang dari pikiran.

*Peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta


Tag : #Perspektif #Normal Baru #Kerumunan #MCD #Sarinah



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00