Selasa, 01 Desember 2020


Senin, 03 Februari 2020 08:55 WIB

Duka bagi NU. Selamat Jalan, Gus Sholah

Reporter :
Kategori : Oase Esai

K.H. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah). Sumber: bangkitmedia.com

Oleh: Ulil Abshar Abdalla*

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun



Malam ini, saya membaca di laman Facebook banyak ucapan belasungkawa dan takziyah atas wafatnya K.H. Salahuddin Wahid atau dikenal sebagai Gus Sholah. Menderasnya ucapan belasungkawa ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh Gus Sholah, dan betapa wafatnya sosok ini dirasakan sebagai kehilangan dan kesedihan oleh banyak orang.

Saya ingin mengingatkan beberapa hal penting tentang Gus Sholah -- sekedar untuk "reminder" saja.

Pertama, wafatnya Gus Sholah adalah duka yang mendalam bagi NU, karena beliau adalah cucu Mbah Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau wafat pada saat NU, jam'iyyah yang didirikan oleh kakeknya itu, sedang merayakan Harlah-nya yang ke-94.

Kedua, Gus Sholah adalah sosok yang saat ini menjadi pengasuh dan "menunggui" warisan besar Mbah Hasyim selain NU, yaitu pesantren Tebuireng. Pesantren Tebuireng adalah "kiblat"-nya pondok-pondok di lingkungan NU. Di sanalah banyak kiai Jawa belajar untuk menimba ilmu dari Maha Guru para kiai, yaitu Mbah Hasyim Asy'ari yang digelari sebagai Hadlratusy Syaikh -- satu-satunya kiai di NU yang menyandang gelar ini. Banyak tokoh Betawi yang "nyantri" di Tebuireng, baik pada zaman Mbah Hasyim atau sesudahnya. Di pondok inilah, menurut kisah yang saya terima, Kiai Abdullah Salam (dan beberapa kiai lain) dari Kajen, Pati, pernah "mondok". Kiai Abdullah adalah kiai pertama yang di-sowani Gus Dur setelah menjadi presiden.

Ketiga, wafatnya Gus Sholah langsung mengingatkan saya pada peristiwa sedih yang pernah menimpa ayahandanya, yaitu Kiai Wahid Hasyim. Kiai Wahid (Menteri Agama RI kedua setelah Kiai Masykur) wafat karena kecelakaan lalu-lintas di Cimahi, Bandung, dalam perjalanan untuk menghadiri acara NU di Sumedang, pada hari Ahad, 19 April 1953.

Kok ndilalah kersane Allah, Gus Sholah juga wafat pada hari Ahad. Kiai Wahid meninggal dalam usia yang masih sangat muda, 39 tahun. Gus Sholah wafat dalam usia 77 tahun.

Keempat, Gus Sholah adalah menantu Kiai Saifuddin Zuhri, ayahanda dari mantan Menag Lukman Saifuddin. Kiai Saifuddin juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada era Bung Karno dulu. Bagi kami anak-anak muda NU generasi 70an dan 80an, Kiai Saifuddin selalu kami kenang melalui bukunya yang sudah klasik, "Guruku Orang-Orang Pesantren." Gus Sholah menikah dengan Ibunyai Farida, puteri Kiai Saifuddin Zuhri.

Kelima, Gus Sholah, seperti kita tahu, adalah adik kandung Gus Dur. Di antara keenam putera Kiai Wahid Hasyim, tampaknya dua nama lah yang "cemlorot" dan muncul sebagai sosok yang bisa kita sebut sebagai tokoh bangsa, tokoh nasional, dengan pengaruh yang lintas golongan, kelompok, dan agama -- yaitu Gus Dur dan Gus Sholah. Tentu saja corak dan model ketokohan dua sosok ini berbeda; tetapi dua-duanya adalah tokoh bangsa.

Di mata saya (dan saya tak kuasa menahan air mata saat menulis ini), baik Gus Dur dan Gus Sholah adalah hadiah Mbah Hasyim untuk negeri ini. Ya, hadiah Mbah Hasyim. Dua cucu beliau ini telah menyumbangkan banyak hal untuk negeri ini. Kedua cucu beliau ini, dengan caranya masing-masing, telah "menyirami" dan merawat dua tanaman yang dulu disemai oleh Mbah Hasyim. Dua tanaman itu adalah NU dan Indonesia.

Sebelum wafat, Gus Sholah masih sempat menorehkan kontribusi penting: mengupayakan terbentangnya "jembatan komunikasi" antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia: NU dan Muhammadiyah. Upaya ini beliau lakukan melalui kerjasama antara Pesantren Tebuireng yang diasuhnya dan Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga PP Muhammadiyah untuk menggarap film "Jejak Langkah Dua Ulama". Film ini berkisah tentang pendiri NU dan Muhammadiyah: Mbah Hasyim Asy'ari dan Kiai Ahmad Dahlan. Dan ndilalah kersane Allah juga, film ini, kalau tak salah, diluncurkan malam ini, Ahad, 2/2/2020, pada hari ketika beliau wafat.

Selamat jalan, Gus Sholah. Selamat bergabung di alam barzakh dengan Mbah Hasyim, Kiai Wahid, Ibunyai Sholehah, Ibunyai Aisyah dan Gus Dur. Kami, warga nahdliyyin, akan selalu mengenang panjenengan dalam doa-doa kami, dalam tahlil kami.

*Penulis merupakan founder Ngaji Ihya Online, aktif menulis dan ceramah tentang pemikiran keagaman. Sekarang aktif sebagai pengajar di Unusia, Jakarta.Tulisan ini pertama kali dimuat di di laman facebook pribadi tak lama setelah tersiar kabar berpulangnya K.H. Sholahuddin Wahid pada 2 Februari 2020,pukul 22.55 WIB di RS Harapan Kita Jakarta. Pemuatan di sini atas seizin penulis.


Tag : #Gus Dur #Gus Soleh #Gus Soleh Wafat #NU dan Keindonesiaan #Islam dan PerdamaianPerdamaian



Berita Terbaru

 

Pilgub Jambi 2020
Senin, 30 November 2020 20:39 WIB

Warga Tinghoa Jambi Kompak Dukung Cek Endra-Ratu


Kajanglako.com, Jambi – Dukungan kepada pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi nomor urut satu, Cek Endra-Ratu Munawaroh terus mengalir

 

Senin, 30 November 2020 20:02 WIB

Bersama Mahrup Ketua DPRD Tanjab Timur, Al Haris Sambangi Warga Mandahara Ulu


Kajanglako.com, Jambi - Usai dari Kecamatan Sadu, Al Haris calon gubernur Jambi nomor urut 3 bersama Mahrup ketua DPRD Tanjung Jabung Timur langsung sambangi

 

Senin, 30 November 2020 19:59 WIB

Bernafas Dibantu Tabung Oksigen, Mashuri Sampaikan KUA dan PPAS 2021


Kajanglako.com, Jambi - Kendati masih dalam kondisi sakit, namun Plt Bupati Merangin H Mashuri tampil pada rapat paripurna DPRD Merangin, yang dipimpin Wakil

 

Minggu, 29 November 2020 22:52 WIB

Nugraha Setiawan: Baru Al Haris Calon Gubernur Mau Nginap di Sadu


Kajanglako.com, Jambi - Kunjungan Al Haris calon gubernur Jambi nomor urut 3 ke Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Minggu (29/11/20) punya

 

Pilgub Jambi 2020
Minggu, 29 November 2020 21:18 WIB

Kerabat Marga Sinaga Provinsi Jambi Nyatakan Sikap Dukung Fachrori-Syafril


Kajanglako.com, Jambi - Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jambi, Fachrori Umar dan Syafril Nursal terus menguat jelang Pilgub Jambi 9 Desember