Jumat, 18 September 2020


Senin, 01 Juni 2020 05:51 WIB

Gus Dur

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Apa kira-kira yang akan dikatakan Gus Dur jika dia masih hidup dan melihat kita kerepotan  menghadapi Covid-19? Apakah dia masih akan berseloroh "Gitu aja kok repot?". Belum lama ini, karena banyak waktu di rumah, saya menemukan buku kumpulan kolomnya di Majalah Tempo yang ditulis antara tahun 1978-1992. Buku yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Analisa Tempo itu diberi judul "Melawan Melalui Lelucon" terbit tahun 2000 saat Gus Dur menjadi presiden.  Melihat tanggal pemuatan kolom-kolom itu, tulisan-tulisan itu dibuat ketika Orde-Baru berada di puncak kekuasaannya.



Orde-Baru yang oleh Herb Feith disebut sebagai "represive developmentalist regime" itu, praktis tidak mentolerir suara kritis. Dibandingkan hari ini, saat itu, masyarakat sipil juga sangat lemah dalam menyuarakan kepentingan warganegara. Membaca tulisan Gus Dur hari ini, terlihat tokoh ini telah berpikir jauh melampaui zamannya. Kolom-kolomnya menyentuh hampir semua aspek kehidupan sosial politik, mulai dari pesantren dan ludruk, perkembangan politik internasional sampai urusan sepak bola. Membaca tulisan-tulisannya, menurut Syubah Asa yang memeriksa tulisan Gus Dur sebelum dimuat, Gus Dur hanya perlu waktu 1-2 jam untuk menulis kolomnya, sekali jadi, dan dikerjakan di tempat yang memang disediakan untuk dia di kantor Majalah Tempo, saat itu masih di bilangan Pasar Senen.

Kolom-kolom yang bisa disebut sebagai "short social comentary" itu merupakan refleksi atas sebuah peristiwa atau isu tertentu yang sedang hangat di masyarakat. Judul buku itu "Melawan Melalui Lelucon" diambil dari salah satu judul kolomnya yang terbit 19 Desember 1981.  Di situ Gus Dur menulis: "Lelucon, dan bentuk-bentuk humor lain, memang tidak dapat mengubah keadaan atas 'tenaga sendiri'. Ini sudah wajar, karena apalah kekuatan percikan perasaan manusia di hadapan kenyataan yang mencengkam kehidupan bangsa secara keseluruhan. Sedangkan ideologi besar-besar pun tidak mampu melakukan hal itu sendirian, masih harus ditunjang oleh berbagai hal, seperti agama, buruknya keadaan ekonomi, sentimen-sentimen primordial, dan seterusnya".

Dalam kolom yang bertanggal 13 Februari 1982, dengan judul "Perubahan Struktural tanpa Karl Marx", kita baca: "Dalam transformasi model Marx, atau lebih tepat model Marxisme-Leninisme, transformasi dimulai ketika kekuasaan telah direbut. Apa yang terjadi sebelum itu hanyalah persiapan ke arah transformasi, bukan transformasinya sendiri. Dan setelah kekuasaan direbut, masih diperlukan semacam "pengawal revolusi" untuk menjaga kemurnian transformasi yang dihasilkan agar tidak diselewengkan. Bagi yang menolak ajaran Marxisme-Leninisme, walaupun menerima analisis sosial-ekonomisnya, perubahan terjadi justru sebelum kekuasaan 'berubah kelamin'. Transformasi terjadi dalam sikap dan perilaku masyarakat secara keseluruhan melalui proses pendidikan berjangka panjang. Misalnya melalui perjuangan menegakkan keadilan melalui bantuan hukum struktural. Atau melalui kesadaran berperilaku politik yang menjunjung asas kebebasan dan persamaan hak, atau melalui penumbuhan dan pengembangan organisasi ekonomi yang benar-benar demokratis di tingkat bawah".

Gus Dur: Melawan Melalui Lelucon (Tempo, 2000).

Hampir semua kolom Gus Dur selalu berisi, mencerahkan dan mampu menempatkan hal yang tampaknya sepele, dalam konteks kemasyarakatan dan kebudayaan yang luas, dan dikomunikasikan dengan gaya dan bahasa yang segar. Melihat topik dan isu yang menjadi subyek tulisannya, bisa dilihat keluasan pengetahuan dan pengalamannya yang tersimpan di ingatannya. Sebagian tentu diperoleh dari bahan bacaannya, sebagian lainnya dari aktifismenya sebagai tokoh lintas bidang dan pergaulannya dengan berbagai kalangan. Kedudukannya sebagai tokoh agama selain karena darah biru yang dimilikinya dalam trah pendiri NU, juga karena ekspektasi dan apresiasi yang tinggi dari rekan-rekanya yang berasal dari kalangan non-Islam tentang peran yang harus dimainkannya dalam sebuah masyarakat yang mayoritas beragama Islam.

Dalam hidupnya, Gus Dur adalah seorang tokoh yang mampu tidak saja menjadi jembatan antara Islam dan non-Islam, tetapi juga merupakan tokoh yang menyadari ancaman kehidupan bersama bisa berasal dari klaim Islam sebagai agama mayoritas. Pada tahun 1990 ketika tokoh-tokoh Islam mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Gus Du, malah mendirikan Forum Demokrasi (Fordem). bersama rekan-rekannya, sebagian non-Muslim. Sebuah sikap yang bagi sebagian tokoh muslim sulit diterima.

Dalam kolomnya yang berjudul "Tuhan Tidak Perlu dibela" terlihat sikap dan pandangannya dalam ber-Islam dan  kerisauannya akan pengatasnamaan Tuhan untuk kepentingan-kepentingan sempit umatnya. Tulisan yang terbit 26 Juni 1982 ini jika ditempatkan dalam perspektif hari ini, sangat menarik, karena masih sangat relevan. Sepeninggal Gus Dur kita menyaksikan bagaimana Tuhan dan agama hanya dijadikan alat politik untuk kepentingan-kepentingan remeh-temeh orang yang seolah-olah mengagungkannya. Dalam tulisan itu Gus Dur mengutip Al-Hujwiri: "Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia 'menyulitkan' kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya".

Gus Dur memang nyeleneh, tapi kenyelenehannya bukan untuk sekedar terlihat lain atau hanya untuk mencari perhatian, tapi sebuah reaksi cerdas dari keprihatinan dan komitmennya untuk menjaga kehidupan bersama yang di matanya sedang terancam. "Think the unthinkable" menjadi ciri gerak intuitif dari gagasan-gagasan segar yang keluar dari benaknya. Fakta ini menunjukkan Gus Dur memang intelektual sejati, dan kekuasaaan seharusnya memang bukan domainnya. Komplikasi yang dialami yang memaksanya turun dari kursi kepresidenannya pada tahun 2001 mencerminkan Gus Dur bukan orang yang piawai menggenggam kekuasaan. Greg Barton, yang menulis biografinya, merinci komplikasi-komplikasi yang dialami Gus Dur dengan detail dan baik.

Berbeda dengan kebanyakan tokoh politik yang ikut menjatuhkan Bung karno, pada tahun-tahun kritis pasca1965 Gus Dur sejak 1963 hingga 1971 malah klayaban di Cairo, Bagdad dan Eropa. Meskipun resminya dikirim untuk belajar di universitas, Gus Dur mengaku banyak belajar di luar kampus. Di Al Azhar Gus Dur dan Gus Mus (Mustofa Bisri) mengorganisir kegiatan ekstrakurikuler dan membuat majalah mahasiswa. Oleh karena itu, Gus Dur menjadi tokoh unik karena berbeda dengan generasi seangkatannya yang ikut mendongkel Bung Karno, seperti Soe Hok Gie, Rachman Tolleng dan Marsilam Simanjuntak, Gus Dur absen dari demonstrasi Angkatan 66. Gus Dur pun tidak termasuk penandatangan Manifest Kebudayaan seperti Arief Budiman dan Goenawan Mohamad. Kembali dari melanglang buana pada tahun 1971 artinya masuk ke dalam suasana normal pasca 1965, ketika para teknokrat di bawah Widjojo Nitisastro mulai mengimplementasikan rencana pembangunan lima tahunannya. Masyarakat Indonesia memasuki “the new normal” politik massa mengambang, perampingan partai politik, dan pemilihan umum lima tahunan yang selalu dimenangkan Golkar. Pada masa politik seperti inilah Gus Dur menulis kolom-kolomnya, dan pada masa penuh represi ini juga Gus Dur memainkan perannya sebagai Ketua Umum NU, menjaga kepentingan umatnya sekaligus meladeni kepentingan Suharto. Harus diakui bahwa hanya seorang Gus Dur yang berhasil melawan Suharto tanpa perlu masuk penjara.

Selama hampir sepuluh tahun setelah meninggalkan istana yang hanya dihunimya selama 21 bulan, dengan berbagai kendala fisik yang disandang tubuhnya terbukti tidak membuatnya mengendorkan aktifitas atau beristirahat menikmati hari tua bersama cucunya. Gus Dur terus bergerak, kekecewaan karena penghianatan dari teman-temannya, tidak membuatnya larut dalam dendam kesumat, dia tahu ada yang jauh lebih penting dan lebih besar dari sekadar dirinya. Di mata hatinya ada yang dilihatnya sebagai sesuatu yang sedang mengancam masyarakatnya dan dia harus melawan untuk menjaga kewarasan hidup bersama. Seperti sajak WS Rendra (1974):

Aku mendengar suara

Jerit hewan yang terluka

Ada orang memanah rembulan

Ada anak burung terjatuh dari sangkarnya

Orang-orang harus dibangunkan

Kesaksian harus diberikan

Agar kehidupan bisa terjaga.

 

*Peneliti. Tulisannya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Tulisan ini terbit saban Senin di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Sosok #Gus Dur #Pluralisme #Demokrasi #Humor



Berita Terbaru

 

Jumat, 18 September 2020 17:33 WIB

Belajar Tatap Muka, Sekolah Wajib Perketat Protokol Kesehatan


Kajanglako.com, Sarolangun - Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun telah memberlakukan belajar di sekolah secara tatap muka. Walaupun demikian, Dinas Pendidikan

 

Jumat, 18 September 2020 15:22 WIB

Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan Melejit


Kajanglako.com, Jambi - Tingginya angka kekerasan terhadap anak selama masa pandemi Covid-19 menjadi salah satu persoalan yang disorot pemerintah. Berdasarkan

 

Jumat, 18 September 2020 15:16 WIB

Mesin ATM BNI di Kota Jambi Dibobol Maling, Ratusan Juta Rupiah Raib Dibawa Pelaku


Kajanglako.com, Jambi - Di tengah pandemi Covid-19, tindak kejahatan pembobolan mesin anjungan tunai (ATM) kembali terjadi di wilayah hukum Polresta Jambi. Informasi

 

Jelang Pilgub 2020
Jumat, 18 September 2020 13:35 WIB

CE-Ratu Komitmen Selesaikan Jalan Teluk Nilau Tanjab Barat Hingga Kilometer 91


Kajanglako.com, Tanjab Barat – Di hadapan Tim Pendukungnya dan juga mantan Bupati Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), Bakal Calon Wakil Gubernur

 

Jelang Pilgub 2020
Jumat, 18 September 2020 12:15 WIB

Ucapan Bismillah dari Kampung Halaman Iringi Ikrar Warga untuk Syafril Nursal Menuju Jambi Berkah


Kajanglako.com, Sungai Penuh -  Masyarakat Desa Koto Keras, Kecamatan Pesisir Bukit, Sungai Penuh, mendoakan dan memberikan dukungan penuh kepada