Warning: session_start(): open(/tmp/sess_pjepausphvmqb10e7vj9jue6a3, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/kajangl1/public_html/template-detial.php on line 2
Membaca Ulang Percandian Muarajambi dari Sudut Pandang Masyarakat Lokal
Selasa, 04 Agustus 2020


Rabu, 17 Juni 2020 12:11 WIB

Membaca Ulang Percandian Muarajambi dari Sudut Pandang Masyarakat Lokal

Reporter :
Kategori : Perspektif

Kunjungan Wisatawan ke Candi Muarojambi. Sumber foto: A. Musawira

Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali*

Veritas est adaequatio rei et intellectus”, artinya kebenaran adalah bersesuaiannya akal dan kenyataan. Pandangan demikian oleh Thomas Aquinas dikemukakan tujuh ratus tahun yang lalu, tetapi keaktualan-nya hari ini seakan meruntuhkan tembok para sarjana pro-anti kritik yang dibangun abad demi abad. Sejatinya, antara pengetahuan dengan kenyataan tidak selamanya selalu beriringan. Ada kalanya muncul perubahan, baik pengetahuan sebagaimana sifat dinamisnya, maupun perubahan pada realitas-kenyataan yang sifatnya sangat fenomenologis. Maka, tak pula heran bila para filusuf menertawakan pandangan “eternity of knowledge”. Akan tiba masanya, kerelaan membuka pikiran dan menerima masukan, saat pandangan baru muncul menggantikan yang lama. Siapa sangka, bila berjabat tangan sebagai suatu anjuran tata krama dalam budaya kita, justru sekarang menjadi hal yang tidak dianjurkan. Begitu juga bermunculan buku-buku sejarah yang memuat fakta bahwa Indonesia tidak dijajah Belanda selama 350 tahun. Seraya kemunculan paradigma baru total history, yang dikatakan Thomas Aquinas tadi itu mengantarkan kita pada satu pertanyaan, akankah kita beranjak atau sengaja memilih terjebak dalam rumah kaca?



Seandainya Thomas Aquinas bertamasya ke Percandian Muarajambi, tentu meraka akan terpesona atas diskursus dan wacana dahsyat yang pernah lahir dari ruang-ruang abadi yang polos dan presisi itu. Sayangnya, hanya T. Adams yang, di tahun 1921 berkunjung dan menarasikannya dalam laporan bertajuk “Oudheidkundig Verslag” dimana ia memandang Percandian Muarajambi sebagai reruntuhan sisa peradaban masa purba. Empat belas tahun kemudian narasi itu patah lalu tumbuh dengan pemahaman baru oleh  F.M Schintger (1935), yakni sebagai tinggalan Hindu, sebagaimana hasil penelitiannya yang bertajuk “Hindoe-Oudheden aan de Batang Hari”. Pemahaman ini rupanya tak juga abadi, kemudian patah oleh temuan arkeologi yang semakin berkembang selaku data penguat dengan disertai argumen, bahwa Muarajambi berlatar belakang ajaran Budha. Musim duku pun terus berganti, tepat di tahun 2009, dalam dokumen pengajuan Candi Muarajambi sebagai warisan dunia, poin (iii) Out Standing Universal Value atau nilai penting yang diusulkan, percandian Muarajambi dinarasikan sebagai bukti atas peradaban kerajaan Melayu Kuno abad ke-7 sampai 13 M. Lagi, Thomas Aquinas tersenyum, tak ada narasi abadi, sebab akan terus muncul narasi baru sesuai perkembangan data dan fenemona yang ada. Demikian pula dalam arah pengembangan dan pemanfaatannya, pada tahun 1978 merujuk pada laporan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi, Candi Muarajambi telah ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara, bahkan mencapai sejumlah 410 orang. Bahkan di tahun 2017 tembus mencapai 61393 orang. Data ini merujuk kepada artikel di Jurnal Titian Vol. 1, 2017, yang ditulis oleh Sadzali berjudul “Kajian Kepuasan Pengunjung Obyek Wisata Warisan Budaya Kawasan Percandian Candi Muarajambi Sebagai CBN dan Kandidat Warisan Dunia”. Melalui metode kuesioner kepada pengunjung, disimpulkan bahwa kepuasan pengunjung atas sarana prasarana serta pengelolaannya dikategorikan belum memadai, dan tidak sesuai ekspektasi. Penelitian terkait lainnya oleh Fisrsty dalam Jurnal Destinasi Pariwisata Vol. 7 No. 1, 2019, “Strategi Pengembangan Wisata Muarajambi Sebagai Wisata Religi” mengungkap hal serupa, bahwa pengunjung yang melakukan wisata religi merasa kurang puas atas sarana prasarana, namun sebaliknya sangat terkesan dengan keramahan masyarakat lokal Desa Muarajambi.

Kedua hasil penelitian memperlihatkan satu fenomena, bahwa pengunjung kurang puas dengan sarana prasarana, serta model penyajiannya masih dianggap belum sesuai ekspektasi. Selain itu, rupanya kedudukan masyarakat lokal dianggap menjadi unsur penting di mata pengunjung, baik dalam hal pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan percandian Muarajambi. Kedudukannya bukan sekedar sekumpulan orang yang bermukim dan mencari rezeki di sekitar objek cagar budaya, namun sejatinya adalah perisai utama pelestarian, juga pemeran utama pemanfaatan, dan orang pertama yang seharusnya merasakan manfaat. Lingkup manfaat dimaksud bukan sebatas keuntungan perorangan, tapi mengena secara keseluruhan, tidak juga sebatas ekonomi, namun dalam wujud lain, seperti pengembangan pengetahuan, kebanggan, identitas, serta merasa memiliki warisan penting yang akan  terus diwariskan ke generasi selanjutnya.

Saya teringat penggalan lirik lagu Melayu berjudul lancang kuning, “kalau nakhoda kuranglah paham, alamatlah kapal akan tenggelam”, maka bertanya dan berkomunikasi secara intens dengan pihak terkait yang memahami situasi dengan baik, dan ahli dalam bidang itu, salah satu di antaranya masyarakat lokal, adalah menjadi hal mutlak demi kebaikan pelestarian Candi Muarajambi dan komponen lingkungan sekitar. Persoalan pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan kawasan bukanlah ajang uji coba teori, apalagi sifatnya mengedepankan ego-sentris pandangan subjektif. Bila merujuk dari dua hasil penelitian respon pengunjung, maka menajemen sumber daya cagar budaya sekaligus model pengelolaan dan pemanfaatan yang berlangsung saat ini perlu dievaluasi dan dikaji ulang. Bila sekiranya tidak, dan tetap berjalan apa adanya, maka cita-cita gemilang serta segala daya-upaya menjadikan percandian Muarajambi sebagai warisan dunia hanya akan sampai sebatas cita-cita, seperti tersebut dalam seloko, “Arang abis besi binasa”.

Pengelolaan Cagar Budaya

Bermodalkan jejaring media sosial facebook, penulis mencoba bertanya kepada tiga komponen yang banyak berkecimpung di percandian Muarajambi, yaitu tokoh pemuda, perwakilan komunitas pelestari, dan yang mewakili generasi milenial. Dari ketiganya, terhimpun tiga pandangan mendasar, juga sebagai akar dari segala realitas yang bermuara pada kesejahteraan bersama. Hasil jejak pendapat singkat itu menunjukan bahwa Percandian Murajambi di mata masyarakat lokal tidak hanya sebatas objek cagar budaya yang membawa kebermanfaatan ekonomi. Lebih dari itu, juga telah menjadi identitas leluhur dan bukti kepada dunia akan martabat dan tingginya peradaban masyarakat Jambi, terlebih lagi masyarakat Desa Muarajambi. Hal penting ini  dianggap patut untuk dibanggakan dan terus diwariskan kepada generasi yang akan datang. Bagi masyarakat lokal, manfaat ekonomi memang sangat penting, akan tetapi merawat identitas dan menjadi kebanggaan yang dikenal ke seluruh penjuru dunia juga tak kalah penting.

Berkaca pada kondisi di lapangan, hasil analisis model pengelolan yang dijalankan  ibarat “tibo di bukit minta aek, tibo di lurah minta angin” kiranya belum tepat dan sesuai secara teori, secara pedoman Undang-undang maupun kearifal lokal. Model yang selama ini berjalan masih berkonsep wisata massal, yang penekanannya kepada banyaknya jumlah per-kepala yang berkunjung ke lokasi. Merujuk pada data pengunjung, tahun 2019 mencapai angka 119.331 orang. Tergolong jumlah yang banyak, namun bila dikorelasikan dan dibandingkan dengan pendapatan ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat, tentu ini berbanding terbalik. Inilah salah satu sisi lemah dari konsep wisata massal, pendapatan jumlah pengunjung yang banyak konsep perkaliannya sebatas nominal pembelian tiket masuk. Hal lain, seperti sewa sepeda, bisa dikategorikan menguntungkan setengah dari jumlah pengunjung, sebab tidak semua pengunjung akan senang bersepeda. Lalu untuk kategori jajan makanan ringan-minuman dingin bersoda hanya dikalikan seperempat dari jumlah pengunjung. Kemudian, yang menarik untuk direnungkan adalah jumlah uang sewa per-sepeda, dengan jumlah uang per-gelas minuman dingin, dibandingkan dengan jumlah uang yang diperoleh bila model heritage tourisme yang kemungkinan total pengunjungnya hanya seperempat dari wisata massal, namun mereka menginap selama dua hari di home stay Murajambi, makan di sana tiga kali sehari, jalan-jalan bersama masyarakat lokal, naik perahu ke hulu, naik sepeda sore dan pagi hari, belanja souvenir, menyewa pemandu selama dua hari, menonton pertunjukan di panggung Desa, dan banyak hal lainnya. Alangkah dahsyatnya, dan yang lebih dahsyat lagi, uang berputar di tengah masyarakat, semua gembira, pengunjung juga bahagia lahir dan batin. Demikian namanya heritage tourisme, dan perlu diketahui, UNWTO (United Nation World Tourisme Organitation) mengarahkan tren wisata ke arah ini, yang terintegrasi langsung dengan ekonomi kreatif masyarakat lokal. Tidak kepada wisata massal seperti pasar malam, ramai terlihat namun hanya beli balon setelah itu pulang. Perbedaannya sangat jelas terlihat, terlebih lagi dari sisi pelestarian dan keamanan untuk cagar budaya, jelas model heritage tourisme terintegrasi ini, jauh lebih aman dan bersahabat kepada cagar budaya dan lingkungan alam.

UNWTO, merujuk ke beberapa Negara maju seperti Amerika dan Jepang, telah lama beralih dari wisata massal ke model wisata seperti heritage toursime. Seperti yang dipaparkan data National Trust for Historic Preservation (2001) dan Heritage Tourisme Hand-Book (2010), Amerika mampu mendatangkan keuntungan dari model wisata ini sebanyak 584.3 Millyar Dollar per-tahun dan mampu membuka 7 juta lapangan pekerjaan, serta zero case terhadap kerusakan cagar budaya dan alam. Maka tidak heran bila UNWTO menganjurkan model ini, termasuk Korea Selatan, yang kemudian menuai sukses. Tantangannya, model heritage tourisme menuntut perencanaan matang, adanya dukungan dari semua stakeholder baik pusat-daerah, serta pengelolaan yang terintegrasi dengan segala potensi budaya yang ada di Muarajambi dan sekitarnya. Konsep cerdas yang meniscayakan keseriusan dan kolaborasi banyak pihak.

Maka, kebiasaan mengikuti model pengelolaan pemerintah yang berjalan selama ini, saatnya di balik menjadi model pengelolaan dari pandangan masyarakat, yang pada prinsipnya secara legal konstitusional juga telah diamanahkan oleh Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, yakni “keterlibatan masyarakat dan pemanfaatannya untuk kesejahteraan masyarakat”. Merujuk prinsip ini, maka dihimpun pendapat masyarakat lokal yang diwakili tokoh pemuda, pelestari dan generasi milenial; harapannya satu suara, bermuara kepada tiga cahaya terang; (1) Pemerintah Daerah Kabupaten Muarajambi agar segera menandatangani penetapan zonasi wilayah percandian Muarajambi serta membentuk TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) yang bersertifikasi, juga perlu mengkaji ulang model pengelolaan candi Muarajambi yang lebih bersifat berkelanjutan dan pro-kesejahteraan masyarakat lokal, (2) Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, penting untuk terus bersosialisasi, secara sistematis, bertahap dan berkelanjutan terkait cagar budaya Candi Muarajambi, dan senatiasa menjalin silaturahmi-komunikasi-hubungan emosional yang baik, tidak hanya dalam kegiatan kedinasan, tapi juga dalam hari-hari biasa. Demikian juga terhadap pemerintah daerah agar semakin akrab-semakin dekat, (3) Pemerintah pusat, kiranya berkomunikasi intens kepada pemerintah daerah Kabupaten Muarajambi, Provinsi Jambi, masyarakat lokal, akademisi, komunitas pelestari, agar  tercipta suatu program dan anggaran yang tepat sasaran.

*Penulis adalah pengajar arkeologi di FIB Universitas Jambi.


Tag : #Perspektif #Candi Muarojambi #Pelestarian dan Pengelolaan



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00