Warning: session_start(): open(/tmp/sess_i9jfe2v5neccm3orkor0cjv4k3, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/kajangl1/public_html/template-detial.php on line 2
Duka bagi NU. Selamat Jalan, Gus Sholah
Selasa, 04 Agustus 2020


Senin, 03 Februari 2020 08:55 WIB

Duka bagi NU. Selamat Jalan, Gus Sholah

Reporter :
Kategori : Oase Esai

K.H. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah). Sumber: bangkitmedia.com

Oleh: Ulil Abshar Abdalla*

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun



Malam ini, saya membaca di laman Facebook banyak ucapan belasungkawa dan takziyah atas wafatnya K.H. Salahuddin Wahid atau dikenal sebagai Gus Sholah. Menderasnya ucapan belasungkawa ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh Gus Sholah, dan betapa wafatnya sosok ini dirasakan sebagai kehilangan dan kesedihan oleh banyak orang.

Saya ingin mengingatkan beberapa hal penting tentang Gus Sholah -- sekedar untuk "reminder" saja.

Pertama, wafatnya Gus Sholah adalah duka yang mendalam bagi NU, karena beliau adalah cucu Mbah Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau wafat pada saat NU, jam'iyyah yang didirikan oleh kakeknya itu, sedang merayakan Harlah-nya yang ke-94.

Kedua, Gus Sholah adalah sosok yang saat ini menjadi pengasuh dan "menunggui" warisan besar Mbah Hasyim selain NU, yaitu pesantren Tebuireng. Pesantren Tebuireng adalah "kiblat"-nya pondok-pondok di lingkungan NU. Di sanalah banyak kiai Jawa belajar untuk menimba ilmu dari Maha Guru para kiai, yaitu Mbah Hasyim Asy'ari yang digelari sebagai Hadlratusy Syaikh -- satu-satunya kiai di NU yang menyandang gelar ini. Banyak tokoh Betawi yang "nyantri" di Tebuireng, baik pada zaman Mbah Hasyim atau sesudahnya. Di pondok inilah, menurut kisah yang saya terima, Kiai Abdullah Salam (dan beberapa kiai lain) dari Kajen, Pati, pernah "mondok". Kiai Abdullah adalah kiai pertama yang di-sowani Gus Dur setelah menjadi presiden.

Ketiga, wafatnya Gus Sholah langsung mengingatkan saya pada peristiwa sedih yang pernah menimpa ayahandanya, yaitu Kiai Wahid Hasyim. Kiai Wahid (Menteri Agama RI kedua setelah Kiai Masykur) wafat karena kecelakaan lalu-lintas di Cimahi, Bandung, dalam perjalanan untuk menghadiri acara NU di Sumedang, pada hari Ahad, 19 April 1953.

Kok ndilalah kersane Allah, Gus Sholah juga wafat pada hari Ahad. Kiai Wahid meninggal dalam usia yang masih sangat muda, 39 tahun. Gus Sholah wafat dalam usia 77 tahun.

Keempat, Gus Sholah adalah menantu Kiai Saifuddin Zuhri, ayahanda dari mantan Menag Lukman Saifuddin. Kiai Saifuddin juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada era Bung Karno dulu. Bagi kami anak-anak muda NU generasi 70an dan 80an, Kiai Saifuddin selalu kami kenang melalui bukunya yang sudah klasik, "Guruku Orang-Orang Pesantren." Gus Sholah menikah dengan Ibunyai Farida, puteri Kiai Saifuddin Zuhri.

Kelima, Gus Sholah, seperti kita tahu, adalah adik kandung Gus Dur. Di antara keenam putera Kiai Wahid Hasyim, tampaknya dua nama lah yang "cemlorot" dan muncul sebagai sosok yang bisa kita sebut sebagai tokoh bangsa, tokoh nasional, dengan pengaruh yang lintas golongan, kelompok, dan agama -- yaitu Gus Dur dan Gus Sholah. Tentu saja corak dan model ketokohan dua sosok ini berbeda; tetapi dua-duanya adalah tokoh bangsa.

Di mata saya (dan saya tak kuasa menahan air mata saat menulis ini), baik Gus Dur dan Gus Sholah adalah hadiah Mbah Hasyim untuk negeri ini. Ya, hadiah Mbah Hasyim. Dua cucu beliau ini telah menyumbangkan banyak hal untuk negeri ini. Kedua cucu beliau ini, dengan caranya masing-masing, telah "menyirami" dan merawat dua tanaman yang dulu disemai oleh Mbah Hasyim. Dua tanaman itu adalah NU dan Indonesia.

Sebelum wafat, Gus Sholah masih sempat menorehkan kontribusi penting: mengupayakan terbentangnya "jembatan komunikasi" antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia: NU dan Muhammadiyah. Upaya ini beliau lakukan melalui kerjasama antara Pesantren Tebuireng yang diasuhnya dan Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga PP Muhammadiyah untuk menggarap film "Jejak Langkah Dua Ulama". Film ini berkisah tentang pendiri NU dan Muhammadiyah: Mbah Hasyim Asy'ari dan Kiai Ahmad Dahlan. Dan ndilalah kersane Allah juga, film ini, kalau tak salah, diluncurkan malam ini, Ahad, 2/2/2020, pada hari ketika beliau wafat.

Selamat jalan, Gus Sholah. Selamat bergabung di alam barzakh dengan Mbah Hasyim, Kiai Wahid, Ibunyai Sholehah, Ibunyai Aisyah dan Gus Dur. Kami, warga nahdliyyin, akan selalu mengenang panjenengan dalam doa-doa kami, dalam tahlil kami.

*Penulis merupakan founder Ngaji Ihya Online, aktif menulis dan ceramah tentang pemikiran keagaman. Sekarang aktif sebagai pengajar di Unusia, Jakarta.Tulisan ini pertama kali dimuat di di laman facebook pribadi tak lama setelah tersiar kabar berpulangnya K.H. Sholahuddin Wahid pada 2 Februari 2020,pukul 22.55 WIB di RS Harapan Kita Jakarta. Pemuatan di sini atas seizin penulis.


Tag : #Gus Dur #Gus Soleh #Gus Soleh Wafat #NU dan Keindonesiaan #Islam dan PerdamaianPerdamaian



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Sabtu, 01 Agustus 2020 07:54 WIB

A. Mukty Nasruddin, Penulis Sejarah Jambi (yang) Dilupakan


Oleh: Jumardi Putra* Desember 1989 tersiar sebuah draf buku berjudul "Jambi dalam Sejarah Nusantara, 692-1949 M". Naskah setebal 600 halaman itu ditulis

 

Jumat, 31 Juli 2020 17:32 WIB

Dituding Gelapkan Dana Siaga Api, Camat Air Hitam Angkat Bicara


Kajanglako.com, Sarolangun - Camat Air Hitam Kabupaten Sarolangun angkat bicara terkait informasi yang beredar di publik oleh salah satu media cetak lokal

 

Pers di Jambi
Kamis, 30 Juli 2020 14:29 WIB

Kenang Koran Lokal Jambi Era 1950an, Dua Tokoh Pers Bersua


Oleh: Jumardi Putra* Selasa, 28 Juli 2020, pukul 15.15 WIB, tokoh pers Jambi, A.K. Mahmud, mengunjungi kediaman Asrie Rasyid, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)

 

Kamis, 30 Juli 2020 14:27 WIB

Kejari Batanghari Musnahkan Barang Bukti dari 44 Perkara


Kajanglako.com, Batanghari - Barang bukti (BB) hasil sitaan dari 44 perkara yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (Incraht), terhitung dari bulan Januari

 

Kamis, 30 Juli 2020 11:49 WIB

Laka Maut di Kota Bangko, Kaki dan Tangan Korban Terpotong


Kajanglako.com, Merangin - Laka maut terjadi di KM 1 Lintas Sumatera atau tepatnya jalur tiga depan Pasar Baru Bangko, Kamis (30/7/20) sekira pukul 05.00