Warning: session_start(): open(/tmp/sess_dfqek6m3q8c2ccc694uc4s8aj7, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/kajangl1/public_html/template-detial.php on line 2
Semaun
Senin, 03 Agustus 2020


Rabu, 27 Mei 2020 03:09 WIB

Semaun

Reporter :
Kategori : Oase Cerpen

Tubuh Mengapung. Lukisan karya Andreas Iswinarto. Sumber: genosidapolitik65.blogspot.com

Oleh: Ratna Dewi*

Sepanjang usianya yang tahun ini menginjak seperempat abad, Semaun selalu memaki namanya sendiri. Membenci kedua orangtua yang menyematkannya nama itu. Mengumpat mereka, karena dari sekian juta kemungkinan, keduanya memilihkan nama itu untuknya.



Sewaktu kecil, orang-orang dewasa kerap kali meludah di depan mukanya. Semaun tak ambil pusing. Ia tak mengerti mengapa banyak mereka membenci dirinya. Semaun merasa tak pernah menyakiti orang lain, juga teman sepermainan. Semaun terbilang bocah berjiwa penakut bercampur sedikit sifat pengecut.

Semaun lalu tumbuh menjadi remaja dalam perasaan tak pernah merdeka. Seringkali jika berurusan dengan lembaga yang membutuhkan konfirmasi identitasnya, si petugas akan menatapnya lebih lama ketimbang orang lain, seakan ada stempel “awasi saya” terpampang di jidatnya.

Pernah ketika usianya menginjak 17 tahun, Semaun datang ke kantor kecamatan untuk membuat KTP. Bukan soal patuh pada aturan sebagai warga negara, tapi Semaun sudah ngebet ingin punya SIM agar leluasa mengendarai motor kesayangan yang dimilikinya sejak SMP. Tapi untuk membuat SIM, dia harus memiliki KTP.

Petugas Kecamatan yang ditemui Semaun menyidik panjang. Dahinya berkernyit seperti kepala trisula mengisi ruang di antara sepasang alisnya. Petugas itu lalu meminta Semaun membawa orangtuanya datang.

“Untuk apa?” tanya Semaun.

“Kami perlu lihat KTP mereka,” ujar si petugas.

Sejak itu Semaun tak pernah lagi datang ke kantor kecamatan. Keinginannya mempunyai SIM, pupus.

Sampai suatu ketika, di usia 20, ia jatuh cinta dan berniat menikahi perempuan yang diidam-idamkannya. Tapi negara rupanya mengatur tak seorang pun yang hidup di bawah naungan merah putih, bisa menikah tanpa memiliki kartu identitas. Berapa kali sudah ia ke KUA, meminta petugas agar mau mengutus penghulu menikahkannya tanpa persyaratan dokumen tetek bengek. Berkali itu pula ia ditolak. KTP adalah wajib. Seperti tiket masuk stadion untuk menonton pertandingan sepak bola.

Semaun tak habis akal, ia lalu  membujuk kekasihnya untuk menikah siri saja. Cukup ia, Ustadz dekat rumah dan keluarga. Tak perlu  mencatatkannya ke KUA. Tapi sang calon mertua menolaknya mentah-mentah. Orangtua mana yang ingin anak gadisnya dinikahi di bawah tangan lalu kehilangan jaminan hak-hak penghidupannya kelak?

Dengan berat hati, Semaun mencoba sekali lagi mendatangi kantor kecamatan. Tapi nasib bertingkah seperti seorang balita pada ibunya, gemar menguji kesabaran. Semaun justru dihujani pertanyaan-pertanyaan baru. “Mengapa baru sekarang mau buat KTP?”. “Selama ini ngurus segala macam pakai apa kalau belum punya KTP?”.

Nanar, mata Semaun menyapu sekeliling ruangan kantor berukuran 4X5 itu, mencari-cari petugas yang pernah ia temui 3 tahun lalu. Petugas yang pernah meminta Semaun membawa kedua orangtuanya. Tapi tak satupun wajah ia kenal. Semaun tidak tahu, para pegawai berseragam coklat itu mendapat kenaikan golongan sekali dalam dua tahun. Hanya para pemalas atau mereka yang tak punya koneksi pejabat yang masih bertahan di kantor yang tak bisa memberi banyak uang tip itu.

Semaun frustasi. Dengan kepala bergelayut paku, ia pulang. Pintu rumah didobrak sejadi-jadinya. Sekeras-kerasnya.  Teriakannya lantang memanggil ayah dan ibu. Semaun tak takut lagi dosa. Ia tak peduli jadi anak durhaka. 

“Kenapa Bapak dan Ibu memberiku nama Semauuuun?” Teriaknya. 

“Kenapa harus nama itu, Bu?, Pak? Aku sudah menderita seumur hidupku karena nama itu.”

Tetangga berdatangan. Sebagian menaruh iba. Sebagian menyumpahi lelaki muda yang tengah diamuk frustasi.

Bapak datang dari arah kebun. Terhuyung ia mendekati putranya yang kalap.

“Plak”. Tangan Bapak mendarat di pipi kanan.

Semaun terperangah. Bapak tidak menghiburnya. Tidak menenggang kepedihan yang ditanggungnya.

“Harusnya kamu bersyukur punya nama sebesar itu, Semaun!. Kami memberimu nama asli. Nama yang tumbuh dari tanahmu sendiri. Doa agar kamu besar bersama barisan orang-orang pemberani. Bukan nama barat atau kearab-araban seperti perempuan yang mau kau nikahi itu. Perempuan yang keluarganya minta mas kawin seperti rentenir. Di otak mereka kawin adalah transaksi. Jual beli anak gadisnya dengan seluruh harta yang kita punya.” Ujar Bapak dengan wajah memerah.

“Dan kita tidak punya apapun, selain rumah dan kebun belakang itu.”

Baru kali ini Bapak memukul Semaun. Lelaki pendiam itu hampir tak pernah terdengar suaranya. Ia lebih banyak berkomunikasi dengan kerja. Dengan peluh. Seperti Ibu yang kehilangan suaranya sejak ia belum lahir. Di rumah, mereka tidak saling bicara.  Itulah mengapa Semaun tumbuh menjadi anak yang tidak terlalu tahu arti namanya.

Dari cerita tetangga,  ia pernah mendengar bahwa ibu dulu seorang sinden. Sangat terkenal. Diundang nembang dimana-mana. Sampai sebuah peristiwa memisahkan suara emas dari tenggorokan. Semaun masih dapat melihat balur samar bekas luka di leher perempuan tua itu. Bapak juga tak pernah menceritakannya. Mereka bersekongkol menyembunyikan ingatan dalam secarik nama yang dipilih untuk dirinya.

Sejak hari itu, Semaun tak pernah lagi pulang ke rumah. Ia meninggalkan kampungnya. Meninggalkan perempuan yang ingin dinikahinya. Pergi ke ibukota. Di sana ia numpang hidup di rumah kerabat jauh. Untuk makan dan rokok sehari-hari, ia kerja serabutan. Kadang jadi tukang parkir. Sesekali mengamen. Kadang merangkap pula jadi kurir sebuah ekspedisi barang.

Suatu waktu, Semaun ingin melanjutkan sekolah. Ia senang melihat gerombolan mahasiswa yang sering nongkrong di kafe tempat ia bekerja sebagai tukang parkir. Kadang mereka datang membawa buku-buku tebal, makan minum dan berdiskusi sampai larut malam. Suara debat mereka riuh rendah terdengar sampai pojok parkiran tempat Semaun menunggui kendaraan. Di antara gerombolan mahasiswa itu,  para gadisnya lah yang paling memikat hatinya.

Awal semester baru, Semaun lalu mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Cikini. Kabarnya kampus itu baru dibuka kembali setelah puluhan tahun dibekukan. Kebutuhan merekrut mahasiswa membuat kampus melonggarkan banyak persyaratan. Termasuk soal KTP. “Bisa menyusul,” begitu kata ibu gemuk yang melayani bagian pendaftaran.

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba Semaun menjadi sangat terkenal. Di kampus, orang-orang membicarakan namanya. Dosen-dosen berbisik, bergunjing tentang nama itu. Tiap berkenalan, kawan-kawannya terperangah. Mereka berebut menjabat tangannya erat dan kuat.  Di kelas, gadis-gadis mencuri pandang. Malu-malu. Beberapa tak sungkan mengajaknya jalan, membayarinya makan dan  nonton bioskop.

Setiap hari, ada saja pengurus UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang memintanya bergabung. Begitu juga organisasi eksternal mahasiswa yang didengar mengincar dirinya sebagai kader.  Semaun yang sebelumnya tak pernah punya banyak kawan, menerima semua tawaran itu. Ia menjadi sangat sibuk. Diboyong ke sana kemari, diminta berbicara berbagai tema. Kata-katanya didengar banyak orang. Diamini.  Semua yang keluar dari lidah Semaun menjadi tolak ukur kebenaran. Beberapa mahasiswa yang nekat menyanggahnya di forum diskusi, akan dimusuhi. Dicaci-maki. Tidak ada yang boleh menyalahkan Semaun. Atau ia harus menanggung resiko dicap sebagai antek orde baru.

Tahun-tahun itu, Semaun adalah bintang mahasiswa ibukota. Di berbagai aksi memprotes pemerintah, ia dijadikan simbol. Contoh nyata sejarah kekerasan atas nama negara. Singkatnya, tidak lengkap sebuah demonstrasi massa jika Semaun tidak hadir memegang toa. Ia akan diarak diatas mobil bak terbuka dan massa berjalan meneriakkan namanya.

“See..maa..un..”

“See..maa..un…”

“See..maa..un…”

Koran-koran menulis berita tentang Semaun. Mengaitkan asal-usulnya dengan peristiwa besar di akhir tahun 1960-an. Menduga-duga darimana ia datang dan untuk apa ia tiba-tiba hadir. Mencipta narasi tentang kepentingan segelintir elit.  Berapa media bahkan curiga ia bagian dari gelombang kebangkitan negara-negara sosialis di belahan benua lain. 

Kadang, Semaun sempoyongan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia tidak mengerti. Kalimat-kalimat konyol muntah dari mulutnya. Beberapa kali jika terdesak, ia hanya diam sebelum kawan-kawannya mengambil alih menjawabi pemburu berita itu. Tapi para wartawan kadung terpukau. Kadung butuh berita tempat pembaca mendapat sensasi tentang seseorang yang menitis dari dendam sejarah kaum kiri.  Mereka yang pernah ditumpas dan kini lahir kembali untuk menumpas.

Suatu hari Kampus tempat Semaun kuliah menyelenggarakan seminar nasional. Para undangan hadir dari berbagai perguruan tinggi. Pertemuan akan merundingkan rencana-rencana besar menyelamatkan negeri yang sedang dicabik adu domba dan kebencian dari agenda politik segelintir elit. Jauh-jauh hari, Semaun sudah diminta rektor mewakili mahasiswa menyampaikan kata sambutan selamat datang.

Di hari yang tiba, Semaun naik podium. Ia mengeluarkan selembar kertas dari balik Jas almamater. Dibuka dan tampaklah satu paragraf kalimat tertulis di sana. Hanya satu paragraf itu. Ditulis dengan susah payah. Tangan kanannya meraih pucuk mikrofon, menghidupkan dan mulai berbicara.

“Rekan-rekan setanah air. Saya lahir di sebuah kampung yang merawat ingatan lebih baik dari merawat hutan-hutannya. Saya besar di sebuah kampung dimana ingatan itu tidak pernah dipercakapkan. Ia hanya diwariskan. Tua, muda dan kanak-kanak, memiliki ingatan yang sama akan sebuah nama. 20 tahun saya merasakan, bagaimana ingatan itu mewujud dalam percik ludah dan tatap kebencian. Hari ini pada anda semua, saya meminta, jangan mewariskan ingatan yang tak pernah dipercakapkan, tak kunjung dirundingkan. Karena kita tak pernah benar-benar tahu, ingatan dari masa lalu apakah dibentuk oleh fakta atau fatamorgana yang dicipta para pemangku kuasa.  Mari kita pilih untuk memutus ritus dendam, bahkan dari ingatan yang paling menyakitkan. Selamat bermusyawarah. Selamat bercakap-cakap untuk sebuah negeri dan sebuah nama, Indonesia.”

Sontak, tepuk tangan membahana. Sambung menyambung. Ruangan aula bergemuruh selama beberapa menit. Jelang Semaun turun podium yang langsung disambut rangkulan sang Rektor. Di baris-baris belakang, bersang-pasang mata menatap kagum.

Hari-hari berlalu dengan kesibukan yang tak kunjung mereda. Semaun menjalani hari-harinya dengan penuh sukacita. Sampai di suatu malam, Semaun yang sudah akan bersiap tidur di pojokan ruang UKM kampus. Dikunjungi seorang tamu; perempuan. Sambil memantik api menyalakan rokok di bibirnya yang menghitam, perempuan itu duduk dengan bertopang kaki. Rambutnya dipangkas pendek. Ia mengenakan kaos berleher rendah memperlihatkan tato yang menyembul di belahan payudaranya. Sebuah palu dan selembar arit yang saling berpagut dengan mata menatap dalam, perempuan itu berkata. “Namaku Gerwani. Aku adalah jodohmu.”

Semaun mendapati tubuhnya menggigil. 

 

*Esais. Pekanbaru-Jambi, Desember 2019.


Tag : #Cerpen #Semaun #Negara #Kekerasan #parodi #identitas #Gerwani



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00